Sirene polisi yang meraung-raung di kejauhan perlahan mulai memudar, digantikan oleh kesunyian malam yang menenangkan. Di sudut jalan yang gelap, Clara berdiri dengan kedua tangan yang masih sedikit gemetar. Di depannya, mobil polisi bergerak menjauh, membawa B**mβpamannya yang selama ini memakai topeng malaikatβmenuju jeruji besi yang sangat layak ia dapatkan.
Hancurnya organisasi 'The Phoenix' bukan cuma akhir dari sebuah sindikat kriminal kelas kakap, tapi juga akhir dari mimpi buruk panjang yang menghantui hidup Clara. Kematian orang tuanya yang selama ini menjadi misteri kini menemui titik terang. Dalangnya sudah tertangkap, dan keadilan akhirnya berpihak pada Clara.
Adrian berjalan mendekati Clara. Langkah kakinya yang biasa terdengar tegap dan penuh kewaspadaan kini terasa jauh lebih sant**. Dia melepas jaket kulit hitamnya yang sedikit kotor karena sisa pertarungan tadi, lalu menyampirkannya ke pundak Clara yang tampak kedinginan akibat angin malam.
"Semuanya udah selesai, Clara," bisik Adrian lembut. Dia merapikan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya. "Paman kamu nggak akan pernah bisa ganggu kamu lagi. Organisasi itu udah hancur sampai ke akar-akarnya."
Clara mendongak, menatap manik mata Adrian yang kini tidak lagi memancarkan tatapan dingin atau misterius. Hanya ada kehangatan yang tulus di sana. Clara langsung menghambur ke pelukan Adrian, menenggelamkan wajahnya di dada bidang cowok itu. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah juga. Kali ini, bukan tangis ketakutan, melainkan tangis kelegaan yang luar biasa.
"Makasih... makasih banyak, Adrian," gumam Clara di sela tangisnya.
Adrian mengusap punggung Clara dengan penuh sayang, membiarkan istrinya menumpahkan seluruh emosi yang selama ini terpendam. "Sama-sama, Sayang. Mulai sekarang, tugas aku cuma satu: bikin kamu bahagia."
***
Keesokan harinya, sore yang cerah menyambut mereka. Adrian membawa Clara pergi ke sebuah tebing pant** yang c**up sepi di pinggiran kota. Tempat itu sangat indah, dengan pemandangan laut lepas di bawahnya dan langit oranye kemerahan yang mulai merayap naik karena matahari yang hampir terbenam. Angin laut berembus c**up kencang, menerbangkan rambut panjang Clara.
"Kita ngapain ke sini?" tanya Clara penasaran saat mereka turun dari mobil. Dia merapatkan jaket denimnya, menatap Adrian yang membawa sebuah wadah kaleng besi kecil dan sebuah tas kulit berukuran sedang di tangannya.
Adrian tidak langsung menjawab. Dia tersenyum tipis, lalu menuntun Clara untuk duduk di sebuah batu besar yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Setelah itu, dia meletakkan wadah kaleng besi di tanah, tepat di depan mereka, lalu membuka tas kulit yang dibawanya.
"Aku mau tunjukin sesuatu ke kamu," kata Adrian sant**.
Dari dalam tas kulit itu, Adrian mengeluarkan beberapa buah paspor dengan warna cover yang berbeda-beda, tumpukan kartu identitas, SIM, dan beberapa dokumen resmi lainnya. Semuanya terlihat sangat asli sampai Clara sempat melongo melihatnya.
"Ini..." Clara menunjuk tumpukan benda-benda itu dengan ragu.
"Ini adalah tujuh masa lalu aku," potong Adrian dengan nada suara yang tenang, tapi terdengar sangat lega. Dia menjajarkan tujuh paspor itu di atas kap mobil mereka yang terparkir dekat situ, seolah sedang memamerkan barang koleksi.
Clara mendekat, matanya membelalak lebar saat melihat foto-foto yang tertera di paspor-paspor tersebut. Wajahnya memang wajah Adrian, tapi gaya rambut, pakaian, kacamata, bahkan nama yang tertulis di sana benar-benar berbeda satu sama lain.
"G*** sih... ini beneran kamu semua?" tanya Clara, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Kamu beneran hidup dengan tujuh nama berbeda?"
Adrian terkekeh pelan. "Iya. Nggak gampang loh harus gonta-ganti kepribadian demi tuntutan misi. Nih, aku kenalin satu-satu biar kamu nggak penasaran lagi."
Adrian mengambil paspor pertama yang ber-cover biru tua. "Yang pertama, Adrian Alister. Ini identitas yang paling sering kamu lihat. Arsitek sukses, cool, pendiam, rajin lembur di kantor yang sebenarnya adalah markas operasional aku."
"Terus yang ini?" Clara menunjuk paspor kedua dengan foto Adrian yang memakai setelan jas super rapi dan kacamata elegan.
"Itu Julian Vance. Identitas aku sebagai kolektor seni blasteran Prancis-I****esia. Tugas Julian adalah mendekati para pejabat korup atau bos mafia yang suka cuci uang lewat lelang barang antik. Julian ini orangnya agak sombong dan suka pamer," jelas Adrian sambil meringis, mengingat betapa menyebalkannya karakter Julian yang pernah dia perankan.
Clara tertawa kecil. "Pantas aja foto kamu di situ kelihatan belagu banget."
"Nah, kalau yang ketiga ini namanya Kevin Wijaya," lanjut Adrian, mengambil paspor berikutnya dengan foto dirinya berambut acak-acakan dan memakai kacamata tebal. "Dia hacker cupu yang kerjanya ngebajak server bank hitam milik para penjahat. Kevin ini ansos, nggak suka bersosialisasi, dan hobi makan ramen instan di depan komputer."
Satu per satu, Adrian mengenalkan sisa identitas palsunya kepada Clara. Ada Genta sang detektif swasta karismatik, Ryan si barista ramah yang aslinya memata-mat** jaringan pengedar narkoba, Leo si pembalap liar yang ahli dalam pelarian cepat, dan yang terakhir adalah David, identitas darurat yang disiapkannya untuk kabur ke luar negeri jika suatu saat penyamarannya terbongkar total.
"Tujuh identitas palsu," gumam Clara, menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. "Aku nikah sama satu orang, tapi rasanya kayak punya tujuh suami sekaligus. Vibe-nya beda-beda banget lagi."
"Tapi dari ketujuh orang itu, nggak ada satu pun yang bener-bener 'aku', Clara," ujar Adrian. Tatapannya mendadak berubah serius. Dia menatap lekat-lekat kedua mata Clara, membuat detak jantung gadis itu sedikit berpacu lebih cepat. "Mereka semua cuma topeng yang aku buat untuk bertahan hidup di dunia yang keras ini. Semuanya penuh kebohongan, manipulasi, dan rahasia."
Adrian mengambil korek api Zippo perak dari saku celananya. Dia menyalakan pematik itu, membiarkan api kecil bergoyang-goyang ditiup angin laut.
"Hari ini, di depan kamu, aku mau mengakhiri semuanya," ucap Adrian tegas. "Aku nggak mau lagi jadi arsitek sempurna yang penuh kebohongan. Aku nggak mau hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang kelam."
Dengan gerakan perlahan namun pasti, Adrian mengambil paspor atas nama Adrian Alister. Dia menyulut ujung kertas paspor itu dengan api Zippo-nya. Dalam hitungan detik, api mulai menjalar, melahap dokumen berharga yang telah menemaninya selama beberapa tahun terakhir. Adrian menjatuhkan paspor yang terbakar itu ke dalam wadah kaleng besi di bawah mereka.
"Bye, Adrian Alister," bisik Adrian.
Clara menatap api yang menyala-nyala di dalam kaleng, merefleksikan cahaya merah di matanya. Perasaannya campur aduk, tapi rasa lega mendominasi hatinya.
Satu per satu, Adrian membakar dokumen-dokumen lainnya. Julian Vance, Kevin Wijaya, Genta, Ryan, Leo, dan terakhir David. Semua paspor, kartu identitas, dan dokumen palsu itu kini menyatu dalam kobaran api, perlahan-lahan berubah menjadi abu hitam yang terbang terbawa angin laut yang kencang.
Asap hitam membubung tinggi ke langit senja, seolah-olah membawa pergi semua rahasia, kebohongan, dan kepedihan yang selama ini mengikat hidup mereka berdua. Tujuh masa lalu yang rumit kini telah musnah, menyisakan ruang kosong yang bersih untuk masa depan mereka.
Setelah dokumen terakhir benar-benar habis terbakar dan hanya menyisakan abu di dasar kaleng, Adrian mematikan korek apinya. Dia menghela napas panjang, bahunya yang biasa kelihatan tegang kini tampak sangat rileks. Seolah-olah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari pundaknya.
Dia berbalik menghadap Clara, lalu meraih kedua tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat.
"Sekarang, semua identitas palsu itu udah nggak ada," kata cowok itu dengan senyum paling tulus yang pernah Clara lihat selama mereka bersama. "Nggak akan ada lagi rahasia di antara kita. Nggak akan ada lagi 'arsitek sempurna' yang penuh kebohongan."
Clara tersenyum manis, matanya sedikit berkaca-kaca karena terharu. "Terus... kalau semuanya udah dibakar, sekarang di depan aku ini siapa? Masa aku harus panggil kamu 'Hei' doang?" canda Clara, mencoba mencairkan suasana yang sempat emosional.
Adrian tertawa pelan. Suara tawanya terdengar sangat ringan, bebas dari segala beban.
"Nama asli aku Alvian," jawabnya lembut. "Cuma Alvian. Nggak pakai nama belakang yang keren buatan agensi. Cuma cowok biasa yang suka telat bangun pagi kalau libur, cowok biasa yang payah dalam hal masak tapi jago makan, dan yang paling penting... Alvian ini adalah cowok biasa yang cinta mati dan siap hidup bahagia selamanya sama kamu."
Air mata Clara akhirnya menetes juga, tapi kali ini murni karena rasa bahagia yang luar biasa. Dia tidak menyangka bahwa di balik semua kekacauan dan bahaya yang mereka lalui, akhir yang seindah ini nyata adanya.
"Hai, Alvian," bisik Clara manis, menyeka air matanya sendiri.
"Hai, Clara," jawab Alvian, suaranya terdengar sangat hangat.
Alvian menarik Clara ke dalam dekapannya. Kali ini, pelukan mereka terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi rasa khawatir, tidak ada lagi ketakutan akan hari esok, dan tidak ada lagi bayang-bayang musuh yang mengint**. Yang ada hanyalah kehangatan nyata dari dua orang yang siap memulai lembaran baru yang jujur.
Di tepi tebing pant** yang sepi, di bawah langit senja yang mulai dihiasi bintang-bintang, Alvian dan Clara saling berpelukan erat. Mereka tahu, perjalanan ke depan mungkin tidak akan selalu mudah. Tapi mulai hari ini, mereka akan menghadapinya bersama-sama, tanpa ada lagi topeng yang menghalangi. Hanya ada Alvian dan Clara, berdua, selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!