Matanya menatap lurus ke arah saku cardigan Clara.
Jantung Clara serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Napasnya tertahan di tenggorokan. *Mampus gue,* batinnya menjerit histeris. *Apa dia tahu gue baru aja nyopet pena mahalnya?*
"Dan... tolong ambilkan stapler di laci meja sebelah kanan," lanjut Adrian dengan wajah datar tanpa dosa.
Clara langsung mengembuskan napas lega yang terdengar sangat kentara. Dengan gerakan cepat, ia membuka laci, mengambil stapler yang dimaksud, dan menyerahkannya kepada Adrian. "Ini, Pak."
"Oke. Kamu boleh keluar. Siapkan berkas untuk rapat jam sepuluh nanti dengan PT Megah Semesta. Jangan sampai ada yang kurang. Klien kali ini sangat krusial untuk proyek kuartal pertama kita," ujar Adrian dingin, kembali fokus pada dokumen di hadapannya.
"Baik, Pak. Permisi." Clara buru-buru membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan itu secepat yang ia bisa. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, ia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor dan mengusap dadanya yang naik-turun.
"G***, jantung gue hampir copot!" bisik Clara pada dirinya sendiri. Ia meraba saku cardigannya. Pena Montblanc berlogo emas milik Adrian masih aman di sana. Setidaknya, untuk saat ini, rahasianya belum terbongkar dan ia berhasil menghindari hukuman aneh dari sistem ke***** itu.
***
Pukul sepuluh tepat.
Ruang rapat utama lant** lima terasa sangat dingin, namun atmosfer di dalamnya justru terasa panas dan menegangkan. Di ujung meja oval panjang, duduk Pak Baskara, Direktur Utama PT Megah Semesta. Pria paruh baya itu terkenal sangat perfeksionis, kaku, dan paling benci dengan ketidakprofesionalan. Di sampingnya, ada dua orang asisten yang sibuk mencatat.
Sementara di sisi lain meja, Adrian duduk dengan postur tubuh tegap yang memancarkan aura kepemimpinan yang kuat. Di sebelah Adrian, Clara duduk dengan laptop terbuka, siap mencatat setiap poin penting dalam rapat presentasi proyek bernilai miliaran rupiah ini.
"Jadi, Pak Adrian," Pak Baskara membuka suara dengan nada berat dan berwibawa. "Kami tertarik dengan konsep green building yang perusahaan Anda tawarkan. Tapi, bagaimana Anda bisa menjamin bahwa estimasi biaya yang Anda ajukan tidak akan membengkak di tengah jalan? Kami butuh kepastian, bukan sekadar janji di atas kertas kerja."
Adrian tersenyum tipisβsebuah senyuman profesional yang sangat menawan namun sekaligus penuh perhitungan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
"Pertanyaan yang sangat bagus, Pak Baskara. Di halaman lima belas pada proposal yang sudah saya bagikan, Anda bisa melihat skema mitigasi risiko keuangan kami. Kami menggunakan sistem *fixed price* untuk material utama dengan vendor yang sudah bekerja sama selama sepuluh tahun."
Clara yang bertugas memindahkan slide presentasi di layar proyektor langsung menekan tombol *next* di laptopnya. Ia berusaha tetap fokus, meskipun hawa ketegangan di ruangan itu membuat tangannya sedikit dingin.
Rapat berlangsung alot. Pak Baskara terus mencecar Adrian dengan pertanyaan-pertanyaan sulit yang bisa membuat manajer proyek biasa langsung keringat dingin. Namun, Adrian menjawab semuanya dengan sangat tenang, runtut, dan cerdas. Cara bicaranya yang tegas dan sistematis benar-benar membuat siapa saja terpukau.
Terma**k Clara.
Di sela-sela kegiatannya mengetik notulen, mata Clara tanpa sengaja melirik ke arah bosnya. Adrian tampak sedikit lelah karena debat argumen yang c**up panjang. Pria itu menghela napas pelan, lalu mengangkat tangan kanannya yang dihiasi jam tangan mewah.
Dengan gerakan lambat yang terlihat sangat ka**al namun luar biasa s****, jemari panjang Adrian meraih simpul dasinya. Ia melonggarkan dasi sutra berwarna biru tua itu beberapa sentimeter, lalu membuka satu kancing teratas kemeja putihnya yang pas di badan. Jakun di leher kokohnya bergerak naik-turun saat ia meneguk air putih dari gelas di depannya.
*G***... kok bisa ada manusia seganteng ini sih?* batin Clara berteriak liar. *Komuknya pas lagi pusing kenapa malah makin hot? Dasinya dilonggarin gitu aja auranya langsung berubah jadi cowok nakal di novel-novel dewasa. Tolong, iman gue goyah!*
Tepat saat Clara sedang sibuk mengagumi ciptaan Tuhan di sebelahnya, sebuah suara mekanis yang sangat ia kenal tiba-tiba berdenting nyaring di dalam kepalanya.
*TING!*
Mata Clara membelalak. Tubuhnya mendadak kaku bagai batu.
**[Peringatan! Sistem mendeteksi peningkatan hormon dopamin dan fantasi liar pengguna sebesar 180% terhadap target (Adrian). Pikiran kotor pengguna tidak dapat ditoleransi dalam situasi formal.]**
*Heh?! Pikiran kotor apa?! Gue cuma mengagumi keindahan visual ya, Sistem si****!* Clara protes keras dalam hatinya, panik setengah mati.
**[Misi Darurat Diaktifkan: "Sensasi Kamar Mandi yang Mendesak".]**
**[Instruksi Misi: Pengguna harus segera pergi ke toilet terdekat dalam waktu 3 menit. Kunci diri Anda di dalam bilik, lalu gigit bibir bawah Anda sambil berbisik, "Mas Adrian, nakal ya..." dengan nada mendesah manja.]**
Mata Clara rasanya hampir keluar dari kelopaknya membaca teks hologram biru yang melayang di depan matanya itu. *Lo g*** ya?! Gue lagi di tengah rapat penting sama klien raksasa! Mana bisa gue tiba-tiba kabur ke toilet cuma buat mendesah manggil nama bos gue?!*
**[Sisa waktu: 02 menit 45 detik.]**
**[Peringatan Kegagalan: Jika misi tidak diselesaikan dalam batas waktu, sistem akan memutar file rekaman suara rahasia pengguna saat mengigau tentang Adrian dengan volume maksimal melalui speaker Bluetooth ruang rapat ini.]**
Darah Clara langsung terasa surut dari wajahnya. Wajahnya yang semula sedikit merona merah kini berubah pucat pasi seputih kertas. Rekaman suara mengigau?! Sejak kapan sistem merekam suaranya saat tidur?! Dan apa yang dia katakan saat mengigau tentang Adrian?!
Clara tidak berani membayangkannya. Jika rekaman itu berputar di depan Adrian dan Pak Baskara yang super kaku itu, kariernya, harga dirinya, dan seluruh kehidupannya di bumi ini akan tamat seketika. Dia akan dipecat secara tidak hormat karena dianggap sebagai staf mesum yang terobsesi pada bosnya.
**[Sisa waktu: 02 menit 10 detik.]**
Jantung Clara berdegup kencang seperti genderang perang. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Otaknya berputar dengan kecepatan maksimum, mencari cara untuk keluar dari ruangan ini tanpa dicurigai.
"Clara," suara bariton Adrian tiba-tiba memecah kepanikan dalam kepala Clara. Pria itu menoleh ke arahnya dengan kening berkerut. "Tunjukkan data perbandingan biaya operasional tahun lalu. Pak Baskara ingin melihatnya."
"Ah? I-iya, Pak," jawab Clara dengan suara yang sedikit bergetar. Ia dengan gemetar mencari file yang dimaksud dan menampilkannya di layar proyektor.
**[Sisa waktu: 01 menit 30 detik.]**
*Aduh, gimana ini?! Waktunya tinggal satu setengah menit lagi!* Clara meremas jemarinya di bawah meja. Ia harus segera pergi. Sekarang atau tidak sama sekali.
"Pak Adrian," Pak Baskara menyipitkan matanya melihat data di layar. "Ini data yang menarik. Tapi saya butuh rincian untuk vendor bagian kelistrikan."
Adrian mengangguk. "Tentu, Pak. Clara, tolong buka folder lampiran C dan..." Adrian menghentikan kalimatnya saat melihat wajah sekretarisnya yang sangat pucat dengan keringat yang membasahi dahi. "Clara? Kamu kenapa?"
Semua mata di ruang rapat kini tertuju pada Clara. Terma**k Pak Baskara yang menatapnya dengan tatapan menilai yang dingin.
"Ma-maaf, Pak Adrian... Pak Baskara," ucap Clara sambil memegangi perutnya dengan ekspresi kesakitan yang dibuat se-dramatis mungkin, walau sebenarnya rasa paniknya memang nyata. "Perut saya... tiba-tiba sakit sekali. Seperti melilit hebat. Saya... saya permisi ke toilet sebentar. Mohon maaf sekali atas ketidaknyamanan ini."
Adrian tampak terkejut. "Sakit perut? Kamu salah makan?"
"Sepertinya begitu, Pak. Saya benar-benar tidak tahan lagi," rintih Clara sambil menggigit bibir, berpura-pura menahan mules tingkat dewa.
Pak Baskara menghela napas pelan, namun nadanya melunak melihat wajah pucat Clara. "Ya sudah, silakan. Kesehatan itu utama. Kita bisa menunggu atau asisten saya bisa membantu mengoperasikan laptopnya sementara waktu."
"Terima kasih banyak, Pak Baskara! Terima kasih, Pak Adrian!" ucap Clara cepat.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari Adrian yang masih menatapnya dengan pandangan penuh selidik, Clara langsung berdiri dari kursinya. Ia melangkah cepatβnyaris berlariβkeluar dari ruang rapat yang menegangkan itu.
**[Sisa waktu: 00 menit 45 detik.]**
Begitu pintu ruang rapat tertutup, Clara langsung melepas martabatnya. Ia berlari kencang di koridor dengan sepatu flat shoes-nya, menuju toilet wanita yang berada di ujung lorong.
*Si****! Sistem ba*****!* umpat Clara dalam hati sambil terus berlari.
**[Sisa waktu: 00 menit 25 detik.]**
Clara mendorong pintu toilet wanita dengan kasar. Untungnya, toilet itu sedang kosong melompong. Tanpa membuang waktu, ia segera ma**k ke bilik nomor dua, menutup pintunya rapat-rapat, dan mengunci slotnya dengan bunyi *klik* yang nyaring.
**[Sisa waktu: 00 menit 12 detik.]**
Napas Clara memburu. Ia bersandar pada pintu kayu bilik toilet yang dingin. "Oke... oke... gue harus lakuin ini sekarang sebelum hidup gue hancur," gumamnya frustrasi.
Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan wajah Adrian yang tampan, tatapan matanya yang tajam, dan gerakan tangannya saat melonggarkan dasi tadi langsung terlintas di benaknya.
Clara menggigit bibir bawahnya sendiri dengan lembut. Dengan suara yang sangat pelan namun diusahakan terdengar mendesah manja sesuai instruksi g*** dari sistem, ia berbisik, "Mas Adrian... nakal ya..."
Hening sejenak.
**[Sistem: Deteksi suara kurang meyakinkan. Kurang ada penghayatan dan desahan manja. Sisa waktu: 00 menit 05 detik.]**
*A**** LAH! KOK DI-RATING SIH?!* Clara mengumpat dalam hati, air matanya hampir menetes karena frustrasi dan malu yang luar biasa, meskipun dia sendirian di bilik toilet ini.
**[Sisa waktu: 00 menit 03 detik.]**
"Ah... Mas Adrian... nakal banget sih..." bisik Clara lagi dengan nada yang lebih mendalam, setengah mendesah karena menahan tangis dan kepasrahan yang mendalam.
**[TING! Misi Darurat berhasil diselesaikan dengan sukses!]**
**[Selamat! Pengguna berhasil menghindari hukuman sosial yang mematikan. Anda mendapatkan +50 poin reputasi bersih dan sistem keamanan privasi Anda diperpanjang.]**
Mendengar suara konfirmasi tersebut, Clara langsung merosot terduduk di atas kloset yang tertutup. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasakan pipinya yang luar biasa panas.
"Gue... gue bener-bener udah g***," bisik Clara lirih. "Kalau ada yang dengar gue mendesah nyebut nama bos di toilet kantor... gue mending pindah planet aja."
Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu liar. Setelah merasa emosinya c**up stabil dan warna kulit wajahnya kembali normal, Clara berdiri. Ia keluar dari bilik, menghampiri wastafel, lalu memba**h wajahnya dengan air dingin untuk menghilangkan sisa-sisa ketegangan.
"Oke, Clara. Fokus. Lo harus balik ke ruang rapat dan bersikap seolah-olah gak ada hal g*** yang baru aja terjadi," ucapnya pada bayangan dirinya sendiri di cermin.
Ia merapikan rambut dan pakaiannya, lalu menarik napas panjang sebelum melangkah keluar dari toilet untuk kembali menghadapi kenyataan dunia kerja yang kejamβdan seorang bos tampan yang tidak tahu bahwa namanya baru saja dijadikan bahan fantasi darurat di kamar mandi.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!