Suamiku Hanya untuk Satu Tahun

Bab 2: Bab 2: Satu Tahun, Tidak Lebih

Pengaturan Membaca

Aku sudah menyiapkan dua belas kemungkinan respons Nara.

Ia memilih respons ketiga belas: mengedit proposal pernikahan seperti sedang membedah strategi komunikasi buruk.

“Fee Ruang Narasi dibayar ke perusahaan, bukan ke aku pribadi,” katanya sambil mencoret satu paragraf. “Kalau tidak, dua bulan lagi orang akan bilang kamu membeli istri.”

Aku memperhatikan marker hitam bergerak cepat.

“Itu sudah saya antisipasi.”

“Jangan pakai ‘saya’. Kita mau menikah, bukan tender.”

Aku mengangguk. “Baik.”

Nara menatapku curiga. “Cepat sekali.”

“Aku mendengar.”

Ia mendengus.

Aku menjelaskan kebutuhan board. Satu siklus investasi. Annual general meeting. Succession vote. Setelah skandal Arga, keluarga Mahendra kembali diperlakukan media sebagai serial yang episodenya tidak pernah habis. Foto gala membuat saham tidak naik secara ajaib, tetapi sentimen investor membaik.

Aku membenci fakta bahwa kehidupan pribadi memiliki nilai pasar.

Nara lebih membencinya.

“Aset terpisah,” katanya.

“Setuju.”

“Utang terpisah.”

“Setuju.”

“Ruang Narasi tetap mengambil klien yang bertentangan dengan MLG selama tidak ada konflik hukum.”

“Dengan disclosure.”

“Wajar.”

“Dua acara resmi per bulan.”

“Maksimal.”

“Alamat tinggal sama.”

“Dua kamar.”

Aku berhenti.

Nara mengangkat alis. “Masalah?”

“Tidak.”

“Bagus. Dan satu hal lagi. Status suami bukan akses otomatis ke ruang pribadiku.”

“Aku tidak pernah menganggap begitu.”

“Ma**kkan ke kontrak.”

Aku memanggil Reza, pengacaraku. Ia membaca revisi Nara dan tersenyum seperti seseorang yang baru menemukan lawan debat baru.

Tiga jam kemudian, rancangan kedua selesai.

Nara berdiri di jendela kantor kecilnya, memandang Jakarta.

“Kamu benar-benar mau melakukan ini?” tanyanya.

Aku ingin berkata bahwa aku sudah menyukai caranya ma**k ke ruang rapat dan mengubah semua orang menjadi lebih jujur sejak tiga tahun lalu. Bahwa foto gala bukan awal dari apa pun.

Aku memilih jawaban aman.

“Aku membutuhkan narasi stabil sampai AGM.”

Nara menoleh.

“Dan aku butuh firmaku hidup.”

Kami berdiri dalam ruangan yang sama dengan alasan yang berbeda.

“Satu tahun,” katanya.

“Satu tahun.”

Tidak lebih.

Setidaknya, itu yang kutandatangani di kepalaku sebelum dokumen sebenarnya selesai.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca