Deru mesin mobil SUV hitam itu memecah keheningan malam yang dingin. Di dalam kabin yang kedap suara, Clara perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat, pusing berputar, dan ada rasa mual yang tertinggal di tenggorokannya akibat pengaruh obat bius.
Clara meringis, mencoba menggerakkan tangannya. Pergelangan tangannya perih, menyisakan bekas kemerahan akibat cengkeraman kasar para penculik tadi. Namun, saat dia menoleh ke samping, dia tidak melihat para pria bermasker itu.
Di balik kemudi, duduk seorang pria yang sangat dia kenal.
"Adrian...?" bisik Clara lirih, suaranya parau.
Pria itu menoleh sekilas. Tatapan matanya yang biasanya hangat, penuh canda, dan kadang kelihatan sedikit konyol, kini benar-benar hilang. Mata itu tampak begitu tajam, dingin, dan fokus pada jalanan di depan. Dia bahkan tidak memakai kacamatanya.
"Tahan sebentar, Clara. Kita hampir sampai," jawab Adrian. Suaranya terdengar lebih berat dan tegas, sangat berbeda dari suara lembut yang biasa Clara dengar setiap pagi di meja makan.
Mobil melesat ma**k ke dalam area parkir bawah tanah sebuah gedung apartemen mewah yang tampak sepi di pinggiran Jakarta. Tanpa banyak bicara, Adrian mematikan mesin, keluar dari mobil, dan langsung membukakan pintu untuk Clara. Sebelum Clara sempat memprotes karena kakinya masih lemas, Adrian sudah menggendongnya ala *bridal style*.
"Adrian, lepasin... Aku bisa jalan sendiri," protes Clara lemah. Tapi Adrian mengabaikannya. Dia membawa Clara ma**k ke dalam lift khusus yang langsung menuju ke unit *penthouse* di lant** paling atas.
Begitu pintu apartemen terbuka, Clara terpana. Tempat ini sama sekali tidak terlihat seperti rumah mereka yang bernuansa hangat dan penuh barang-barang lucu. Apartemen ini sangat luas, minimalis, didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih. Di salah satu sudut ruangan, ada deretan layar monitor besar yang menampilkan berbagai macam grafik, peta GPS, dan rekaman CCTV. Ini lebih mirip markas agen rahasia daripada tempat tinggal manusia biasa.
Adrian mendudukkan Clara dengan perlahan di sofa kulit hitam yang empuk. Dia kemudian berjalan cepat mengambil kotak P3K dari balik lemari dapur yang tersembunyi.
"Sini tangan kamu," kata Adrian dingin, namun gerakannya sangat lembut saat memegang pergelangan tangan Clara yang memar. Dia mengompresnya dengan es batu yang dibalut kain, lalu mengoleskan salep pereda nyeri.
Clara hanya diam memperhatikan setiap gerak-gerik suaminya. Kepalanya masih pusing, tapi otaknya mulai bekerja keras. Kejadian di kampus tadi sore benar-benar mengerikan. Dia diculik oleh orang-orang misterius, lalu tiba-tiba Adrian datang seperti badai. Clara sempat melihat samar-samar bagaimana Adrian—suaminya yang selama ini dia pikir hanya seorang pekerja kantoran biasa yang penakut—menghajar ketiga pria berbadan besar itu hanya dalam hitungan detik dengan gerakan bela diri yang sangat mematikan.
"Adrian," panggil Clara, suaranya bergetar. "Kamu... siapa sebenarnya?"
Adrian menghentikan gerakannya. Tangannya yang sedang memegang pergelangan tangan Clara tampak menegang. Dia menghela napas panjang, lalu meletakkan salep itu ke atas meja. Dia tidak berani menatap mata Clara.
"Kamu nggak perlu tahu sekarang, Ra. Yang penting kamu aman," jawab Adrian datar.
"Nggak! Aku butuh penjelasan!" Clara langsung menarik tangannya, membuat Adrian terpaksa mendongak. Air mata Clara mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tadi itu apa? Orang-orang itu siapa? Dan kamu... kamu menghajar mereka kayak pembunuh bayaran, Adrian! Kamu bahkan nggak pakai kacamata kamu. Kamu nggak kelihatan kayak Adrian yang aku kenal selama ini!"
Clara mulai terisak. Rasa takut, bingung, dan dikhianati campur aduk di dalam dadanya. "Selama ini aku menikah sama siapa? Kamu bohongin aku? Siapa kamu sebenarnya?!"
Melihat air mata Clara yang luruh, pertahanan dingin di wajah Adrian seketika runtuh. Matanya yang tajam perlahan melembut, digantikan oleh kesedihan yang amat sangat mendalam. Ada rasa bersalah yang begitu besar terpancar dari sana.
Adrian perlahan berlutut di depan Clara, sejajar dengan posisi duduk istrinya. Dia menatap Clara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Bahunya yang tegap tampak gemetar, sesuatu yang belum pernah Clara lihat sebelumnya.
"Ra..." suara Adrian tercekat. Dia mencoba menahan air matanya, tapi sia-sia. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. "Maaf. Maaf karena aku harus sembunyiin ini semua dari kamu selama setahun pernikahan kita."
Clara mengerutkan keningnya, menatap suaminya dengan bingung. Pangg***n "Ra" itu...
Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilnya dengan sebutan "Ra" dengan nada selembut itu. Tapi orang itu sudah tiada.
"Adrian, jangan main-main..."
Adrian memegang kedua tangan Clara dengan erat. "Sepuluh tahun yang lalu, di malam kebakaran besar yang menghanguskan rumah keluarga kita... Kamu pikir aku udah mati di dalam kobaran api itu, kan?"
Jantung Clara serasa berhenti berdetak seketika. Tubuhnya mendadak kaku. "Kamu... kamu ngomong apa?"
"Malam itu, aku berhasil merangkak keluar dari jendela belakang rumah yang terbakar. Tapi seluruh tubuhku, terutama wajahku, terkena luka bakar yang sangat parah. Aku hampir nggak bertahan hidup, Ra," ucap Adrian dengan suara yang bergetar hebat. Air matanya kini mengalir deras.
Clara menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak. Nggak mungkin. Alvian udah meninggal. Polisi bilang mereka nemuin jasadnya..."
"Itu jasad orang lain yang ditaruh oleh mereka untuk malsuin kematianku, Ra," potong Adrian cepat. "Aku diselamatkan oleh seorang mantan agen medis yang dulu berutang budi sama ayahku. Selama hampir dua tahun, aku harus ngelewatin puluhan kali operasi plastik yang luar biasa menyakitkan cuma buat ngebangun kembali wajahku yang hancur. Wajah baru yang sama sekali nggak mirip sama diriku yang dulu."
Clara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak lebar, menatap wajah pria di depannya dengan saksama. Struktur wajah yang tegas, hidung yang mancung, rahang yang kokoh... Ini memang bukan wajah Alvian, sahabat masa kecilnya yang manis dan berwajah bulat. Tapi mata itu... mata cokelat tua yang dalam dan penuh kehangatan yang dulu selalu menatapnya saat mereka bermain di taman belakang rumah... mata itu sama sekali tidak berubah.
"Al...vian...?" bisik Clara hampir tak terdengar.
Adrian mengangguk perlahan, tersenyum getir di sela tangisnya. "Iya, Ra. Ini aku. Aku Alvian. Sahabat kecil kamu yang dulu janji bakal selalu jagain kamu dari monster di bawah tempat tidur."
Tangis Clara pecah seketika. Dia menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. "Alvian... kamu beneran Alvian? Tapi kenapa? Kenapa kamu harus berubah jadi Adrian? Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku kalau kamu masih hidup?!"
Adrian menggenggam tangan Clara lebih erat lagi, seolah takut perempuan itu akan menghilang jika dia melepaskannya.
"Karena monster yang membakar rumah keluarga kita sepuluh tahun lalu itu nyata, Ra. Mereka adalah organisasi hitam bernama 'The Phoenix'. Mereka yang membunuh orang tua dan kakakku. Dan setelah mereka tahu keluarga kamu juga punya dokumen penting milik ayahku, mereka juga mengincar kamu," jelas Adrian dengan nada serius.
"The Phoenix...?" Clara bergumam, merasa asing dengan nama itu.
"Mereka sangat kuat, Ra. Mereka ada di mana-mana—di pemerintahan, di kepolisian, bahkan di dunia bisnis. Kalau aku muncul dengan identitas asliku sebagai Alvian, mereka bakal langsung bunuh aku, dan mereka juga bakal tahu kalau kamu masih berhubungan sama aku. Itu bakal buat posisi kamu dalam bahaya besar," lanjut Adrian.
Adrian menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan emosinya sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Makanya, aku mutusin buat 'mati' sebagai Alvian. Aku menciptakan identitas baru. Bukan cuma satu, Ra. Tapi tujuh identitas palsu yang berbeda."
Clara terbelalak. "Tujuh...?"
"Iya. Aku butuh menyusup ke berbagai sektor organisasi 'The Phoenix' buat nyari tahu siapa dalang di balik semua ini dan buat hancurin mereka dari dalam. Jadi, aku menciptakan tujuh kepribadian dan identitas yang berbeda-beda."
Adrian mulai menjabarkan satu per satu dengan suara yang kembali tenang namun dingin.
"Di dunia bawah tanah, aku dikenal sebagai 'Viper', seorang pembunuh bayaran berdarah dingin yang sering disewa oleh lingkaran dalam Phoenix. Di dunia korporat, aku adalah 'Arthur', seorang investor asing misterius yang menanam modal di perusahaan-perusahaan cangkang milik mereka. Di dunia digital, aku adalah hacker tanpa nama yang membobol data transaksi ilegal mereka. Ada juga identitas sebagai makelar informasi, detektif swasta, hingga seorang bartender di klub malam tempat para petinggi mereka biasa berkumpul."
Clara mendengarkan semua itu dengan perasaan campur aduk antara tidak percaya, ngeri, dan kagum. Suaminya... pria yang selama ini dia omeli karena sering lupa membuang sampah, ternyata adalah seorang pria yang menjalani kehidupan se-ekstrem ini di balik layar.
"Lalu... Adrian?" tanya Clara pelan.
Tatapan Adrian mendadak berubah menjadi sangat lembut dan penuh cinta. Dia menatap Clara seolah-olah perempuan itu adalah satu-satunya hal paling berharga di dunia ini.
"Adrian adalah identitas ketujuh yang aku buat khusus... cuma untuk bisa kembali ke sisi kamu."
Air mata Clara kembali luruh mendengar ucapan itu.
"Aku tahu 'The Phoenix' mulai mengawasi kamu lagi setahun yang lalu. Aku nggak bisa cuma mantau kamu dari jauh sebagai orang asing. Aku harus ada di samping kamu, meluk kamu saat kamu ketakutan, dan mastiin nggak ada satu pun dari mereka yang bisa nyentuh kamu. Jadi, aku menciptakan 'Adrian'. Seorang manajer pemasaran biasa yang membosankan, yang kelihatan nggak punya ancaman sama sekali, biar mereka nggak curiga kenapa pria biasa kayak aku bisa nikah sama kamu."
Adrian mengusap air mata di pipi Clara dengan ibu jarinya yang hangat. "Semua identitas itu... semuanya cuma palsu, Ra. Tapi cinta Adrian ke kamu... itu nyata. Karena di dalam tubuh Adrian ini, ada jiwa Alvian yang dari dulu sampai kapan pun, cuma mencint** kamu."
Clara tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia langsung menghambur ke pelukan Adrian, memeluk leher pria itu dengan sangat erat sambil menangis sejadi-jadinya. Adrian membalas pelukan itu tak kalah erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Clara, menghirup aroma tubuh istrinya yang sangat dia rindukan.
"Kenapa kamu harus nanggung ini semua sendiri, Al..." tangis Clara tersedu-sedu di dada Adrian. "Kamu pasti kesakitan banget selama ini..."
"Aku nggak apa-apa, Ra. Selama aku bisa lihat kamu senyum setiap hari, semua rasa sakit itu nggak ada artinya," bisik Adrian—atau sekarang, Alvian—dengan tulus.
Namun, di tengah momen emosional itu, Alvian tahu bahwa waktu mereka tidak banyak. Kejadian di kampus tadi membuktikan kalau 'The Phoenix' sudah mulai bergerak secara agresif. Mereka tahu siapa Clara, dan mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka cari.
Alvian perlahan merenggangkan pelukannya, menatap Clara dengan serius. "Ra, sekarang mereka udah tahu kalau aku ada di sekitar kamu, meskipun mereka belum tahu identitas asliku. Tempat ini aman untuk sementara, tapi kita harus tetap waspada."
Clara menghapus air matanya, lalu mengangguk mantap. Rasa takutnya kini telah menguap, digantikan oleh keberanian baru karena dia tahu, sahabat masa kecil sekaligus suaminya yang sangat mencint**nya, ada di sini untuk melindunginya.
"Aku nggak takut lagi, Al. Asalkan kita bareng-bareng," ucap Clara tegas.
Alvian tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, senyuman itu terasa sangat tulus dan bebas dari beban. Dia menggenggam tangan Clara, siap menghadapi badai apa pun yang akan dikirim oleh 'The Phoenix' kepada mereka.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!