Sistem Memaksaku Berbuat Nakal di Kamar Mandi

Bab 2: Sistem G*** Ma**k ke Otak

Pengaturan Membaca

**Bab 2: Sistem G*** Ma**k ke Otak**

Clara kembali ke kubikelnya dengan langkah yang diatur seanggun mungkin. Setelah meletakkan kopi hitam tanpa gula di meja jati milik Adrian—yang hanya dibalas dengan gumaman pendek mirip dengusan beruang kutub—ia langsung duduk di kursi kerjanya yang empuk.

Gadis itu mengembuskan napas panjang, bahunya yang semula tegang langsung merosot rileks. Ia melirik ke arah pintu kaca buram ruangan Adrian. Dari posisinya, ia masih bisa melihat siluet tubuh tegap sang bos yang kini sudah melepas jas abu-abunya, menyisakan kemeja putih ketat yang lengannya digulung hingga siku.

Otot lengan bawah Adrian yang kokoh dengan urat-urat yang menyembul samar langsung terpampang nyata.

*G*** ya, itu lengan atau roti sobek? Kok bisa se-aesthetic itu?* batin Clara, matanya mengerjap-ngerjap nakal. *Kalau digandeng pas nyeberang jalan kayaknya aman banget dunia akhirat. Terus itu kemeja putihnya... duh, tipis-tipis menggoda iman banget. Kancing atasnya dibuka satu pula. Pak Adrian, Anda sengaja mau bikin sekretaris Anda ini jantungan atau gimana?*

Clara buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Fokus, Rara! Fokus! Inget cicilan paylater sama uang kosan yang bentar lagi jatuh tempo! Jangan malah mikirin yang iya-iya tentang bos es batu itu!" bisiknya pada diri sendiri, sambil menepuk-nepuk kedua pipinya yang mendadak terasa hangat.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menyalakan monitor komputer dan membuka draf laporan bulanan yang harus diserahkan ke divisi keuangan siang ini. Jari-jarinya yang lentik mulai menari di atas kibor. *Tak-tak-tak-tak.*

Namun, baru saja Clara mengetik setengah paragraf, kepalanya mendadak diserang rasa sakit yang luar biasa.

*Nyut!*

"Aduh!" Clara m****ik pelan. Ia refleks menjatuhkan pulpen berlogo Dirgantara Group yang sedang dipegangnya.

Rasa sakit itu tidak seperti sakit kepala biasa. Ini bukan migrain, bukan juga pusing karena belum s****an seblak. Rasanya seperti ada ribuan jarum kasat mata yang menusuk langsung ke pusat otaknya, lalu disusul dengan sensasi dengung aneh yang bergetar hebat.

*Bzzz... Bzzz...*

"Aakh, kenapa nih..." Clara memejamkan mata rapat-rapat, kedua tangannya mencengkeram pelipisnya erat-erat. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. *Gue kena stroke ringan kah? Apa pembuluh darah gue pecah karena kebanyakan overthinking?*

Tiba-tiba, sebuah suara mekanik yang terdengar sangat jernih—terlalu jernih hingga terasa bergema langsung di dalam tengkorak kepalanya—berbunyi dengan nada ceria yang sangat menyebalkan.

*Ding!*

[Proses sinkronisasi jiwa dengan Hos berhasil dilakukan. Selamat! Proses instalasi 100% selesai.]

Clara tersentak. Matanya langsung membelalak lebar. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, menatap kubikelnya yang sepi. Tidak ada orang di sekitarnya. Staf divisi lain berada di luar area koridor eksekutif ini.

"Si-siapa itu?" bisik Clara dengan suara gemetar. "Siapa yang ngomong? Jangan bercanda ya! Ini lant** tiga puluh, nggak usah horor pagi-pagi!"

[Halo, Hos! Saya adalah 'Sistem Hasrat Maksimal', pemandu pribadi Anda untuk mencapai kebahagiaan hakiki.]

Suara itu terdengar lagi. Benar-benar berasal dari dalam kepalanya! Suaranya mirip asisten virtual Google, tapi dengan intonasi yang jauh lebih genit dan sant**, seperti anak kuliahan yang kebanyakan nongkrong di kafe estetik.

"Sistem... apa?" Clara mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia meraba dahinya yang basah oleh keringat dingin. *Gue pasti udah g***. Gue halusinasi karena stres kerjaan. Iya, bener. Gue butuh liburan ke Bali.*

[Hos tidak g*** dan tidak sedang berhalusinasi,] suara robotik itu menyela isi pikiran Clara secara langsung. [Sistem mendeteksi bahwa tingkat ketertarikan fisik dan hasrat terpendam Hos terhadap target utama, Adrian Dirgantara, telah mencapai angka 99,9%. Ini adalah batas ambang bahaya!]

Mulut Clara melongo lebar. "Hah?! Apa-apaan?! Ketertarikan fisik apa? Hasrat apa?! Ngaco ya!"

[Jangan mengelak, Hos. Berdasarkan database memori otak Anda dalam tiga puluh hari terakhir, Hos telah membayangkan tubuh tanpa busana Adrian Dirgantara sebanyak empat puluh dua kali, membayangkan berciuman panas di lift sebanyak lima belas kali, dan membayangkan dipojokkan di dinding ruang kerja sebanyak...]

"C**UP! STOP! JANGAN DILANJUTIN!" Clara berteriak panik, meskipun ia hanya berani berteriak di dalam hatinya agar tidak terdengar sampai ke dalam ruangan Adrian. Wajahnya kini sudah semerah kepiting rebus. Bagaimana bisa rahasia paling memalukan yang dia simpan rapat-rapat di sudut otaknya yang paling gelap bisa dibongkar begitu saja oleh suara aneh ini?

[Karena tingkat hasrat Hos sudah terlalu tinggi dan berisiko merusak kesehatan mental serta keseimbangan hormon Hos, Sistem dengan baik hati hadir untuk memberikan bantuan nyata. Kami akan membantu Hos mewujudkan fantasi-fantasi nakal tersebut menjadi kenyataan melalui serangkaian misi.]

Clara mengusap wajahnya kasar. "Gue nggak butuh bantuan lu, ya! Pergi nggak lu dari otak gue! Keluar! Hus! Hus!"

[Ding! Misi pertama telah dirilis!]

Sistem sama sekali tidak memedulikan penolakan Clara. Sebuah layar virtual semi-transparan berwarna merah muda mendadak muncul melayang tepat di depan mata Clara. Layar itu berkilau-kilau manja lengkap dengan efek partikel hati yang bertebaran.

====================================

**MISI PERTAMA: Misi Darurat Kamar Mandi**

* **Target:** Adrian Dirgantara

* **Tugas:** Ma**klah ke dalam kamar mandi pribadi di dalam ruangan Adrian saat dia sedang berada di dalam. Kunci pintu dari dalam, lalu paksa dia untuk membantumu membenarkan ritsleting belakang bajumu yang sengaja kamu rusak/macetkan. Anda harus bertahan di dalam kamar mandi bersamanya selama minimal 3 menit dalam posisi intim.

* **Batas Waktu:** 15 menit dari sekarang.

* **Hukuman Kegagalan/Penolakan:** Sistem akan menyiarkan secara langsung (Live Broadcast) seluruh isi rekaman pikiran kotor Hos tentang Adrian Dirgantara lewat pelantang suara (speaker) seluruh gedung kantor Dirgantara Group selama satu jam penuh.

====================================

Clara membaca tulisan di layar virtual itu dengan mata yang hampir melompat keluar dari kelopaknya. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Lu... lu bercanda, kan?" suara Clara mencicit pelan, seluruh tubuhnya mendadak lemas. "Kamar mandi? Kamar mandi pribadi Pak Adrian?! Dan apa tadi hukuman kegagalannya?!"

[Sistem Hasrat Maksimal tidak pernah bercanda, Hos. Jika Hos menolak atau gagal dalam waktu 15 menit, seluruh karyawan di gedung pencakar langit ini—terma**k para direksi, resepsionis lobi, petugas kebersihan, keamanan, dan Adrian Dirgantara sendiri—akan mendengarkan det**l fantasi Hos tentang bagaimana Hos ingin menciumi dada bidang Adrian di bawah pancuran air hangat.]

"HEH! ITU SAMA AJA PEMBUNUHAN KARAKTER, G***!" Clara menjerit frustrasi di dalam hatinya. "Gue bisa dipecat! Nggak cuma dipecat, gue bakal dideportasi dari bumi ini karena malu setengah mati! Mana bisa gue kerja di sini lagi kalau semua orang tahu isi pikiran mesum gue?!"

[Sisa waktu: 14 menit 12 detik. Silakan mulai bergerak, Hos. Detak jantung Adrian Dirgantara terpantau stabil, dia baru saja beranjak dari kursinya menuju kamar mandi pribadinya untuk mencuci muka.]

Mendengar ucapan sistem, Clara langsung menatap ke arah pintu ruangan Adrian. Benar saja, melalui celah kaca yang tidak tertutup tirai sepenuhnya, ia melihat Adrian berjalan menuju pintu kayu di sudut ruangannya yang mengarah ke kamar mandi pribadi mewah di dalam sana.

*Oh, tidak. Ini beneran terjadi!* Clara panik setengah mati. Keringat dingin kini benar-benar membasahi bagian punggung blus kerjanya.

Dia hanya punya dua pilihan sekarang.

Pertama, menolak misi ini, lalu membiarkan seluruh isi kepalanya yang penuh dengan imajinasi liar disiarkan secara nasional ke seluruh gedung kantor, yang artinya riwayat karier dan kehidupan sosialnya sebagai 'Clara yang anggun' akan tamat selamanya saat itu juga.

Kedua, menjalankan misi konyol ini, ma**k ke kamar mandi sang bos, dan mempertaruhkan harga dirinya secara langsung di depan pria es batu itu.

"Si****! Sistem g***! Kenapa gue harus dapet sistem mesum kayak gini sih?!" rutuk Clara setengah menangis.

[Sisa waktu: 12 menit 50 detik. Jika Hos tidak segera bertindak, Sistem akan melakukan uji coba penyiaran suara pikiran Hos selama 5 detik sebagai peringatan.]

"Jangan! Jangan g*** lu!" Clara buru-buru berdiri dari kursinya. Saking paniknya, ia sampai menyenggol tempat pulpennya hingga berantakan di atas meja.

Dengan tangan gemetar, Clara meraih bagian belakang blazer hitamnya. Di balik blazer itu, ia mengenakan gaun terusan (one-piece dress) kerja berwarna pastel yang memiliki ritsleting panjang dari pinggang hingga ke tengkuk lehernya.

Ia memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya erat-erat, lalu meraba ritsleting di punggungnya. Dengan satu sentakan nekat, Clara menarik paksa kepala ritsleting itu ke bawah hingga jalurnya melenceng dan tersangkut kuat di tengah-tengah.

*Sret!*

Ritsleting itu kini benar-benar macet setengah terbuka, memperlihatkan kulit mulus punggung bagian atasnya yang putih bersih. Blazer hitamnya sengaja ia biarkan terbuka lebar agar bagian punggung yang rusak itu mudah terlihat.

"Aduh, Gusti Allah... ampuni hamba-Mu yang terpaksa berbuat nakal demi menyelamatkan reputasi ini," gumam Clara dengan wajah pasrah yang tampak seperti orang yang mau dihukum mati.

Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, lalu melangkah dengan kaki gemetar menuju pintu ruangan Adrian. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah-olah ia sedang berjalan menuju panggung eksekusi.

*Tok, tok, tok.*

Tanpa menunggu jawaban dari dalam—karena dia tahu Adrian sedang berada di dalam kamar mandi pribadinya—Clara langsung membuka pintu ganda kayu jati itu perlahan. Ia menyelinap ma**k ke dalam ruangan CEO yang beraroma parfum kayu cedar yang maskulin dan mewah.

Keadaan ruangan itu sepi. Suara gemercik air terdengar dari balik pintu kamar mandi pribadi yang terletak di sebelah kanan meja kerja Adrian. Pintu kamar mandi itu sedikit terbuka, memperlihatkan berkas cahaya lampu hangat dari dalam.

[Sisa waktu: 9 menit 45 detik. Ma**klah, Hos! Tunjukkan pesonamu dan taklukkan bos dingin itu!] suara sistem kembali bersorak di kepalanya, terdengar sangat bersemangat seperti komentator pertandingan bola.

"Bisa diam nggak lu?!" batin Clara galak, mencoba menutupi rasa gugupnya yang sudah berada di level maksimal.

Clara melangkah mendekati pintu kamar mandi. Jantungnya berdegup sangat kencang, *dug-dug, dug-dug*, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia memegang gagang pintu kamar mandi yang terbuat dari kuningan berlapis krom itu, mendorongnya pelan, lalu melangkah ma**k ke dalam area basah yang dilapisi marmer hitam mewah tersebut.

Begitu kakinya menapak di dalam, ia langsung melihat Adrian sedang berdiri di depan wastafel marmer putih, sedang mengeringkan wajahnya yang basah dengan selembar handuk kecil.

Mendengar suara langkah kaki dan derit pintu, Adrian langsung menurunkan handuknya. Mata elangnya yang tajam dan dingin seketika menatap langsung ke arah Clara.

"Clara? Sedang apa kamu di sini?" tanya Adrian dengan nada suara yang rendah, berat, dan penuh penekanan. Alis tebalnya bertaut erat, menunjukkan rasa tidak senang yang kentara atas kelancangan sekretarisnya.

Clara tidak menjawab dengan kata-kata terlebih dahulu. Sesuai instruksi sistem g*** itu, hal pertama yang ia lakukan adalah membalikkan tubuhnya, meraih gagang pintu kamar mandi, lalu...

*Klik.*

Ia memutar kunci pintu dari dalam.

Mata Adrian menyipit melihat tindakan Clara yang sangat tidak biasa itu. Atmosfer di dalam kamar mandi yang luas namun tertutup itu mendadak berubah menjadi sangat tegang dan... sunyi.

"Clara," panggil Adrian lagi, kali ini suaranya terdengar lebih dingin dan mengintimidasi. "Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa kamu mengunci pintunya?"

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca