Tangan Clara gemetar hebat saat mema**kkan anak kunci kuningan itu ke dalam lubang pintu unit apartemen nomor 904. Suara bising dari jalanan ibu kota di bawah sana seolah teredam oleh detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, bertalu-talu seperti genderang perang.
*G***. Gue bener-bener nekat,* batin Clara, merutuki keberaniannya yang tiba-tiba muncul.
Ide g*** ini muncul dua hari lalu, tepat setelah Adrian mengajaknya makan malam romantis di L’Ambroisie. Saat Adrian sedang mandi dan bernyanyi kecil di kamar mandi, Clara memberanikan diri menggeledah laci meja kerja suaminya. Di sana, di balik tumpukan dokumen perpajakan yang membosankan, dia menemukan sebuah kunci cadangan dengan gantungan logam berbentuk logo aneh yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Tanpa pikir panjang, Clara membawa kunci itu ke tukang duplikat kunci di ujung jalan komplek perumahan mereka, lalu mengembalikannya sebelum Adrian selesai mandi.
Sekarang, di sinilah dia. Berdiri di depan pintu sebuah apartemen studio di kawasan Jakarta Selatan, tempat yang beberapa kali dia lacak secara diam-diam dari riwayat GPS ponsel Adrian yang sempat dia intip. Adrian pamit pergi ke luar kota untuk urusan dinas kantor selama dua hari, dan Clara tahu ini adalah satu-satunya kesempatan emas yang dia miliki.
*Klik.*
Suara kunci yang berputar terdengar begitu nyaring di telinga Clara. Dia menarik napas dalam-dalam, memutar kenop pintu perlahan, lalu mendorongnya.
Keadaan di dalam apartemen itu sangat gelap. Gorden abu-abu tebal menutup rapat seluruh jendela, menghalangi cahaya matahari sore untuk ma**k. Clara melangkah ma**k dengan sangat hati-hati, menutup kembali pintu di belakangnya dengan gerakan seringan bulu. Keheningan langsung menyergapnya.
Clara menyalakan senter dari ponselnya. Cahaya putih itu menyapu ruangan.
Aneh. Tempat ini sama sekali tidak terasa seperti rumah. Tidak ada bau masakan, tidak ada pajangan estetik, bahkan tidak ada debu yang tebal. Semuanya sangat bersih, minimalis, dan dingin. Hanya ada satu sofa kulit hitam, sebuah televisi yang tidak dicolokkan ke listrik, dan sebuah meja kerja di sudut ruangan.
Clara melangkah lebih dalam, bersiap untuk skenario terburuk. Dalam bayangannya, dia mungkin akan menemukan tumpukan uang tunai di dalam koper, senjata api ilegal, atau mungkin tumpukan paspor palsu. Namun, saat senter ponselnya mengarah ke dinding bagian tengah ruangan, napas Clara mendadak tercekat.
Di dinding itu, tergantung sebuah papan gabus raksasa yang hampir menutupi seluruh permukaan tembok.
Clara melangkah mendekat seolah terhipnotis. Tangannya yang memegang ponsel gemetar semakin parah, membuat sorot lampu senternya bergoyang-goyang. Saat dia akhirnya berdiri tepat di depan papan itu, lututnya mendadak terasa lemas. Clara harus berpegangan pada pinggiran meja kerja di dekatnya agar tidak ambruk ke lant**.
"Nggak... Nggak mungkin..." bisik Clara, suaranya tercekat di tenggorokan.
Papan itu bukan papan visi atau papan kerja biasa. Itu adalah sebuah papan penyelidikan kriminal skala besar.
Puluhan benang merah membentang, menghubungkan satu foto ke foto lainnya, membentuk sebuah bagan alur yang rumit dan mengerikan. Dan yang membuat seluruh dunia Clara runtuh dalam sekejap adalah foto-foto yang tersemat di sana.
Di pojok kiri atas, ada foto masa kecil Clara. Foto saat dia berumur tujuh tahun, sedang tersenyum lebar dengan kuncir dua. Di sebelahnya, ada foto kedua orang tuanya yang tersenyum hangat ke arah kamera. Di bawah foto orang tuanya, ada guntingan koran lama yang sudah menguning dengan tajuk berita utama yang sangat Clara kenali: *“Kebakaran Hebat di Kawasan Menteng, Sepasang Suami Istri Tewas Terbakar.”*
Air mata Clara langsung menetes tanpa bisa ditahan. Itu adalah foto keluarganya. Foto kecelakaan tragis sepuluh tahun lalu yang merenggut nyawa ayah dan ibunya, menyisakan dirinya yang sebatang kara.
Kenapa Adrian memiliki foto-foto ini? Kenapa suaminya menyelidiki kematian orang tuanya?
Pandangan Clara beralih mengikuti arah benang merah yang ditarik dari foto keluarganya menuju ke tengah papan. Di sana, tertulis sebuah nama dengan spidol merah tebal yang dilingkari berkali-kali: **THE PHOENIX**.
Di bawah nama organisasi itu, berderet foto-foto orang asing berjas rapi, beberapa di antaranya adalah wajah-wajah politikus terkenal dan pengusaha kelas kakap yang sering muncul di televisi. Ada catatan-catatan kecil yang ditulis dengan tulisan tangan rapi—tulisan tangan Adrian yang sangat Clara kenali.
*“The Phoenix: Sindikat perdagangan gelap, pencucian uang, dan pembunuhan terencana. Target utama: Penghapusan bukti saksi kunci ka**s 2014.”*
Tahun 2014. Itu adalah tahun di mana rumah Clara terbakar habis.
Clara menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam isak tangisnya yang mulai pecah. Kepalanya berputar hebat. Adrian—pria manis yang selalu membuatkannya roti bakar cokelat keju setiap pagi, pria yang selalu memeluknya saat dia mimpi buruk—ternyata menyimpan rahasia sebesar dan semengerikan ini. Siapa sebenarnya Adrian? Apakah dia bagian dari organisasi hitam ini? Ataukah dia... seorang pemburu yang sedang mengincar mereka?
Dengan sisa-sisa keberaniannya, Clara mendekati meja kerja di bawah papan tersebut. Dia membuka laci pertama. Kosong, hanya ada beberapa pulpen dan buku catatan kosong. Dia membuka laci kedua. Di sana, dia menemukan tiga buah paspor dengan foto wajah Adrian, namun dengan nama dan kewarganegaraan yang berbeda-beda.
*Bimo Pratama. Raymond Shen. Adrian Wijaya.*
Dada Clara semakin sesak. Air matanya terus mengalir membasahi pipi. Suaminya benar-benar punya banyak identitas palsu. Pernikahan mereka selama setahun ini terasa seperti sebuah panggung sandiwara besar di mana Clara adalah satu-satunya penonton yang bodoh.
Saat Clara hendak menutup laci paling bawah, matanya menangkap sesuatu yang terganjal di bagian belakang laci. Sebuah buku harian usang bersampul kulit cokelat yang ujung-ujungnya sudah mengelupas. Buku itu terlihat sangat tua, sangat kontras dengan barang-barang modern lainnya di apartemen ini.
Clara mengambil buku itu. Rasanya sangat berat di tangannya, seolah menyimpan beban rahasia bertahun-tahun.
Dia membuka halaman pertama dengan perlahan. Lembarannya sudah berwarna kecokelatan dan berbau khas kertas tua. Di sudut kanan atas halaman pertama, ada sebuah foto kecil yang ditempel dengan selotip yang sudah mengering dan menguning.
Clara mendekatkan ponselnya untuk menerangi foto tersebut. Detik berikutnya, jantung Clara serasa berhenti berdetak.
Foto itu menampilkan seorang anak perempuan berpigt**l—dirinya sendiri saat kecil—bersama seorang anak laki-laki bertubuh kurus yang merangkul bahunya dengan cengiran lebar penuh kemenangan setelah mereka berhasil memanjat pohon mangga tetangga. Di bawah foto itu, ada tulisan tangan anak-anak yang agak miring:
*“Clara & Alvian. Sahabat selamanya. Jangan pernah lupain gue ya, Cla!”*
Napas Clara memburu. Jarinya gemetar menyentuh permukaan foto anak laki-laki itu.
"Alvian..." gumam Clara dengan suara parau.
Alvian adalah cinta mo**** sekaligus sahabat masa kecilnya. Tetangga sebelah rumahnya yang selalu melindunginya dari anak-anak nakal di komplek. Alvian adalah orang yang nekat menerobos kobaran api sepuluh tahun lalu untuk menyelamatkan Clara yang terjebak di dalam kamar saat rumahnya terbakar. Clara berhasil selamat, namun beberapa hari kemudian, bibi Alvian memberi tahu Clara bahwa Alvian tidak tertolong karena luka bakar dan sesak napas yang terlalu parah di rumah sakit.
Selama sepuluh tahun ini, Clara hidup dengan rasa bersalah yang teramat sangat, mengira pahlawan kecilnya itu sudah tiada.
Clara dengan panik membalik halaman buku harian itu. Di halaman kedua, ada tulisan tangan yang lebih dewasa, ditulis dengan tinta hitam yang tegas.
*“Mereka bilang kamu selamat, Cla. Tapi mereka bilang aku harus mati agar kamu tetap aman. Mereka mengganti namaku, membuang masa laluku, dan menjadikanku senjata. Tapi aku gak akan pernah lupa janji kita di bawah pohon mangga itu. Aku akan hancurin The Phoenix, demi ayah dan ibumu, dan demi merebut kembali hidup kita yang direnggut.”*
Clara membaca kalimat itu berulang kali. Air matanya jatuh tepat di atas tulisan tersebut, membuat tintanya sedikit melebar.
Potongan-potongan teka-teki yang selama ini membingungkan kepalanya mendadak jatuh ke tempatnya masing-masing dengan presisi yang mengerikan.
Suara lembut Adrian saat menenangkannya dari mimpi buruk...
Kebiasaan Adrian yang selalu mengusap rambutnya dengan cara yang persis sama seperti yang dilakukan Alvian dulu...
Tatap mata hangat yang selalu bersembunyi di balik kacamata bulat itu...
"Adrian..." bisik Clara, suaranya bergetar hebat antara rasa tidak percaya, syok, dan haru yang meluap-luap. "Kamu... Alvian?"
Tiba-tiba, dari arah pintu depan apartemen, terdengar suara gesekan kunci yang dima**kkan ke dalam lubangnya.
*Klik.*
Pintu apartemen mulai terbuka perlahan. Clara membeku di tempatnya, memegang buku harian usang itu erat-erat di dadanya, sementara bayangan seseorang mulai ma**k ke dalam ruangan yang gelap gulita itu.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!