Suamiku Hanya untuk Satu Tahun

Bab 3: Bab 3: Tanda Tangan Sebelum Cincin

Pengaturan Membaca

Aku menandatangani kontrak pernikahan sebelum memilih cincin.

Romantis sekali.

Reza membaca setiap klausul dengan suara datar. Salma duduk di sebelahku, menendang sepatuku setiap kali aku terlihat terlalu cepat menyetujui sesuatu.

Klausul satu: pernikahan legal.

Klausul dua: masa kesepakatan 365 hari.

Klausul tiga: aset, saham, utang, dan perusahaan tetap terpisah.

Klausul empat: fee Ruang Narasi adalah pembayaran profesional berdasarkan scope of work yang diaudit.

Aku menambahkan aturan kamar pribadi setelah klausul tempat tinggal.

Reyhan menambahkan hak masing-masing pihak menghentikan kesepakatan bila ada pemaksaan, kekerasan, penipuan material, atau konflik hukum.

“Bagian ini tidak bisa dinegosiasikan,” katanya.

Aku memandangnya.

“Bagus.”

Reza sampai di halaman terakhir.

“Klausul tiga belas. Pada Hari ke-365, kedua pihak dijadwalkan hadir untuk mengajukan proses perceraian bersama.”

Ruangan terasa sedikit lebih sunyi.

Aku tahu tanggal akhir adalah alasan aku berani.

Aku juga tidak suka betapa nyata ia terlihat ketika dicetak.

“Kalau salah satu berubah pikiran?” tanyaku.

Reza menjawab, “Pernikahan tetap sah sampai proses hukum dijalankan. Klausul ini adalah kewajiban kontraktual antar pihak, tetapi tidak bisa memaksa pengadilan mengabulkan perceraian otomatis.”

Reyhan menatapku. “Kita tetap bicara sebelum hari itu.”

“Aku tidak mau ada kejutan.”

“Tidak akan.”

Kalimat itu terdengar seperti janji.

Kami seharusnya tidak membuat janji di luar kontrak.

Aku menandatangani.

Reyhan menyusul.

Reza mengumpulkan dokumen.

Salma menatapku. “Kamu baru saja menyepakati pernikahan satu tahun.”

“Secara profesional.”

“Tidak ada kalimat itu dalam sejarah pernikahan yang pernah terdengar sehat.”

Aku tertawa, karena pilihan lain adalah panik.

Reyhan berdiri.

“Besok kita pilih cincin.”

“Murah saja.”

“Media akan memperbesar foto.”

“Kalau begitu pilih yang tidak membuat jariku terlihat seperti papan reklame.”

Ia hampir tersenyum.

Saat kami keluar, aku menoleh sekali ke map kontrak di tangan Reza.

Tanda tanganku ada tepat beberapa sentimeter di atas tanggal perceraian.

Aku belum memakai cincin.

Tapi akhir pernikahanku sudah resmi memiliki jadwal.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca