**Bab 4: Sosok Dingin di Lorong Gelap**
Clara menatap layar laptop suaminya yang menyala di dalam kegelapan ruang kerja. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah siap melompat keluar dari rongga dadanya. Memanfaatkan waktu saat Adrian pamit pergi ke luar kota untuk "menemui klien desain grafis" selama dua hari, Clara memutuskan untuk melakukan aksi nekat.
Menggunakan aplikasi sadap sederhana yang dia beli dari forum *online*—hasil menyisihkan uang belanja bulanan—Clara berhasil meretas riwayat obrolan di laptop cadangan Adrian yang tertinggal di laci meja kerja yang tidak terkunci.
Matanya menyipit, membaca baris demi baris pesan terenkripsi yang otomatis diterjemahkan oleh sistem bajakan di ponselnya.
*User_99: "Target sudah dikonfirmasi. Ronald Wijaya. Dia kabur membawa uang konsorsium sebesar 50 miliar."*
*Dante: "Lokasi?"*
*User_99: "Kelab malam 'The Eclipse', SCBD. VIP Room 7. Transaksi dilakukan malam ini jam 11. Selesaikan dengan bersih, Dante."*
*Dante: "Copy itu."*
Clara membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya gemetar hebat.
*Dante.*
Nama itu sangat familier di telinganya akhir-akhir ini. Jagat maya, khususnya akun-akun gosip konspirasi di Twitter, sering membicarakan sosok 'Dante'. Dia dirumorkan sebagai *hitman* alias pembunuh bayaran kelas kakap yang bergerak di bawah bayang-bayang. Dingin, kejam, tidak pernah menyisakan bukti, dan tarifnya mencapai jutaan dolar per kepala.
"Nggak, nggak mungkin," gumam Clara dengan suara bergetar. "Mas Adrian yang kalau lihat kecoak aja langsung teriak histeris... nggak mungkin dia seorang pembunuh bayaran."
Tapi, rasa penasaran yang teramat sangat mengalahkan akal sehatnya. Clara tahu, jika dia terus-menerus diam dan berpura-pura tidak tahu, dia bisa g***. Dia harus membuktikannya sendiri. Dia harus melihat dengan matanya sendiri siapa sebenarnya suaminya itu.
***
Pukul sepuluh tiga puluh malam.
Clara berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Dia memakai *little black dress* yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan riasan *bold* dan lipstik merah menyala. Dia sengaja memakai wig rambut pendek berwarna cokelat dan kacamata hitam besar untuk menyamarkan identitasnya. Penampilannya malam ini benar-benar berbeda dari Clara si ibu rumah tangga yang biasanya hanya memakai daster atau kaus longgar.
"Oke, Clara. Lu cuma perlu datang, lihat dari jauh, dan pulang. Jangan sampai ketahuan," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kian mengg***.
Setengah jam kemudian, taksi yang ditumpanginya berhenti di depan *The Eclipse*, salah satu kelab malam paling mewah dan eksklusif di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Suara dentuman musik *bass* yang berat sudah terdengar bahkan sebelum Clara melangkahkan kaki ma**k ke dalam gedung.
Suasana di dalam kelab sangat padat. Lampu neon berwarna merah dan biru berkedip bergantian, menyinari lautan manusia yang sedang asyik bergoyang mengikuti irama musik disjoki. Bau alkohol, asap rokok elektrik, dan parfum mahal bercampur menjadi satu di udara.
Clara menyelinap di antara kerumunan, matanya bergerak liar mencari tangga menuju area VIP di lant** dua. Lorong VIP dijaga ketat oleh dua pria berbadan kekar dengan setelan jas hitam.
Clara memutar otak. Dia tidak mungkin bisa menerobos begitu saja tanpa kartu akses. Untungnya, keberuntungan sedang berpihak padanya. Seorang pelayan pria yang membawa nampan berisi botol sampanye mahal tampak kewalahan saat seorang tamu mabuk menab**knya.
"Eh, sori, sori! Biar saya bantu," ujar Clara cepat, memanfaatkan momen kekacauan itu untuk mengambil salah satu kartu akses cadangan yang tergantung di saku celemek si pelayan tanpa dia sadari. Teknik mencopet kecil-kecilan ini dia pelajari dari video tutorial di YouTube kemarin malam.
"Ah, makasih, Mbak. Nggak apa-apa, saya bisa sendiri," jawab pelayan itu panik sambil merapikan botolnya.
Clara tersenyum tipis, menggenggam kartu akses di dalam saku dresnya, lalu berjalan cepat menuju lift khusus VIP. Setelah menempelkan kartu, pintu lift terbuka, membawanya naik ke lant** atas yang suasananya jauh lebih sunyi dan intim.
***
Lorong lant** dua dilapisi karpet tebal yang meredam setiap langkah kaki. Suara dentuman musik dari lant** bawah terdengar samar di sini. Desain interiornya sangat elegan, didominasi warna hitam dan emas dengan pencahayaan yang sangat minim.
Clara berjalan mengendap-endap, matanya menyisir nomor-nomor kamar di pintu kayu jati yang kokoh.
*VIP Room 5... VIP Room 6...*
Dan di ujung lorong yang agak gelap, ada *VIP Room 7*.
Pintu kamar itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah sekitar beberapa sentimeter. Clara menahan napasnya. Dia merapatkan tubuhnya ke dinding sedingin es, perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke celah pintu untuk mengintip ke dalam.
Apa yang dilihatnya di dalam sana seketika membuat seluruh darah di tubuhnya terasa membeku.
Di dalam ruangan yang remang-remang itu, ada dua orang pria. Salah satunya adalah seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja sutra yang kancing atasnya sudah terbuka. Wajah pria itu pucat pasi, penuh dengan keringat dingin. Dia sedang berlutut di lant** dengan tangan gemetar. Clara mengenali wajah itu dari foto yang dia lihat di laptop Adrian—Ronald Wijaya, sang bos mafia sekaligus target buronan.
Namun, sosok pria yang berdiri di hadapan Ronald-lah yang membuat dunia Clara seolah runtuh.
Pria itu mengenakan setelan jas Tom Ford hitam yang sangat pas di tubuh tegapnya. Potongan rambutnya rapi, disisir klimis ke belakang, mempertegas rahangnya yang kokoh. Kacamata berbingkai tipis yang biasa dia pakai sehari-hari kini tidak ada. Di tangan kanannya yang dibungkus sarung tangan kulit hitam, dia memegang sebuah pistol dengan peredam suara yang diarahkan tepat ke dahi Ronald.
Dia adalah Adrian.
Tapi... dia bukan Adrian-nya. Tidak ada senyum manis yang biasa menyambut Clara di pagi hari. Tidak ada tatapan teduh yang selalu menenangkannya saat dia sedang cemas.
Pria di dalam ruangan itu memiliki tatapan mata yang benar-benar kosong, dingin, dan mematikan. Vibes-nya sangat gelap, seolah-olah dia adalah malaikat maut yang siap mencabut nyawa kapan saja tanpa penyesalan sedikit pun.
"T-tolong... Dante. Gue bakal balikin semua uangnya. Tolong lepasin gue..." ratap Ronald dengan suara parau, air mata bercampur keringat mengalir di pipinya yang tembam.
Adrian—atau Dante—hanya menatap pria itu datar. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang sangat kejam. Suara yang keluar dari mulutnya terdengar sangat berat, dingin, dan bernada rendah, jauh berbeda dari suara lembut suaminya yang biasa dia dengar.
"Uang bisa dicari, Ronald. Tapi reputasi gue? Nggak bisa dibeli," ucap Adrian dingin. Dia sedikit memiringkan kepalanya, menatap mangsanya dengan kejam. "Lu tahu aturannya. Siapa pun yang berkhianat dari konsorsium... nggak akan pernah bisa lihat matahari terbit lagi."
Clara yang menyaksikan hal itu dari celah pintu merasa lututnya lemas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia khawatir suaranya bisa terdengar sampai ke dalam ruangan. Ini g***. Suaminya beneran seorang pembunuh bayaran! Sisi gelap yang selama ini dia duga ternyata jauh lebih mengerikan dari apa yang pernah dia bayangkan di dalam mimpi buruknya sekalipun.
Karena terlalu syok dan tubuhnya yang gemetar hebat, Clara melangkah mundur secara tidak sadar.
Nahas, di belakangnya ada sebuah meja konsol kecil tempat menaruh vas bunga kaca dan gelas-gelas kristal kosong untuk dekorasi lorong. Pinggul Clara menyenggol ujung meja tersebut.
*PRANG!*
Satu gelas kristal terjatuh dan hancur berkeping-keping di atas lant** marmer yang tidak tertutupi karpet. Suara pecahan kaca itu terdengar begitu nyaring dan m****akkan telinga di lorong yang sunyi itu.
"Siapa di sana?!"
Suara dingin Adrian langsung menggelegar dari dalam ruangan.
Clara membelalakkan matanya panik. Adrenalinnya melonjak drastis. Tanpa berpikir panjang, dia langsung berbalik dan mencoba berlari menjauh dari lorong gelap itu.
Namun, sebelum dia sempat melangkah lebih dari tiga kali, pintu *VIP Room 7* terbuka lebar dengan kasar.
"Berhenti," sebuah perintah bernada dingin dan tajam menusuk udara malam.
Clara membeku di tempatnya. Kakinya seolah terpaku ke lant** marmer kelab. Dia tidak berani berbalik, tapi dia bisa merasakan aura membunuh yang sangat pekat merayap di belakang punggungnya. Langkah kaki yang tenang namun pasti terdengar mendekatinya. Setiap ketukan sepatu pantofel Adrian di lant** terasa seperti hitungan mundur menuju kematiannya sendiri.
Perlahan-lahan, Clara dipaksa untuk berbalik oleh rasa takutnya yang memuncak.
Ketika dia memutar tubuhnya, dia langsung berhadapan dengan Adrian. Suaminya berdiri hanya berjarak dua meter darinya, masih memegang pistol di tangan kanannya.
Adrian menatap tajam ke arah Clara. Tatapan mata itu... sangat tajam, dingin, dan menusuk, seolah-olah siap menguliti siapa pun yang berani mengusik pekerjaannya. Itu adalah tatapan mematikan yang belum pernah Clara lihat seumur hidupnya dari sosok suaminya.
Namun, sedetik kemudian, saat mata tajam Adrian menyapu seluruh wajah Clara—melihat mata bulat yang ketakutan di balik kacamata hitam yang sedikit melorot, serta struktur wajah yang sangat dia kenali meskipun memakai wig—kilatan dingin di mata pria itu mendadak meredup, digantikan oleh rasa terkejut yang sangat besar yang tertangkap sekilas sebelum akhirnya kembali tertutup rapat oleh ekspresi datar nan dinginnya.
"Clara...?" gumam Adrian sangat pelan, hampir tak terdengar, namun sarat akan ketidakpercayaan.
Napas Clara memburu, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. Di lorong gelap yang remang-remang itu, dia menyadari satu hal dengan sangat jelas: rahasia terbesar suaminya kini telah terbongkar, dan hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!