Bab 17: Bye-Bye Pencitraan, Halo Cinta!
Detik-detik setelah pintu bilik toilet itu terbuka rasanya berjalan lambat seperti adegan *slow motion* di film-film drama. Clara berdiri kaku, sementara Adrian menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara syok, heran, dan mungkin sedikit takjub melihat sekretaris teladannya yang biasa tampil selembut sutra kini terlihat seperti singa betina habis tawuran.
Hening menjajah atmosfer toilet eksekutif itu selama hampir setengah menit. Clara bahkan lupa caranya bernapas.
"Clara?" Adrian akhirnya bersuara, memecah keheningan dengan nada sangsi. "Kamu... ngapain di sini? Dan kenapa penampilan kamu seperti... habis dikejar begal?"
Clara memejamkan mata sesaat. *Habis dikejar begal katanya? Yang bener aja! Ini semua gara-gara sistem dakjal itu!* batin Clara berteriak histeris. Tapi begitu dia membuka mata, dia melihat wajah Adrian yang masih menanti jawaban.
Pada titik ini, sesuatu di dalam diri Clara mendadak patah. Sesuatu itu bernama 'pencitraan'.
Clara sudah lelah. Lelah setengah mati. Selama berbulan-bulan dia harus memakai topeng sebagai Sekretaris Clara yang anggun, bertutur kata manis, memakai *high heels* runcing yang membuat kakinya lecet, dan tersenyum ramah sampai rahangnya pegal demi menjaga reputasi profesional di depan bos berhati es ini. Ditambah lagi dengan siksaan sistem si**** yang memaksanya melakukan hal-hal g*** di kamar mandi.
"Ya, Pak. Ini saya. Clara. Atau lebih tepatnya, Rara," ucap Clara tiba-tiba dengan nada ketus, tanpa embel-embel suara lembut yang biasa dia buat-buat.
Adrian menaikkan sebelah alisnya. "Rara?"
"Iya, Rara! Itu nama pangg***n asli saya di rumah!" Clara melangkah maju, menantang tatapan Adrian dengan berani. Masa bodoh dengan pemecatan. Masa bodoh dengan karier. Dia sudah sampai di batas kemampuannya.
"Bapak mau tahu saya ngapain di sini? Saya lagi kesurupan, Pak! Eh, enggak, maksudnya saya lagi stres berat!" cerocos Clara, tangannya bergerak heboh ke udara. "Saya capek, Pak! Capek pura-pura jadi sekretaris sempurna yang nggak pernah capek, nggak pernah ngeluh, dan selalu wangi melati setiap saat! Aslinya saya tuh barbar, Pak! Saya suka makan seblak ceker level lima yang baunya menyengat, saya suka rebahan sambil ngemil cireng, dan kalau lagi kesel, isi kebun binatang pengen saya absen semua!"
Adrian mengerjap. Mulutnya sedikit terbuka, tampak benar-benar terpana melihat perubahan drastis wanita di hadapannya.
"Dan asal Bapak tahu ya," Clara melangkah selangkah lagi, membuat Adrian refleks mundur setengah langkah karena aura intimidasi Clara yang mendadak meluap-luap. "Baju kusut ini, rambut acak-acakan ini, dan keringat ini... ini adalah wujud asli saya kalau lagi pusing dikejar *deadline* dan kelakuan ajaib Bapak yang hobi revisi dokumen lima menit sebelum rapat! Jadi, kalau Bapak mau pecat saya sekarang karena saya nggak estetik lagi, silakan! Saya ikhlas! Saya mau pulang, mau tidur, dan mau makan bakso urat seember!"
Clara menarik napas dalam-dalam setelah menyelesaikan rant**an kalimat terpanjang dan ter-blak-blakan dalam hidupnya. Dadanya naik turun karena emosi yang meluap. Dia memalingkan wajah, bersiap untuk mendengar kalimat "Kamu saya pecat" dari mulut Adrian.
Namun, yang terdengar kemudian justru membuat Clara curiga kalau pendengarannya sedang bermasalah.
*Pfft.*
Clara menoleh cepat.
Adrian sedang menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Bahunya bergetar hebat. Dan sedetik kemudian, tawa pria itu pecah. Suara tawa bariton yang renyah, lepas, dan terdengar sangat... tulus. Bukan senyum sinis atau seringai meremehkan yang biasa dia tunjukkan di ruang rapat, melainkan tawa murni yang membuat matanya menyipit jenaka.
"Pak Adrian... ketawa?" gumam Clara linglung.
Adrian meredakan tawanya, menyeka sudut matanya yang sedikit berair. Dia menatap Clara dengan binar mata yang belum pernah Clara lihat sebelumnya. Hangat dan sangat bersahabat.
"Rara," panggil Adrian, melafalkan nama kecil itu dengan nada yang terdengar sangat s**** di telinga Clara. "Jadi itu nama asli kamu?"
"I-iya," jawab Clara gugup, mendadak kehilangan keberaniannya yang berapi-api tadi. Ke mana perginya singa betina yang baru saja mengamuk? Kenapa sekarang dia malah merasa seperti anak kucing yang ketahuan mencuri ikan?
Adrian melangkah mendekat. Jarak di antara mereka kini mengikis, menyisakan ruang yang sangat tipis sampai Clara bisa mencium aroma parfum maskulin Adrian yang bercampur dengan udara toilet yang untungnya masih wangi pewangi ruangan otomatis.
"Kamu tahu, Ra?" Adrian menatap lekat-lekat kedua mata Clara. "Selama ini saya selalu merasa ada yang aneh dengan kamu. Kamu itu terlalu sempurna. Seperti robot yang diprogram untuk menyenangkan semua orang. Dan jujur... itu membosankan."
Clara mengerjap. "Membosankan?"
"Iya. Saya nggak butuh boneka pajangan di depan meja kerja saya," tangan Adrian perlahan terangkat, jemarinya yang hangat dengan lembut merapikan beberapa helai rambut Clara yang berantakan di dekat pelipisnya. Sentuhan itu membuat bulu kuduk Clara merinding disko. "Saya lebih suka kamu yang seperti ini. Yang berisik, yang berani marah-marah di depan saya, dan yang matanya menyala-nyala penuh kehidupan."
"Bapak... nggak marah saya katakan kelakuan Bapak ajaib?" tanya Clara dengan suara mencicit.
"Kenapa harus marah? Itu kenyataan, kan?" Adrian terkekeh pelan. "Saya emang sering ngerjain kamu karena saya pengen lihat reaksi asli kamu, Ra. Tapi kamu selalu berhasil menyembunyikannya di balik senyum palsu itu. Baru sekarang saya akhirnya bisa lihat diri kamu yang sebenarnya."
Tiba-tiba, di tengah momen yang mendadak berubah menjadi sangat romantis dan mendebarkan itu, sebuah kilatan cahaya biru terang muncul tepat di depan mata Clara.
*Tring!*
Clara tersentak. Dia hampir lupa kalau dia masih memiliki 'penumpang gelap' di otaknya.
**[NOTIFIKASI SISTEM]**
**[Misi Utama: Mengungkapkan Diri Tanpa Batas kepada Target β SELESAI!]**
**[Analisis data: Target mendeteksi ketulusan tingkat tinggi. Hasrat terpendam Pengguna untuk dicint** apa adanya telah tersalurkan dan diterima dengan sangat baik oleh Target.]**
**[Indikator Kepuasan Target: 100% (Sangat Terg***-g***)]**
Clara menahan napas membaca tulisan hologram yang melayang di antara dirinya dan Adrian. Untungnya, Adrian tidak bisa melihat layar fiktif ini.
**[Terima kasih telah menggunakan Jasa 'Sistem Memaksaku Berbuat Nakal di Kamar Mandi'. Seluruh hasrat terpendam telah tersalurkan dengan sukses. Sistem resmi DINONAKTIFKAN secara permanen dalam 5... 4... 3... 2... 1...]**
*Zzzzt!*
Layar hologram itu berkedip sekali lagi, lalu pecah menjadi butiran cahaya virtual yang perlahan menghilang ke udara. Clara merasakan beban yang luar biasa berat mendadak terangkat dari pundaknya. Rasa sesak, cemas, dan ketakutan akan hukuman sistem yang aneh-aneh itu kini lenyap tanpa bekas. Dia bebas. Dia benar-benar bebas!
"Ra? Kamu melamun?" tanya Adrian, membuyarkan lamunan Clara.
Clara mendongak, menatap Adrian yang kini menatapnya penuh perhatian. Ada binar ketulusan di mata pria dingin itu. Es yang selama ini membeku di sekeliling Adrian seolah telah mencair sepenuhnya, digantikan oleh kehangatan yang mengalir langsung ke hati Clara.
"Enggak, Pak. Saya cuma... lega aja," jawab Clara jujur, kali ini dengan senyum paling tulus yang pernah dia miliki. Senyum tanpa beban pencitraan.
Adrian tersenyum tipis, lalu meraih tangan Clara. Genggaman tangannya terasa begitu hangat dan protektif.
"Mulai hari ini, aturan pertama di kantor: dilarang ada pencitraan di depan saya. Saya melarang kamu pakai topeng 'Sekretaris Clara' lagi kalau kita cuma berdua. Saya cuma mau Rara yang blak-blakan, yang suka makan seblak, dan yang berani ngomong apa adanya," ujar Adrian tegas, namun dengan nada yang sangat lembut.
"Tapi, Pak, gimana kalau nanti saya kelepasan ngomong kasar di depan klien?" tanya Clara dengan dahi berkerut, mulai merasa cemas lagi.
Adrian mendekatkan wajahnya ke telinga Clara, berbisik dengan suara rendah yang membuat jantung Clara melakukan salto di dalam dada. "Kalau di depan klien, kamu boleh akting sedikit. Tapi setelah rapat selesai, kamu harus balik lagi jadi Rara-nya saya. Mengerti?"
Wajah Clara seketika memerah sempurna seperti kepiting rebus. "Rara-nya... Bapak?"
"Iya. Rara-nya Adrian," jawab Adrian tanpa ragu, matanya mengunci tatapan Clara dengan intensitas yang membuat Clara hampir lupa cara berdiri tegak. "Saya rasa, saya udah jatuh cinta sama kamu sejak lama, Ra. Bukan sama sekretaris sempurna itu, tapi sama jiwa pemberontak yang selalu berusaha kamu sembunyikan di toilet ini."
Clara tidak bisa menahan senyum lebarnya. Rasa bahagia yang meletup-letup di dadanya terasa begitu nyata. Dia tidak perlu lagi melakukan trik-trik aneh, tidak perlu lagi dipaksa berbuat nakal di kamar mandi oleh sistem g***, dan tidak perlu lagi tersiksa demi terlihat sempurna.
Ternyata, kunci untuk mendapatkan cinta sang bos berhati es bukanlah dengan menjadi bidadari tanpa cela, melainkan dengan berani menjadi dirinya sendiriβseorang Rara yang berisik, apa adanya, dan penuh warna.
"Jadi, Pak Bos," Clara menatap Adrian dengan kerlingan mata jenaka, mulai mengeluarkan sifat aslinya yang sant**. "Karena kita udah sepakat buat bye-bye pencitraan... boleh nggak sekarang kita keluar dari toilet ini? Baunya emang wangi, tapi rasanya kurang estetik buat tempat jadian."
Adrian tertawa lepas mendengar ucapan blak-blakan Clara. Dia menggenggam erat tangan Clara, menuntunnya keluar dari toilet eksekutif itu menuju masa depan baru mereka.
"Siap, Tuan Putri Rara. Mari kita cari bakso urat seember yang kamu mau tadi," jawab Adrian dengan senyum termanisnya.
Clara berjalan di samping Adrian dengan langkah ringan dan hati yang penuh bunga. *Bye-bye pencitraan, dan halo cinta!*
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!