Sistem Memaksaku Berbuat Nakal di Kamar Mandi

Bab 4: Kenapa Kamu Berkeringat, Clara?

Pengaturan Membaca

**Bab 4: Kenapa Kamu Berkeringat, Clara?**

Clara melangkah keluar dari lift lant** 30 dengan lutut yang terasa lemas seperti jeli. Jantungnya masih berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang sangat kacau. Tangannya yang dingin dan sedikit gemetar meremas ponsel erat-erat. Di dalam kepalanya, suara robot dari sistem si**** itu masih terngiang-ngiang dengan begitu jelas, seolah sedang mengejek kepasrahannya beberapa menit yang lalu.

*G***. Gue beneran g***,* batin Clara frustrasi.

Bayangan dirinya yang berdiri di depan cermin toilet lant** 28, menatap bayangannya sendiri sambil membisikkan kalimat rayuan super memalukan untuk Adrian, membuat wajah Clara langsung memanas. Rasanya ia ingin menghilang saja dari muka bumi ini. Pipinya terasa sepanas setrikaan, dan ia yakin warna kulitnya saat ini sudah berubah merah padam seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari wajan.

Saat melewati lorong menuju kubikelnya, Clara berpapasan dengan Dwi yang baru saja kembali dari lobi membawa sekotak dokumen. Dwi langsung menghentikan langkahnya, menatap Clara dengan dahi berkerut dalam.

"Loh, Clar? Lo kenapa? Kok lecek banget kayak baju belum disetrika?" tanya Dwi heran. Matanya meneliti penampilan Clara dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Rambut lo juga agak berantakan. Terus... itu muka kenapa merah banget? Lo habis dikejar s**** penunggu lant** bawah ya?"

Clara tersenyum kaku, mati-matian menahan diri agar tidak berteriak histeris. "N-nggak apa-apa kok, Dwi! Gue cuma... tadi liftnya lama banget, jadi gue mutusin buat lewat tangga darurat. Pengen nyari keringat aja biar sehat, hehe."

Dwi mengerjapkan matanya heran. "Sehat dahi lo peyang! Siang bolong gini olahraga naik tangga darurat di gedung SCBD? Lo kalau stres kerjaan mending bilang, Clar, jangan malah menyiksa diri sendiri. Udah ah, gue balik ke meja dulu."

Setelah Dwi pergi, Clara mengembuskan napas panjang yang terdengar menyedihkan. Ia berjalan gont** menuju kubikel kerjanya yang terletak tepat di depan pintu kaca ruangan Adrian. Begitu bokongnya menyentuh kursi ergonomis kesayangannya, Clara langsung menyandarkan punggungnya yang terasa pegal. Ia mengambil map plastik tebal dan menggunakannya sebagai kipas darurat, berusaha mendinginkan wajah dan lehernya yang basah oleh keringat dingin.

"Sumpah, kalau sistem ini muncul lagi dan ngasih misi yang lebih aneh, gue mending resign aja deh. Nggak kuat gue kalau harus jantungan tiap hari," bisik Clara pada dirinya sendiri sambil memejamkan mata.

Baru saja Clara ingin memejamkan mata selama beberapa detik untuk menenangkan pikirannya, suara pintu kaca yang bergeser terbuka membuat matanya langsung membelalak lebar.

*Sret.*

Sesosok pria dengan tubuh tegap dan tinggi menjulang melangkah keluar dari dalam ruangan kubus kaca tersebut. Pria itu mengenakan kemeja putih premium yang lengannya digulung rapi hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan urat-urat tangan yang tampak maskulin. Wajahnya yang tegas, dengan rahang kokoh dan sepasang mata elang yang tajam, langsung tertuju ke arah Clara.

Adrian Dirgantara. Sang CEO muda yang terkenal dingin, perfeksionis, dan tidak pernah mentoleransi kesalahan sekecil apa pun di kantornya.

Clara refleks langsung menegakkan punggungnya, menyembunyikan map plastik yang ia gunakan untuk mengipas tadi di bawah tumpukan dokumen kerja. Ia berusaha menampilkan senyum profesional terbaiknya, meskipun senyum itu terasa sangat kaku di wajahnya yang masih memerah.

"P-Pak Adrian. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Clara dengan suara yang sedikit bergetar di ujung kalimatnya.

Adrian tidak langsung menjawab. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah sant** namun terasa sangat mengintimidasi. Setiap ketukan sepatunya di atas lant** marmer seolah-olah berbunyi seiring dengan detak jantung Clara yang kembali berpacu cepat. Adrian berhenti tepat di depan meja kerja Clara, meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam di atas meja.

Mata tajam Adrian menyipit, menatap Clara dengan tatapan menyelidik yang sangat intens. "Kamu dari mana saja, Clara? Saya cari kamu di meja dari sepuluh menit yang lalu."

"Maaf, Pak. Saya tadi... dari toilet," jawab Clara, berusaha menjaga intonasi suaranya agar terdengar sealami mungkin.

"Dari toilet?" Adrian menaikkan sebelah alisnya yang tebal. Ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Clara, membuat jarak di antara mereka terkikis. Aroma parfum *woodsy* maskulin yang mewah milik Adrian langsung menyerbu indra penciuman Clara, membuat otaknya mendadak nge-blank. "Ke toilet saja sampai ngos-ngosan begitu? Dan... kenapa wajah kamu merah sekali?"

Clara menelan ludahnya dengan susah payah. Ia bisa merasakan hawa hangat yang memancar dari tubuh Adrian. *Aduh, mampus! Kenapa dia harus sedekat ini sih?!* jerit Clara dalam hati.

"Oh, itu... anu, Pak. Tadi AC di toilet lant** bawah agak mati, jadi di dalam sana gerah banget. Makanya saya agak kepanasan," bohong Clara asal-asalan. Alasan yang benar-benar tidak ma**k akal untuk gedung perkantoran kelas A yang memiliki sistem sirkulasi udara terpusat yang selalu dingin.

Adrian melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya beralih ke dahi Clara, lalu turun ke pelipis dan leher sekretarisnya yang tampak berkilau karena keringat yang terus mengalir. Rambut hitam Clara yang biasanya tertata rapi dalam sanggulan elegan, kini tampak sedikit basah dan menempel di kulit lehernya yang putih.

"Kenapa kamu berkeringat, Clara?" tanya Adrian dengan nada suara yang rendah, terdengar sangat dalam dan penuh selidik. "Gedung ini suhunya diatur konstan di angka delapan belas derajat. Ruangan saya bahkan sedingin es. Tapi kamu... kamu kelihatan seperti orang yang baru saja melakukan aktivitas fisik yang sangat berat."

"N-nggak kok, Pak! Saya cuma... metabolisme tubuh saya hari ini lagi cepat aja, jadinya gampang gerah!" jawab Clara dengan nada yang terlalu cepat dan panik, membuat alasannya terdengar semakin mencurigakan.

Adrian menatap Clara lurus-lurus ke dalam matanya. Keheningan sesaat terjadi di antara mereka, menyisakan suara ketikan keyboard sayup-sayup dari kubikel karyawan lain yang berada c**up jauh dari meja Clara. Adrian melangkah satu langkah lebih dekat lagi, hingga kini lututnya hampir menyentuh pinggiran meja kerja Clara.

"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari saya, kan, Clara?" desis Adrian pelan, matanya menatap lekat pada bibir Clara yang tampak basah karena sekretarisnya itu terus-menerus membasahinya dengan lidah karena gugup.

*Ding!*

Suara lonceng mekanis yang sangat familier kembali bergema di dalam kepala Clara, membuat wanita itu hampir saja melompat dari kursinya karena terkejut. Layar hologram biru transparan mendadak muncul mengambang tepat di samping wajah tampan Adrian.

[Misi Tambahan Opsional Terdeteksi!]

[Det**l Misi: Tatap mata Adrian Dirgantara selama 5 detik tanpa berkedip, lalu gigit bibir bawah Anda secara perlahan di depannya.]

[Reward: +20 Poin Nakal dan Voucher Belanja MAP senilai Rp 500.000.]

[Hukuman jika menolak: Tidak ada (Misi bersifat opsional untuk meningkatkan ketegangan hubungan).]

Clara rasanya ingin melemparkan mesin printer di sampingnya ke arah layar hologram si**** itu. *Sistem g***! Ini mah namanya bunuh diri jilid dua! Menggigit bibir di depan bos yang lagi curiga? Itu sama saja dengan memancing harimau kelaparan!* teriak Clara dalam hatinya, frustrasi setengah mati. Meskipun voucher belanja 500 ribu itu sangat menggiurkan untuk dompet akhir bulannya, Clara masih memiliki sisa harga diri dan akal sehat yang c**up untuk menolak tawaran sesat tersebut.

"Clara? Kenapa kamu malah melamun?" suara Adrian membuyarkan fokus Clara dari layar hologram yang langsung menghilang kembali.

"Ah? Eh, iya, Pak! Maaf!" Clara mengerjapkan matanya cepat, memaksakan diri untuk menatap mata Adrian secara normal tanpa melakukan instruksi g*** dari sistem. "Saya nggak menyembunyikan apa-apa kok, Pak. Sumpah! Saya cuma agak kurang enak badan saja hari ini. Mungkin saya agak demam, makanya tubuh saya mengeluarkan keringat dingin."

Adrian tidak langsung memercayai ucapan itu. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan hangat ke arah wajah Clara. Clara langsung membeku di tempatnya, menahan napasnya saat ujung jari telunjuk Adrian yang hangat menyentuh pelipisnya dengan sangat lembut, menghapus sebutir keringat yang hendak jatuh ke pipinya.

Sentuhan singkat itu terasa seperti sengatan listrik bertegangan rendah yang langsung merambat ke seluruh tubuh Clara. Kulit di tempat yang disentuh Adrian terasa terbakar.

"Kulitmu memang agak hangat," gumam Adrian, suaranya terdengar melembut sejenak sebelum ia kembali menarik tangannya dan kembali ke mode bosnya yang dingin. "Kalau kamu memang sakit, jangan dipaksakan. Saya tidak mau sekretaris saya pingsan di kantor dan membuat pekerjaan saya berantakan."

"I-iya, Pak. Terima kasih atas perhatiannya. Saya masih kuat kok," jawab Clara dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan.

Adrian mengambil map hitam yang tadi ia letakkan di meja dan menyodorkannya ke arah Clara. "Rapikan berkas laporan keuangan di dalam ini. Saya butuh data yang sudah dianalisis sebelum rapat dewan direksi jam dua siang nanti. Dan satu lagi, Clara..."

Adrian menjeda kalimatnya, menatap Clara sekali lagi dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk sebuah seringai tipis yang sangat samar namun terlihat sangat menawan sekaligus berbahaya.

"Lain kali, kalau mau ke toilet, tidak perlu sampai berlari seperti itu. Atau jangan-jangan... kamu habis melakukan sesuatu yang nakal di toilet lant** bawah?" bisik Adrian dengan nada menggoda yang sangat tipis sebelum ia membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ma**k ke dalam ruangannya yang dingin.

*B**k.*

Pintu kaca itu menutup rapat, meninggalkan Clara yang terduduk lemas di kursinya dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Wajahnya kini benar-benar terasa seperti terbakar.

*Apakah dia tahu? Nggak mungkin, kan?!* jerit Clara dalam hati sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang gemetar. Di dalam kesunyian kubikelnya, ia hanya bisa berdoa agar sistem g*** ini tidak memberinya misi yang lebih ekstrem lagi di masa depan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca