"Nah, ini dia Pak Adrian. Pipa saluran air di toilet eksekutif ini dilaporkan bocor dari tadi pagi. Tekanan air di lant** lima langsung drop gara-gara..."
Suara Pak Bambang, sang teknisi gedung, terputus begitu langkah kakinya dan Pak Adrian terdengar semakin mendekat ke arah area bilik toilet.
Di dalam bilik nomor tiga, Clara mendadak berubah jadi patung lilin. Napasnya yang tadi memburu langsung tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup kencang, saking kencangnya sampai-sampai dia yakin suaranya bisa mengalahkan bunyi mesin jet.
*Mampus. Tamat riwayat gue,* batin Clara menjerit histeris. Wajahnya yang tadi merah karena lelah, kini langsung pucat pasi seperti mayat yang baru direndam air es.
Gimana nggak panik? Di luar sana ada Adrian. Adrian Aliansyah! CEO muda, tampan, perfeksionis, sekaligus bos paling ditakuti di seluruh penjuru kantor ini. Dan sekarang, bosnya itu sedang berdiri hanya beberapa meter dari bilik tempat Clara melakukan aksi g*** bin mesum akibat paksaan sistem si****.
"Pak Bambang, Anda dengar suara itu?" Suara berat dan bariton milik Adrian terdengar sangat jelas. Jaraknya luar biasa dekat.
"Eh? Suara apa ya, Pak?" tanya Pak Bambang heran.
"Itu." Adrian memberi jeda. "Suara dengungan... dan... desahan?"
Clara langsung menggigit bibirnya kuat-kuat sampai hampir berdarah. Dia baru sadar kalau ponselnya di atas dispenser tisu toilet masih bergetar hebat karena pangg***n operator yang belum dimatikan.
*Bzzzzzt! Bzzzzzt! Bzzzzzt!*
Bunyi getaran yang bergesekan dengan logam itu terdengar sangat nyaring dan konstan, menciptakan harmoni yang sangat ambigu di dalam toilet sunyi ini. Ditambah lagi, sisa napas Clara yang terengah-engah setelah melompat-lompat tadi terdengar seperti orang yang sedang... yah, melakukan hal-hal terlarang.
Layar hologram biru di depan mata Clara masih berkedip-kedip dengan sant**nya, seolah tidak punya beban hidup.
**[Indikator Keaktifan: 49%. Peringatan: Jangan berhenti sekarang! Deteksi aktivitas fisik menurun drastis!]**
*Bodo amat sama indikator! Gue bisa dipecat dengan tidak hormat kalau ketahuan!* jerit Clara dalam hati. Tangannya gemetar hebat, ingin rasanya dia meraih ponselnya dan mematikan pangg***n itu, tapi dia terlalu takut untuk bergerak bahkan satu milimeter pun.
Di luar, Adrian tampak mengerutkan kening dalam-dalam. Sebagai CEO yang menjunjung tinggi profesionalisme dan moralitas di area kantor, mendengar suara-suara mencurigakan seperti ini di toilet eksekutif benar-benar mengusik ketenangannya. Apakah ada karyawannya yang nekat berbuat mesum di jam kerja? Atau... ada yang sedang terluka dan butuh pertolongan?
"Pak Bambang," panggil Adrian dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk merinding.
"Iya, Pak?"
"Anda bisa kembali ke ruang kontrol dulu. Biarkan saya yang memeriksa bagian ini sendiri. Kalau ada masalah teknis yang butuh tindakan lanjut, saya akan hubungi Anda lagi."
"Oh, baik, Pak Adrian. Saya permisi dulu kalau begitu."
Langkah kaki Pak Bambang terdengar menjauh, diikuti oleh suara pintu utama toilet yang menutup pelan.
Kini, hanya ada keheningan yang mencekam. Sunyi, kecuali suara getaran ponsel Clara yang masih setia berbunyi *Bzzzt! Bzzzt!* dan detak jantung Clara yang kian mengg***.
Adrian melangkah mendekat. Setiap ketukan pantofel kulitnya di atas lant** marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi Clara.
*Tap.*
*Tap.*
*Tap.*
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu bilik nomor tiga. Bilik tempat Clara bersembunyi.
"Permisi. Siapa di dalam?" tanya Adrian. Suaranya terdengar tegas, berwibawa, dan menuntut jawaban segera.
Clara memejamkan matanya rapat-rapat. Dia mencoba menstabilkan suaranya, berpura-pura seolah dia hanya sedang sakit perut biasa. "A-anu... saya, Pak. Maaf, perut saya agak kurang bersahabat..." ujar Clara dengan nada yang dibuat selemas mungkin.
Adrian terdiam sejenak. Dia sangat mengenali suara itu. "Clara? Staf divisi kreatif?"
"I-iya, Pak Adrian... hehe," jawab Clara dengan tawa garing yang terdengar sangat mengenaskan.
"Kenapa suara kamu terengah-engah seperti itu? Dan... suara apa yang terus bergetar di dalam sana?" tanya Adrian, matanya menyipit penuh kecurigaan. Logikanya tidak bisa menerima alasan sakit perut jika dibarengi dengan suara getaran logam yang aneh dan napas yang memburu seperti orang habis lari maraton.
"Oh! Ini... ini cuma ponsel saya, Pak! Ada telepon ma**k tapi saya setel mode getar, terus ditaruh di atas tempat tisu. Jadi... bunyinya agak berisik," Clara mencoba mengarang cerita sebisanya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Sementara itu, layar hologram sistem kembali berkedip provokatif.
**[Waktu Tersisa: 3 menit 45 detik.]**
**[Peringatan Keras: Jika target keaktifan tidak mencapai 100% dalam batas waktu, sanksi 'Desahan Publik' akan otomatis diaktifkan lewat speaker gedung!]**
*Si****! Si****! Si****!* Clara hampir menangis rasanya. Dia terjebak di antara dua pilihan paling mengerikan dalam hidupnya: melanjutkan misi g*** ini di depan Adrian dan dicap sebagai orang aneh nan mesum, atau berhenti dan membiarkan seluruh gedung kantor mendengar suara desahan palsunya lewat *speaker* pusat.
Dua-duanya sama saja dengan bunuh diri sosial!
"Clara," suara Adrian kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih mendesak. "Buka pintunya. Kamu terdengar sangat tidak sehat. Wajahmu—maksud saya, suaramu terdengar sangat aneh. Apa kamu butuh bantuan medis? Atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu di dalam sana?"
"Nggak, Pak! Sumpah, saya nggak menyembunyikan apa-apa! Saya cuma... cuma butuh waktu sebentar lagi!" Clara mulai panik setengah mati. Dia harus menghentikan misi ini. Pers**** dengan sistem! Dia harus mencari cara untuk mematikan paksa aplikasi g*** ini atau setidaknya mengambil ponselnya agar tidak terus bergetar.
Dengan gerakan tergesa-gesa dan tubuh yang gemetar hebat, Clara mencoba melangkah maju untuk meraih ponselnya di atas dispenser tisu toilet.
Namun, sial memang tidak pernah mengetuk pintu sebelum bertamu.
Lant** toilet eksekutif yang baru saja dibersihkan oleh *cleaning service* itu ternyata masih menyisakan sedikit sisa sabun yang licin di sudut dekat pintu. Ditambah lagi dengan keringat dingin yang membasahi telapak kaki Clara yang saat itu sedang tidak mengenakan sepatu.
*Sret!*
"Eh—eh?! Wargh!" Clara kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung ke depan.
Dalam kepanikan yang luar biasa, tangan Clara menggapai-gapai ke udara mencari pegangan. Alih-alih mendapatkan dinding yang kokoh, tangannya malah menyambar gantungan baju dari besi yang terpasang di balik pintu bilik.
*KRETEK! B**KK!*
Gantungan baju itu tidak kuat menahan beban tubuh Clara dan langsung patah, merobohkan papan kecil tempat gantungan itu menempel. Dan malangnya, saat tubuh Clara terjatuh ke depan dengan posisi yang sangat tidak estetik, telapak tangannya yang bebas secara tidak sengaja menghantam slot kunci pintu bilik yang terbuat dari besi geser.
*CKLEK!*
Kunci pintu itu bergeser mulus ke posisi terbuka.
Karena dorongan tubuh Clara yang jatuh ke depan menghantam pintu, pintu bilik yang tidak lagi terkunci itu langsung terdorong dan terbuka lebar dengan suara debuman keras.
*B**AAKKK!*
Pintu toilet itu terbuka sepenuhnya, menampilkan pemandangan di dalam bilik secara transparan tanpa ada yang menghalangi.
Clara jatuh tersungkur di lant** dengan posisi merangkak yang sangat memalukan. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini acak-acakan menutupi sebagian wajahnya. Satu tangannya masih memegang patahan gantungan baju besi, sementara tangannya yang lain menopang tubuhnya di atas lant** dingin.
Tepat di depannya, berdiri Adrian Aliansyah.
CEO tampan itu berdiri mematung. Matanya yang biasanya menatap tajam dan penuh wibawa kini melebar sempurna karena terkejut. Mulutnya sedikit terbuka, kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan pemandangan absurd yang ada di hadapannya saat ini.
Dan seolah takdir belum c**up menyiksa Clara, ponselnya yang tadi berada di atas dispenser tisu ikut terjatuh akibat guncangan tersebut. Ponsel itu meluncur mulus di atas lant** marmer yang licin, berhenti tepat di depan ujung sepatu pantofel mahal milik Adrian.
Dalam keadaan sunyi senyap yang luar biasa canggung itu, ponsel Clara masih terus bergetar di atas lant**, tepat di bawah tatapan mata Adrian.
*Bzzzzzt! Bzzzzzt! Bzzzzzt!*
Clara perlahan mendongak, menatap bosnya dengan pandangan kosong dan keputusasaan yang mendalam. Wajahnya yang memerah kini sudah melampaui batas kepanikan manusia normal. Dia merasa rohnya sudah terbang meninggalkan raganya saat ini juga.
Adrian menunduk, menatap ponsel yang bergetar di dekat sepatunya, lalu menatap Clara yang masih dalam posisi merangkak mengenaskan di lant** dengan gantungan baju di tangannya.
"Clara..." Adrian bersuara, suaranya terdengar sangat pelan, seolah dia sendiri sedang meragukan kewarasannya saat ini. "Kamu... sedang apa?"
Sebelum Clara sempat menjawab atau mengarang kebohongan baru, sebuah suara manis bin menyebalkan berdenting nyaring di dalam kepalanya.
*TING!*
**[Selamat! Misi Darurat Berhasil Diselesaikan!]**
**[Indikator Keaktifan: 100% (Deteksi peningkatan detak jantung ekstrem, gerakan fisik tak terduga, dan benturan keras).]**
**[Efek Sanksi Dibatalkan. Poin Keaktifan Anda telah disimpan. Kerja bagus, Host!]**
Clara ingin berteriak sekencang-kencangnya. *Kerja bagus mbahmu! Gue ketangkep basah sama CEO gue sendiri dengan posisi kayak gini!*
"Pak Adrian..." bisik Clara lirih, suaranya hampir tidak terdengar. Dia memaksakan sebuah senyuman yang lebih mirip ringisan kesakitan. "Ini... ini tidak seperti yang Bapak bayangkan. Sumpah..."
Adrian menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa wibawanya yang sempat runtuh akibat syok berat. Dia memijat pelipisnya perlahan, menatap Clara dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
"Clara, berdiri," perintah Adrian dengan nada suara yang terdengar sangat lelah. "Dan jelaskan pada saya, kenapa kamu berolahraga ekstrim sambil merusak fasilitas kantor di dalam toilet eksekutif ini?"
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!