Clara merapikan sisa-sisa kertas ujian mahasiswa ke dalam tas jinjingnya. Jam dinding di ruang dosen sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kampus sudah sangat sepi, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang menyapu koridor di kejauhan.
Saat Clara hendak melangkah keluar dari ruangannya, mendadak bulu kuduknya berdiri. Suasana koridor yang biasanya remang-remang kini terasa jauh lebih mencekam.
*Tap. Tap. Tap.*
Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat. Bukan langkah sant** mahasiswa atau petugas kebersihan yang kelelahan. Ini adalah langkah kaki yang mantap, dingin, dan penuh perhitungan.
Sebelum Clara sempat berbalik untuk mengunci pintu, tiga pria berbadan tegap dengan jaket hitam dan masker penutup wajah merangsek ma**k. Clara terbelalak. Dia mencoba mundur, tapi punggungnya langsung membentur meja kerja.
"Siapa kalian?! Keluar, atau aku teriak!" ancam Clara, mencoba tegar meski suaranya bergetar hebat.
Salah satu pria tanpa membuang waktu langsung maju dan mencengkeram lengan Clara. Pria lainnya mengeluarkan sebuah saputangan yang sudah dibasahi cairan kimia berbau menyengat.
Di saat-saat kritis itu, jantung Clara berdegup kencang. Otaknya berputar cepat. Dia ingat satu hal. *Smartwatch* di pergelangan tangan kirinya. Jam tangan itu adalah hadiah ulang tahun dari Adrian sebulan yang lalu. Adrian pernah bilang sambil bercanda, *"Babe, kalau kamu dalam bahaya, tekan tombol merah di samping kiri tiga kali ya. Nanti peri penyelamat bakal datang."* Saat itu Clara hanya tertawa dan menganggap Adrian terlalu kekanak-kanakan karena suka menonton film aksi.
Dengan sisa tenaga yang ada, Clara menekankan ibu jarinya ke tombol samping jam tangan itu. Tiga kali ketukan cepat.
*Bip.* Ada getaran halus di pergelangan tangannya.
Sedetik kemudian, saputangan berbau menyengat itu membekap mulut dan hidungnya. Clara meronta, namun pandangannya perlahan mengabur. Dunia di sekitarnya mendadak berputar, lalu semuanya menjadi gelap gulita.
***
Di sudut lain kota Jakarta, di dalam sebuah kedai kopi yang hampir tutup, Adrian sedang duduk sant** sambil menikmati kopi hitamnya. Dia mengenakan kemeja flanel longgar dan kacamata berbingkai tipis. Di mata semua orang, dia adalah Adrian, suami idaman yang lembut, sedikit kikuk, dan bekerja sebagai manajer pemasaran biasa yang membosankan.
Tiba-tiba, ponsel khusus yang tersembunyi di saku dalam jaketnya bergetar hebat dengan pola ketukan yang tidak biasa.
Adrian mengeluarkan ponsel itu. Layar hitamnya menyala merah darah, menampilkan satu koordinat GPS yang berkedip cepat di area kampus Clara, lengkap dengan status: *EMERGENCY - CLARA ADELINE.*
Seketika, seluruh kehangatan di mata Adrian menguap tanpa bekas. Kacamata berbingkai tipis yang membuatnya tampak ramah itu langsung dilepas dan dilemparkan begitu saja ke atas meja. Tatapan matanya berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan mematikan. Aura hangat seorang suami seketika mati, digantikan oleh entitas yang sangat gelap.
"G***. Mereka bener-bener cari mati," desis Adrian dengan suara rendah yang bisa membuat siapa pun merinding.
Adrian melangkah keluar dari kedai kopi dengan cepat. Dia ma**k ke dalam mobil SUV hitam miliknya yang terparkir di sudut gelap. Begitu pintu mobil tertutup, Adrian langsung menekan sebuah tombol tersembunyi di bawah dasbor. Layar monitor mobilnya seketika berubah menjadi sistem operasi militer yang sangat canggih.
Mulai detik ini, tidak ada lagi protokol keamanan. Tidak ada lagi penyamaran. Adrian memutuskan untuk membuang semua topengnya. Demi Clara, dia akan menggabungkan semua kemampuan dari tujuh identitas palsunya sekaligus.
Pertama, dia memanggil jiwa **'Xavier'**, sang peretas legendaris tingkat dunia yang menjadi buronan interpol.
Jemari Adrian menari dengan kecepatan tidak manusiawi di atas keyboard taktil yang muncul dari dasbor. Dia melakukan penetrasi paksa ke dalam server lalu lintas Polda Metro Jaya dalam waktu kurang dari lima belas detik.
"Ma**k," gumamnya dingin.
Layar monitornya langsung menampilkan peta digital Jakarta. Dengan algoritma buatan sendiri, Xavier meretas seluruh CCTV kota di sekitar area kampus Clara. Hanya butuh beberapa ketukan, dia berhasil mengisolasi rekaman sebuah mobil van Toyota HiAce berwarna abu-abu gelap tanpa pelat nomor yang melaju kencang meninggalkan area kampus.
"Gue dapet lu, ke*****," desis Adrian.
Sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan malam Jakartaβmenggunakan keahlian mengemudi ekstrem dari identitasnya sebagai **'Ryker'**, sang pembalap jalanan dan kurir gelapβAdrian menggunakan tangan kirinya untuk membuka konsol tengah mobil.
Dia menekan kode pin acak, dan kompartemen rahasia terbuka. Di dalamnya terdapat peralatan tempur milik **'Dante'**, sang spesialis senjata dan tentara bayaran berdarah dingin.
Adrian memasang *earpiece* taktis, lalu mengambil sebuah pistol Sig Sauer sembilan milimeter hitam legam, memeriksa magasinnya dengan gerakan super cepat dan presisi, lalu menyelipkannya di balik jaket. Dia juga mengambil beberapa pisau lempar taktis dan sarung tangan kulit hitam.
"Rute mereka menuju flyover Kemayoran yang sepi. Bagus. Tempat yang sempurna untuk membant** kalian semua," ucap Adrian, matanya berkilat penuh amarah.
***
Di dalam mobil van HiAce yang sedang melaju kencang, Clara perlahan-lahan mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing luar biasa. Dia menyadari tangannya terikat di belakang, dan dia dibaringkan di lant** mobil bagian tengah.
Ada tiga pria di dalam van tersebut. Dua duduk di depan, dan satu lagi duduk di sampingnya sambil memegang senjata api.
"Bos Gideon bilang, bawa perempuan ini ke markas gudang utara. Jangan sampai lecet, dia umpan berharga untuk menjinakkan si Adrian," kata pria yang duduk di kursi penumpang depan.
"Gampang. Perempuan lemah kayak gini mana bisa ngelawan," sahut pria di samping Clara sambil tertawa sinis, lalu menendang pelan kaki Clara dengan ujung sepatunya.
Clara memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan tangis dan ketakutannya. Dia terus berdoa dalam hati. *Adrian... kamu di mana? Tolong aku...*
Tiba-tiba, terdengar suara raungan mesin mobil yang sangat keras dari arah belakang. Suara itu terdengar seperti monster yang sedang mengamuk di tengah kesunyian malam.
*CRAAASH!!!*
Guncangan hebat membuat van berguncang hebat. SUV hitam milik Adrian baru saja menghantam bagian belakang van mereka dengan kecepatan penuh.
"Si****! Ada yang nab**k kita dari belakang!" teriak sopir van panik.
"Senggol balik! Jatuhin dia dari flyover!" perintah pria di depan.
Namun, pengemudi di belakang mereka bukanlah manusia biasa. Itu adalah Ryker. Dengan manuver yang sangat g*** dan presisi, SUV hitam itu kembali melesat maju, memotong jalur van, lalu melakukan *drift* ekstrem 180 derajat tepat di depan van, menutup seluruh jalan layang yang sepi itu.
Sopir van menginjak rem sedalam-dalamnya. Ban mobil berdecit keras, meninggalkan asap hitam di atas aspal sebelum akhirnya van berhenti paksa hanya beberapa sentimeter dari moncong SUV Adrian.
Suasana mendadak hening. Di bawah rintik hujan yang mulai turun membasahi flyover Kemayoran yang sepi, lampu sorot dari kedua mobil saling berhadapan, memecah kegelapan malam.
Dari dalam SUV hitam, seorang pria turun.
Clara, dengan sisa-sisa kesadarannya, mencoba mengintip dari kaca jendela van yang gelap. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat sosok pria yang berjalan dengan sant** namun penuh intimidasi di bawah guyuran air hujan.
Pria itu tidak memakai kacamata. Rambutnya basah terkena hujan. Tatapan matanya begitu tajam dan menusuk, seolah-olah dia adalah malaikat maut yang baru saja naik dari neraka.
"A-Adrian...?" bisik Clara lirih, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria itu sangat mirip dengan suaminya yang lembut, namun aura di sekelilingnya benar-benar berbeda. Pria ini sangat mengerikan.
"Siapa ba****** itu? Habisi dia sekarang!" teriak salah satu penculik dari dalam van.
Dua penculik segera turun dari van sambil mencabut pistol mereka. "Woi! Nyari mati lu ya?!" teriak salah satu dari mereka sambil mengarahkan senjata ke arah Adrian.
Adrian tidak menjawab. Dia bahkan tidak berkedip.
Dalam hitungan milidetik, Adrian bergerak. Gerakannya begitu cepat, seolah-olah dia bisa menghilang di bawah bayang-bayang rintik hujan. Ini adalah gerakan dari **'Ren'**, sang pembunuh bayaran bayangan.
Sebelum penculik pertama sempat menarik pelatuk, Adrian sudah berada di hadapannya. Dengan satu gerakan tangan yang brutal, Adrian mencengkeram pergelangan tangan penculik itu, memutarnya hingga terdengar suara tulang patah yang mengerikan (*KRAK!*), lalu merebut pistolnya.
*BANG!*
Satu tembakan tepat sasaran di dahi penculik kedua sebelum dia sempat bereaksi. Tubuh pria itu langsung ambruk bersimbah darah di atas aspal dingin.
Penculik pertama yang tangannya patah berteriak kesakitan, namun Adrian langsung membungkamnya dengan tendangan lutut yang keras tepat di dadanya, membuatnya terpental dan menghantam pagar pembatas flyover. Adrian mendekat, mencengkeram kerah jaket pria itu, lalu menatapnya dengan mata i****nya.
"Siapa yang nyuruh lu?" tanya Adrian, suaranya terdengar sangat berat dan bergetar karena amarah yang ditahan.
"P-Phoenix... Bos Gideon..." jawab pria itu dengan terbata-bata, wajahnya pucat pasi melihat tatapan Adrian yang tanpa ampun.
Tanpa belas kasihan sedikit pun, Adrian memukulkan gagang pistolnya ke pelipis pria itu hingga pingsan seketika, lalu melempar tubuhnya ke jalanan seperti sampah.
Clara yang menyaksikan kejadian itu dari dalam van merasa merinding luar biasa. Seluruh tubuhnya bergetar. Dia melihat suaminyaβpria yang setiap pagi membuatkannya roti panggang dengan senyum manisβbaru saja membunuh dan menyiksa orang di depan matanya tanpa ekspresi bersalah sedikit pun.
Penculik terakhir yang berada di dalam van bersama Clara mulai panik setengah mati. Dia melihat dua temannya tumbang dalam hitungan detik. Dengan gemetar, dia mengarahkan pistolnya ke kepala Clara yang masih terikat.
"Jangan mendekat! Atau gua bolongin kepala cewek lu!" teriak penculik itu dengan suara histeris dari dalam van yang pintunya terbuka sedikit.
Adrian menghentikan langkahnya. Dia berdiri sekitar tiga meter dari pintu van. Air hujan menetes dari ujung rambut dan dagunya, bercampur dengan cipratan darah di wajahnya.
"Lu pikir lu bisa keluar dari sini hidup-hidup?" tanya Adrian dingin. Nada suaranya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun, justru penuh dengan ancaman yang absolut.
"Gua serius, ba******! Mundur atau dia mati!" teriak penculik itu lagi, tangannya yang memegang pistol gemetar hebat.
Adrian tersenyum sinis. Itu adalah senyuman terkutuk yang belum pernah Clara lihat sebelumnya.
Seketika, Adrian menjentikkan jarinya ke udara.
Penculik itu bingung dengan gerakan Adrian. Namun, sedetik kemudian, sebuah laser merah kecil tiba-tiba muncul dari kegelapan dan membidik tepat di tengah kening sang penculik. Itu adalah teknologi sniper taktis nirkabel milik **'Dante'** yang sudah dipasang Adrian sebelumnya di atap mobil SUV-nya.
"Selamat tinggal," bisik Adrian.
*BANG!*
Sebuah peluru berkaliber tinggi menembus kaca samping van dan langsung menghantam kepala penculik itu, membuatnya tewas seketika di tempat tanpa sempat menarik pelatuknya. Darah segar terciprat ke kaca van, membuat Clara berteriak histeris dalam diam karena syok yang luar biasa.
Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara gemercik air hujan yang kian menderu.
Adrian membuang pistol di tangannya ke aspal. Dia melangkah perlahan mendekati pintu van, lalu menggesernya hingga terbuka lebar.
Saat melihat Clara yang menangis ketakutan dengan tubuh gemetar di pojok van, tatapan mata i**** Adrian seketika runtuh. Seluruh aura mematikan dan kelam yang tadi menyelimutinya lenyap begitu saja. Yang tersisa hanyalah kepanikan dan rasa bersalah yang teramat sangat dari seorang suami.
Adrian langsung ma**k ke dalam van, berlutut di depan Clara, dan dengan cepat memotong tali yang mengikat tangan istrinya menggunakan pisau lipat kecilnya.
"Clara... kamu nggak apa-apa? Ada yang luka? Maaf... maafin aku telat," ujar Adrian dengan suara yang sangat lembut, bergetar karena rasa khawatir yang luar biasa. Dia mencoba menyentuh pipi Clara, namun tangannya yang bernoda darah tiba-tiba tertahan di udara. Adrian tampak ragu dan takut jika istrinya akan merasa jijik atau takut melihatnya.
Clara menatap wajah Adrian. Wajah yang sangat familier, namun kini dipenuhi dengan misteri yang teramat sangat gelap. Air mata Clara mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.
Tanpa memedulikan darah atau hujan yang membasahi tubuh Adrian, Clara langsung menghambur ke pelukan suaminya, menangis sejadi-jadinya di dada bidang pria itu.
"Adrian... aku takut... aku takut banget..." bisik Clara terisak-isak.
Adrian mendekap erat tubuh mungil istrinya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Clara sambil menghirup aroma tubuh wanita yang sangat dicint**nya itu. Dia tidak peduli jika setelah malam ini Clara akan menganggapnya monster. Dia tidak peduli jika semua rahasianya terbongkar.
Bagi Adrian, melepas semua topeng dan identitas palsunya bukanlah apa-apa, asalkan dia bisa melindungi wanita yang menjadi satu-satunya alasan baginya untuk tetap hidup sebagai manusia.
"Aku di sini, Clara. Aku di sini," bisik Adrian lembut sambil mengusap rambut istrinya yang basah. "Nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu lagi. Aku janji."
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!