**Bab 3: Misi Pertama: Bisikan Toilet**
Clara membeku di kursinya. Suara robot yang baru saja bergema di dalam kepalanya terdengar begitu nyata, sangat jernih, dan berputar-putar di dalam tengkoraknya bagaikan kaset rusak yang diputar dengan volume maksimal.
*Ding!*
[Misi Pertama diaktifkan: Bisikan Toilet.]
"Tunggu, tunggu! Ini lelucon macam apa sih? Gue lagi halusinasi karena kurang tidur ya? Atau kebanyakan minum es kopi sas****?" Clara berbisik panik, matanya melirik ke sekeliling kubikel dengan waswas.
Untung saja area sekitar mejanya sedang sepi. Rekan kerjanya yang duduk di kubikel sebelah, Dwi, sedang turun ke lobi untuk mengambil paket dokumen. Clara memegangi kepalanya, berharap rasa pusing dan suara aneh ini segera hilang. Namun, harapannya langsung pupus saat layar transparan berwarna biru muda mendadak muncul mengambang tepat di depan matanya.
[Sistem Rayuan Nakal Kamar Mandi mendeteksi tingkat stres Hos meningkat. Harap tenang. Misi pertama ini wajib dilaksanakan demi kelangsungan reputasi Hos di masa depan.]
"Reputasi? Reputasi apa?!" tuntut Clara dengan suara setengah berbisik yang tertahan di tenggorokan. Giginya bergemeletuk menahan kesal sekaligus rasa takut yang mulai menjalar ke ujung-ujung jarinya.
[Det**l Misi: Perg***h ke toilet sekarang juga. Tatap cermin, bayangkan wajah tampan atasan Anda, Adrian Dirgantara, lalu bisikkan kata-kata rayuan nakal dengan penuh penghayatan.]
[Batas waktu: 10 menit.]
[Hukuman jika gagal: Sistem akan mengambil alih kendali motorik tubuh Hos untuk berdiri di atas meja kerja, lalu berteriak 'SAYA MAU JADI BUDAK CINTA PAK ADRIAN YANG PALING LIAR!' menggunakan pengeras suara kantor.]
Mendengar det**l hukuman super g*** itu, mata Clara hampir saja copot dari kelopaknya. Napasnya langsung tercekat.
"G***! Lo g*** ya?! Itu mah bukan menyelamatkan reputasi, itu namanya bunuh diri sosial!" jerit Clara dalam hati, frustrasi setengah mati.
Bayangan dirinya berdiri di atas meja kerja yang ditonton oleh seluruh staf divisi, lalu berteriak histeris tentang fantasi liarnya pada Adrian, langsung membuat bulu kuduknya merinding disko. Adrian yang terkenal kejam dan perfeksionis itu pasti tidak akan ragu-ragu untuk memecatnya hari itu juga. Setelah itu, Clara pasti akan dicap sebagai perempuan g*** seumur hidup di seluruh jagat dunia kerja Jakarta. Karirnya tamat, masa depannya hancur, dan dia akan berakhir menjadi gelandangan yang tidak bisa membayar paylater.
[Waktu tersisa: 8 menit 45 detik. Hitung mundur dimulai...]
"Oke! Oke, c**up! Jangan dihitung!"
Clara tidak punya pilihan lain. Logika warasnya langsung lumpuh total, digantikan oleh rasa panik yang membakar seluruh eksistensinya. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar ponselnya dari atas mejaβpura-pura bersikap seperti karyawan biasa yang hanya ingin pamit ke toiletβlalu melangkah cepat meninggalkan kubikelnya.
Ia tidak mungkin menggunakan toilet di lant** 30. Itu adalah lant** eksekutif. Terlalu banyak orang penting berseliweran di sana, terma**k Adrian sendiri yang ruang kerjanya hanya berjarak beberapa meter dari toilet. Kalau sampai dia ketahuan bergumam mesum di toilet lant** 30, tamat sudah riwayatnya saat itu juga.
Maka, Clara memutuskan untuk mengambil langkah seribu menuju toilet lant** 5.
Lant** 5 adalah area arsip tua dan ruang penyimpanan yang jarang sekali dikunjungi orang pada jam-jam sibuk seperti ini. Toilet wanita di lant** itu terkenal sangat sepi, sunyi, dan agak dingin. Pers**** dengan rumor hantu penunggu toilet lant** 5! Bagi Clara saat ini, sistem g*** yang bersarang di kepalanya jauh lebih menakutkan daripada hantu lokal mana pun.
"Lift, *please* cepetan!" gumam Clara frustrasi, jarinya menekan tombol lift berulang kali dengan tidak sabar.
Begitu pintu lift terbuka, ia langsung melesat ma**k ke dalam, mengabaikan tatapan heran dari dua orang staf divisi keuangan yang ada di dalam lift. Begitu lift berdenting di lant** 5, Clara langsung berlari kecil menyusuri koridor yang agak temaram menuju toilet wanita di ujung lorong.
[Waktu tersisa: 5 menit 12 detik.]
"Iya, bawel! Ini gue lagi usaha!" umpat Clara dalam hati, lalu mendorong pintu kayu toilet wanita itu dengan napas yang terengah-engah.
*Cklek.*
Begitu ma**k, Clara langsung memeriksa seluruh bilik toilet satu per satu. Semuanya kosong. Aman. Tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan di sana selain dirinya sendiri dan suara dengungan kipas angin langit-langit yang agak berderit pelan.
Clara melangkah menuju wastafel marmer hitam yang terletak di depan cermin besar. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya tampak pucat pasi, matanya sedikit melebar, dan beberapa helai rambutnya tampak berantakan karena berlari tadi.
"Oke, Clara. Tarik napas, embuskan. Lo cuma perlu ngomong beberapa kata aneh di depan kaca. Anggap aja lo lagi latihan akting buat audisi sinetron azab," bisik Clara, berusaha menenangkan detak jantungnya yang bertalu-talu.
[Sistem mendeteksi Hos sudah berada di lokasi yang ditentukan. Silakan mulai membayangkan wajah Adrian Dirgantara.]
Clara mengembuskan napas panjang lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Sesuai instruksi sistem yang menyebalkan itu, ia mulai memanggil memori tentang bosnya.
Wajah Adrian yang tegas, rahangnya yang kokoh dan selalu terc**ur rapi, hidung mancungnya yang seperti dipahat dengan sempurna oleh dewa Yunani, serta bibir tipisnya yang jarang tersenyum namun selalu terlihat sangat memikat. Clara juga membayangkan kemeja putih ketat yang dikenakan Adrian tadi pagiβbagaimana kancing atasnya yang terbuka satu memperlihatkan sedikit kulit dadanya yang kecokelatan, serta lengan kemeja yang digulung hingga siku, mengekspos otot lengan bawahnya yang kokoh dan berurat s****.
Mengingat det**l fisik Adrian yang begitu menggoda secara visual, jantung Clara mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Ada sensasi hangat yang aneh menjalar di perutnya.
*Sial, kenapa visualisasi gue malah terlalu jelas begini? Kok gue malah jadi beneran salfok?* batin Clara, pipinya mendadak merona merah jambu.
[Detak jantung Hos meningkat secara signifikan. Bagus sekali. Silakan ucapkan kalimat rayuan berikut dengan nada s**** dan penuh damba: 'Pak Adrian, kemeja putihnya s**** banget... bikin saya pengen ngerobek kancingnya satu-per-satu pakai gigi saya. Boleh, kan, Pak?']
"Hah?!" Clara langsung membuka matanya dan melotot ke arah cermin. "Pakai gigi?! Lo kira gue macan tutul lapar apa gimana?! Ogah! Ganti dong kalimatnya! G*** ya, ini cringe banget, gue bisa meninggal karena malu!"
[Waktu tersisa: 2 menit. Jika Hos menolak, hukuman 'Budak Cinta' akan segera diproses dalam tiga, dua...]
"Oke, oke! Gue lakuin! Dasar sistem sableng!" jerit Clara panik.
Clara memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke cermin besar di hadapannya hingga napasnya yang hangat meninggalkan embun tipis di permukaan kaca. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, mencoba memasang ekspresi paling menggoda yang bisa ia lakukanβmeskipun sejujurnya dia merasa seperti orang paling bodoh sedunia saat ini.
"Pak Adrian..." Clara mulai berbisik dengan suara yang sengaja dibuat serak-serak basah, meniru gaya aktris di film-film romantis dewasa. "Kemeja putihnya... s**** banget hari ini..."
[Kurang desahan, Hos. Tolong lebih dihayati. Ingat, bayangkan dada bidangnya yang hangat dan wangi parfum maskulinnya.]
Clara merinding merem-melek mendengarnya, tapi ketakutan akan hukuman membuatnya pasrah sepenuhnya. Ia merapatkan tubuhnya ke bibir wastafel, menatap matanya sendiri di cermin dengan pandangan sayu yang dipaksakan.
"Pak Adrian..." Clara berbisik lagi, kali ini dengan desahan halus di akhir kalimat yang terdengar c**up menggoda. "Kemeja putihnya... s**** banget... Bikin saya... pengen ngerobek kancingnya satu-satu... pakai gigi saya... Boleh, kan, Pak?"
*Krieeek...*
Pintu toilet wanita yang tadinya tertutup rapat tiba-tiba terbuka lebar.
Clara langsung mematung seketika. Kata-kata "pakai gigi saya" seolah langsung tersangkut di tenggorokannya dan membeku di sana. Matanya membelalak horor menatap pantulan cermin di hadapannya.
Di ambang pintu toilet, berdirilah Tiara, staf dari divisi HRD yang terkenal sebagai biang gosip nomor satu di seluruh kantor Dirgantara Group. Tiara sedang memegang sebuah *pouch* kosmetik kecil berwarna merah muda di tangannya. Saat ini, matanya membulat sempurna, menatap Clara yang posisinya sedang menempel sangat dekat ke cermin dengan bibir yang mengerucut s**** dan napas yang terengah-engah.
Suasana di dalam toilet seketika menjadi sunyi senyap. Hanya ada suara derit kipas angin langit-langit yang terasa semakin menyiksa keheningan yang canggung itu.
*Mampus gue! Mampus seketika! Kenapa dari ratusan karyawan di gedung ini, harus si Tiara yang ma**k?!* jerit Clara dalam hati. Kepalanya terasa berputar hebat mencari cara untuk menyelamatkan mukanya yang kini terasa sangat panas bagaikan disiram kuah seblak mendidih.
Jika Tiara sampai berpikir bahwa dia sedang melakukan ritual aneh atau berfantasi mesum tentang Pak Adrian di depan cermin toilet, besok pagi seluruh gedung ini pasti sudah tahu ceritanya dengan bumbu-bumbu tambahan yang super ekstrem.
Dalam kondisi darurat yang mengancam sisa-sisa harga dirinya ini, otak Clara mendadak bekerja dengan kecepatan cahaya. Ia langsung menegakkan tubuhnya dengan kaku, menjauh dari cermin, lalu membuka mulutnya lebar-lebar dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat seprofesional mungkin.
"MI-MA-MU-ME-MO! LAAAA-LIIII-LUUUU-LEEEE-LOOOO!" teriak Clara dengan nada tinggi yang melengking, sambil menepuk-nepuk kedua pipinya dengan keras memakai telapak tangan.
Tiara tersentak kaget di tempatnya berdiri, bahkan hampir saja menjatuhkan *pouch* kosmetiknya ke lant**. "Clara? Lo... lo lagi ngapain, Ra?"
Clara buru-buru membalikkan badannya, memasang senyum paling lebar, paling ceria, dan paling ramah yang pernah ia ciptakan seumur hidupnya. "Eh, Mbak Tiara! Hahaha! Kaget ya? Aduh, maaf, maaf banget ya, Mbak!"
"Lo... sehat, kan, Ra?" tanya Tiara dengan tatapan penuh kecurigaan dan sedikit rasa ngeri. Wanita HRD itu melangkah perlahan menuju wastafel di sebelah Clara, namun matanya sama sekali tidak lepas dari wajah sekretaris Adrian tersebut.
"Sehat walafiat dong, Mbak! Ini lho... aduh, aku tuh sebenarnya lagi latihan vokal dan artikulasi," jawab Clara berbohong seadanya, tangannya mengibas-ngibas udara dengan gestur yang sangat heboh untuk meyakinkan Tiara. "Mbak Tiara tahu sendiri kan, nanti siang aku harus bantu presentasi di depan jajaran direksi bareng Pak Adrian. Aku gugup banget dari pagi! Jadi aku baca tips di internet, katanya kalau mau suara kita terdengar bulat, mantap, dan nggak gemetar pas presentasi, kita harus latihan artikulasi sambil bisik-bisik di depan cermin toilet, terus diakhiri dengan latihan vokal keras. Biar resonansinya dapet gitu, Mbak!"
Tiara menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi. "Oh... latihan artikulasi? Tapi kok tadi gue kayak denger lo nyebut-nyebut nama Pak Adrian? Terus ada kata... 'ngerobek kancing' gitu? Gue nggak salah denger, kan?"
Jantung Clara rasanya mau copot dari tempatnya dan menggelinding ke lant**. Keringat dingin mulai membasahi punggung kemeja kerjanya. *Si****, pendengaran si Tiara ini tajam banget kayak kelelawar malam!* batin Clara menjerit histeris.
"Ah! Itu! Hahaha, Mbak Tiara salah denger kali!" Clara tertawa paksa, suaranya naik satu oktav hingga terdengar melengking aneh. "Tadi aku tuh bilang... 'Pak Adrian kalau nanya suka bikin pusing, makanya presentasinya harus matang biar nggak robek fokusnya!' Iya, 'robek fokus', Mbak! Bukan robek kancing! Aduh, lagian masa iya aku mau ngerobek kancing baju orang? Memangnya aku rayap lemari, hahaha!"
Clara terus mengoceh tanpa henti, berusaha keras menutupi kepanikannya dengan tawa yang terdengar sangat garing dan dipaksakan.
Tiara menatap Clara lekat-lekat selama beberapa detik yang terasa sangat menyiksa, seolah-olah waktu sedang berjalan lambat. Akhirnya, wanita HRD itu mengembuskan napas panjang dan mulai membuka maskaranya di depan cermin. "Oh... kirain lo lagi kesurupan penunggu lant** lima, Ra. Lagian lo niat banget sih latihan artikulasi sampai harus turun ke toilet lant** lima segala."
"Iya dong, Mbak! Di lant** tiga puluh kan ramai banget, banyak bos-bos besar lalu-lalang. Kalau aku teriak-teriak latihan vokal di sana, bisa-bisa aku langsung dapet surat peringatan pertama karena dikira bikin rusuh," ujar Clara, mulai merasa sedikit lega karena Tiara tampaknya mulai termakan kebohongannya yang absurd itu.
"Ya udah, terusin gih latihannya. Tapi jangan kencang-kencang ya, agak ngeri juga dengernya kalau dari luar," kata Tiara sambil mulai mengaplikasikan maskara ke bulu matanya.
"Siap, Mbak Tiara! Aku kayaknya udah c**up kok latihannya. Suara aku udah mulai kerasa bulat dan mantap sekarang. Aku balik ke kubikel dulu ya, Mbak. Mari!" pamit Clara buru-buru. Ia tidak mau berlama-lama di sana sebelum kebohongannya yang lain terbongkar karena kepanikan.
"Yuk," sahut Tiara singkat tanpa menoleh.
Begitu melangkah keluar dari toilet lant** 5 dan pintu kayu itu tertutup rapat di belakangnya, Clara langsung menyandarkan tubuhnya pada dinding koridor yang sepi. Lututnya terasa sangat lemas seperti jeli yang mencair. Ia memegangi dadanya yang masih bergemuruh hebat dengan napas yang memburu cepat.
"G***... hampir aja reputasi gue hancur berkeping-keping di tangan lambe turah kantor," bisiknya dengan sisa-sisa tenaganya.
*Ding!*
Suara mekanik yang sangat menyebalkan itu kembali terdengar di dalam kepalanya, kali ini diiringi dengan nada melodi ceria mirip musik kemenangan di dalam game petualangan.
[Selamat! Misi Pertama: 'Bisikan Toilet' telah diselesaikan dengan sukses. Evaluasi kinerja Hos: C**up memuaskan, meskipun ada improvisasi drama vokal yang sangat tidak perlu dan cringe.]
[Hadiah Misi: 10 Poin Nakal telah ditambahkan ke akun Anda. Saldo poin saat ini: 10 Poin.]
[Fungsi Toko Sistem kini telah terbuka secara otomatis. Anda dapat menukarkan poin yang terkumpul dengan berbagai item menarik untuk mempermudah hidup Anda di masa depan.]
Clara memejamkan matanya erat-erat, memijat pelipisnya yang kembali berdenyut nyeri. "Toko sistem gigi lo empat! Gue nggak butuh poin nakal lo itu! Gue cuma mau hidup tenang dan damai tanpa harus mempermalukan diri sendiri lagi!"
[Pemberitahuan Sistem: Mendeteksi adanya penolakan dari Hos. Harap diingat, jika Hos tidak mengumpulkan minimal 100 Poin Nakal dalam minggu ini, sistem akan mengaktifkan mode 'Nakal Otomatis' di mana tubuh Hos akan bergerak sendiri di bawah kendali penuh sistem untuk menggoda Adrian secara fisik di tengah ruang rapat umum.]
Clara langsung terperangah. Mulutnya terbuka lebar tanpa bisa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Nakal... otomatis?" beo Clara dengan suara mencicit yang terdengar sangat menyedihkan.
Bayangan dirinya mendadak berjalan sendiri lalu duduk di pangkuan Adrian saat rapat direksi yang dihadiri oleh seluruh komisaris utama perusahaan langsung berputar dengan sangat jelas di dalam kepalanya.
"TIDAAAK!!!" jerit Clara dalam hati dengan penuh keputusasaan.
Sistem ini benar-benar i**** berwujud teknologi yang dikirim untuk menguji batas kesabarannya! Clara mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Sepertinya, hari-hari tenang dalam hidupnya sebagai sekretaris biasa yang mendambakan cicilan cepat lunas telah resmi berakhir hari ini.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!