"Clara? Sayang? Kamu denger aku, kan?"
Suara lembut itu memecah lamunan Clara. Dia tersentak, hampir saja menjatuhkan sendok teh yang sedang digunakannya untuk mengaduk kopi yang sudah dingin. Clara mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kembali fokusnya yang berantakan sejak semalam.
Di depannya, Adrian sedang berdiri mengenakan celemek motif kotak-kotak biru—penampilan khas 'suami rumahan' yang biasa Clara lihat setiap pagi. Rambutnya agak berantakan, kacamata minus berbingkai bulat bertengger manis di hidungnya, dan senyumnya begitu hangat. Sangat kontras dengan sosok pria berjas hitam tanpa kacamata, berambut klimis, dan bertatap mata sedingin es yang dilihat Clara di lorong VIP kelab malam itu.
"Eh? Iya, kenapa, Yan?" tanya Clara, berusaha bersikap senatural mungkin.
Adrian meletakkan sepiring roti bakar cokelat keju di meja makan, lalu duduk di kursi seberang Clara. Matanya menatap Clara dengan binar penuh kekhawatiran. "Kamu banyak melamun sejak kemarin. Makanannya juga cuma diaduk-aduk. Kamu lagi ada masalah di kampus? Atau... aku ada salah?"
Clara memaksakan segaris senyum. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana bisa pria berwajah sepolos ini memancarkan aura yang begitu mematikan saat berada di luar rumah? "Enggak kok, Yan. Cuma... lagi banyak tugas aja. Capek banget."
"Beneran cuma capek?" Adrian memiringkan kepalanya, menatap Clara intens. Tatapan itu sesaat membuat Clara merinding, seolah Adrian bisa membaca pikirannya. "Kalau ada apa-apa, cerita sama aku ya, Cla. Aku gak mau istriku tersayang ini sakit karena stres."
"Iya, Adrian. Aku gak papa," jawab Clara cepat, sengaja mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Sikapnya dingin, sangat berbeda dari Clara yang biasanya manja dan ceria.
Adrian terdiam sejenak. Instingnya yang tajam sebagai seorang profesional langsung menangkap sinyal bahaya. Clara sedang menyembunyikan sesuatu. Sikap dingin ini bukan sekadar karena tugas kuliah. *Apakah dia tahu sesuatu?* batin Adrian curiga.
Untuk mengalihkan perhatian Clara sekaligus mencairkan suasana yang mendadak canggung, Adrian langsung memasang senyum terbaiknya. "Oh iya, Cla. Gimana kalau malam ini kita nge-date? Aku udah pesen tempat di L’Ambroisie."
Clara langsung menoleh dengan mata membelalak. "L’Ambroisie? Restoran Prancis mewah yang ada di lant** paling atas gedung pencakar langit Mega Tower itu?"
"Yup!" Adrian mengangguk antusias. "Aku tahu kamu lagi stres, jadi aku pikir dinner romantis dengan pemandangan kota malam hari bakal cocok banget buat kamu."
"Tapi, Yan... bukannya di sana antrenya bisa berbulan-bulan? Dan harganya... mahal banget, kan?" Clara menyelidik. Sebagai mahasiswa, dia tahu betul kalau restoran itu adalah tempat nongkrongnya para konglomerat dan selebritas papan atas. Bagaimana bisa Adrian, yang bekerja sebagai 'staf administrasi biasa' di sebuah perusahaan swasta, bisa memesan meja di sana secara mendadak?
Adrian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kembali berakting menjadi sosok suami yang canggung. "Ah, itu... aku beruntung banget, Cla. Temen kantor aku kebetulan ada yang cancel reservasinya karena mendadak harus dinas ke luar kota. Terus dijual ke aku dengan harga miring. Sayang banget kan kalau dilewatkan? Mau, ya?"
Clara menatap Adrian lama, mencoba mencari celah kebohongan di mata suaminya. Tapi, mata di balik lensa kacamata itu tampak begitu jujur dan penuh harap. Akhirnya, Clara menghela napas dan mengangguk. "Ya udah. Kita pergi malam ini."
***
Malam harinya, L’Ambroisie menyambut mereka dengan kemewahan yang megah. Alunan musik jazz lembut mengalun di udara, berpadu dengan gemerlap lampu kota Jakarta yang terlihat luar biasa indah dari balik dinding kaca raksasa setinggi langit-langit.
Clara mengenakan gaun malam sederhana berwarna marun yang memperlihatkan lekuk bahunya yang indah, sementara Adrian memakai setelan jas abu-abu gelap yang pas di badannya. Kali ini, Adrian tetap memakai kacamatanya.
"Gimana? Kamu suka tempatnya?" tanya Adrian lembut, sambil menuangkan air putih ke gelas Clara.
"Bagus banget, Yan. Makasih, ya," jawab Clara. Dia mencoba menikmati suasana, tapi pikirannya tetap saja melayang. Setiap kali dia menatap tangan Adrian yang sedang memotong steik, dia teringat bagaimana tangan yang sama mungkin baru saja melakukan sesuatu yang mengerikan pada Pak Ronald di kelab malam itu.
"Cla, kok steiknya didiemin aja? Gak enak, ya?" tanya Adrian, membuyarkan kembali lamunan Clara.
"Ah, enak kok." Clara buru-buru menyuapkan sepotong daging ke mulutnya. "Cuma... aku masih takjub aja bisa makan di sini."
Adrian tersenyum manis. "Selama kamu seneng, aku bakal lakuin apa aja, Cla."
Saat Clara hendak membalas ucapan itu, tiba-tiba bulu kuduk Adrian berdiri. Insting bertahannya menjerit keras. Dari pantulan kaca di samping meja mereka, Adrian melihat lift privat restoran terbuka. Tiga orang pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam besar ma**k dengan langkah tergesa-gesa. Tangan mereka tersembunyi di dalam balik jaket.
*Sial, mereka datang,* batin Adrian. Matanya menajam dalam hitungan detik, sebelum kembali meredup saat Clara menatapnya.
Adrian tahu betul siapa yang mereka cari. Tiga pria itu adalah pembunuh bayaran dari sindikat saingannya yang sedang memburu 'Leo Vance'—identitas miliarder misterius milik Adrian yang kabarnya malam ini menjadwalkan pertemuan privat di area VIP restoran ini. Sialnya, Adrian tidak menyangka mereka akan bertindak seberani ini di tempat umum.
"Yan? Kamu kenapa?" tanya Clara yang menyadari perubahan ekspresi Adrian.
Belum sempat Adrian menjawab, salah satu pria berjaket hitam itu menarik sebuah pistol semi-otomatis dari balik jaketnya dan menembakkannya ke langit-langit.
*DOR! DOR!*
"SEMUA TIARAP! JANGAN ADA YANG BERGERAK ATAU AKU TEMBAK KEPALA KALIAN!" teriak pria itu dengan suara menggelegar.
Seketika, suasana restoran mewah itu berubah menjadi neraka. Jeritan histeris para pengunjung pecah. Gelas-gelas pecah, kursi-kursi terguling saat semua orang berusaha menyelamatkan diri ke bawah meja.
"Di mana Leo Vance?! Kami tahu dia ada di sini malam ini! Keluar, Vance, atau kami habisi semua orang di tempat ini!" teriak pria kedua, matanya menyapu seluruh ruangan dengan liar.
Clara gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi. "A-Adrian... mereka bawa senjata..."
"Clara, merunduk! Di bawah meja!" Adrian berteriak dengan nada panik yang sengaja dibuat-buat. Dia langsung menarik lengan Clara dengan sangat kuat, memaksa tubuh istrinya itu berlindung di bawah meja kayu ek tebal yang dilapisi taplak putih panjang.
Meskipun dalam kondisi panik, Clara bisa merasakan satu hal: genggaman tangan Adrian di pergelangan tangannya sangat kokoh. Sama sekali tidak gemetar. Berbeda terbalik dengan suara Adrian yang terdengar ketakutan setengah mati.
"Yan, kita harus gimana? Mereka cari Leo Vance... siapa itu?" bisik Clara dengan suara bergetar.
"Aku gak tahu, Cla! Aku takut banget..." balas Adrian, suaranya berbisik panik di dekat telinga Clara. Namun, mata Adrian di balik kacamata itu terus bergerak aktif, membaca situasi, menghitung jarak, dan menganalisis setiap sudut ruangan.
Tiba-tiba, langkah kaki berat mendekati meja mereka. Salah satu pria bersenjata itu menendang kursi di dekat meja Clara dan Adrian.
"Heh! Keluar kalian berdua!" bentak pria itu. Dia menarik taplak meja hingga robek, memperlihatkan Clara dan Adrian yang sedang bergelung di bawahnya. Moncong pistol hitam berlaras dingin itu langsung diarahkan tepat ke dahi Clara. "Jangan coba-mencoba sembunyi!"
Melihat moncong senjata itu terarah pada istrinya, detak jantung Adrian seolah berhenti. Kemarahan yang luar biasa langsung membakar dadanya. *Tidak ada yang boleh menyentuh Clara. Tidak satu orang pun.*
Adrian tahu dia tidak boleh membongkar identitasnya di depan Clara. Tapi, membiarkan Clara dalam bahaya adalah hal yang mustahil. Dia harus bertindak cepat, sangat cepat, sampai Clara tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"J-jangan tembak kami, Pak! Tolong, ambil aja dompet saya!" teriak Adrian dengan suara gemetar, sambil mengangkat kedua tangannya. Dia mulai merangkak keluar dari bawah meja dengan tubuh yang sengaja dibuat gemetar.
"Diem lu! Serahin semua barang berharga—"
Sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, Adrian sengaja berpura-pura kehilangan keseimbangan karena panik. "Aaaah! Tolong!" teriak Adrian seraya menjatuhkan tubuhnya ke depan.
Namun, gerakan 'jatuh' Adrian itu sebenarnya adalah sebuah serangan taktis yang sangat presisi.
Bahu Adrian menghantam lutut pria bersenjata itu dengan keras hingga terdengar bunyi *krak*. Di saat yang sama, tangan kanan Adrian bergerak secepat kilat menyambar garpu besi yang tergeletak di lant**, lalu menusukkannya tepat ke pergelangan tangan pria itu yang memegang pistol.
"ARGHHH!" teriak pria itu kesakitan. Pistol di tangannya terlepas dan terjatuh.
Sebelum pria itu sempat memukul balik, Adrian—masih dengan akting paniknya—berteriak ketakutan sambil mengayunkan sikunya ke belakang demi melindungi kepalanya. Padahal, sikutnya menghantam ulu hati pria itu dengan kekuatan penuh, disusul dengan sundulan kepala palsu yang mendarat telak di rahang si penjahat.
Pria bertubuh kekar itu langsung terkapar tidak sadarkan diri di lant** dingin restoran dengan mata mendelik.
"Ya ampun! Ya ampun! Clara! Aku kepeleset terus nab**k dia!" teriak Adrian histeris. Dia langsung menendang pistol yang terjatuh di lant** hingga meluncur jauh ke bawah lemari pajangan, seolah-olah dia tidak sengaja menyepaknya karena panik. "Dia pingsan, Cla! Beruntung banget!"
Clara, yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari bawah meja, terpaku dengan mata membelalak lebar. Pikirannya mendadak kosong.
Dia melihat semuanya. Jelas sekali.
Adrian memang berteriak ketakutan, wajahnya memang tampak panik, dan dia terus mengklaim kalau itu semua adalah ketidaksengajaan. Tapi Clara tidak bodoh. Gerakan Adrian tadi... itu bukan gerakan orang yang tidak sengaja terpeleset. Itu adalah reflek bela diri tingkat tinggi yang sangat rapi, cepat, dan mematikan. Bagaimana bisa seorang staf administrasi biasa melumpuhkan pria berbadan dua kali lipat darinya hanya dalam hitungan tiga detik?
"Woi! Ada apa di sana?!" teriak salah satu teman pria bersenjata itu dari arah tengah ruangan, menyadari rekannya roboh.
"Cla, kita harus lari sekarang!" Adrian langsung menyambar tangan Clara, menariknya berdiri.
Sebelum pria bersenjata lainnya sempat menembak ke arah mereka, alarm kebakaran restoran mendadak berbunyi nyaring. Sistem *sprinkler* air di langit-langit langsung menyala, menyemburkan air dengan deras dan membuat suasana restoran menjadi semakin kacau dan buram karena kabut air.
Di tengah kekacauan itu, Adrian menuntun Clara dengan sangat tenang. Dia tidak berlari tanpa arah seperti pengunjung lainnya. Langkah kakinya sangat mantap, melewati jalan pintas di balik dapur restoran yang mengarah langsung ke tangga darurat. Adrian seolah sudah menghafal seluruh denah gedung ini di luar kepala.
Mereka terus berlari turun menuruni anak tangga darurat yang sepi, hingga akhirnya tiba di area parkir bawah tanah yang sunyi.
Adrian langsung membimbing Clara ke mobil mereka. Begitu ma**k ke dalam mobil dan mengunci pintunya, Adrian langsung menyandarkan punggungnya ke kursi kemudi. Dia megap-megap seperti orang yang baru saja lolos dari maut, dadanya naik turun dengan cepat, dan tangannya yang memegang setir tampak gemetar hebat.
"G***... g*** banget, Cla..." ucap Adrian dengan napas tersengal-sengal. Dia melepas kacamatanya yang basah terkena air *sprinkler*, lalu mengusap wajahnya yang pucat. "Kita hampir mati... Aku... aku gemeteran banget sekarang. Kamu gak papa, kan? Ada yang luka? Maaf ya, malam romantis kita malah jadi kayak gini..."
Adrian menoleh ke arah Clara dengan tatapan mata yang kembali dipenuhi rasa bersalah dan kekhawatiran yang luar biasa. Dia benar-benar terlihat seperti suami biasa yang trauma karena baru saja mengalami teror bersenjata.
Namun, Clara hanya diam. Dia menatap Adrian dengan pandangan yang sulit diartikan.
Clara memperhatikan tangan Adrian yang gemetar di atas setir. Tapi ingatan Clara kembali berputar ke beberapa menit yang lalu. Genggaman tangan Adrian yang sekuat baja saat melindunginya, kecepatan gerakannya saat melumpuhkan penjahat, dan bagaimana Adrian menuntunnya keluar dari gedung itu dengan sangat tenang di tengah kepanikan massal.
Topeng yang dipakai suaminya ini benar-benar rapi. Sangat rapi hingga hampir terlihat sempurna.
Tapi malam ini, bagi Clara, topeng itu sudah mulai retak. Dan retakannya semakin membesar.
"Aku gak papa, Adrian," jawab Clara pelan, suaranya terdengar sangat tenang, membuat Adrian diam-diam merasa tegang.
Clara mendekatkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Adrian yang kini tanpa penghalang kacamata. Tatapan mata yang tajam, yang sempat Clara lihat di lorong VIP kelab malam itu, kini tersembunyi lagi di balik kepura-puraan ini.
"Makasih ya, kamu udah selamatin aku tadi," lanjut Clara dengan senyum misterius di sudut bibirnya.
"A-ah, iya... itu cuma keberuntungan, Cla. Aku beneran panik tadi..." balas Adrian, mencoba tertawa canggung demi mempertahankan sandiwaranya.
Clara bersandar kembali di kursinya, mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil yang mulai dibasahi rintik hujan. Di dalam hatinya, Clara berbisik dengan penuh keyakinan: *Adrian... kamu bukan cuma staf kantor biasa. Kamu adalah pria paling berbahaya yang pernah aku temui. Tapi malam ini... kamu juga pelindungku. Siapa sebenarnya kamu, Adrian? Aku pasti akan membongkar semua identitas palsumu.*
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!