**Bab 3: Aksi Hacker di Tengah Malam**
Pagi itu, jagat maya benar-benar gempar. Clara duduk di meja makan dengan ponsel yang terus-menerus memunculkan notifikasi berita *breaking news*. Mulai dari Twitter, TikTok, sampai portal berita nasional, semuanya membahas satu topik yang sama: pembobolan sistem keamanan Bank Sentral Nasional.
"G***, ini beneran?" gumam Clara dengan mata terbelalak, men-scroll utas di Twitter yang sudah mendapatkan ratusan ribu *likes*.
*‘Hacker legendaris berinisial "X" kembali beraksi! Kali ini, Bank Sentral Nasional kebobolan ratusan miliar rupiah dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Sistem keamanan tercanggih se-Asia Tenggara runtuh seketika!’*
Clara langsung teringat kejadian kemarin di ruang kerja Adrian. Laci rahasia itu. Paspor-paspor palsu itu.
Ada satu nama yang langsung terlintas di kepalanya: *Xavier Laurent*.
Inisialnya... X.
"Nggak mungkin, kan?" Clara menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mengusir pikiran g*** itu. "Mas Adrian itu lulusan Desain Grafis, kerjanya bikin logo sama ilustrasi di rumah. Masa iya dia hacker internasional yang ditakuti dunia?"
Tepat saat itu, langkah kaki terdengar mendekat. Clara buru-buru membalikkan ponselnya ke atas meja.
Adrian berjalan ma**k ke dapur dengan senyum manisnya yang biasa. Dia memakai celemek warna *baby pink* bergambar kucing, kontras sekali dengan tubuh tegapnya. Di tangannya ada piring berisi roti bakar cokelat keju kesukaan Clara.
"Pagi, Sayang. Kok mukanya tegang banget? Belum s****an udah cemberut aja," ucap Adrian lembut. Dia meletakkan piring itu di meja, lalu membungkuk untuk mengecup kening Clara dengan sayang.
Aroma parfum *vanilla wood* milik Adrian yang menenangkan langsung menguar. Clara menatap wajah suaminya lekat-lekat. Mata di balik kacamata berbingkai tipis itu terlihat sangat teduh. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kalau pria ini adalah miliarder kejam ataupun hacker buronan.
"Mas... kamu udah lihat berita pagi ini?" tanya Clara hati-hati, mencoba memancing.
Adrian menuangkan susu ke gelas Clara. "Berita apa? Masih soal politik yang pusing itu?"
"Bukan. Ini tentang Bank Sentral yang diretas sama hacker inisial 'X'. Katanya pelakunya jenius banget."
Gerakan tangan Adrian yang sedang menuangkan susu sempat terhenti selama satu detik. Sangat tipis, hampir tidak terlihat kalau Clara tidak memperhatikannya dengan jeli. Tapi sedetik kemudian, Adrian kembali tersenyum sant**.
"Oh, ya? Hebat juga ya orang itu. Tapi ya namanya juga teknologi, sedahsyat apa pun pertahanannya, pasti selalu ada celah kalau yang nyari orang yang tepat," ujar Adrian sant**, lalu duduk di hadapan Clara. "Udah, jangan dipikirin. Mending habisin roti bakarnya, nanti keburu dingin."
Clara tersenyum paksa dan menggigit rotinya. Di dalam hatinya, badai kecurigaan justru semakin berkecamuk. Cara Adrian menjawab barusan... terdengar terlalu tenang. Terlalu teoritis untuk seorang ilustrator biasa.
***
Malam harinya, suasana rumah terasa sangat sunyi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Clara berbaring di tempat tidur, memunggungi Adrian. Dia memejamkan mata, berpura-pura sudah tidur nyenyak dengan mengatur napasnya seatur mungkin. Padahal, jantungnya berdegup kencang seperti sedang maraton. Dia sengaja menunggu.
Benar saja. Sekitar pukul 11.45 malam, Clara merasakan ka**r di sampingnya bergerak perlahan.
Adrian bangun dengan gerakan yang sangat minim suara, hampir seperti hantu. Clara tetap memejamkan matanya, mengandalkan pendengarannya yang mendadak jadi sangat tajam. Dia mendengar suara lemari pakaian dibuka perlahan.
Melalui celah matanya yang terbuka sedikit, Clara mengintip.
Di bawah temaram lampu tidur, Clara melihat pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding. Adrian tidak lagi memakai kaos oblong longgar kesukaannya. Pria itu kini mengenakan setelan serba hitam: celana cargo hitam, kaos *turtleneck* ketat berwarna hitam yang membungkus otot tubuhnya dengan sempurna, dan jaket *tactical* berwarna senada.
Adrian juga melepaskan kacamatanya. Tanpa kacamata itu, wajahnya terlihat jauh lebih tegas, dingin, dan... asing.
Adrian mengambil sebuah ponsel hitam tipis yang belum pernah Clara lihat sebelumnya dari laci paling bawah, lalu melangkah keluar kamar dengan sangat senyap.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Clara langsung terduduk. Napasnya memburu.
"Dia mau ke mana tengah malam begini pakai baju kayak gitu?" bisik Clara pada diri sendiri.
Clara langsung menyambar ponselnya. Kemarin, setelah menemukan paspor-paspor itu, Clara diam-diam menginstal sebuah aplikasi pelacak GPS yang dia hubungkan ke ponsel cadangan Adrian—ponsel yang dia temukan di laci ruang kerja dan ternyata selalu dibawa Adrian kalau pergi misterius.
Di layar ponsel Clara, sebuah titik merah berkedip, bergerak menjauh dari area perumahan mereka.
"Oke, Clara. Ini saatnya lo cari tahu kebenarannya," tekad Clara bulat. Adrenalinnya melonjak drastis.
Dia buru-buru memakai jaket denim longgar, mengambil kunci mobilnya sendiri—mobil kota kecil yang jarang dia pakai agar tidak menimbulkan kecurigaan—dan keluar dari rumah dengan mengendap-endap.
***
Penyelidikan malam itu menuntun Clara membelah jalanan kota yang mulai sepi. Titik merah di ponselnya terus bergerak menuju ke arah pinggiran kota, melewati kawasan industri tua yang minim penerangan.
Clara menjaga jarak sekitar seratus meter di belakang mobil hitam yang dikendarai Adrian. Dia sengaja mematikan lampu utama mobilnya saat mema**ki jalanan yang lebih sempit dan gelap, hanya mengandalkan lampu kota yang redup agar tidak ketahuan.
Akhirnya, titik merah itu berhenti.
Clara memarkir mobilnya di balik sebuah truk kont**ner yang mangkrak di pinggir jalan. Dia keluar dari mobil, merapatkan jaketnya karena hawa malam yang menusuk tulang.
Di depannya berdiri sebuah ruko tua berlant** dua yang tampak terbengkalai. Cat dindingnya sudah mengelupas, dan papan namanya yang usang setengah gantung bertuliskan: **"CHAMPION NET - 24 JAM"**. Itu adalah bekas warnet zaman dulu yang jelas-sejelasnya sudah bangkrut dan ditinggalkan bertahun-tahun.
"Warnet terbengkalai? Ngapain Mas Adrian ke tempat kumuh kayak gini?" gumam Clara bingung.
Dia melihat mobil Adrian terparkir di gang sempit di samping ruko tersebut. Pintunya terkunci, tapi lampu di dalam ruko itu sepenuhnya mati dari luar.
Clara melangkah perlahan, nyaris tanpa suara. Dia mendekati pintu geser besi ruko yang ternyata sedikit terbuka, menyisakan celah sempit yang c**up untuk dilewati satu tubuh. Dengan hati-hati, Clara menyelinap ma**k.
Bau debu, kertas lembap, dan kabel terbakar langsung menyengat hidungnya. Suasana di dalam sangat gelap gulita. Clara harus meraba dinding agar tidak tersandung kabel-kabel yang berserakan di lant**.
Namun, saat dia melangkah lebih dalam ke arah bagian belakang ruko, dia melihat ada cahaya kebiruan yang berpendar dari balik sekat tripleks tebal.
Sayup-sayup, terdengar suara ketukan keyboard yang sangat cepat. Ritmenya konstan dan berisik, seperti suara senapan mesin yang menembak tanpa henti.
Clara menahan napasnya. Dia mendekati celah pintu tripleks itu dan mengintip ke dalam.
Seketika, napas Clara tercekat di tenggorokan.
Di dalam ruangan yang luasnya tidak seberapa itu, pemandangan luar biasa tersaji di depan matanya. Tempat yang dari luar tampak seperti ruko rongsokan itu ternyata menyimpan teknologi tingkat dewa. Puluhan layar monitor berukuran besar terpasang di dinding, menampilkan ribuan baris kode berwarna hijau dan merah yang terus berjalan dengan kecepatan ekstrem.
Ada peta jaringan global, grafik lalu lintas data perbankan, dan beberapa kamera CCTV langsung dari gedung Bank Sentral Nasional yang sedang menyala.
Dan di tengah-tengah ruangan itu, duduklah Adrian.
Adrian memakai *headset* hitam besar. Jari-jarinya menari di atas tiga keyboard mekanik sekaligus dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Matanya yang tajam tanpa kacamata bergerak cepat dari satu monitor ke monitor lain.
Tidak ada lagi senyum hangat. Tidak ada lagi tatapan ramah suaminya.
Wajah Adrian saat itu sangat dingin, datar, dan memancarkan aura kegelapan yang membuat bulu kuduk Clara berdiri. Dia terlihat seperti seorang komandan perang yang sedang mengendalikan takdir ribuan orang dari balik layar komputer.
"Target kedua berhasil ditembus," suara Adrian terdengar dingin melalui mikrofon *headset*-nya. Nada bicaranya datar, tanpa emosi sama sekali. "Alihkan semua dana dari akun sekunder ke rekening penampung di Swiss. Hapus semua log aktivitas dalam waktu tiga puluh detik."
Sebuah suara distorsi terdengar menjawab dari pengeras suara kecil di meja. *"Baik, Bos. Tapi tim forensik digital cyber crime Polda sudah mulai melacak IP address kita. Mereka pakai enkripsi baru."*
Adrian mendengus remeh. Sebuah seringai dingin muncul di sudut bibirnya. Tatapan matanya yang kejam membuat Clara merinding di balik persembunyiannya.
"Enkripsi kelas teri kayak gitu mau menghentikan Xavier?" ucap Adrian dengan suara rendah yang penuh intimidasi. "Kirimkan *ransomware* 'Blackout' ke server utama mereka. Biar mereka sibuk ngurusin sistem mereka yang mati total selama dua puluh empat jam ke depan."
*"Siap, Bos! Perintah dilaksanakan."*
Clara membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Air matanya nyaris menetes karena rasa syok yang luar biasa.
*Xavier.*
Suaminya yang selama ini dia kenal sebagai pria *green flag* yang rajin menyiram tanaman di pagi hari, ternyata adalah Xavier—hacker legendaris yang menjadi buronan nomor satu divisi *cyber crime* internasional. Dia sedang melihat suaminya mengendalikan jaringan kriminal global secara langsung di tengah malam.
"G***... ini bener-bener g***..." batin Clara menjerit. Otaknya mendadak *blank*.
Saat Clara mencoba melangkah mundur karena rasa takut yang teramat sangat, kakinya tidak sengaja menyenggol sebuah kaleng minuman kosong di lant**.
*KRETEK!*
Bunyi kaleng penyok itu terdengar sangat nyaring di kesunyian ruko tua tersebut.
Ketukan keyboard Adrian langsung berhenti seketika.
Suasana mendadak menjadi sunyi senyap, menyisakan suara dengungan kipas CPU yang berputar.
Clara membeku di tempatnya. Jantungnya rasanya mau copot.
Dari celah pintu, Clara melihat Adrian perlahan memutar kursi gaming-nya ke arah pintu ma**k. Tatapan matanya yang tadinya fokus ke layar kini beralih ke arah kegelapan lorong tempat Clara berdiri. Mata itu terlihat sangat tajam, seperti mata elang yang menyadari keberadaan mangsanya di dalam kegelapan.
Adrian melepas *headset*-nya perlahan, lalu meletakkannya di meja. Dia berdiri dari kursinya dengan sant**, namun setiap langkahnya memancarkan bahaya yang nyata.
"Siapa di sana?" tanya Adrian. Suaranya terdengar sangat dingin, bergema di ruangan kosong itu, sama sekali berbeda dengan suara lembut yang biasa menyapa Clara setiap pagi.
Clara bisa mendengar langkah kaki Adrian yang mulai berjalan mendekati pintu keluar. Setiap ketukan sepatu bot hitam suaminya di lant** semen terdengar seperti lonceng kematian di telinga Clara.
Panik setengah mati, Clara buru-buru berbalik dan berlari secepat mungkin tanpa menimbulkan suara, mencari tempat untuk bersembunyi di balik tumpukan meja warnet yang rusak di sudut lorong yang gelap gulita. Dia merapatkan tubuhnya ke dinding, memejamkan mata erat-erat, dan berdoa dalam hati agar suaminya tidak menemukannya di tempat ini.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!