Di sebuah ruangan serba hitam yang terletak di lant** paling atas gedung pencakar langit kawasan Segitiga Emas Jakarta, suasana terasa begitu sunyi dan dingin. Hanya ada cahaya biru dari deretan layar monitor raksasa yang menerangi ruangan luas tersebut. Di balik meja kerja kaca yang besar, seorang pria paruh baya berjas necis—yang dikenal dengan pangg***n 'Gideon', pimpinan tertinggi organisasi rahasia *The Phoenix*—sedang menatap layar dengan tatapan kosong yang mematikan.
Di depannya, seorang pria muda berkaus hitam dengan jemari yang menari cepat di atas keyboard laptop tampak berkeringat dingin. Dia adalah kepala divisi siber *The Phoenix*.
"Lapor, Bos. Ada aktivitas mencurigakan dari alamat IP lokal yang mencoba menembus *firewall* arsip data kita yang didekripsi sepuluh tahun lalu," ujar pria muda itu, suaranya sedikit bergetar karena takut salah bicara.
Gideon tidak langsung menjawab. Dia menyesap cerutu di tangannya perlahan, membiarkan asap putih tebal memenuhi ruangan, sebelum akhirnya mengembuskannya ke udara. "Siapa? Bukankah sistem kita nggak bisa dilacak oleh sembarang peretas amatir?"
"Memang tidak, Bos. Tapi peretas ini menggunakan salah satu kunci akses sekunder yang pernah terdaftar di sistem kita. Setelah kami lacak koordinat dan identitas pengguna IP-nya... ini bukan orang luar biasa." Pria itu menekan tombol *enter*, dan di layar monitor besar langsung muncul foto profil seorang wanita cantik berambut sebahu.
"Clara Adeline," gumam Gideon. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman sinis yang membuat bulu kuduk merinding. "Istri kesayangan Adrian. Jadi, kelinci manis itu mulai mengendus-endus masa lalu kita?"
"Betul, Bos. Dari riwayat pencariannya yang berhasil kami intersep, dia mencari kata kunci 'The Phoenix', 'Proyek Abu-Abu', dan beberapa nama samaran yang pernah digunakan Adrian selama bertugas. Sepertinya dia sudah tahu kalau suaminya bukan sekadar karyawan kantoran biasa yang membosankan."
Gideon meletakkan cerutunya di asbak berlapis emas. Matanya berkilat tajam, memancarkan aura mengintimidasi. "Adrian adalah aset terbaik kita, tapi dia juga bisa menjadi ancaman paling berbahaya kalau emosinya terganggu oleh perempuan itu. Clara sudah melangkah terlalu jauh. Dia tahu hal-hal yang seharusnya terkubur bersama sejarah."
Gideon mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja kaca, menciptakan irama yang konstan dan menegangkan. "Kirim tim pembersih sekarang juga. Amankan wanita itu sebelum dia sempat bicara pada siapa pun, terma**k Adrian. Kita perlu tahu seberapa banyak informasi yang sudah dia pegang."
"Dipahami, Bos. Apakah kita harus menghabisinya langsung?"
"Jangan dulu. Culik dia. Bawa ke tempat biasa. Dia adalah umpan terbaik kita jika suatu saat Adrian berniat berkhianat atau mendadak ingin pensiun dari dunia ini."
***
Sementara itu, di area kampus swasta ternama di Jakarta Barat, Clara sedang duduk di balik meja dosennya dengan tatapan kosong. Mahasiswa kelas malamnya baru saja keluar satu per satu setelah kelas mata kuliah Komunikasi Massa selesai.
"Bu Clara, saya duluan ya! Makasih banyak buat kelasnya hari ini!" sapa salah satu mahasiswi berambut panjang dengan senyum ceria yang khas anak muda zaman sekarang.
Clara tersentak dari lamunannya, lalu buru-buru memaksakan sebuah senyuman tipis agar tidak terlihat aneh. "Oh, iya, Sasa. Hati-hati di jalan, ya. Jangan lupa tugas analisis medianya minggu depan."
"Siap, Bu! Daah!"
Setelah pintu ruang kelas tertutup rapat dan suasana menjadi benar-benar hening, Clara langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut kencang. Kepalanya rasanya mau pecah memikirkan semua kejadian g*** hari ini.
Pikiran Clara masih tertahan di apartemen misterius nomor 904 tadi sore. Gambar-gambar di papan gabus besar di dinding apartemen itu terus berputar-putar di kepalanya seperti film horor. Foto-foto Adrian dengan berbagai penampilan—mulai dari memakai kacamata tebal ala kutu buku, setelan jas rapi sebagai eksekutif muda, hingga foto Adrian yang terlihat sangar dengan tato temporer di leher dan jaket kulit hitam robek-robek. Di bawah setiap foto, ada nama, tanggal lahir, riwayat hidup, bahkan kartu identitas palsu yang tercetak sangat rapi.
*Adrian Wijaya, Yudha Pratama, Kevin Sanjaya, Reno Aditia...*
Clara menghitung ada tujuh identitas berbeda. Semuanya adalah suaminya sendiri. Pria yang setiap pagi mengecup keningnya dengan lembut dan membuatkan s****an pancake hangat ternyata adalah orang asing dengan tujuh wajah berbeda. Dan yang paling mengerikan adalah dokumen berlambang burung phoenix yang terbakar di atas tumpukan berkas tersebut.
"Sebenarnya siapa kamu, Adrian? Apa yang kamu sembunyiin dari aku?" bisik Clara lirih. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Dia merasa dikhianati, takut luar biasa, tapi di sisi lain, dia juga merasa sangat mengkhawatirkan suaminya. Dia ingin menuntut penjelasan sekarang juga, tapi instingnya mengatakan bahwa dia sedang menyentuh wilayah yang sangat berbahaya.
Sadar hari sudah semakin larut—jarum jam di dinding kelas sudah menunjukkan pukul delapan lewat—Clara buru-buru membereskan laptop dan buku-bukunya ke dalam tas jinjingnya. Lorong kampus sudah sangat sepi, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang sedang merapikan tempat sampah di ujung koridor.
***
Langkah kaki Clara menggema di koridor yang sunyi saat dia berjalan menuju area parkir dosen yang terletak di bagian belakang gedung fakultas. Area parkir ini memang terkenal agak temaram dan sepi jika sudah malam, karena lokasinya yang berdekatan dengan taman belakang kampus yang rimbun oleh pohon-pohon besar yang rindang.
Hawa dingin malam itu entah kenapa terasa lebih menusuk kulit dari biasanya. Clara merapatkan jaket rajutnya, mempercepat langkah kaki. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Rasanya seperti ada puluhan pasang mata yang sedang mengawasinya dari balik kegelapan malam.
*Ayo cepat, Clara. Ma**k mobil, kunci pintu, dan langsung pulang,* batinnya mencoba menenangkan diri sendiri yang mulai paranoid.
Dia merogoh kantong jaket untuk mengambil kunci mobilnya. Namun, tepat saat dia melewati sebuah mobil box hitam besar tanpa plat nomor yang terparkir di pojok area parkir yang paling gelap, bulu kuduknya langsung meremang hebat.
Pintu belakang mobil box itu tiba-tiba terbuka sedikit. Suara gesekan logamnya terdengar sangat nyaring dan kasar di kesunyian malam.
Clara menghentikan langkahnya seketika. Insting bertahannya langsung berteriak bahaya. Dia memutar tubuh, berniat untuk berlari kencang kembali ke arah gedung fakultas yang masih terang benderang.
Namun, usahanya terlambat.
Dua orang pria berbadan besar dan tegap dengan pakaian serba hitam serta topeng ski yang menutupi seluruh wajah mereka tiba-tiba muncul dari balik pilar beton parkiran. Mereka langsung menutup jalan keluar Clara dengan cepat.
"Siapa kalian?! Mau apa?!" teriak Clara panik, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian. Dia mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur kap mobil miliknya sendiri.
"Ikut kami diam-diam kalau kamu masih mau selamat, Nona," desis salah satu pria dengan suara berat dan sangat dingin, seolah tidak memiliki emosi manusia.
"Nggak! Tolong! Toloo—"
Sebelum Clara sempat berteriak minta tolong lebih keras, salah satu dari mereka menerjang maju dengan kecepatan luar biasa. Pria itu mencengkeram kedua tangan Clara ke belakang tubuhnya dengan sangat kuat hingga Clara meringis kesakitan, sementara pria yang satu lagi membekap mulut dan hidung Clara menggunakan selembar sapu tangan tebal yang sudah dibasahi cairan kimia.
Bau menyengat dari bahan kimia—kloroform—langsung menusuk indra penciuman Clara.
Clara memberontak sekuat tenaga. Dia menendang-nendangkan kakinya secara acak, mencoba menggigit tangan yang membekap mulutnya, tapi tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan cengkeraman pria-pria terlatih itu. Pandangan matanya mulai mengabur, dunianya terasa berputar hebat seperti komidi putar, dan seluruh persendiannya mendadak lemas seperti jeli.
*Gue nggak boleh pingsan... Gue harus minta tolong... Adrian...* batin Clara panik di sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis drastis.
Dengan sisa tenaga terakhir yang dimilikinya, tangan kanan Clara yang masih memegang ponselnya meraba-raba tombol di samping layar. Beruntung, aplikasi pesan singkatnya masih dalam keadaan terbuka di layar utama karena dia sempat memeriksa pesan sebelum turun ke parkiran tadi. Di daftar obrolan paling atas, ada nama kontak 'Suamiku <3'.
Tanpa bisa melihat dengan jelas karena pandangannya sudah menguning dan meredup total, ibu jari Clara meraba layar, menekan kolom ketik, lalu dengan sisa energi terakhirnya, dia menekan tombol kirim di pojok kanan bawah tanpa sempat mengetik satu huruf pun.
*Sent.*
Sebuah pesan teks kosong tanpa karakter apa pun berhasil terkirim ke nomor Adrian.
Detik berikutnya, ponsel itu terlepas dari genggaman jemari Clara yang melemas dan jatuh ke lant** semen parkiran dengan suara benturan yang c**up keras. Tubuh Clara sepenuhnya kehilangan kesadaran dan matanya terpejam rapat.
"Cepat bawa dia ma**k! Jangan sampai ada yang lewat!" perintah pria yang membekapnya tadi dengan nada terburu-buru.
Mereka dengan cekatan menggotong tubuh pingsan Clara dan mema**kkannya ke dalam bagian belakang mobil box hitam yang gelap gulita. Salah satu dari mereka sempat melirik ke arah ponsel Clara yang tergeletak di lant** dengan layar yang masih menyala redup, lalu tanpa ragu melindasnya dengan sepatu bot militer yang berat hingga layar ponsel itu retak seribu dan mati total.
Pintu mobil box ditutup dengan bantingan keras yang bergema di area parkiran. Mesin mobil dinyalakan dengan raungan kasar, dan kendaraan misterius itu melesat cepat membelah kegelapan jalanan malam Jakarta, membawa pergi Clara yang kini berada dalam bahaya besar.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!