Rumah 19 disewa perusahaan sebelum Nara menyetujui kontrak.
Itu kesalahan pertama.
“Kamu memilih rumah tanpa aku?” tanyanya saat berdiri di foyer.
“Aku memilih berdasarkan keamanan, jarak ke kantor, dan akses media.”
“Jadi ya.”
Aku menahan napas. “Ya.”
Nara mengangkat koper. “Bagus. Catat sebagai pelanggaran budaya kerja rumah tangga.”
Suri, house manager, menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Kami menempati kamar berbeda. Kamar Nara di sisi timur. Kamarku di sisi barat. Di tengahnya ruang keluarga dan meja makan untuk dua orang.
Nara tidak membongkar seluruh koper.
Ia menaruh blazer, tablet, dan satu pouch kecil di kamar. Sisanya tetap tertutup.
Aku tidak bertanya.
Malam pertama, aku membuat telur untuk s****an berikutnya.
“Kamu menimbang garam?” tanyanya dari pintu dapur.
“Aku mengukur.”
“Dengan timbangan.”
“Presisi.”
“Menyeramkan.”
Ia duduk di meja makan dan bekerja sampai lewat tengah malam. Aku melakukan pemeriksaan kunci seperti biasa.
Pintu depan. Pintu taman. Pintu garasi.
Dua kali.
Ketika melewati kamar Nara, aku berhenti.
Tidak ma**k. Tidak mengetuk.
Aku sudah menyukainya sebelum kontrak. Sebelum gala. Sebelum rumor.
Tiga tahun lalu kami bekerja dalam satu krisis akuisisi. Ia berdiri di depan board dan berkata bahwa reputasi tidak bisa diperbaiki dengan kalimat yang tidak benar. Aku mengingatnya lebih lama daripada seharusnya.
Pukul 00.47, terdengar ketukan di pintuku.
Aku membuka.
Nara berdiri membawa gelas air.
“Wi-Fi mati.”
“Aku cek router.”
“Jangan ma**k kamar.”
“Aku tidak akan.”
Ia menatapku sesaat, mungkin menilai apakah aku tersinggung.
Aku tidak.
“Kalau itu pilihanmu, bilang,” kataku. “Aku akan ikuti.”
Nara mengangguk.
Aku memperbaiki router dari ruang kerja.
Saat kembali ke kamar, aku memutar cincin di jari.
Hari ke-3.
Tiga ratus enam puluh dua hari lagi.
Aku sudah menghitung terlalu cepat.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!