Suamiku Ternyata Punya Tujuh Identitas Palsu

Bab 2: Siapa Kamu Sebenarnya, Adrian?

Pengaturan Membaca

**Bab 2: Siapa Kamu Sebenarnya, Adrian?**

Clara terduduk lemas di lant** ruang kerja Adrian yang dingin. Di hadapannya, tujuh buah paspor dengan foto wajah suaminya tergeletak berantakan. Wajah yang sama, wajah tampan yang selalu tersenyum manis padanya setiap pagi, tapi dengan tujuh nama yang sepenuhnya berbeda.

Ada nama Adrian Wijaya—identitas yang Clara kenal selama tiga tahun pernikahan mereka. Lalu ada Ryouta Tanaka, Xavier Laurent, Diego Santos, dan beberapa nama asing lainnya. Namun, ada satu nama yang paling menarik perhatian Clara. Sebuah paspor berlogo elang emas dengan nama: *Leo Vance*.

Pikiran Clara langsung *traveling* kemana-mana. Otaknya mendadak *overthinking* parah. Tangannya yang gemetar hebat nyaris tidak bisa memegang ponselnya sendiri. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

"Enggak, ini pasti salah paham. Mungkin... mungkin ini cuma properti buat syuting? Atau Mas Adrian punya hobi cosplay yang aneh?" gumam Clara, mencoba menghibur diri dengan alasan paling konyol yang bisa dipikirkan otaknya.

Tapi akal sehatnya langsung menolak. Paspor-paspor ini terlalu nyata. Hologramnya, jenis kertasnya, bahkan cap imigrasi dari berbagai negara di dalamnya terlihat sangat resmi.

Dengan napas yang memburu, Clara membuka aplikasi Google di ponselnya. Jarinya yang gemetar mengetikkan nama: **Leo Vance**.

Begitu tombol *search* ditekan, layar ponsel Clara langsung dipenuhi oleh ribuan hasil pencarian. Begitu dia mengeklik salah satu artikel teratas, jantung Clara rasanya seperti berhenti berdetak saat itu juga.

*‘Leo Vance, Miliarder Misterius yang Menguasai Industri Teknologi Global.’*

*‘Sang Raja M&A: Bagaimana Leo Vance Menghancurkan Tiga Perusahaan Kompetitor dalam Semalam.’*

*‘Dingin, Kejam, dan Tanpa Ampun. Mengenal Sosok di Balik Vance Enterprises.’*

Clara men-scroll layar ponselnya dengan cepat. Di sana ada sebuah foto dokumentasi dari salah satu forum bisnis internasional di Swiss. Foto itu memperlihatkan seorang pria yang berdiri di mimbar, dikelilingi oleh belasan *bodyguard* berbadan tegap.

Pria itu mengenakan setelan jas *custom-made* berwarna hitam arang yang sangat mahal. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang, mempertegas rahangnya yang kokoh. Dan yang paling membuat Clara merinding adalah matanya. Di foto itu, pria itu tidak memakai kacamata berbingkai tipis seperti Adrian. Tatapan matanya sangat tajam, dingin, dan penuh dominasi. Seperti seekor predator yang siap menerkam mangsanya tanpa ragu.

Pria itu adalah Adrian. Suaminya.

Atau lebih tepatnya, Leo Vance.

"G***... ini g***..." bisik Clara dengan suara tercekat.

Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa pria yang di artikel ini disebut sebagai "miliarder kejam yang ditakuti di Wall Street" adalah orang yang sama dengan suami *green flag*-nya yang selalu memakai celemek merah muda saat memasak s****an? Bagaimana bisa pria yang dibilang "tidak pernah tersenyum dan berdarah dingin" ini adalah orang yang selalu memeluknya manja setiap kali mereka menonton Netflix di sofa?

Clara merasa dunianya runtuh dalam sekejap. Semua yang dia ketahui tentang suaminya terasa seperti kebohongan besar yang dirancang dengan sangat rapi.

*Tee-to-loot!*

Suara nyaring dari *smart lock* pintu depan rumah mereka mendadak memecah keheningan.

Jantung Clara serasa mau melompat keluar dari rongga dadanya. *Siapa yang datang? Maling? Atau...*

"Sayang? Aku pulang!"

Suara bariton yang sangat familiar itu terdengar dari lant** bawah. Itu suara Adrian.

Seketika, Clara panik setengah mati. Dia buru-buru meraup ketujuh paspor itu, mema**kkannya kembali ke dalam kotak beludru hitam di bawah laci rahasia, dan mengembalikan pot sukulen ke posisi semula. Dia memastikan tidak ada satu pun debu yang bergeser.

Dengan napas yang masih tersengal-sengal, Clara berlari keluar dari ruang kerja, menutup pintunya pelan-pelan, lalu berjalan turun ke lant** bawah sambil berusaha mengatur ekspresi wajahnya. *Akting, Clara. Lo harus akting biasa aja,* batinnya histeris.

Di ujung tangga, Clara melihat Adrian berdiri di sana. Suaminya itu masih mengenakan kemeja flanel ka**al yang dipakainya tadi pagi, lengkap dengan kacamata berbingkai tipis yang membuatnya terlihat ramah dan hangat. Di tangan kanannya, dia menenteng sebuah kantong plastik berlogo kedai martabak terkenal.

Begitu melihat Clara, senyum Adrian langsung mengembang lebar. Senyum manis yang selalu berhasil membuat Clara meleleh. Tapi kali ini, senyum itu justru membuat bulu kuduk Clara berdiri.

"Mas? Kok... kok udah pulang? Katanya dinas ke Bandung tiga hari?" tanya Clara, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak terdengar bergetar.

Adrian berjalan mendekat, meletakkan kantong martabak di atas meja makan, lalu langsung merengkuh tubuh Clara ke dalam pelukannya. Dia menyurukkan kepalanya di perpotongan leher Clara, menghirup aroma tubuh istrinya dengan manja.

"Kerjaannya selesai lebih cepat, Sayang. Lagian, baru beberapa jam di jalan aja aku udah kangen banget sama kamu. Gak bisa fokus kerja kalau mikirin kamu sendirian di rumah," bisik Adrian dengan nada suara yang begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan sosok 'Leo Vance' yang baru saja Clara baca di internet.

Tubuh Clara mendadak kaku dalam dekapan Adrian. Setiap jengkal kulitnya yang bersentuhan dengan suaminya terasa seperti dialiri arus listrik bertegangan tinggi. Jantungnya berdegup sangat kencang, bukan karena romantis, melainkan karena rasa takut yang luar biasa.

*Pria ini... siapa dia sebenarnya?*

"Sayang? Kamu kenapa?" Adrian melepaskan pelukannya perlahan. Dia menatap wajah Clara dengan dahi berkerut cemas. Tangannya yang hangat terangkat, menyentuh pipi Clara lembut. "Kok muka kamu pucat banget? Badan kamu juga agak gemetaran. Kamu sakit?"

Sentuhan tangan Adrian di pipinya terasa seperti pisau es yang dingin bagi Clara. Dia refleks menahan napas, berusaha keras untuk tidak mundur selangkah.

"Ah... enggak kok, Mas," jawab Clara sambil memaksakan sebuah senyuman tipis. "Cuma... tadi aku habis bersih-bersih rumah, capek aja sedikit. Gak apa-apa kok."

Adrian menatapnya lurus-lurus selama beberapa detik. Tatapan matanya yang biasanya hangat mendadak terasa sangat mengintimidasi, seolah-olah dia bisa membaca setiap kebohongan yang ada di kepala Clara. Clara merasa paru-parunya menyempit, takut jika Adrian menyadari bahwa rahasia besarnya telah terbongkar.

Namun, ketegangan itu mencair dalam sekejap saat Adrian kembali tersenyum manis. Dia mengacak rambut Clara dengan gemas.

"Makanya, jangan terlalu rajin, Sayang. Kan aku udah bilang, biarin aja nanti aku yang beresin pas pulang. Ya udah, nih, aku bawain martabak manis rasa keju-cokelat kesukaan kamu. Masih anget, lho. Kita makan bareng, yuk?"

Clara hanya bisa mengangguk kaku. "I-iya, Mas. Aku ambil piring dulu, ya."

Di dapur, saat membelakangi Adrian, Clara memegangi dadanya yang terasa sesak. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mengg***. Dia harus bersikap biasa saja. Dia tidak boleh membiarkan Adrian curiga sedikit pun. Pria itu terlalu berbahaya.

Mereka akhirnya duduk berdampingan di meja makan. Adrian dengan telaten memotong martabak itu menjadi bagian-bagian kecil, lalu menyuapkannya ke mulut Clara.

"Aaa... buka mulutnya, Sayang," ujar Adrian dengan mata berbinar jenaka.

Clara membuka mulutnya dan mengunyah martabak itu. Rasanya yang manis dan gurih, yang biasanya selalu dia sukai, kini terasa hambar seperti kertas di lidahnya. Pikirannya melayang pada artikel tentang Leo Vance yang dingin dan kejam. Bagaimana bisa seorang monster bisnis bisa bersikap se-imut ini di depan istrinya? Apa semua ini cuma akting? Atau Adrian punya kepribadian ganda?

"Gimana? Enak?" tanya Adrian sambil menyeka sisa cokelat di sudut bibir Clara dengan ibu jarinya, lalu menjilat ibu jarinya sendiri dengan sant**.

"Enak banget, Mas. Makasih, ya," jawab Clara, menelan ludah dengan susah payah.

"Apapun buat istriku tersayang," balas Adrian manja, lalu mengecup kening Clara dengan lembut.

Malam pun semakin larut. Setelah selesai membersihkan diri, mereka berdua berbaring di atas tempat tidur queen size mereka. Kamar tidur yang biasanya terasa sangat hangat dan nyaman, malam ini terasa begitu sunyi dan mencekam bagi Clara.

Adrian berbaring menyamping, memeluk pinggang Clara dari belakang, menarik tubuh istrinya agar merapat ke dadanya yang bidang. Aroma parfum *sandalwood* bercampur sabun mandi maskulin dari tubuh Adrian menguar, memenuhi indra penciuman Clara.

"Good night, Clara. *I love you*," bisik Adrian lirih, tepat di samping telinga Clara, sebelum perlahan napasnya berubah menjadi teratur, menandakan dia telah tertidur lelap.

Clara tetap membuka matanya lebar-lebar dalam kegelapan kamar. Dia tidak bisa tidur. Sama sekali tidak bisa.

Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Clara membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Adrian. Di bawah temaram cahaya lampu tidur, Clara memperhatikan wajah suaminya yang sedang terpejam. Dalam tidurnya, Adrian terlihat begitu damai, begitu polos, persis seperti pria baik-baik yang dia nikahi tiga tahun lalu.

Namun, kini Clara tahu kenyataan yang sesungguhnya.

Clara menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang masih berpacu cepat. Rasa takut merayap di sekujur tubuhnya saat menyadari satu fakta mengerikan.

Pria yang tidur di sampingnya setiap malam, pria yang memeluknya erat-erat sekarang, adalah seorang asing yang penuh dengan rahasia berbahaya.

Siapa kamu sebenarnya, Adrian? Dan apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu aku sudah menemukan rahasiamu?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca