Bab 5: Benang Merah yang Mulai Terhubung
Clara memaksakan langkahnya menembus kerumunan manusia yang bergoyang liar di bawah siraman lampu neon biru-merah. Kepalanya agak pening karena dentuman *bass* yang terlalu keras, tapi fokusnya sama sekali tidak goyah. Matanya terus menyapu sekeliling, mencari papan penunjuk arah menuju area VIP.
"Permisi, Kak," Clara menyenggol seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi gelas-gelas sloki. "Ruang VIP 7 di sebelah mana, ya?"
Pelayan itu menatap Clara dari ujung rambut sampai ujung kaki, menilai penampilan Clara yang malam ini sengaja memakai wig pendek dan *little black dress* ketat. "Oh, area VIP privat ada di lant** dua, Kak. Lewat tangga sebelah sana. Tapi harus punya akses atau reservasi dulu, ya."
"Oke, makasih," jawab Clara cepat, langsung melangkah menuju tangga yang ditunjuk tanpa memedulikan peringatan si pelayan.
Jantung Clara berdegup dua kali lebih cepat saat dia menapaki anak tangga satu per satu. Di lant** dua, suasana jauh lebih tenang, tapi justru terasa lebih mencekam. Lorongnya dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah kaki, dipadu dengan pintu-pintu kayu kokoh berpelitur gelap di sepanjang koridor. Di setiap pintu, ada nomor berlapis kuningan emas.
VIP 3... VIP 5...
Clara mempercepat langkahnya saat matanya menangkap angka '7' di ujung lorong. Namun, sebelum dia sempat mendekat, pintu VIP 7 mendadak terbuka.
Tubuh Clara refleks bersembunyi di balik pilar beton dekoratif yang dilapisi cermin. Dari pantulan kaca, dia bisa melihat dengan jelas siapa yang keluar dari ruangan itu.
Jantung Clara serasa berhenti berdetak.
Itu Adrian.
Tapi, penampilannya malam ini benar-benar asing. Tidak ada kacamata minus berbingkai bulat yang biasa dia pakai saat membaca buku di rumah. Rambutnya yang biasa dibiarkan jatuh berantakan kini ditata klimis ke belakang. Dia mengenakan setelan jas hitam yang sangat pas di badannya, dipadu dengan kemeja hitam tanpa dasi yang kancing atasnya sengaja dibuka.
Wajahnya... dingin sekali. Sepasang matanya yang biasa menatap Clara dengan kehangatan penuh cinta, kini tampak kosong, tajam, dan mematikan. Dia berjalan dengan langkah tegap, sangat tenang, seolah baru saja menyelesaikan rapat biasa, bukan sesuatu yang ilegal.
Clara harus menahan napasnya kuat-kuat agar tidak berteriak ketika Adrian berjalan melewati pilar tempatnya bersembunyi. Bau parfum *woodsy* maskulin yang sangat khas dari suaminya menguar di udara. Itu memang Adrian. Suaminya.
Begitu Adrian berbelok di ujung lorong menuju tangga darurat, sebuah keributan pecah dari dalam VIP Room 7.
"Woi! Tolong! Panggil ambulans! Pak Ronald pingsan! Mulutnya berbusa!" teriak seorang pria paruh baya bertubuh gempal yang keluar dari ruangan itu dengan wajah pucat pasi.
Beberapa petugas keamanan kelab langsung berlarian melewati Clara. Suasana seketika menjadi kacau. Clara memanfaatkan momen itu untuk berbalik arah dan berjalan cepat turun ke lant** bawah. Pikirannya kosong. Kakinya lemas seperti jeli.
Dia keluar dari *The Eclipse* dengan napas terengah-engah, langsung menyetop taksi pertama yang lewat di lobi kelab tanpa memedulikan antrean.
"Jalan, Pak. Cepat," bisik Clara dengan suara bergetar.
***
Di dalam taksi yang melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai sepi, Clara memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya gemetar hebat. Dinginnya AC taksi terasa menusuk hingga ke tulang.
"Ronald Wijaya..." gumam Clara lirih.
Nama itu terus berputar-putar di kepalanya. Clara tahu dia pernah mendengar nama itu jauh sebelum hari ini. Bukan sekadar dari berita korporat atau media sosial. Ada memori kelam dan menyakitkan yang mendadak terpicu saat nama itu disebut.
Setibanya di rumah, Clara langsung berlari ke kamarnya di lant** dua. Dia mengunci pintu rapat-rapat. Dengan tangan yang masih gemetar, dia menyalakan lampu meja kerja dan membuka laptop pribadinya.
Clara tidak membuka riwayat sadapan obrolan Adrian lagi. Kali ini, dia membuka sebuah folder rahasia yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dia sentuh. Folder yang diberi nama "Keluarga".
Di dalamnya ada puluhan potongan artikel berita digital dari sepuluh tahun yang lalu.
Clara mengeklik salah satu artikel dengan judul utama: **"Kebakaran Hebat Pabrik Tekstil dan Kediaman Keluarga Wardhana, Tiga Orang Tewas Terpanggang."**
Air mata Clara menetes tanpa bisa ditahan. Itu adalah tragedi yang merenggut nyawa ayah, ibu, dan kakak laki-lakinya, Andre. Saat kejadian, Clara sedang menginap di rumah temannya untuk mengerjakan tugas kelompok sekolah. Ketika dia pulang, rumahnya sudah menjadi abu. Polisi menutup ka**s itu hanya dalam waktu dua minggu, menyatakannya sebagai murni kecelakaan akibat korsleting listrik.
Clara menghapus air matanya dengan kasar. Dia mulai mengetik nama "Ronald Wijaya" di kolom pencarian arsip berita lama tersebut.
Hasilnya keluar. Jantung Clara berdesir hebat.
Sepuluh tahun lalu, Ronald Wijaya adalah kontraktor utama yang memimpin proyek pembangunan mal tepat di sebelah pabrik tekstil milik ayah Clara. Sebelum kebakaran terjadi, ayah Clara sempat menolak keras tawaran Ronald untuk menjual tanah pabrik mereka dengan harga murah. Ada laporan bahwa Ronald sempat mengancam keluarga Clara sebelum insiden kebakaran itu terjadi. Namun, semua laporan itu diabaikan oleh polisi.
"Nggak mungkin..." Clara membekap mulutnya.
Dia kemudian teringat pada beberapa target yang pernah disebutkan dalam log obrolan misterius yang dia sadap dari laptop Adrian selama beberapa bulan terakhir. Dia mulai mencocokkan nama-nama itu satu per satu.
Target pertama tiga bulan lalu: seorang pria bernama Hendra Setiawan. Di obrolan itu, salah satu identitas Adrian yang bernama 'Banyu'βseorang investor kayaβberhasil menjebak Hendra dalam investasi bodong hingga membuat pria itu bangkrut dan akhirnya ditangkap atas ka**s korupsi lama yang mencuat kembali.
Clara mencari nama Hendra Setiawan dalam arsip ka**s kebakaran keluarganya.
*Ketemu.* Hendra Setiawan adalah kepala polisi yang memimpin penyelidikan ka**s kebakaran keluarga Clara sepuluh tahun lalu. Dia adalah orang yang menandatangani berkas penutupan ka**s tersebut dengan sangat terburu-buru.
Target kedua sebulan lalu: Surya Pratama, seorang pengacara terkenal yang tiba-tiba reputasinya hancur total karena skandal suap yang dibocorkan ke publik oleh seorang peretas anonim bernama 'Kevin'βyang Clara tahu sekarang adalah salah satu identitas palsu Adrian juga.
Clara mencari nama Surya Pratama di folder arsipnya.
*Ketemu lagi.* Surya Pratama adalah pengacara pribadi Ronald Wijaya sepuluh tahun lalu, yang berhasil membungkam saksi-saksi kunci yang melihat ada beberapa pria mencurigakan membawa jeriken bensin di sekitar pabrik sebelum kebakaran terjadi.
Dan malam ini, Ronald Wijaya sendiri. Sang dalang utama. Diselesaikan langsung oleh 'Dante', sang eksekutor berdarah dingin.
Clara bersandar di kursi kerjanya dengan tubuh yang sepenuhnya lemas. Kepalanya terasa pening, dipenuhi oleh benang-benang merah yang kini saling terhubung dengan sangat jelas di depan matanya.
Adrian.
Suaminya yang selama ini dia kenal sebagai pria rumahan yang manis, yang selalu membuatkannya cokelat panas saat dia datang bulan, yang selalu mencium keningnya sebelum tidur, ternyata adalah sosok di balik semua kehancuran orang-orang ini.
Adrian tidak sedang bermain-main dengan identitas palsu untuk kesenangan pribadi atau sekadar mencari uang haram. Dia sedang menjalankan misi balas dendam berskala besar. Balas dendam yang sangat rapi, sangat terencana, dan mematikan.
Tapi... kenapa?
Mengapa Adrian melakukan semua ini untuknya? Ataukah Adrian punya motif lain yang tidak Clara ketahui?
Clara memeluk lututnya di atas kursi, menangis dalam diam di tengah kegelapan kamar. Rasa takut dan haru bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Di satu sisi, dia merasa ngeri menyadari bahwa pria yang tidur di ranjang yang sama dengannya adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Namun di sisi lain, ada bagian kecil di lubuk hatinya yang merasa sangat dilindungi. Selama sepuluh tahun ini, Clara merasa sendirian dan tidak berdaya menuntut keadilan untuk keluarganya. Dan sekarang, suaminya diam-diam sedang meruntuhkan dunia orang-orang jahat itu satu per satu.
*Bzzzt... Bzzzt...*
Ponsel Clara yang tergeletak di atas meja bergetar, memecah keheningan malam. Clara tersentak, menatap layar ponselnya dengan napas tertahan.
Sebuah pesan WhatsApp ma**k. Dari kontak bernama **"Mas Adrian <3"**.
Clara menelan ludah dengan susah payah, lalu membuka pesan tersebut.
*Mas Adrian: "Sayang, aku baru selesai meeting sama klien di Bandung nih. Capek banget, tapi untungnya semua lancar. Besok pagi-pagi sekali aku langsung pulang ya. Kamu udah tidur? Jangan lupa kunci pintu rumah ya, Sayang. Love you."*
Clara menatap layar itu dengan pandangan kosong. Dia baru saja melihat suaminya keluar dari ruangan tempat Ronald Wijaya sekarat di SCBD, Jakarta Selatan, kurang dari satu jam yang lalu. Dan sekarang, suaminya mengirim pesan seolah-olah dia sedang berada di Bandung untuk urusan pekerjaan biasa.
Air mata Clara mengalir lagi, membasahi pipinya. Dia mengetik balasan dengan jari-jari yang masih bergetar.
*Clara: "Iya, Mas. Aku juga baru mau tidur. Hati-hati di jalan ya besok pagi. Aku tunggu di rumah. Love you too."*
Setelah mengirim pesan itu, Clara meletakkan ponselnya, lalu menatap foto pernikahannya dengan Adrian yang terpajang di dinding kamar. Di foto itu, Adrian tersenyum sangat tulus, merangkul pinggang Clara dengan penuh kasih sayang.
"Siapa kamu sebenarnya, Mas?" bisik Clara lirih pada keheningan malam. "Dan sejauh apa kamu bakal melangkah demi aku?"
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!