Bab 16: Ketika Gunung Es Mencair
Langkah kaki Pak Bambang terdengar semakin menjauh, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam toilet eksekutif lant** lima. Sunyi yang begitu pekat, sampai-sampai Clara bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang seperti ketukan drum musik metal.
Di luar bilik nomor tiga, keheningan itu kembali terusik oleh suara langkah kaki yang mantap.
*Tap. Tap. Tap.*
Suara sol sepatu pantofel mahal itu berhenti tepat di depan pintu bilik Clara.
Clara memejamkan matanya rapat-rapat. Tubuhnya gemetar hebat. Dalam hati, dia tidak berhenti merapalkan doa keselamatan, berharap tiba-tiba ada kekuatan magis yang bisa memindahkannya ke dimensi lain. Ke Mars, ke Jupiter, atau ke mana saja asal bukan di toilet ini, di depan bosnya yang terkenal kejam dan tidak punya belas kasihan.
Tiba-tiba, layar hologram biru di depan matanya berkedip cepat.
**[Sistem mendeteksi ancaman harga diri level maksimal.]**
**[Memulai mode hibernasi darurat untuk menghindari kematian sosial Pengguna...]**
**[Sistem nonaktif dalam 3... 2... 1... Pip!]**
*Si****! Sistem dakjal!* maki Clara dalam hati, ingin sekali dia membanting pencipta sistem fiktif itu ke dinding. Di saat hidup dan matinya dipertaruhkan, sistem si**** itu malah memilih untuk 'tidur siang' dan membiarkannya menanggung malu sendirian!
*Tok! Tok! Tok!*
Ketukan di pintu bilik terdengar begitu tegas, membuat Clara tersentak sampai hampir melompat dari tempatnya berdiri.
"Saya tahu ada orang di dalam," suara bariton Adrian terdengar begitu dingin, menguar lewat celah pintu dan langsung menusuk tulang belakang Clara. "Keluar sekarang. Atau saya akan panggil petugas keamanan untuk mendob**k pintu ini."
Ancaman itu bukan main-main. Clara tahu betul karakter Adrian Aliansyah. Sekali pria itu bilang A, maka dia akan melakukannya tanpa ragu.
Dengan sisa-sisa keberanian yang tinggal seujung kuku, Clara menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang gemetar perlahan meraih slot kunci pintu besi itu.
*Klek.*
Suara kunci yang terbuka terdengar sangat nyaring di dalam toilet yang sepi. Perlahan, Clara mendorong pintu bilik itu ke luar.
Hal pertama yang dilihat Adrian adalah pemandangan yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan seumur hidupnya.
Clara, sekretarisnya yang selalu tampil sempurna, rapi tanpa cela, dan terkenal dengan pembawaannya yang super anggun bak bidadari turun dari khayangan, kini berdiri di hadapannya dengan kondisi yang... mengenaskan.
Rambut hitam panjang yang biasanya disanggul rapi atau dicatok badai kini acak-acakan seperti baru saja tersengat listrik. Kemeja kerja putihnya agak kusut, dengan beberapa kancing atas yang sedikit terbuka karena gerah. Wajahnya merah padam, keringat bercucuran di pelipisnya, dan napasnya masih terengah-engah seperti orang yang baru saja menyelesaikan maraton keliling GBK.
Kedua mata mereka bertemu. Adrian menatap Clara dengan dahi berkerut dalam, matanya menyipit penuh keheranan sekaligus syok yang luar biasa. Sementara Clara menatap Adrian dengan pandangan putus asa.
Detik berikutnya, lutut Clara mendadak lemas seperti jeli. Tanpa sadar, dia langsung terduduk lemas di atas lant** toilet yang dingin, bersandar pada dinding bilik dengan posisi kaki yang selonjoran tidak jelas. Dia sudah tidak peduli lagi pada higienitas lant** toilet. Baginya, dunianya baru saja runtuh.
"Clara?" Adrian akhirnya bersuara, nadanya terdengar luar biasa bingung. "Kamu... sedang apa di sini? Dan kenapa penampilan kamu seperti..." Adrian menggantung kalimatnya, matanya melirik ponsel Clara yang tergeletak di atas dispenser tisu, masih bergetar pelan karena pangg***n yang akhirnya terputus. "...seperti ini?"
Melihat tatapan menghakimi dari bosnya, pertahanan mental Clara yang sudah tipis akhirnya jebol juga. Rasa lelah karena dipaksa sistem melakukan gerakan fisik ekstrem, ditambah rasa takut setengah mati akan dipecat, berkolaborasi dengan rasa malu yang teramat sangat.
Kedua sudut bibir Clara melengkung ke bawah. Detik berikutnya, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang memerah. Dia menangis. Menangis sekencang-kencangnya seperti anak kecil yang balonnya meletus.
"Haaa... hiks... pecat aja saya, Pak! Pecat aja!" raung Clara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Pecat saya sekarang! Saya emang udah nggak waras! Karier saya tamat!"
Adrian tertegun. Pria yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala situasi bisnis itu mendadak nge-blank. Dia mundur setengah langkah, benar-benar tidak menyangka sekretaris andalannya akan mengalami *mental breakdown* di lant** toilet pria.
"Clara, tenang dulu. Berdiri dan jelaskanβ"
"Gimana saya bisa tenang, Pak?!" potong Clara, mengabaikan fakta bahwa dia baru saja membentak CEO-nya sendiri. Dia menurunkan tangannya, menatap Adrian dengan mata sembap dan hidung yang memerah. "Bapak tahu nggak sih rasanya jadi saya? Tiap hari saya harus berpura-pura! Harus pakai baju rapi yang sesak, harus pakai *heels* tinggi yang bikin kaki saya mau copot, harus tersenyum ramah dan berkata 'baik, Pak', 'tentu, Pak', 'ada yang bisa saya bantu, Pak'!"
Clara menarik napasnya yang tersengal, lalu melanjutkan ocehannya dengan menggebu-gebu, meluapkan seluruh kekesalan yang selama ini dia pendam dalam hati (meski tentu saja dia merahasiakan soal sistem g*** yang mengaturnya).
"Bapak itu bos paling perfeksionis sedunia! Dingin kayak es batu di kutub utara! Kaku kayak kanebo kering! Tiap hari saya harus kerja di bawah tekanan biar nggak bikin kesalahan sedikit pun di depan Bapak!" Clara berteriak frustrasi, air matanya terus mengucur.
Adrian masih mematung, mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir sekretarisnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Dan yang paling bikin saya stres..." Clara sesenggukan, menyeka air matanya dengan lengan baju hingga menyisakan noda maskara yang agak luntur di pipinya. "Yang paling bikin saya mau g*** adalah... saya suka sama Bapak! Iya! Saya naksir Bapak dari awal saya kerja di sini!"
*Deg.*
Adrian melebarkan matanya. Jantungnya memberikan reaksi aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Gimana saya nggak stres?!" lanjut Clara, sudah terlanjur basah, jadi dia memutuskan untuk membakar seluruh jembatan sekalian. "Tiap hari saya harus berhadapan sama cowok yang saya taksir, tapi saya harus pura-pura jaim! Saya harus kelihatan anggun biar Bapak nggak risi! Saya harus nahan detak jantung saya yang mau copot tiap kali Bapak berdiri sedekat ini! Makanya saya sering lari ke toilet... cuma buat lompat-lompat, teriak-teriak tanpa suara, biar stres saya hilang! Biar saya nggak g*** karena nahan perasaan ini sendirian!"
Clara menghirup napas dalam-dalam, dadanya naik turun. "Tapi hari ini... hari ini apes banget! Saya lagi lampiasin stres dengan olahraga ekstrem di dalam bilik, malah Bapak yang mergokin! Hiks... sekarang Bapak tahu semuanya. Bapak tahu saya aneh, saya mesum karena dengerin suara getar ponsel, dan saya lancang karena suka sama bos sendiri. Jadi silakan, Pak. Pecat saya sekarang juga. Saya siap angkat kaki hari ini!"
Setelah menyelesaikan deklarasi dramatisnya, Clara kembali menundukkan kepala, menangis sesenggukan di atas lututnya yang ditekuk. Dia pasrah. Dia sudah siap menerima surat pemecatan dengan tidak hormat.
Sunyi kembali menguasai toilet. Hanya ada suara isakan kecil dari Clara yang terdengar menyedihkan.
Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik.
Tidak ada bentakan kemarahan dari Adrian. Tidak ada kalimat dingin yang menyuruhnya pergi ke HRD.
Clara yang penasaran perlahan mengangkat kepalanya, mengintip dari sela-sela jarinya yang basah karena air mata.
Di depannya, Adrian masih berdiri di tempat yang sama. Namun, ekspresi wajah pria itu sudah berubah total. Sudut-sudut bibirnya yang biasanya lurus dan kaku kini berkedut. Matanya yang tajam tampak berkaca-kaca, bukan karena ingin menangis, melainkan karena menahan sesuatu.
"Pfftt..."
Clara mengerutkan kening. *Dia barusan denger suara apa?*
"Bwahaha... Hahahahaha!"
Clara terbelalak. Dia mengucek matanya dengan tidak percaya.
Di depannya, Adrian Aliansyahβsang CEO kejam, si gunung es tanpa emosiβsedang tertawa terbahak-bahak. Pria itu tertawa begitu lepas hingga kepalanya mendongak ke belakang, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan garis rahangnya yang tegas. Bahunya berguncang hebat, dan suara tawa baritonnya menggema memenuhi seluruh sudut toilet eksekutif tersebut.
Clara terpaku. Demi Tuhan, ini adalah pertama kalinya dia melihat Adrian tertawa sejak dia bekerja di perusahaan ini selama dua tahun. Dan sialnya, dalam keadaan hancur seperti ini pun, Adrian terlihat sangat, sangat tampan saat tertawa lepas. Ketampanannya naik seribu persen, membuat jantung Clara kembali berdisko tidak karuan.
"Pak... Pak Adrian ketawa?" tanya Clara dengan suara cicitan yang pelan, merasa sangat bodoh.
Adrian mencoba meredakan tawanya, menyeka air mata yang sudut matanya akibat terlalu keras tertawa. Dia menatap Clara yang masih terduduk di lant** dengan wajah cemong akibat maskara dan ekspresi melongo yang sangat lucu.
"Kanebo kering?" Adrian mengulangi kata-kata Clara, suaranya masih menyisakan sisa-sisa tawa. "Kamu... benar-benar menganggap saya sekaku itu, Clara?"
Clara langsung menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya yang tadi merah karena menangis, kini kembali merah karena malu setengah mati. Dia baru sadar kalau dia baru saja menghina CEO-nya sendiri di depan wajahnya langsung.
"Ma-maaf, Pak... saya tadi cuma..."
Adrian menggelengkan kepalanya perlahan, senyum lebar masih terpatri di wajah tampannyaβsebuah pemandangan langka yang bisa membuat seluruh karyawan wanita di kantor ini pingsan massal. Dia melangkah mendekat, lalu perlahan berjongkok di depan Clara, menyamakan tinggi mereka.
Aroma parfum maskulin yang mewah khas Adrian langsung menyeruak ma**k ke indra penciuman Clara, membuatnya semakin salah tingkah.
"Jadi," Adrian menatap langsung ke dalam mata Clara, nadanya tidak lagi sedingin es, melainkan hangat dan sedikit menggoda. "Alasan sekretaris saya yang biasanya sangat anggun dan perfeksionis ini bertingkah ajaib di dalam toilet... adalah karena saya?"
Clara rasanya ingin tenggelam ke dalam lubang toilet saat itu juga. Dia hanya bisa mengangguk pelan dengan sangat pasrah, tidak berani menatap mata Adrian secara langsung.
Adrian menghela napas pelan, namun senyumnya tidak memudar. Dia mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke hadapan Clara.
"Berdirilah. Lant**nya kotor," ucap Adrian lembut. "Dan soal pemecatan... saya tidak punya rencana untuk memecat sekretaris terbaik saya. Apalagi sekretaris yang ternyata punya perasaan khusus pada saya."
Clara mendongak, menatap tangan Adrian yang terulur, lalu menatap wajah bosnya yang kini tampak begitu hangat. Perlahan, dia menyambut uluran tangan itu. Genggaman tangan Adrian terasa begitu hangat dan kuat, menyalurkan aliran listrik aneh yang membuat bulu kuduk Clara merinding indah.
Saat Clara berhasil berdiri, Adrian tidak langsung melepaskan tangannya. Dia menatap Clara lekat-lekat, lalu dengan tangan kirinya, dia merapikan beberapa helai rambut Clara yang berantakan dan menyelipkannya ke belakang telinga wanita itu. Sentuhan lembut itu membuat Clara menahan napasnya seketika.
"Setelah ini, rapikan penampilanmu di wastafel," ujar Adrian dengan nada suara yang sangat lembut, sangat jauh dari kesan bos yang kaku. "Lalu kembali ke ruangan saya. Kita perlu bicara... bukan sebagai bos dan sekretaris, tapi sebagai Adrian dan Clara."
Adrian memberikan satu senyuman tipis yang sangat menawan sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari toilet, meninggalkan Clara yang masih berdiri mematung dengan jantung yang berdegup kencang.
Di dalam keheningan toilet yang kini terasa hangat, layar hologram biru tiba-tiba muncul kembali di depan mata Clara dengan bunyi denting yang centil.
**[Ding! Misi darurat selesai secara tidak sengaja!]**
**[Target utama: Adrian Aliansyah. Status: Gunung Es Telah Mencair (Kehangatan +50%)]**
**[Selamat! Hubungan Anda dengan target mengalami kemajuan pesat. Bonus poin cinta telah ditambahkan!]**
Clara menatap layar tersebut, lalu perlahan menyentuh dadanya yang masih bergemuruh. Sambil menatap pantulan dirinya di cermin wastafel yang acak-acakan tapi memiliki senyum tipis di bibirnya, Clara berbisik pelan, "Sistem dakjal... tapi untuk kali ini, makasih ya."
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!