Kalau ada kompetisi istri paling bahagia di dunia, Clara yakin dia bakal bawa pulang piala emasnya.
Gimana enggak? Suaminya, Adrian Wijaya, adalah definisi cowok *green flag* berjalan yang sering lewat di fyp TikTok. Gantengnya kelewatan—tipe-tipe arsitek muda dengan rahang tegas, kacamata berbingkai tipis yang bikin dia kelihatan makin cerdas, dan senyum manis yang cuma ditumpahkan buat Clara seorang.
Lebih dari itu, Adrian adalah cowok super bucin yang langka. Di saat suami orang lain sering pulang larut malam dengan alasan lembur atau nongkrong bareng teman kantor, Adrian selalu punya prinsip saklek: jam lima sore teng, dia harus udah ada di rumah.
"Pekerjaan itu gak ada habisnya, Sayang. Tapi waktu luang sama kamu itu terbatas," begitu kata Adrian setiap kali Clara bertanya kenapa dia gak pernah mau mengambil proyek lemburan.
Clara ingat betul pagi ini, sebelum Adrian berangkat dinas luar kota ke Bandung selama tiga hari. Suaminya itu sempat-sempatnya membuatkan s****an berupa *pancake* pisang kesukaannya lengkap dengan segelas susu cokelat hangat. Adrian bahkan sempat mengecup kening Clara lama sekali di depan pintu rumah mereka yang minimalis dan *aesthetic*.
"Aku pergi dulu ya, Sayang. Jangan telat makan. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku. Oke?" bisik Adrian dengan suara baritonnya yang selalu berhasil bikin lutut Clara lemas.
"Iya, Mas. Kamu juga hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kabari kalau udah sampai," jawab Clara sambil merapikan kerah kemeja suaminya yang wangi parfum *sandalwood* maskulin.
"Pasti. *I love you, Clara.*"
"*I love you more, Mas.*"
Dan sekarang, baru beberapa jam setelah kepergian Adrian, Clara sudah didera rasa bosan yang luar biasa. Rumah dua lant** milik mereka mendadak terasa terlalu sunyi. Untuk membunuh waktu dan mengusir rasa sepi, Clara memutuskan untuk melakukan kegiatan yang paling jarang dia lakukan: bersih-bersih rumah secara menyeluruh.
Pandangan Clara terjatuh pada sebuah ruangan di sudut lant** dua. Ruang kerja Adrian.
Sebenarnya, Adrian tidak pernah melarang Clara ma**k ke ruangan itu. Tapi, ruang kerja itu selalu tampak sangat steril. Adrian adalah orang yang sangat rapi dan perfeksionis. Semua buku tersusun rapi berdasarkan warna, meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati selalu bersih tanpa setitik debu pun, dan laptopnya selalu tertutup rapat. Clara jarang ma**k ke sana karena merasa tidak perlu mengacaukan kerapian yang sudah dibuat suaminya.
Namun hari ini, Clara membawa kemoceng dan kain mikrofiber. Dia berniat memberikan kejutan bagi Adrian dengan membuat ruang kerja suaminya itu semakin berkilau saat dia pulang nanti.
Clara mulai mengelap rak buku, membersihkan bingkai foto pernikahan mereka yang dipajang di sudut ruangan, lalu beralih ke meja kerja utama. Di sudut meja, terdapat sebuah pot bunga keramik kecil berisi tanaman sukulen yang manis.
"Mas Adrian emang pinter banget milih ginian," gumam Clara sambil tersenyum.
Dia mengangkat pot kecil itu untuk mengelap bagian bawahnya yang biasanya berdebu. Namun, saat pot itu diangkat, terdengar bunyi denting logam kecil yang membentur permukaan kayu meja.
*Ting!*
Clara mengernyit. Di bekas tempat pot itu berdiri, ada sebuah kunci kecil berwarna perak dengan ukiran yang sangat rumit dan kuno di bagian pegangannya. Kunci itu sangat kecil, hampir seukuran kunci gembok buku harian remaja perempuan.
"Kunci apa ini?" bisik Clara pada diri sendiri.
Dia mengambil kunci kecil itu, membolak-balikannya di bawah cahaya lampu. Rasa penasarannya mulai terusik. Matanya langsung menyapu seluruh meja kerja Adrian, mencari lubang kunci yang pas.
Hingga akhirnya, pandangan Clara jatuh pada deretan laci di sisi kanan meja kerja. Ada tujuh laci di sana, tersusun rapi dari atas ke bawah. Clara tahu laci nomor satu sampai enam biasanya berisi dokumen desain, kontrak proyek, alat tulis, dan kertas-kertas sketsa. Laci-laci itu tidak pernah dikunci.
Tapi laci paling bawah—laci nomor tujuh—selalu terkunci rapat.
Dulu, saat Clara baru pertama kali pindah setelah mereka menikah setahun yang lalu, dia sempat bertanya tentang laci itu. Adrian hanya tersenyum tenang dan menjawab, *"Oh, itu cuma laci isi dokumen-dokumen lama zaman kuliah dulu yang udah gak kepakai, Sayang. Males aku beresinnya, jadi aku kunci aja biar gak berantakan."*
Saat itu Clara percaya begitu saja. Kenapa dia harus curiga pada suami sesempurna Adrian?
Namun sekarang, melihat kunci kecil yang sengaja disembunyikan di balik pot bunga, sesuatu di dalam dada Clara mulai berdesir aneh. Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba merayapi tengkuknya.
*Kenapa kunci dokumen lama zaman kuliah harus disembunyikan sespesifik ini?*
Clara menelan ludah. Langkah kakinya terasa berat saat dia berlutut di lant** yang dingin, tepat di depan laci nomor tujuh. Tangannya yang memegang kunci kecil itu mulai sedikit gemetar.
"Nggak apa-apa, Clara. Cuma laci dokumen kuliah," bisik Clara, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu cepat. "Kamu cuma mau mastiin aja."
Dengan perlahan, Clara mema**kkan kunci perak itu ke dalam lubang kunci laci nomor tujuh.
*Cklek.*
Kunci itu berputar dengan sangat mulus. Suara mekanis kunci yang terbuka terdengar bagaikan dentang lonceng kematian di telinga Clara.
Clara menarik napas dalam-dalam, lalu menarik laci itu perlahan.
Laci itu terbuka. Aroma kulit yang mahal langsung menyeruak keluar. Clara tertegun. Di dalam laci itu tidak ada tumpukan kertas dokumen kuliah yang menguning seperti yang dia bayangkan. Sama sekali tidak ada kertas sketsa kusut atau buku catatan lama.
Yang ada di sana hanyalah sebuah kotak organizer berbahan kulit hitam tebal dengan lambang aneh berbentuk lingkaran geometris di bagian depannya.
Jantung Clara berdegup makin kencang, bagaikan tabuhan drum yang bertalu-talu. Dengan tangan gemetar, dia mengangkat kotak kulit itu keluar dari laci dan meletakkannya di atas pangkuannya.
Saat Clara membuka ritsleting kotak tersebut, napasnya seolah tercekat di tenggorokan.
Di dalam kotak itu, tersusun rapi tujuh buah paspor dari berbagai negara berbeda.
Clara mengambil paspor pertama yang paling atas. Paspor hijau Republik I****esia. Dia membukanya.
**Nama:** Adrian Wijaya.
**Foto:** Wajah suaminya yang tampan dengan senyum hangat yang biasa dia lihat tiap hari.
**Pekerjaan:** Arsitek.
Ini adalah identitas suaminya yang dia kenal selama ini.
Clara buru-buru mengambil paspor kedua. Paspor berwarna biru tua khas Amerika Serikat.
Saat membuka lembaran pertamanya, mata Clara membelalak lebar. Foto di dalam paspor itu adalah Adrian, tapi dengan rambut yang dipotong cepak ala militer dan tatapan mata yang sangat tajam tanpa senyum sedikit pun.
**Nama:** Devon Vance.
**Profesi:** Cyber-Security Consultant / Cryptologist.
Terselip di balik paspor itu adalah sebuah kartu identitas dengan logo lembaga intelijen asing dan sebuah catatan kecil berisi deretan kode angka biner yang rumit.
"Devon... Vance?" Clara berbisik dengan suara bergetar. Tangannya gemetar hebat saat dia membuka paspor ketiga. Paspor Federasi Rusia.
Foto di sana menampilkan Adrian dengan jenggot tipis dan rambut klimis, terlihat sangat dingin dan berbahaya.
**Nama:** Nikolai Volkov.
**Profesi:** Private Security Specialist / Weapons Dealer.
Di bawah paspor Rusia itu, terdapat sebuah lisensi kepemilikan senjata api internasional berkaliber tinggi dengan nama Nikolai Volkov, lengkap dengan cap holografik merah yang terlihat sangat resmi dan mengerikan.
Air mata Clara mulai menggenang di pelupuk matanya. Rasa takut yang luar biasa mulai mencengkeram dadanya hingga dia merasa sesak napas.
Satu per satu, Clara membuka paspor sisanya dengan panik.
Paspor keempat, paspor Inggris atas nama **Arthur Pendelton**, seorang kurir barang antik bernilai tinggi yang dicurigai sebagai pencuri seni internasional.
Paspor kelima, paspor Jepang atas nama **Ren Tanaka**, seorang analis keuangan yang ternyata merupakan dalang pencucian uang sindikat global.
Paspor keenam, paspor Jerman atas nama **Marcus Vance**, seorang dokter bedah tanpa izin yang memiliki spesialisasi dalam mengobati luka tembak di dunia bawah tanah (underworld).
Dan paspor ketujuh... paspor berwarna hitam pekat tanpa lambang negara yang jelas. Di dalamnya hanya ada foto Adrian dengan tatapan mata yang paling dingin yang pernah Clara lihat seumur hidupnya. Tatapan kosong tanpa emosi layaknya seorang predator.
**Nama:** Christian Black.
Di bawah kolom profesi, tertulis satu kata yang membuat seluruh tubuh Clara seketika membeku bagai es:
**Contract Killer (Pembunuh Bayaran).**
Di samping paspor ketujuh itu, terdapat beberapa lembar foto target operasional yang sebagian besar wajahnya sudah diberi tanda silang merah dengan spidol. Di balik salah satu foto target, ada tulisan tangan Adrian yang sangat Clara kenal—tulisan tangan rapi seorang arsitek yang biasanya menulis daftar belanjaan bulanan mereka.
Tulisan itu berbunyi: *Target eliminated. Payment received.*
"Nggak... nggak mungkin..." Clara terisak, menjatuhkan semua paspor itu ke lant**. Air matanya kini luruh membasahi pipi.
Kepalanya terasa berputar hebat. Kenyataan menghantamnya dengan begitu keras hingga dia merasa dunia di sekelilingnya runtuh seketika.
Suami yang selama ini tidur di sampingnya setiap malam, yang selalu memeluknya erat saat hujan turun, yang selalu membuatkannya s****an, yang selalu pulang tepat jam lima sore karena 'sayang istri'... ternyata memiliki tujuh wajah yang berbeda. Tujuh nama berbeda. Tujuh kehidupan yang penuh dengan darah, kejahatan, dan rahasia gelap yang tak terbayangkan.
Siapa sebenarnya laki-laki yang dia nikahi ini? Apakah nama 'Adrian Wijaya' itu bahkan nyata? Ataukah semua pernikahan mereka selama setahun ini hanyalah bagian dari penyamaran matang seorang monster?
Di tengah keheningan ruang kerja yang mendadak terasa mencekam itu, tiba-tiba ponsel Clara yang berada di saku celananya bergetar hebat.
*Bzzz... Bzzz... Bzzz...*
Clara tersentak kaget sampai hampir melompat. Dengan tangan yang masih basah oleh air mata dan gemetar tak terkendali, dia merogoh ponselnya.
Di layar ponsel, tertera nama kontak yang biasanya selalu membuat hatinya menghangat, lengkap dengan emot***n hati di sampingnya:
**Suami Bucin ❤️ calling...**
Clara menatap layar ponsel itu dengan tatapan horor yang amat sangat. Ponsel itu terus bergetar di tangannya, terasa seolah-olah berubah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja dan hancur berkeping-keping, sama seperti seluruh hidup Clara saat ini.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!