**Bab 6: Tragedi Pena Jatuh di Wastafel**
Langkah kaki Clara terasa sangat berat, seolah-olah sepasang flat shoes yang ia kenakan mendadak berubah menjadi beton seberat sepuluh kilogram. Di depannya, punggung tegap Adrian bergerak dengan sant** namun memancarkan aura dominan yang siap mengintimidasi siapa saja.
*Sumpah, ini sistem dapet ide dari mana sih?* batin Clara menjerit frustrasi. *Mencuri kehangatan pena bos? Dima**kkan ke dalam b**?! Ini pelecehan terselubung namanya! Tapi korbannya... gue sendiri!*
**[Peringatan: Sisa waktu untuk mengambil target "Pena Hitam Berlogo Emas" adalah 3 menit 45 detik. Jika gagal, pesan WhatsApp 'Mas Adrian, aku pengen meluk kamu erat-erat malam ini' akan otomatis terkirim.]**
*Bacot ya, Sistem si****!* Clara mengumpat dalam hati, berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar saat melangkah ma**k ke dalam ruangan Adrian yang ber-AC dingin, namun terasa seperti oven bagi Clara yang sedang dilanda kepanikan tingkat dewa.
Adrian duduk di kursi kebesarannya, lalu menatap Clara dengan tatapan menilai. "Mana laporannya?"
"Ini, Pak," jawab Clara dengan suara yang diusahakan selembut dan seprofesional mungkin. Ia menyerahkan map plastik itu dengan tangan yang sedikit bergetar.
Adrian menerima map tersebut, membukanya, dan mulai membaca lembar demi lembar dengan teliti. Di sela-sela kegiatannya, jemari panjang nan kokoh milik pria itu meraih sebuah pena hitam dengan aksen emas yang terletak manis di atas meja kerjanya. Pena bermerek Montblanc yang harganya setara dengan biaya sewa kos Clara selama enam bulan.
*Itu dia penanya!* Mata Clara langsung berbinar panik.
Adrian mulai membubuhkan tanda tangan di beberapa halaman. Clara berdiri di sisi meja, otaknya berputar dengan kecepatan penuh mencari cara untuk merebut pena tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan.
Tepat pada saat itu, dewi penolong seolah berpihak pada Clara. Telepon kabel di meja Adrian berdering nyaring. Adrian menghela napas pelan, lalu mengangkat gagang telepon tersebut.
"Ya, dengan Adrian di sini. Bagaimana progres meeting dengan klien dari Singapura?" tanya Adrian dengan suara baritonnya yang terdengar sangat berwibawa.
Sambil berbicara di telepon, Adrian meletakkan pena mahal itu begitu saja di atas meja kerja, tepat di dekat jangkauan tangan Clara. Pria itu kemudian memutar kursi kebesarannya membelakangi Clara untuk melihat dokumen di layar komputernya.
*Sekarang atau tidak sama sekali!*
Dengan gerakan secepat kilatβyang bahkan mungkin bisa menyaingi kecepatan copet di terminalβjemari Clara menyambar pena tersebut. *Hup!* Sukses! Clara langsung menyelipkan pena itu ke dalam saku cardigannya dengan gerakan yang sangat mulus.
"Baik, pastikan semuanya siap sore ini," ucap Adrian sebelum menutup telepon. Ia kembali memutar kursinya menghadap Clara.
Jantung Clara berdegup kencang, saking kencangnya sampai ia takut Adrian bisa mendengarnya.
"Clara, tolong rapikan dokumen ini dan..." Adrian menggantung kalimatnya. Matanya menyapu meja kerjanya, mencari sesuatu yang baru saja ia letakkan di sana. "Di mana pena saya?"
Clara langsung memasang wajah paling polos yang bisa ia pasang di dunia ini. "Eh? Pena yang mana ya, Pak?"
"Pena hitam berlogo emas yang tadi saya pakai. Baru saja saya letakkan di sini," dahi Adrian berkerut, tatapan matanya mulai meneliti area meja kerja yang mendadak kosong dari benda berharga tersebut.
"Waduh, saya kurang tahu, Pak. Mungkin jatuh ke bawah meja? Atau... kesenggol?" Clara berpura-pura ikut mencari, bahkan sampai membungkuk sedikit untuk melihat ke kolong meja. "Oh iya, Pak! Maaf banget, perut saya mendadak sakit sekali. Boleh saya izin ke toilet sebentar? Benar-benar darurat, Pak!" Clara memegangi perutnya dengan ekspresi meringis yang 100% akting murni.
Adrian mengembuskan napas, terlihat sedikit terganggu namun tidak bisa berbuat apa-apa jika stafnya sedang mengalami "darurat pangg***n alam". "Ya sudah, cepat sana. Setelah itu kembali ke sini untuk merapikan berkas."
"Baik, Pak! Terima kasih!"
Clara langsung membalikkan badan dan setengah berlari keluar dari ruangan kerja Adrian. Begitu pintu tertutup, ia segera melesat menuju toilet khusus karyawan yang berada di ujung koridor.
Begitu ma**k ke dalam area toilet yang untungnya sedang sepi, Clara langsung mengunci pintu luar toilet agar tidak ada yang mengganggunya. Ia berdiri di depan cermin wastafel yang besar, mengatur napasnya yang terengah-engah.
**[Ding! Target berhasil didapatkan. Memulai perhitungan mundur Misi Kedua: 10 menit. Silakan letakkan target di tempat yang telah ditentukan.]**
"Si****, bener-bener harus gue taruh di dalam b** ya?" gumam Clara frustrasi. Wajahnya memerah padam membayangkan kekonyolan ini.
Clara meraba saku cardigannya, mengambil pena mewah milik Adrian. Pena itu terasa dingin di tangannya yang mulai berkeringat dingin. Dengan tangan yang gemetar hebat karena rasa malu dan panik yang bercampur aduk, Clara mulai membuka dua kancing teratas kemeja kerjanya.
"Oke, Clara. Tarik napas, embuskan. Cuma sepuluh menit. Setelah ini selesai, hidup lo bakal aman dari fitnah WhatsApp mesum," bisiknya menyemangati diri sendiri.
Ia memegang pena itu dengan ujung jarinya. Namun, karena tangannya terlalu basah oleh keringat dingin akibat kepanikan yang luar biasa, pena licin itu mendadak tergelincir dari genggamannya.
*Pluk!*
Pena itu jatuh ke dalam wastafel porselen putih di depannya.
"Eh?!" Clara terpekik kecil.
Bagaikan adegan dalam film horor dengan efek *slow motion*, pena mahal itu menggelinding dengan sangat mulus di permukaan wastafel yang miring, lalu langsung meluncur ma**k ke dalam lubang pembuangan air yang penutupnya kebetulan sedang dilepas untuk dibersihkan.
*Sret... Wusss...*
"TIDAAAAKKK!!!" Clara menjerit tertahan, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Ia menatap lubang wastafel dengan mata yang membelalak sempurna. Kosong. Pena hitam milik Adrian benar-benar sudah lenyap ditelan kegelapan pipa wastafel kantor.
"Nggak, nggak, nggak! Ini nggak lucu!" Clara panik setengah mati. Ia langsung mendekatkan wajahnya ke lubang wastafel, mencoba mengintip ke dalam. Gelap gulita. Hanya ada bau samar sabun cuci tangan dan air yang mengalir.
**[Peringatan: Detak jantung Inang terlalu tinggi. Sisa waktu misi: 8 menit 15 detik. Jika target tidak berada di posisi yang ditentukan dalam waktu yang ditentukan, hukuman akan segera dieksekusi.]**
"Diem lo, Sistem ba*****! Bantu mikir kek, malah ngasih *countdown*!" semprot Clara pada suara mekanis di kepalanya.
Panik mengalahkan segala akal sehat dan sisa-sisa keanggunan yang dimiliki Clara sebagai sekretaris teladan. Ia tidak boleh membiarkan pena itu hilang. Pertama, harganya mahal banget, dia bisa miskin mendadak kalau harus ganti rugi. Kedua, kalau pena itu hilang, misinya gagal, dan dia bakal dicap sebagai cewek gatal karena pesan otomatis si**** itu!
Tanpa berpikir panjang, Clara langsung berlutut di lant** toilet yang dingin. Ia membuka pintu lemari kecil di bawah wastafel, tempat di mana pipa pembuangan berbentuk U berada.
"Gue harus bongkar pipa ini!" gumam Clara dengan tekad bulat yang muncul dari rasa putus asa.
Ia memperhatikan pipa plastik tebal berwarna putih itu. Beruntung, sambungannya menggunakan model ulir yang bisa diputar manual tanpa kunci inggris. Clara langsung mencengkeram bagian ulir penyambung pipa dengan kedua tangannya.
"Ayo... putar... please, demi masa depan gue!" Clara mengejan, mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki. Pipa itu sangat keras dan licin karena berdebu.
*KREKK!*
"Aduh!" Clara meringis saat kuku jarinya yang di-manicure cantik patah. Tapi dia tidak peduli. Dengan sisa tenaga dan keringat yang mulai bercucuran membasahi dahi serta merusak riasan wajahnya, Clara terus memutar ulir tersebut.
*SREKK... SREKK... BUK!*
Suara gaduh pipa yang saling berbenturan menggema di dalam toilet yang sunyi.
"Dikit lagi! Ayo dong!" Clara kembali memutar dengan brutal. Rambutnya yang tadinya disanggul rapi kini mulai acak-acakan, beberapa helai anak rambut menempel di pipinya yang basah oleh keringat. Kemeja kerjanya yang rapi kini ketumpahan beberapa tetes air kotor dari sela-sela pipa yang mulai longgar.
*KRAK!*
Akhirnya, sambungan pipa itu terlepas. Bersamaan dengan itu, sisa air kotor berwarna abu-abu keruh langsung menyembur keluar, membasahi lant** toilet dan mengenai ujung rok span hitam yang dikenakan Clara.
"Kyaaa! Bau banget!" Clara m****ik geli sekaligus jijik. Tapi begitu melihat sebuah benda hitam tersangkut di dalam belokan pipa U yang baru saja ia lepas, matanya langsung berbinar mengalahkan bintang di langit malam.
"Dapet!" Clara berteriak girang. Ia mengabaikan rasa jijik dan langsung merogoh bagian dalam pipa kotor itu dengan jari telunjuknya.
*Slurrp...*
Dengan sekali tarikan, pena hitam berlogo emas milik Adrian berhasil diselamatkan! Pena itu kini dipenuhi lendir hitam dan sisa sabun, namun kondisinya masih utuh dan tampak sangat kokoh.
"Hahaha! Gue berhasil! Gue emang jenius!" Clara tertawa bangga, mengangkat pena kotor itu tinggi-tinggi layaknya seorang pahlawan yang baru saja memenangkan piala dunia. Sisa keanggunannya sebagai wanita karier berkelas kini benar-benar luntur total. Dia tampak seperti montir dadakan yang tersesat di toilet wanita.
Namun, kegembiraan Clara tidak berlangsung lama.
*TOK! TOK! TOK!*
"Clara? Lo di dalam? Kok berisik banget sih? Lo lagi renovasi toilet atau gimana?"
Suara cempreng Siska, rekan kerjanya dari divisi keuangan sekaligus biang gosip kantor, terdengar dari balik pintu luar toilet yang terkunci.
Jantung Clara serasa copot. Ia menatap dirinya sendiri di cermin dengan ngeri. Wajahnya coret-moret abu-abu karena debu pipa, rambutnya acak-acakan mirip singa baru bangun tidur, kemejanya kusut, roknya basah, dan tangannya memegang pena kotor berlendir.
"E-eh! Siska! Iya, ini gue... gue lagi... aduh, perut gue bener-bener gak kompromi hari ini!" jawab Clara asal-asalan dengan suara yang ditinggikan agar terdengar sampai luar.
"Tapi kok suaranya kayak ada besi jatuh gitu? Terus tadi ada suara teriak-teriak juga? Lo gak apa-apa kan, Clar? Jangan-jangan lo pingsan?" tanya Siska terdengar sangat penasaran. Terdengar suara gagang pintu luar yang coba dimainkan dari luar. "Clar, kok dikunci sih? Gue kebelet nih!"
Clara semakin panik. Sementara itu, sistem kembali berbunyi dengan nada yang sangat menyebalkan.
**[Sisa waktu misi: 4 menit. Silakan bersihkan target dan segera letakkan di tempat yang ditentukan untuk mendeteksi suhu tubuh.]**
*Aaaakh! Si****! Si****! Si****!* Clara berteriak tanpa suara, menjambak rambutnya sendiri dengan tangan kiri yang bebas dari lendir.
"Siska! Sebentar ya! Lima menit lagi! Perut gue bener-bener lagi demo besar-besaran ini! Jangan didob**k please!" teriak Clara dengan nada memohon yang dibuat-buat seperti orang yang sedang menahan sakit luar biasa.
"Aduh, buruan ya, Clar! Gue udah di ujung tanduk nih!" sahut Siska dari luar dengan nada gusar.
Clara tidak punya waktu lagi untuk berdebat. Dengan gerakan super cepat, ia menyalakan keran wastafel satunya yang pipanya masih utuh, lalu membilas pena mahal Adrian seadanya sampai bersih dari lendir. Setelah itu, ia mengeringkan pena tersebut menggunakan tisu toilet dengan terburu-buru.
Sekarang, tibalah bagian tersulit dari misi ini.
Clara menatap pena yang sudah bersih itu, lalu menatap dadanya sendiri. Dengan wajah yang terasa panas seperti terbakar, ia menarik sedikit bagian depan b**-nya, lalu menyelipkan pena dingin itu tepat di belahan dadanya.
*Ssshhhh... dingin banget g***!* Clara merinding seketika saat logam dingin dari pena itu bersentuhan langsung dengan kulit sensitifnya.
**[Ding! Target terdeteksi berada di posisi yang tepat. Memulai perhitungan mundur 10 menit untuk menyatukan suhu tubuh Inang dengan target.]**
**[Catatan: Inang dilarang mengeluarkan target sebelum waktu habis, atau misi akan dianggap gagal seketika.]**
Clara mengembuskan napas pasrah. Ia menyandarkan tubuhnya yang lemas di dinding toilet. Setidaknya, ancaman WhatsApp mesum itu sudah terhindari untuk sementara waktu. Namun sekarang, ia punya masalah baru yang jauh lebih besar.
Bagaimana caranya dia keluar dari toilet ini dan kembali ke meja Adrian dengan penampilan yang sudah mirip seperti gembel korban ba**** bandang seperti ini?
Tiba-tiba, dari balik pintu luar, terdengar suara langkah kaki berat yang sangat Clara kenal. Langkah kaki yang tegas dan berwibawa.
"Siska? Kenapa kamu berdiri di depan toilet?"
Suara bariton milik Adrian terdengar sangat jelas, membuat bulu kuduk Clara meremajakan diri seketika.
"Eh, Pak Adrian! Ini, Pak... Clara di dalam toilet dari tadi gak keluar-keluar. Terus di dalam berisik banget kayak ada suara barang pecah atau pipa bocor gitu. Saya mau ma**k tapi pintunya dikunci dari dalam," lapor Siska dengan nada mengadu yang sukses membuat Clara ingin melempar Siska dengan pipa U yang tadi ia bongkar.
"Clara di dalam?" suara Adrian terdengar heran dan mulai dipenuhi nada curiga. "Clara? Kamu di dalam? Kamu tidak apa-apa?"
Clara memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menatap pena yang terselip di dalam b**-nya, lalu menatap air kotor yang masih menggenang di lant** toilet akibat ulahnya memutus pipa pembuangan.
*Ya Tuhan... mending tenggelamkan gue ke dalam wastafel ini sekarang juga...* batin Clara menangis meratapi nasibnya yang bener-bener apes hari ini.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!