Wajah tegas dengan rahang kokoh milik Adrian langsung tertangkap oleh indra penglihatan Clara. Pria itu berdiri di ambang pintu, menatap Clara dengan sepasang mata elang yang dingin namun mematikan. Sialnya, tatapan itu langsung terkunci pada Clara yang saat ini sedang sibuk mengipasi dirinya sendiri dengan map plastik.
"Clara? Kenapa wajah kamu merah begitu?" tanya Adrian dengan suara baritonnya yang berat, terdengar begitu berwibawa di koridor yang mendadak sunyi.
Clara langsung menurunkan map plastiknya dengan gerakan patah-patah, seperti robot kekurangan oli. "E-eh? Pak Adrian! Enggak apa-apa, Pak. Ini... AC kantor agak kurang berasa ya hari ini? Gerah banget, hehe," dusta Clara sambil menyengir kuda, berusaha menyembunyikan kepanikannya.
Adrian menaikkan sebelah alisnya yang tebal. "Kurang berasa? AC sentral gedung ini diset di suhu delapan belas derajat, Clara. Dan staf yang lain bahkan memakai jaket."
*Skakmat.* Clara merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. Kenapa juga dia harus membuat alasan sekonyol itu?
Sebelum Clara sempat memikirkan alasan lain untuk menyelamatkan harga dirinya, tiba-tiba sebuah suara mekanis yang sangat ia kenal berdengung keras di dalam kepalanya.
*Ding!*
**[Sistem mendeteksi detak jantung Inang meningkat drastis: 125 bpm. Jarak dengan target utama (Adrian) berada dalam radius efektif. Misi kedua segera diaktifkan!]**
Clara hampir saja melompat dari kursinya. *Gak! Gak mau! Tolong jangan sekarang!* teriak Clara histeris dalam hatinya.
**[Misi Kedua: "Mencuri Kehangatan Pena Bos".]**
**[Deskripsi Misi: Ambil pena hitam berlogo emas yang baru saja dipakai oleh Adrian di meja kerjanya. Bawa pena tersebut ke dalam toilet, lalu simpan di dalam saku pakaian dalam (belahan b**) Anda selama sepuluh menit hingga suhu pena menyatu dengan suhu tubuh Anda.]**
**[Batas Waktu Pengambilan: 5 menit.]**
**[Hukuman Kegagalan: Sistem akan mengirimkan pesan otomatis bertuliskan "Mas Adrian, aku pengen meluk kamu erat-erat malam ini" ke nomor WhatsApp pribadi Adrian.]**
Mata Clara melebar sempurna. Kepalanya mendadak pening, seolah-olah baru saja dihantam palu godam. *Saku pakaian dalam?! Di dalam b**?! Selama sepuluh menit?! Ini sistem macam apa, sih?! Kenapa mesum banget?!*
"Clara? Kamu melamun?" suara Adrian memecah kepanikan batin Clara.
"Ah! I-iya, Pak! Maaf, ada apa ya, Pak?" sahut Clara gelagapan, tangannya gemetar di atas meja.
Adrian mengembuskan napas pelan. "Bawa dokumen laporan mingguan divisi pemasaran ke meja saya sekarang. Ada beberapa bagian yang perlu saya tanda tangani dan koreksi bersama kamu."
"Baik, Pak! Segera!"
Clara langsung menyambar map laporan di mejanya. Otaknya berputar cepat mencari strategi. Ini adalah kesempatan emas sekaligus jembatan menuju maut. Dia harus mengambil pena emas milik Adrian. Tapi bagaimana caranya? Adrian itu tipe pria yang sangat teliti dan perfeksionis. Kehilangan selembar kertas saja dia bisa tahu, apalagi pena kesayangannya.
Dengan langkah kaki yang terasa berat seperti dipasangi bandul besi, Clara mengekor di belakang Adrian ma**k ke dalam ruangan bosnya yang beraroma kayu cendana maskulin itu.
Adrian duduk di kursi kebesarannya, sementara Clara berdiri di depan meja dengan sikap canggung. Adrian menerima dokumen dari Clara, membukanya, lalu meraih sebuah pena hitam mewah berlogo emasβMontblanc MeisterstΓΌckβdari tempat pena. Dengan gerakan anggun, Adrian menandatangani beberapa lembar dokumen tersebut.
Clara tidak bisa melepaskan pandangannya dari pena itu. Benda kecil berwarna hitam mengkilap itu sekarang menjadi target operasi hidup dan matinya.
"Bagian analisis pasar ini masih kurang mendalam. Kamu harus..." Adrian mendongak, ucapannya terhenti saat melihat Clara yang tidak fokus pada dokumen, melainkan menatap tangannya dengan pandangan... lapar? Atau aneh?
"Clara? Kamu memperhatikan saya?" tanya Adrian, menyipitkan matanya curiga.
"Eh? Oh! Iya, Pak! Saya... saya sangat memperhatikan... pena Bapak!" Clara merutuki mulutnya yang tidak bisa diajak kompromi. "Maksud saya, pena Bapak bagus banget. Sangat elegan dan... kelihatan mahal banget. Pasti enak dipakainya."
Adrian sempat tertegun sejenak, sebelum sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis yang sangat tipis, hampir tak kentara. "Ini hadiah dari klien di Jerman. Dan ya, ini sangat nyaman digunakan."
Adrian meletakkan pena itu begitu saja di atas meja, tepat di sebelah kanan tumpukan dokumen.
*Kesempatan!* batin Clara berteriak heboh.
Namun, bagaimana cara mengambilnya tanpa ketahuan? Tidak mungkin Clara langsung menyambarnya di depan mata Adrian. Dia bukan pesulap David Copperfield.
*Kring!*
Tiba-tiba, telepon kabel di meja Adrian berdering nyaring. Adrian mendengus pelan, lalu mengangkat gagang telepon. "Ya, dengan Adrian di sini... Oh, Pak Direktur? Baik, sebentar..."
Adrian berdiri dari kursinya sambil memegang gagang telepon, lalu berbalik membelakangi Clara untuk menghadap ke jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta. Tampaknya itu adalah pembicaraan yang c**up serius dan konfidensial.
*Sekarang atau mati!*
Jantung Clara berdegup kencang, suaranya bahkan terdengar sampai ke telinganya sendiri. Dengan tangan yang luar biasa gemetar, Clara mengulurkan jari-jarinya ke arah meja kerja Adrian. Sedikit lagi... sedikit lagi...
*Klak!*
Karena terlalu gugup, ujung jari Clara malah menyenggol wadah klip kertas di dekatnya hingga wadah itu terguling. Puluhan klip kertas logam berserakan di atas meja kaca dan jatuh ke lant** dengan suara berisik.
"Aduh!" jerit Clara tertahan.
Adrian langsung berbalik dengan dahi berkerut, masih memegang telepon di telinganya. "Ada apa, Clara?" tanya Adrian tanpa suara, hanya menggerakkan bibirnya.
Clara langsung berjongkok di lant** dengan panik. "N-nggak apa-apa, Pak! Saya cuma jatuhin klip kertas! Maaf banget, Pak!" seru Clara panik setengah mati.
Sambil berjongkok dan pura-pura memunguti klip kertas di lant**, tangan kanan Clara dengan gerakan super cepat menyambar pena Montblanc milik Adrian yang untungnya tadi ikut terjatuh ke dekat tepi meja akibat senggolan wadah klip. Clara langsung menyelipkan pena mahal itu ke dalam saku celana kulotnya.
Setelah berhasil, Clara berdiri dengan wajah yang pucat pasi namun berusaha tetap tersenyum. "Sudah bersih, Pak. Maaf mengganggu."
Adrian mengangguk pelan, kembali fokus pada teleponnya. "Baik, Pak. Saya akan segera ke ruangan Anda sekarang." Adrian meletakkan gagang telepon, lalu menatap Clara. "Saya harus ke ruangan Direktur Utama sekarang. Kamu bisa kembali ke meja kamu dan perbaiki analisis pasar tadi."
"Baik, Pak Adrian! Permisi!" Clara membungkuk hormat, lalu hampir berlari keluar dari ruangan kerja Adrian.
Begitu pintu kaca tertutup, Clara langsung melesat menuju toilet wanita di ujung lorong dengan kecepatan cahaya. Dia tidak memedulikan tatapan heran dari beberapa rekan kerjanya yang melihatnya berlari seperti dikejar an**** g***.
*B**k!*
Clara mendorong pintu toilet, ma**k ke dalam salah satu bilik kosong, dan segera mengunci pintunya dari dalam. Napasnya terengah-engah. Diambilnya pena hitam milik Adrian dari saku celananya. Pena itu terasa dingin di tangannya yang berkeringat.
*Ding!*
**[Pena target berhasil diamankan. Silakan jalankan bagian kedua misi: Simpan pena di dalam belahan pakaian dalam (b**) Anda sekarang. Waktu tersisa untuk memulai: 30 detik.]**
"Si****! Benar-benar sistem mesum g***!" umpat Clara frustrasi.
Mau tidak mau, demi menghindari hukuman mengirimkan pesan memalukan yang bisa merusak kariernya seumur hidup, Clara membuka kancing kemeja atasnya sedikit. Dengan perasaan campur aduk antara geli, malu, dan takut, ia menyelipkan pena logam dingin itu ke dalam belahan b** bagian sampingnya, menempel langsung pada kulit sensitifnya.
"Shh! G***, dingin banget!" desis Clara, merinding seketika saat logam dingin itu bersentuhan dengan kulitnya.
**[Misi Kedua dimulai. Proses penyelarasan suhu: 10:00... 09:59... 09:58...]**
Clara menyandarkan punggungnya ke pintu bilik toilet, memejamkan mata erat-erat. Waktu sepuluh menit terasa seperti sepuluh tahun. Dia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, membuat pena di dalam b**-nya ikut naik turun seirama napasnya.
*Kalau ada yang tahu gue lagi berdiri di bilik toilet sambil nyimpen pena bos di dalam kutang, gue pasti langsung diseret ke rumah sakit jiwa,* batin Clara meratapi nasibnya yang malang.
Lima menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Tiba-tiba, terdengar suara pintu utama toilet terbuka.
*Tap. Tap. Tap.*
Langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke arah wastafel. Clara langsung menahan napasnya, tidak berani bergerak sedikit pun.
"Hah... capek banget hari ini. Mana kerjaan numpuk," terdengar suara Dwi yang sedang mengeluh, disusul suara gemercik air wastafel. "Eh, lo tahu nggak? Tadi pas gue lewat kubikel depan, gue dengar Pak Adrian lagi nyariin penanya yang hilang. Katanya pena bersejarah dari Jerman. Waduh, kasihan banget siapa pun yang ngambil atau ng***ngin, bisa langsung didepak dari kantor itu mah."
Clara yang berada di dalam bilik langsung membelalakkan mata. Tenggorokannya mendadak kering. *Mampus gue! Pak Adrian udah sadar penanya hilang!*
"Tapi aneh ya, masa maling di kantor ini cuma mau nyuri pena? Kurang kerjaan banget," gumam Dwi lagi, disusul suara pengering tangan yang bising. Tak lama kemudian, langkah kaki Dwi terdengar menjauh dan pintu toilet kembali tertutup rapat.
Clara mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya hingga dadanya terasa sesak. Ia melirik layar ponselnya yang menampilkan sisa waktu dari sistem.
**[01:15... 01:14... 01:13...]**
"Sedikit lagi... ayolah cepat..." bisik Clara dengan bibir gemetar. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Saking tegangnya, ia merasa pena di dalam pakaian dalamnya itu kini sudah tidak terasa dingin lagi, melainkan sudah menghangat karena hawa panas tubuhnya yang sedang demam panggung.
*Ding!*
**[00:03... 00:02... 00:01...]**
*Ding!*
**[Misi Kedua Selesai dengan Sukses!]**
**[Hadiah Misi: Peningkatan stamina fisik sebesar +5% dan efek detoksifikasi kulit instan (wajah Anda akan terlihat lebih segar dan bercahaya).]**
**[Hadiah telah diaplikasikan pada tubuh Inang.]**
Seketika itu juga, Clara merasakan rasa lelah dan pening di kepalanya menguap begitu saja. Ketika ia berkaca di cermin kecil di dalam bilik, ia terkejut melihat wajahnya yang tadinya kusam karena keringat kini terlihat bersih, cerah, dan merona alami seolah habis melakukan perawatan wajah mahal di klinik kecantikan.
"Wah... efeknya nyata banget," gumam Clara takjub. Namun, kekagumannya langsung sirna ketika ia teringat satu hal penting. "Tunggu dulu... sekarang gimana cara gue balikin ini pena?!"
Pena itu harus kembali ke meja Adrian sebelum sang bos besar murka dan menuduhnya sebagai penculik pena.
Clara buru-buru mengeluarkan pena tersebut dari dalam b**-nya. Benar saja, pena logam itu kini terasa sangat hangat di genggamannya. Clara merapikan kemejanya, memastikan tidak ada yang aneh dari penampilannya, lalu melangkah keluar dari toilet dengan langkah cepat.
Ia kembali ke ruang kerja kubikelnya. Suasana di lant** 30 tampak sedikit tegang karena Adrian kabarnya sedang mencari pena kesayangannya.
Clara menarik napas dalam-dalam. Dia harus ma**k ke ruangan Adrian sekarang. Dengan alasan ingin menyerahkan revisi analisis pasar yang tadi diminta, Clara mengetuk pintu kaca ruangan Adrian.
"Ma**k," terdengar suara dingin dari dalam.
Clara mendorong pintu dan melangkah ma**k. Adrian tampak sedang sibuk memeriksa laci-laci mejanya dengan dahi berkerut dalam, wajahnya terlihat luar biasa gusar.
"Pak Adrian... ini revisi laporan yang tadi Bapak minta," ucap Clara sesopan mungkin, menaruh map di atas meja kerja Adrian.
Adrian mendongak, matanya menatap Clara dengan pandangan menyelidik. "Ya, taruh saja di sana. Clara, apa kamu melihat pena hitam saya yang tadi? Saya ingat terakhir kali meletakkannya di atas meja ini sebelum ke ruangan Direktur."
Clara menelan ludah. Ini adalah momen penentu. Sambil memegang map dokumen lainnya, Clara berpura-pura tidak sengaja menjatuhkan buku catatan kecilnya ke lant**, tepat di samping kursi kerja Adrian.
"Aduh, maaf, Pak! Saya ceroboh banget hari ini," ujar Clara dengan nada dibuat sealami mungkin.
Ia segera berjongkok untuk mengambil buku catatannya. Dengan gerakan lihai yang sudah ia rencanakan, Clara menyelipkan pena Montblanc yang hangat itu dari balik telapak tangannya ke kolong meja kerja Adrian, tepat di dekat roda kursi sang bos.
"Loh? Pak Adrian! Ini penanya!" seru Clara dengan nada terkejut yang dibuat-buat, sambil mengangkat pena tersebut dari lant** seolah-olah baru saja menemukannya di sana. "Ternyata jatuh ke bawah kolong meja Bapak! Untung nggak terinjak."
Adrian tampak terkejut. Ia menerima pena yang disodorkan oleh Clara. "Di kolong meja? Padahal tadi saya sudah mencarinya di bawah sana."
"Mungkin menggelinding pas saya jatuhin klip kertas tadi, Pak," jawab Clara dengan senyum termanis yang bisa ia berikan.
Adrian menatap pena di tangannya. Namun, begitu kulit telapak tangan Adrian bersentuhan dengan badan pena tersebut, gerakan tangan pria itu mendadak terhenti. Alisnya bertaut rapat.
Adrian memutar-mutar pena itu di jarinya, merasakan sensasi fisik dari benda tersebut. Tatapannya beralih dari pena langsung ke arah mata Clara, tajam dan penuh selidik.
"Clara," panggil Adrian dengan suara yang mendadak melembut namun terasa mengintimidasi.
"I-iya, Pak?" Clara mulai merasa tidak enak. Jantungnya kembali berdegup kencang.
"Kenapa... pena saya rasanya sangat hangat?" tanya Adrian lambat-lambat, matanya menyipit penuh selidik. "Suhu ruangan ini sangat dingin. Tapi pena ini... rasanya hangat seperti baru saja ditempelkan ke tubuh seseorang."
Clara membeku di tempatnya berdiri. Wajahnya yang baru saja mendapatkan efek detoksifikasi instan dari sistem, kini langsung berubah merah padam seperti kepiting rebus dalam hitungan detik. Ia benar-benar kehilangan kata-kata.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!