Rapat yang berlangsung selama hampir dua jam itu akhirnya selesai dengan hasil yang sangat memuaskan. Pak Baskara menjabat tangan Adrian dengan senyum lebar yang jarang sekali ia perlihatkan kepada mitra bisnisnya.
"Luar biasa, Pak Adrian. Presentasi yang sangat matang. Saya tidak salah memilih partner kerja," puji Pak Baskara tulus.
Adrian tersenyum tipis, tipe senyuman berkelas yang membuat siapa pun langsung segan. "Terima kasih, Pak Baskara. Kerja sama ini pasti akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa untuk kedua belah pihak."
Clara yang berdiri di belakang Adrian langsung mengembuskan napas lega yang tertahan sejak tadi. Ia buru-buru merapikan laptop dan berkas-berkas rapat. Rasanya ia ingin segera kembali ke kubikelnya, memesan es kopi susu literan, dan mengistirahatkan otaknya yang hampir berasap.
Namun, semestaβatau lebih tepatnya, sistem si**** di dalam kepalanyaβtidak pernah membiarkan Clara hidup tenang bahkan untuk lima menit saja.
*Ding!*
Suara lonceng mekanis yang sangat familier tiba-tiba berdentang di dalam gendang telinganya. Clara seketika membeku dengan kabel *charger* laptop yang masih melingkar di tangannya.
[Misi Darurat Diaktifkan!]
[Det**l Misi: Ambil jaket cadangan Adrian yang tergantung di ruang kerjanya. Bawa jaket tersebut ke toilet wanita lant** lima, kenakan, lalu ambil satu foto selfie dengan pose menggoda (menampilkan pundak atau ekspresi sensual). Simpan foto tersebut di folder sistem.]
[Batas Waktu: 15 menit.]
[Hukuman Kegagalan: Sistem akan membuat celana kerja Anda robek di bagian belakang tepat saat Anda berjalan di depan ruang direksi.]
"Demi apa pun... lo bercanda, kan?!" desis Clara pelan, nyaris tak terdengar. Matanya melebar sempurna. Napasnya mendadak memburu, bukan karena lelah, tapi karena emosi yang meluap-luap sampai ke ubun-ubun.
Sistem si**** ini bener-bener makin ngadi-ngadi! Kemarin nyopet pulpen mahal, sekarang menyuruhnya mencuri jaket bos lalu foto s**** di toilet? Yang benar saja!
"Clara? Kenapa kamu masih berdiri di sana?" suara bariton Adrian memecah lamunannya.
Clara tersentak. Ia mendongak dan mendapati Adrian tengah menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Pak Baskara dan timnya sudah keluar dari ruangan.
"Ah? Oh, ini, Pak... kabel laptopnya agak belit-belit. Saya rapikan dulu," jawab Clara asal, memamerkan senyum paling natural yang bisa ia paksa demi menutupi kepanikannya.
"Cepat rapikan. Setelah ini langsung taruh berkasnya di meja saya. Saya harus menemani Pak Baskara ke lobi sebentar," ujar Adrian dingin, lalu melangkah lebar meninggalkan ruang rapat.
Melihat punggung Adrian yang menjauh, mata Clara langsung melirik ke arah jam dinding.
*13 menit tersisa.*
"Ayo, Clara, berpikir cepat! Kalau celana gue robek di depan ruang direksi, mending gue pindah planet sekalian!" batinnya histeris.
Tanpa membuang waktu, Clara setengah berlari keluar dari ruang rapat. Langkah kakinya bergerak cepat menuju ruangan Adrian di ujung koridor. Beruntung, saat ini lant** lima sedang agak sepi karena sebagian besar karyawan sedang istirahat makan siang atau masih berada di ruang rapat lain.
Sesampainya di depan pintu ruangan Adrian, Clara menoleh ke kanan dan ke kiri seperti buronan kelas kakap. Setelah memastikan situasi aman, ia memutar kenop pintu perlahan.
*Cklek.* Pintu terbuka.
Clara menyelinap ma**k dan langsung menutup pintu itu kembali dengan rapat. Aroma maskulin khas Adrian yang memadukan wangi kayu manis, *musk*, dan kopi langsung menyergap indra penciumannya. Ruangan itu sangat rapi dan dingin.
Mata Clara menyapu sekeliling ruangan dan langsung tertuju pada gantungan baju kayu yang berdiri di dekat meja kerja jati milik Adrian. Di sana, tergantung sebuah jaket ka**al berwarna hitam pekat berbahan premium yang biasa Adrian pakai jika cuaca sedang dingin.
"Ketemu!" gumam Clara girang.
Ia menyambar jaket itu dengan cepat. Jaket itu terasa c**up berat dan sangat halus di tangannya. Wangi parfum Adrian yang maskulin dan memabukkan menempel sangat kuat di serat kainnya. Clara sempat tertegun sesaat, menghirup aroma itu tanpa sadar.
*G***, wangi banget sih ini cowok. Kayak wangi cowok-cowok kaya yang gak pernah ngerasain naik angkot,* batinnya heran.
*Ding!*
[Sisa waktu: 8 menit. Cepat bertindak sebelum target kembali!]
Pemberitahuan sistem itu langsung menghancurkan lamunan singkat Clara. "Iya, bawel! Ini juga mau jalan!" rutuknya kesal.
Clara melipat jaket itu sekecil mungkin dan menyembunyikannya di balik blazer kerjanya, memeluknya erat-erat di depan dada agar tidak terlihat mencurigalakan. Dengan gerakan secepat kilat, ia keluar dari ruangan Adrian dan berlari menuju toilet wanita yang terletak tidak jauh dari sana.
Begitu kakinya melangkah ma**k ke dalam toilet, Clara langsung mengunci pintu bilik paling ujung. Ia bersandar di pintu bilik sambil terengah-engah, memegangi dadanya yang berdegup kencang karena adrenalin yang terpompa maksimal.
"Oke, oke. Tarik napas, hembuskan," Clara menenangkan dirinya sendiri.
Ia melihat jam di ponselnya. Sisa waktu tinggal 5 menit lagi.
Clara segera memakai jaket milik Adrian. Begitu tubuh mungilnya terbalut jaket berukuran L tersebut, Clara tenggelam di dalamnya. Panjang jaket itu bahkan menutupi setengah paha Clara, dan lengannya menjunt** melewati ujung jarinya.
"Ini gede banget, astaga..." gumam Clara, menatap bayangan dirinya di layar ponsel yang menyala.
Namun, ada sesuatu yang aneh. Aroma parfum Adrian yang hangat seolah memeluk seluruh tubuhnya. Hangat dan entah kenapa... membuat pipi Clara mendadak terasa sedikit panas.
"Fokus, Clara! Pose menggoda! Gimana caranya?!"
Clara membuka kamera depan ponselnya. Ia mencoba tersenyum, tapi malah terlihat seperti orang yang sedang sakit gigi. Ia mencoba mengerlingkan mata, malah kelihatan seperti orang kelilipan debu.
"Aduh, gue gak bakat jadi model majalah dewasa!" keluhnya frustrasi.
Mengingat ancaman celana robek yang sangat nyata, Clara akhirnya memutuskan untuk nekat. Ia menurunkan resleting jaket itu sedikit lebih rendah, memperlihatkan tulang selangkangnya yang tegas serta garis lehernya. Ia sengaja membiarkan bagian bahu kiri jaket itu merosot jatuh ke lengan, mengekspos bahu mulusnya yang kontras dengan warna hitam jaket tersebut.
Clara mendongakkan kepalanya sedikit, merapikan rambut panjangnya yang agak berantakan agar jatuh di satu sisi bahu, lalu menatap kamera dengan tatapan sayu yang dibuat-buat, bibirnya sedikit terbuka tipis.
*G***, gue murahan banget kalau ada yang lihat,* batin Clara menjerit malu setengah mati. Wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus.
Ia memosisikan ponselnya agak tinggi dari atas. "Satu... dua... tiβ"
*Creekkk!*
Clara mematung. Jantungnya serasa copot dari tempatnya.
Masalahnya bukan karena ia salah berpose. Tapi karena volume ponselnya yang lupa ia matikan, ditambah lagi sistem si**** itu tampaknya sengaja memperkeras efek suara kamera ponselnya hingga terdengar sangat nyaring dan menggema di dalam toilet yang sunyi itu.
*Cekreeekkkkk!*
Suara itu terdengar seperti suara petir di siang bolong bagi Clara.
"Mampus gue," bisik Clara lirih, wajahnya seketika pucat pasi.
Tepat pada detik yang sama, terdengar suara pintu utama toilet terbuka. Langkah kaki dengan sepatu hak tinggi berbunyi ketukan demi ketukan di atas lant** keramik.
*Tuk. Tuk. Tuk.*
"Eh? Ada orang di dalam?" sebuah suara perempuan yang sangat familier terdengar dari luar bilik.
Clara langsung mengenali suara itu. Itu suara Siska, staf divisi HRD yang terkenal sebagai biang gosip nomor satu di kantor ini. Kalau Siska sampai tahu Clara sedang berada di dalam bilik toilet, memakai jaket sang bos besar sambil berfoto s****, tamat sudah riwayatnya. Besok pagi, berita itu pasti akan menyebar ke seluruh penjuru kantor dengan bumbu-bumbu yang jauh lebih liar.
"Halo? Di bilik ujung ada orang? Kok tadi berisik banget suara kameranya? Lagi foto-foto ya?" tanya Siska dengan nada menyelidik. Langkah kakinya terdengar mendekat ke arah bilik tempat Clara bersembunyi.
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Clara. Ia menahan napasnya sekuat tenaga, tidak berani melakukan gerakan sekecil apa pun yang bisa menimbulkan suara. Matanya melirik ke bawah, ke sela-sela pintu bilik toilet. Bayangan sepatu Siska kini tepat berhenti di depan pintunya.
"Kok gak nyahut sih?" gumam Siska, terdengar penasaran.
Clara memejamkan matanya rapat-rapat. Dalam hati ia merapalkan segala doa keselamatan yang ia tahu. *Tuhan, tolong selamatkan hamba kali ini aja. Jangan biarkan si ratu gosip ini tahu.*
*Ding!*
[Misi Berhasil! Foto telah disimpan di folder rahasia sistem. Mengirimkan imbalan: Kemampuan deteksi kebohongan level 1 (pasif).]
[Efek samping hukuman dibatalkan.]
Clara ingin sekali bersorak gembira mendengar pengumuman sistem, tapi situasi saat ini masih sangat kritis. Siska masih berdiri di luar pintunya, bahkan sepertinya berniat mengetuk pintu bilik.
Dengan otak yang bekerja super cepat di bawah tekanan, Clara segera merubah suaranya menjadi sedikit serak dan berat, seolah ia sedang menahan sakit perut yang luar biasa.
"A-aduh... aduh, mules banget... aduh, Mbak, tolong jangan diganggu dulu... aduh, perut saya melilit..." rintih Clara dengan akting yang sangat meyakinkan. Ia bahkan sengaja mendesah kesakitan beberapa kali.
Di luar bilik, langkah kaki Siska langsung mundur selangkah dengan cepat, terdengar jijik.
"Ih... ya ampun, lagi diare ya? Ya udah, ya udah. Maaf ganggu, Mbak. Buruan diselesaikan ya, baunya mulai kecium nih!" seru Siska dengan nada sinis dan buru-buru melangkah pergi dari toilet.
Suara pintu toilet yang menutup kembali terdengar keras.
Clara langsung melepaskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Tubuhnya lemas seketika hingga ia harus berpegangan pada dinding pembatas bilik toilet.
"Baunya kecium dari mana, coba? Orang gue gak ngapa-ngapain!" gerutu Clara kesal sambil mencibir ke arah pintu. Tapi di sisi lain, ia sangat bersyukur akting dadakannya berhasil menyelematkan harga dirinya yang sudah berada di ujung tanduk.
Tanpa membuang waktu lagi, Clara segera melepas jaket milik Adrian. Ia merapikan kembali kancing blusnya, memakai blazernya dengan benar, dan melipat jaket mahal tersebut dengan sangat hati-hati agar tidak terlihat kusut.
Ia harus mengembalikan jaket ini ke ruangan Adrian sebelum sang bos menyadari kehilangan barangnya.
Clara membuka pintu bilik toilet perlahan, mengintip ke luar untuk memastikan Siska benar-benar sudah pergi. Setelah dirasa aman, ia keluar dari toilet dengan langkah cepat. Dengan jaket Adrian yang kembali ia dekap erat di dadanya, ia setengah berlari menyusuri koridor menuju ruang kerja Adrian.
Sambil melangkah cepat, Clara melirik layar ponselnya untuk memastikan apakah foto g*** tadi benar-benar tersimpan. Ketika ia membuka folder yang dimaksud oleh sistem, wajah Clara kembali memerah.
Di layar ponselnya, terlihat foto dirinya sendiri yang mengenakan jaket Adrian yang kebesaran. Jaket hitam itu merosot di bahu kirinya, memperlihatkan kulit putih mulusnya. Matanya yang sayu dan bibirnya yang sedikit terbuka membuatnya terlihat sangat berbeda dari Clara yang biasanya kaku dan selalu bersikap formal di kantor.
"Aduh, memalukan banget... kalau sampai Pak Adrian lihat foto ini, gue mending resign hari ini juga!" gumamnya sambil menutup mukanya dengan sebelah tangan karena malu.
Clara mempercepat langkahnya. Ia harus segera mengembalikan jaket ini sekarang juga. Detik-detik menegangkan ini benar-benar menguras seluruh energinya, dan ia hanya bisa berdoa semoga tidak ada lagi misi aneh dari sistem ke***** itu hari ini.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!