Adrian menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengompres pergelangan tangan Clara. Dia menghela napas panjang, lalu menatap manik mata istrinya dengan lekat. Keheningan sempat menyelimuti ruangan minimalis itu selama beberapa detik sebelum Adrian akhirnya bersuara.
"Nama asli aku Adrian Alister. Dan apa yang kamu lihat tadi... itu cuma sebagian kecil dari pekerjaan asli aku, Clara. Aku bukan cuma sekadar karyawan kantoran biasa yang sering lembur. Aku bekerja di balik bayangan untuk beresin masalah-masalah yang nggak bisa diselesaikan oleh hukum biasa."
Clara mengerjapkan matanya, mencoba mencerna kalimat itu. "Jadi... kamu semacam agen rahasia? Pembunuh bayaran? Atau apa?"
"Aku punya beberapa identitas untuk bertahan hidup, Clara. Dan salah satunya adalah untuk melindungi kamu," jawab Adrian dengan nada suara yang melembut, sangat kontras dengan aura dingin yang dipancarkannya beberapa saat lalu.
Sebelum Clara sempat bertanya lebih jauh, sebuah alarm berbunyi nyaring dari deretan layar monitor di sudut ruangan. Garis-garis merah berkedip di peta digital, menunjukkan beberapa titik merah yang bergerak cepat mendekati lokasi mereka.
"Sial, mereka cepat juga," umpat Adrian pelan. Dia langsung berdiri dan mengetikkan sesuatu di keyboard dengan kecepatan luar biasa.
Clara ikut beranjak dari sofa, mengabaikan rasa pusing yang masih sedikit mendera kepalanya. Dia mendekati meja monitor dan matanya langsung tertuju pada sebuah dokumen digital yang terbuka di layar paling ujung. Ada foto pamannya, B**m, bersanding dengan data transaksi keuangan yang sangat mencurigakan.
"Tunggu... ini foto Om B**m?" tanya Clara dengan suara bergetar. "Kenapa ada data keuangan keluarga aku di sini?"
Adrian menoleh, wajahnya tampak mengeras. "Clara, aku minta maaf karena harus memberi tahu kamu dengan cara seperti ini. Tapi dalang di balik kecelakaan yang menewaskan orang tua kamu... adalah B**m. Paman kamu sendiri. Dia yang menyewa pembunuh profesional untuk menyingkirkan orang tua kamu demi menguasai seluruh aset dan warisan keluarga."
Dada Clara terasa sesak. Air mata hampir saja menetes, namun rasa amarah yang tiba-tiba membakar hatinya jauh lebih besar. "Om B**m? Tapi... dia selalu bersikap baik selama ini. Dia yang pura-pura peduli setelah Papa dan Mama meninggal!"
"Itu cuma topeng. Dan sekarang, dia tahu kalau aku sedang menyelidiki ka**s ini. Makanya dia ngirim orang untuk menculik kamu, untuk memancing aku keluar," jelas Adrian seraya mengambil sebuah pistol hitam dari laci meja dan memeriksa magasinnya. "Posisi kita sudah terjepit sekarang. Anak buah B**m sudah melacak apartemen ini. Kita nggak bisa terus-menerus lari, Clara."
Clara mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasa takutnya kini menguap, digantikan oleh keberanian yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. "Kalau kita terus lari, dia nggak akan pernah berhenti, kan?"
Adrian mengangguk pelan.
"Kalau gitu, kita serang balik," ucap Clara tegas. Matanya menatap Adrian tanpa ada keraguan sedikit pun. "Kita hancurkan dia malam ini juga."
Adrian sempat tertegun melihat perubahan drastis pada istrinya. Clara yang biasanya manja dan penakut, kini menatapnya dengan binar tekad yang membara. Senyum tipis terukir di sudut bibir Adrian.
"Oke. Kita selesaikan ini sekarang. Target kita: Menara Phoenix, markas utama B**m."
***
Tiga puluh menit kemudian, sebuah van hitam terparkir di gang sempit yang gelap, tepat di seberang Menara Phoenix—gedung pencakar langit berlant** tiga puluh yang menjadi simbol kekuasaan B**m.
Di dalam van yang dipenuhi peralatan canggih, Clara duduk dengan *headset* terpasang di telinganya. Jari-jemarinya dengan lincah menari di atas keyboard laptop khusus milik Adrian. Berkat panduan singkat dari Adrian selama perjalanan tadi, Clara yang memang pintar di bidang IT langsung bisa menguasai sistem operasi retasan tersebut.
"Tes, tes. Adrian, kamu bisa dengar suara aku?" bisik Clara ke arah mikrofon kecil di dekat bibirnya.
*“Dengar jelas, Sayang. Gimana kondisi di dalam?”* Suara Adrian terdengar sant** dari seberang alat komunikasi, padahal dia sudah bersiap di dekat pintu ma**k basemen gedung tersebut.
"Aku udah berhasil nge-hack sistem keamanan Menara Phoenix. Kamera CCTV di koridor basemen aman, udah aku buat *looping* videonya selama lima menit ke depan. Kamu bisa ma**k sekarang," ujar Clara, matanya fokus menatap layar yang menampilkan denah gedung dalam bentuk 3D.
*“Perfect. Aku ma**k sekarang.”*
Melalui kamera termal yang berhasil diretas Clara, dia bisa melihat siluet Adrian bergerak dengan sangat cepat dan senyap. Adrian menyusup melewati pintu belakang.
"Adrian, tunggu! Di pertigaan depan ada dua penjaga bersenjata," peringat Clara cepat saat melihat dua titik merah bergerak mendekati posisi Adrian.
*“Oke, standby.”*
Clara menahan napasnya. Di layar, dia melihat Adrian sengaja menjatuhkan sebuah kaleng untuk memancing perhatian. Begitu salah satu penjaga mendekat, Adrian langsung muncul dari balik bayangan. Dengan satu gerakan cepat, dia memutar leher penjaga pertama hingga pingsan, lalu melayangkan tendangan memutar yang telak mengenai rahang penjaga kedua sebelum pria itu sempat berteriak.
*“Dua-duanya tidur. Jalur aman?”* tanya Adrian, napasnya bahkan tidak terdengar memburu.
Clara mengembuskan napas lega yang sempat tertahan. "G***... kamu keren banget. Oke, lanjut. Lift barang di sebelah kanan kamu sudah aku aktifkan. Langsung naik ke lant** 28, ruangan kantor pribadi Om B**m ada di sana."
*“Roger.”*
Saat lift bergerak naik, ketegangan semakin memuncak. Clara bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Ini bukan lagi sekadar game atau film aksi; ini adalah hidup dan mati suaminya, serta keadilan untuk mendiang orang tuanya.
Tiba-tiba, layar monitor Clara berkedip merah. Sistem alarm internal gedung berbunyi.
"Adrian! Sial, mereka sadar ada penyusup! Sistem keamanan utama mereka nge-bypass retasan aku!" seru Clara panik.
*“Tenang, Clara. Fokus. Aku udah hampir sampai di lant** 28.”*
*Ting!*
Begitu pintu lift terbuka di lant** 28, suara tembakan langsung membahana.
*Dorr! Dorr! Dorr!*
"Adrian!" teriak Clara spontan saat mendengar suara tembakan yang begitu m****akkan telinga dari *earpiece*-nya.
Di koridor mewah lant** 28, Adrian langsung melakukan gerakan berguling ke samping, berlindung di balik pilar marmer yang tebal. Serpihan semen dan debu berterbangan akibat hantaman peluru. Ada sekitar lima orang penjaga berpakaian hitam-hitam yang terus memberondongnya dengan tembakan.
"Clara, matiin lampu koridor sekarang!" seru Adrian sambil membalas tembakan dengan presisi tinggi. Satu musuh langsung tumbang dengan luka tembak di bahu.
"Sebentar... oke, *shutdown* sekarang!"
Seketika itu juga, seluruh lampu di lant** 28 padam, menyisakan kegelapan total. Dalam kegelapan, Adrian yang sudah terbiasa bertarung dalam kondisi minim cahaya langsung bergerak seperti predator. Terdengar suara pukulan bertubi-tubi, rintihan kesakitan, dan bunyi senjata yang terjatuh ke lant**.
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, sunyi kembali melanda koridor tersebut.
*“Semua beres. Aku di depan pintu ruangan B**m sekarang,”* lapor Adrian, sedikit terengah-engah.
"Hati-hati, Adrian. Aku nggak bisa ngelihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Kameranya offline total," kata Clara cemas.
Adrian perlahan mendorong pintu ganda kayu jati yang mewah itu. Ruangan di dalamnya c**up luas dengan jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta di malam hari. Di balik meja kerja besar yang megah, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi, memegang segelas wiski.
B**m.
"Akhirnya kamu sampai juga, Adrian. Atau harus kupanggil... Agen Alister?" B**m tersenyum sinis, sama sekali tidak tampak panik.
Adrian melangkah ma**k dengan pistol tetap terarah pada B**m. "Permainan kamu sudah selesai, B**m. Semua bukti kejahatan kamu, mulai dari pembunuhan keluarga Clara sampai pencucian uang, sudah dikirim ke pihak berwajib."
B**m tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat memuakkan di telinga Clara yang mendengarkan lewat alat komunikasi.
"Bukti? Siapa yang peduli dengan bukti kalau kamu mati di sini?" Ucap B**m dingin.
Tiba-tiba, dari balik tirai besar di sudut ruangan, muncul dua orang pria berbadan raksasa yang langsung menerjang Adrian. Pistol Adrian terlempar dari tangannya akibat tendangan salah satu pria itu.
Pertarungan sengit kembali pecah. Adrian dikeroyok oleh dua petarung profesional. Pukulan dan tendangan datang bertubi-tubi. Meskipun Adrian sangat terlatih, rasa lelah akibat pertempuran sebelumnya mulai terasa. Adrian berhasil melumpuhkan salah satu pria raksasa dengan kuncian leher yang mematikan, namun pria kedua berhasil mendaratkan pukulan keras di perut Adrian hingga Adrian terhuyung ke belakang menab**k meja kaca hingga hancur berkeping-keping.
"Adrian!" Clara berteriak histeris di dalam van. Dia tidak bisa hanya duduk diam melihat suaminya sekarat. Tanpa pikir panjang, Clara melepaskan *headset*-nya, mengambil sebuah tongkat besi pemukul bisbol yang ada di kursi belakang van, dan langsung berlari keluar menuju ke dalam gedung.
Di dalam ruangan, Adrian berhasil bangkit dan memberikan pukulan kombinasi cepat yang akhirnya menumbangkan pria raksasa kedua. Namun, saat Adrian mencoba mengatur napasnya yang memburu, dia mendengar suara kokangan senjata.
B**m sudah berdiri di depannya, mengarahkan moncong pistol tepat ke arah dada Adrian yang sedang lengah.
"Kamu hebat, Adrian. Sangat hebat. Tapi sayangnya, perjalanan kamu berakhir di sini," ujar B**m dengan senyum kemenangan yang keji. Jarinya perlahan mulai menarik pelatuk.
Adrian memejamkan mata, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
"OM B**M, BERHENTI!!!"
Sebuah teriakan melengking memecah ketegangan di ruangan itu. Pintu ruangan terbuka lebar, memperlihatkan Clara yang berdiri dengan napas terengah-engah, memegang tongkat bisbol dengan kedua tangan yang gemetar hebat.
B**m tersentak kaget. Fokusnya terpecah. Dia menoleh ke arah keponakannya dengan mata terbelalak. "Clara?! Bagaimana bisa kamu—"
"Jangan berani-berani sentuh suami aku, Om ba******!" teriak Clara dengan air mata yang mengalir di pipinya, namun tatapannya penuh dengan keberanian yang luar biasa. Dia langsung mengayunkan tongkat bisbol itu ke arah vas bunga porselen besar di dekat pintu, menghancurkannya hingga menimbulkan suara gaduh yang luar biasa untuk mengalihkan perhatian sepenuhnya.
Detik krusial yang tercipta dari aksi nekat Clara itu tidak disia-siakan oleh Adrian.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Adrian langsung melesat maju seperti kilat. Dia mencengkeram pergelangan tangan B**m yang memegang pistol, memutarnya dengan keras hingga terdengar bunyi *krek* yang memilukan.
"AAARGHHH!" B**m berteriak kesakitan saat pistolnya terjatuh ke lant**.
Tanpa memberi ampun, Adrian mendaratkan satu pukulan mentah tepat di rahang B**m, disusul dengan bantingan keras yang membuat tubuh pria paruh baya itu terkapar tak berdaya di atas lant** marmer, tidak sadarkan diri.
Napas Adrian memburu. Dia menatap B**m yang sudah lumpuh total, lalu perlahan menoleh ke arah pintu.
Clara menjatuhkan tongkat bisbolnya. Tubuhnya gemetar hebat akibat sisa adrenalin dan rasa takut yang luar biasa. Tanpa membuang waktu, Adrian langsung berlari mendekat dan mendekap tubuh istrinya itu dengan sangat erat.
"Kamu g***, Clara... Kamu bisa mati," bisik Adrian di telinga Clara, suaranya bergetar karena rasa khawatir yang mendalam. Jantungnya serasa mau copot saat melihat Clara ma**k ke ruangan tadi.
Clara membalas dekapan hangat suaminya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Adrian. "Aku nggak bisa... aku nggak bisa biarin kamu mati, Adrian. Aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayang lagi."
Adrian mengusap lembut rambut Clara, mengecup puncak kepalanya dengan penuh perasaan. "Semuanya udah selesai sekarang, Sayang. Om kamu udah kalah. Keadilan buat orang tua kamu akhirnya tegak."
Di bawah temaram lampu kota Jakarta yang menembus jendela kaca Menara Phoenix, mereka berdua berdiri berpelukan, mengakhiri malam yang penuh dengan pertumpahan darah ini dengan sebuah kemenangan yang manis.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!