Napas Clara masih memburu tidak beraturan saat ia mendudukkan bokongnya di kursi kubikel kerja. Jantungnya berdegup kencang, saking kerasnya sampai-sampai ia takut orang di sebelahnya bisa mendengar bunyi *dug-dug-dug* yang histeris itu.
Ia baru saja meletakkan kembali jaket bomber hitam milik Adrian ke gantungan di ruang kerja bosnyaβtepat dua menit sebelum batas waktu dari sistem g*** itu habis.
"G***, g***, g***! Jantung gue hampir copot!" bisik Clara pada diri sendiri sambil mengelus dadanya yang naik turun.
Ia melirik ponselnya. Di dalam folder tersembunyi yang dibuat oleh sistem, tersimpan sebuah foto dirinya yang sedang memakai jaket kebesaran milik Adrian di dalam bilik toilet wanita lant** lima. Di foto itu, Clara terpaksa berpose menurunkan sebelah bahu jaketnya hingga memperlihatkan pundak mulusnya, lengkap dengan ekspresi wajah setengah menggigit bibir yang menurutnya sangat menggelikan sekaligus memalukan.
*Ding!*
[Misi Berhasil!]
[Hadiah: Poin Keberuntungan +10 dan Voucher Belanja Minimarket senilai Rp100.000 telah dikirim ke inventori Anda.]
"Cuma cepek? Dibandingin harga diri gue yang hampir gadai kalau ketahuan, ini gak sebanding banget, woi!" Clara menggerutu dalam hati, ingin sekali menjambak rambutnya sendiri kalau saja ia tidak ingat sedang berada di area kantor yang ramai.
Belum sempat Clara menenangkan diri sepenuhnya, lift di ujung koridor berdenting. Sosok jangkung Adrian melangkah keluar dari sana dengan gaya ka**al namun tetap memancarkan aura bos besar yang mengintimidasi. Beberapa staf wanita yang berpapasan dengannya langsung menunduk sopan, sementara pandangan mereka diam-diam melirik kagum pada ketampanan sang CEO.
Adrian berjalan lurus menuju ruangannya. Saat melewati meja kerja Clara, ia sempat melirik sekilas.
"Kerja bagus untuk rapat tadi, Clara," ucap Adrian dengan suara baritonnya yang berat dan datar.
Clara langsung menegakkan punggungnya, memasang senyum profesional paling manis yang bisa ia buat. "Sama-sama, Pak Adrian. Sudah kewajiban saya."
Adrian hanya bergumam pelan sebagai respons, lalu membuka pintu ruang kerjanya dan ma**k ke dalam.
Begitu pintu tertutup, Clara langsung merosot di kursinya, mengembuskan napas panjang. "Aman. Oke, Clara, tarik napas... buang... semuanya aman."
Namun, di dalam ruangan yang ber-AC dingin itu, situasi justru tidak seaman yang Clara bayangkan.
Adrian meletakkan ponselnya di atas meja kerja kayu jati miliknya. Udara di dalam ruangan terasa sedikit gerah baginya, jadi ia berniat melepaskan kemeja kerjanya dan menggantinya dengan jaket cadangan yang biasa ia gantung di sudut ruangan.
Adrian melangkah mendekati gantungan baju besi di dekat lemari dokumen. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti.
Kedua alis tebal Adrian bertaut rapat. Matanya yang tajam menatap gantungan jaket bomber hitamnya dengan saksama.
Adrian adalah seorang perfeksionis yang memiliki kecenderungan *OCD (Obsessive-Compulsive Disorder)* ringan. Ia selalu menggantung pakaiannya dengan arah kepala gantungan menghadap ke sebelah kiri. Selalu seperti itu, tanpa pengecualian.
Tapi sekarang, kepala gantungan jaketnya menghadap ke arah kanan.
Bukan hanya itu, posisi lipatan lengan jaketnya juga tampak sedikit berantakan, seolah-olah baru saja ditarik dengan terburu-buru dan diletakkan kembali asal-asalan.
"Ada yang menyentuh jaket gue?" gumam Adrian pelan.
Ia melangkah maju, lalu meraih jaket tersebut dari gantungannya. Begitu jaket itu berpindah ke tangannya, indra penciuman Adrian yang sangat sensitif langsung menangkap sesuatu yang tidak biasa.
Alih-alih mencium aroma parfum maskulin beraroma *cedarwood* dan *citrus* miliknya, hidung Adrian justru mencium aroma lain yang sangat dominan. Itu adalah aroma manis buah persik yang bercampur dengan kelembutan vanila. Aroma yang sangat feminin, segar, dan... sangat familier di inderanya akhir-akhir ini.
Adrian mendekatkan kerah jaket itu ke hidungnya, lalu menghirupnya sekali lagi.
Matanya seketika melebar.
"Ini... bau parfum Clara," batin Adrian terperangah.
Ia sangat mengenali aroma ini. Ini adalah parfum yang selalu dipakai oleh sekretarisnya itu setiap hari. Bahkan saat mereka berdiri berdekatan di dalam lift atau saat Clara menyodorkan dokumen untuk ditandatangani, aroma manis persik ini selalu berhasil menyusup ke indra penciumannya.
Bagaimana bisa jaket cadangannya yang disimpan di dalam ruang kerja pribadi ini bisa berbau parfum Clara dengan sangat pekat? Aromanya bahkan terasa hangat, seolah-olah baru saja menempel di kulit seseorang.
Adrian meletakkan jaket itu di lengannya, lalu berjalan kembali ke meja kerjanya dengan pikiran yang berkecamuk. Ia duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung, sementara jari-jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme yang teraturβkebiasaannya setiap kali sedang menganalisis suatu masalah berat.
Otak jenius Adrian mulai memutar kembali kejadian-kejadian aneh yang melibatkan Clara selama beberapa hari terakhir.
*Pertama*, kejadian kemarin lusa. Clara tiba-tiba terlihat sangat panik saat berada di dekatnya, wajahnya memerah padam, dan tanpa alasan yang jelas langsung meminta izin lari ke toilet wanita dengan tergesa-gesa.
*Kedua*, kemarin siang. Saat ia tidak sengaja menjatuhkan pulpennya, Clara langsung merebutnya dengan ekspresi seperti orang yang sedang dikejar s****, lalu lagi-lagi... dia pamit ke toilet dengan alasan sakit perut.
*Ketiga*, hari ini. Tepat setelah rapat penting selesai, Clara terlihat sangat tegang. Dan begitu Adrian pergi ke lobi untuk mengantar Pak Baskara selama kurang lebih lima belas menit, Clara memiliki waktu luang sendirian di lant** ini. Dan sekarang, jaketnya berbau parfum wanita itu.
"Kenapa dia selalu lari ke toilet setiap kali habis berinteraksi dekat sama gue?" Adrian bergumam lirih.
Pikiran Adrian mulai bercabang ke berbagai arah.
*Kemungkinan pertama:* Clara memiliki masalah kesehatan pencernaan yang sangat, sangat serius. Mungkin dia mengidap GERD akut, IBS, atau penyakit lambung kronis yang membuatnya sering tiba-tiba mulas luar biasa setiap kali merasa stres atau tertekan di dekat bosnya.
*Kemungkinan kedua:* Clara sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar darinya. Tapi rahasia apa? Apakah dia seorang mata-mata perusahaan saingan yang mencoba mencari dokumen penting di ruang kerjanya? Tapi kalau dia mata-mata, kenapa dia harus memakai jaketnya sampai berbau parfum seperti ini? Apa dia punya fetish aneh terhadap pakaiannya? Atau... apa Clara diam-diam menyukainya dan sengaja memeluk jaket ini untuk memuaskan rasa rindunya?
Memikirkan kemungkinan terakhir itu membuat sudut bibir Adrian berkedut tipis, namun ia segera menggelengkan kepalanya keras-keras.
"Nggak mungkin. Clara bukan tipe cewek agresif kayak gitu," batin Adrian menyangkal.
Rasa penasaran dan kecurigaan Adrian sudah berada di puncaknya. Ia tidak bisa membiarkan misteri ini menggantung begitu saja. Adrian harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sekretarisnya itu.
Ia menekan tombol interkom di mejanya.
"Clara, ma**k ke ruangan saya sekarang. Bawa laporan rapat yang tadi," perintah Adrian dengan nada dingin tanpa ekspresi.
Di luar ruangan, Clara yang baru saja ingin menyuapkan biskuit ke mulutnya langsung tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil, buru-buru meminum air mineralnya sampai tandas.
"Aduh, mampus! Kenapa lagi sih?!" keluh Clara dengan wajah pias.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Clara mengambil map laporan rapat dan berjalan menuju pintu ruangan Adrian. Ia mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya perlahan.
"Permisi, Pak Adrian. Ini laporan rapat yang Bapak minta," ujar Clara sesopan mungkin, melangkah ma**k dengan kepala sedikit menunduk.
Adrian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Clara dengan pandangan menyelidik yang teramat tajam. Matanya bergerak menyusuri wajah Clara yang tampak sedikit pucat, turun ke lehernya yang berkeringat dingin, hingga ke jemari tangannya yang meremas ujung map dengan erat.
"Taruh di meja," kata Adrian datar.
Clara melangkah mendekat, meletakkan map tersebut di atas meja kerja Adrian. Saat ia hendak menarik tangannya kembali, matanya tidak sengaja menangkap jaket bomber hitam milik Adrian yang tergeletak di atas sofa kecil di sudut ruangan, bukan di gantungannya.
Deg! Jantung Clara serasa melompat ke tenggorokan.
*Aduh, mampus! Gue tadi gantungnya kebalik ya?! Atau baunya ketahuan?!* batin Clara menjerit histeris. Ia berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar, meskipun dalam hati ia sudah merutuki sistem si**** itu habis-habisan.
"Clara," panggil Adrian, memecah keheningan yang mencekam di ruangan itu.
"I-iya, Pak?" Clara menyahut, suaranya sedikit bergetar di ujung.
Adrian memajukan badannya, menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan di atas meja. "Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun bagi Clara, itu terdengar seperti jebakan batman.
"Saya? Tentu saja saya baik-baik saja, Pak. Kenapa Bapak bertanya seperti itu?" tanya Clara, mencoba tertawa kecil yang terdengar sangat garing di telinga Adrian.
"Saya perhatikan... akhir-akhir ini kamu sangat sering bolak-balik ke toilet," ujar Adrian perlahan, matanya tidak lepas dari wajah Clara. "Setiap kali kita selesai bicara, atau setelah rapat, kamu selalu kelihatan panik dan langsung lari ke toilet. Seperti sekarang... wajah kamu pucat, dan kamu berkeringat."
Clara menelan ludahnya dengan susah payah. *Sial, dia merhatiin semendet**l itu?! Ini bos apa detektif sih?!*
"Oh, itu... h-hanya masalah pencernaan biasa, Pak. Akhir-akhir ini lambung saya agak sensitif," jawab Clara asal, mencoba mencari alasan paling ma**k akal.
"Masalah pencernaan?" Adrian menaikkan sebelah alisnya. "Sangat serius sampai-sampai kamu harus ke toilet setiap satu jam sekali? Kamu yakin tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari saya?"
"T-tentu saja tidak, Pak! Saya berani sumpah! Saya cuma... cuma sering mulas saja kalau lagi stres kerjaan," dusta Clara, tangannya di belakang punggung sudah saling meremas dengan cemas.
Adrian terdiam sejenak. Ia menyandarkan kembali punggungnya ke kursi. Pandangannya beralih ke jaket bomber hitam di sofa, lalu kembali menatap Clara.
"Lalu, bagaimana kamu menjelaskan ini?" Adrian menunjuk jaketnya dengan dagunya. "Jaket saya yang ada di gantungan tadi... baunya berubah menjadi sangat wangi. Spesifiknya, wangi parfum persik dan vanila yang persis seperti yang kamu pakai sekarang."
*BUMI, TOLONG TELAN GUE SEKARANG JUGA!* Clara menjerit dalam hati. Kepalanya mendadak pusing tujuh keliling. Otaknya berputar dengan kecepatan maksimum untuk mencari alasan yang logis.
"Ah! Itu..." Clara tergagap, wajahnya yang tadi pucat kini mendadak memerah karena malu sekaligus panik. "Itu... begini, Pak... tadi pas saya mau naruh berkas rapat di meja Bapak..."
"Ya? Lanjutkan," desak Adrian dengan tatapan mengintimidasi.
"Tadi... perut saya tiba-tiba melilit hebat banget! Sakitnya luar biasa sampai mata saya berkunang-kunang dan hampir jatuh pingsan di dekat gantungan baju Bapak," Clara mulai mengarang cerita dengan ekspresi sedramatis mungkin, berharap Adrian akan kasihan padanya. "Karena lemas dan refleks pengen pegangan biar gak jatuh, saya... saya gak sengaja meluk jaket Bapak yang digantung di sana. Saya pegangan erat-erat ke jaket itu sambil nahan sakit perut beberapa menit, sebelum akhirnya saya kuat-kuat-in jalan ke toilet..."
Clara menatap Adrian dengan mata bulatnya yang sengaja dibuat berkaca-kaca. "Maafkan saya, Pak Adrian! Saya bener-bener gak sengaja mengotori atau bikin jaket Bapak bau parfum saya. Saya cuma... bener-bener kesakitan tadi. Kalau Bapak gak percaya, Bapak bisa potong gaji saya buat biaya *laundry* jaket itu!"
Adrian tertegun mendengar penjelasan panjang lebar Clara yang terdengar sangat histeris namun juga... anehnya terdengar meyakinkan bagi orang awam.
Ia menatap Clara yang kini menundukkan kepalanya dalam-dalam, tampak seperti kelinci kecil yang ketakutan setengah mati karena tertangkap basah melakukan kesalahan.
*Meluk jaket gue karena mau pingsan nahan sakit perut?* pikir Adrian sangsi.
Secara medis, orang yang mengalami kram perut hebat memang bisa melakukan tindakan refleks apa saja untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Tapi, apakah benar-benar separah itu? Dan kenapa harus berulang kali terjadi tepat setelah berinteraksi dengannya?
Adrian menghela napas panjang. Kecurigaannya tidak sepenuhnya hilang, namun melihat kepanikan di wajah sekretarisnya yang tampak sangat nyata, ia memutuskan untuk tidak menekan lebih jauh untuk saat ini.
"Lain kali, kalau kamu sakit perut parah seperti itu lagi, langsung pergi ke klinik kantor. Jangan dipaksakan bekerja, apalagi sampai hampir pingsan di ruangan saya," ujar Adrian dengan nada yang sedikit melembut, meskipun matanya tetap menatap tajam.
Clara mendongak, matanya berbinar lega. "B-baik, Pak Adrian! Terima kasih banyak atas pengertiannya. Bapak bener-bener bos yang sangat baik hati!" puji Clara berlebihan, batinnya bersorak kegirangan karena berhasil lolos dari lubang jarum.
"Ya sudah. Kamu boleh keluar sekarang. Dan... bawa jaket itu sekalian," perintah Adrian dingin.
Clara mengerutkan keningnya heran. "Eh? Dibawa ke mana, Pak?"
"Ke *laundry* profesional di lobi bawah. Pakai kartu saya," Adrian menyodorkan sebuah kartu hitam (*black card*) dari dompetnya ke atas meja. "Saya tidak suka memakai pakaian yang baunya bukan bau saya. Dan pastikan baunya hilang sepenuhnya saat dikembalikan besok."
Clara menatap kartu hitam di atas meja dengan pandangan nanar. *G***, cuma gara-gara bau parfum gue, dia langsung nge-laundry pakai black card? Orang kaya mah bebas ya!*
"Baik, Pak. Segera saya laksanakan," ucap Clara buru-buru mengambil kartu dan jaket tersebut dari sofa dengan hati-hati, seolah-olah jaket itu adalah barang pecah belah yang sangat mahal.
"Terima kasih, Pak Adrian. Saya permisi dulu," pamit Clara sambil membungkuk sopan, lalu berjalan cepat ke luar ruangan.
Begitu pintu ruangan tertutup rapat dan sosok Clara menghilang dari pandangan, Adrian kembali menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kerjanya. Ia menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong, sementara otaknya masih terus memutar kejadian tadi.
Ada sesuatu yang terasa tidak pas di hatinya.
Penjelasan Clara tentang sakit perutnya terdengar sangat ma**k akal, tapi insting tajam Adrian sebagai seorang pebisnis yang sering menghadapi berbagai macam kebohongan di meja perundingan mengatakan sebaliknya. Ada sekat tipis kebohongan yang sengaja ditutupi oleh sekretarisnya itu dengan kepanikan yang dibuat-buat.
"Sakit perut... atau ada sesuatu yang lain, Clara?" gumam Adrian pelan dengan senyum misterius yang perlahan terukir di sudut bibirnya yang dingin.
Kecurigaannya tidak mereda, melainkan justru semakin memuncak dan membuatnya semakin tertarik untuk mengawasi setiap gerak-gerik sekretarisnya itu mulai detik ini.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!