**Bab 1: Tetangga Kamar yang Mengganggu**
Akhirnya. Satu kata itu terus bergaung di kepala Keyla saat dia mengempaskan tubuhnya ke atas ka**r ukuran *queen size* yang baru saja dia seprai dengan rapi. Aroma pengharum ruangan varian lavender menguar lembut, bercampur dengan wangi lilin aroma terapi yang baru dia nyalakan di atas nakas.
Ini adalah malam pertamanya di apartemen studio barunya. Tempat tidur ini tidak terlalu besar, tapi bagi Keyla, ini adalah simbol kebebasan. Setelah bertahun-tahun hidup di bawah aturan ketat orang tuanya yang serba mengatur, mulai dari jam malam yang seketat jam malam asrama tentara sampai urusan memilih jurusan kuliah, Keyla akhirnya berhasil melarikan diri. Dia memilih apartemen yang berjarak tiga puluh menit dari kampusnya, berbekal uang tabungan hasil kerja paruh waktu sebagai penulis lepas dan sedikit bantuan uang saku bulanan.
"Selamat memulai hidup mandiri, Keyla," gumamnya pada diri sendiri sembari menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu *warm white* yang estetik. Rasanya sangat damai. Sangat tenang.
Atau, setidaknya begitulah yang dia pikirkan sampai jarum jam dinding bergeser ke angka sebelas malam.
*DUM! DUM! DUM!*
Keyla tersentak. Ka**rnya seperti sedikit bergetar. Dia langsung terduduk tegak, mengerutkan dahi.
*DUM! DUM! DUM! TRATAK DUM!*
Suara musik dengan dentuman bas yang luar biasa keras tiba-tiba menghantam dinding sebelah kanan kamarnya. Itu bukan sekadar musik biasa. Itu adalah jenis musik dugem bergenre *remix* jedag-jedug yang biasa diputar di kelab malam kelas bawah, atau mungkin di angkot-angkot yang sopirnya hobi balapan liar.
Keyla menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan sabar. Dia melirik jam dinding. Pukul 23.15.
"Mungkin cuma sebentar," bisik Keyla, mencoba berpikiran positif. Dia mengambil bantal, menaruhnya di atas kepala, lalu menekan kuat-kuat ke kedua telinganya.
Namun, bukannya mengecil, volume musik itu justru terdengar semakin mengg***. Kini, suara vokal perempuan yang melengking kencang bernada sengau mulai menyert** dentuman bas tersebut. Dinding kamar Keyla yang terbuat dari beton ringan rasanya seperti mau runtuh.
"Si****. Ini orang niatnya mau tidur atau mau buka diskotik sih?" gerutu Keyla kesal.
Kemarahannya mendadak naik ke ubun-ubun. Bayangan tentang malam pertama yang tenang, membaca novel sambil minum teh hangat sebelum tidur nyenyak, langsung hancur berkeping-keping. Dengan langkah kasar, Keyla menyibak selimutnya. Dia memakai sandal rumahnya yang berbulu pink, lalu melangkah lebar-lebar menuju pintu keluar.
Dia tidak peduli jika ini sudah larut malam. Dia harus memberikan pelajaran pada tetangga barunya yang tidak tahu diri itu.
Keyla membuka pintu kamarnya—nomor 402—dan langsung dihadapkan pada koridor apartemen yang sepi. Tapi kesepian koridor itu langsung pecah oleh suara musik yang bersumber tepat dari pintu sebelah kanan kamarnya, kamar nomor 403.
Keyla melangkah mendekat. Dia mengepalkan tangan kanan, lalu mengetuk pintu kayu berwarna cokelat gelap itu dengan keras.
*TOK! TOK! TOK!*
Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak ada, suara musik di dalam sana terlalu bising untuk mendengar ketukan sopan.
Keyla mengembuskan napas kasar. Kali ini, dia tidak mengetuk. Dia menggedor.
*GEBREG! GEBREG! GEBREG!*
"Woi! Buka pintunya!" teriak Keyla sekuat tenaga, tidak peduli jika dia dicap sebagai tetangga yang galak di hari pertamanya tinggal di sini. "Kecilin musiknya! G*** ya, ini udah tengah malam!"
Butuh waktu sekitar dua menit dan beberapa gedoran brutal lagi sampai akhirnya suara musik di dalam kamar itu mendadak mati. Koridor langsung terasa sunyi senyap, menyisakan napas Keyla yang memburu karena emosi.
Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi klik dari kunci pintu yang diputar.
Pintu kamar 403 perlahan terbuka lebar. Keyla sudah bersiap-siap dengan rentetan kalimat omelan yang sudah dia susun di kepalanya. Namun, begitu sosok di balik pintu itu muncul, kata-kata yang sudah berada di ujung lidah Keyla mendadak menguap begitu saja.
Seorang cowok berdiri di ambang pintu.
Dia sangat tinggi—Keyla harus mendongak c**up tinggi hanya untuk menatap wajahnya. Cowok itu hanya mengenakan kaos singlet longgar berwarna putih abu-abu yang memperlihatkan lekuk bahunya yang lebar dan tulang selangka yang tegas. Celana pendek hitam longgar menggantung sant** di pinggangnya. Rambut hitamnya sedikit berantakan, seolah dia baru saja mengacak-acaknya sendiri.
Dan wajahnya... Keyla membatin kesal dalam hati karena harus mengakui hal ini: cowok itu sangat tampan. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan sepasang mata elang yang malas itu menatap Keyla dengan binar geli.
"Ya? Ada apa, Cantik?" tanya cowok itu. Suaranya berat khas bangun tidur, atau mungkin tipe suara bariton yang sengaja dibuat-buat agar terdengar s****. Ada aroma mint segar bercampur wangi parfum mahal yang langsung menguar dari tubuhnya, menusuk indra penciuman Keyla.
Keyla mengerjapkan mata, berusaha mengembalikan kesadarannya yang sempat terdistraksi oleh visual luar biasa di depannya. *Inget, Key, dia tetangga kurang ajar yang merusak malam lo!* batinnya menyemangati diri sendiri.
Keyla bersedekap, memasang wajah segalak mungkin. "Bisa kecilin gak musiknya? Ini udah jam sebelas lewat! Orang-orang mau tidur!"
Cowok itu menaikkan sebelah alisnya. Alih-alih merasa bersalah atau meminta maaf, dia justru menyunggingkan senyum tipis—senyum usil tanpa dosa yang seketika membuat tingkat kekesalan Keyla naik dua kali lipat.
"Oh, berisik ya?" tanya cowok itu sant**, sambil menyandarkan bahu lebarnya pada bingkai pintu. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, membuat otot lengannya yang kencang sedikit menonjol. "Gue pikir tadi suara basnya kurang berasa, makanya gue kencengin sedikit."
"Sedikit matamu!" sentak Keyla, emosinya benar-benar tersulut oleh sikap sant** cowok itu. "Itu berisik banget! Ka**r gue sampai getar tahu gak? Lo kalau mau dugem pergi ke klub sana, jangan di apartemen! Ini tempat tinggal, bukan diskotik pribadi lo!"
Cowok itu terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar sangat menyebalkan di telinga Keyla. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Keyla, membuat Keyla secara refleks mundur setengah langkah.
"Sant** dong, jangan galak-galak. Nanti cepat tua loh," godanya dengan mata yang menyipit jenaka. Dia memperhatikan Keyla dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pandangannya tertuju pada piyama satin pink bergambar stroberi yang dikenakan Keyla, lalu turun ke sandal bulu berwarna senada di kakinya. "Lagian, anak muda mana ada yang tidur jam segini? Malam minggu pula. Kurang gaul ah."
"Gue gak peduli mau ini malam minggu, malam jumat kliwon, atau malam apa pun! Gue mau tidur dan gue punya hak untuk dapet ketenangan di sini!" balas Keyla dengan nada suara yang meninggi. "Gue baru pindah hari ini, dan gue gak mau malam pertama gue rusak cuma gara-gara tetangga yang gak punya empati kayak lo!"
"Oh... tetangga baru?" Cowok itu mengangguk-angguk paham, senyum miringnya semakin melebar. Dia mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Keyla. "Kenalin kalau gitu. Gue Devan. Anak Teknik semester empat. Lo?"
Keyla menatap tangan Devan yang terjulur dengan pandangan jijik. Dia tidak berniat untuk berkenalan atau bersikap ramah pada makhluk menyebalkan ini.
"Gak usah kenalan. Gue gak tertarik," ketus Keyla, menepis tangan Devan dengan gerakan kibasan di udara. "Pokoknya, matiin musik lo. Atau minimal kecilin sampai gak kedengeran ke kamar gue. Kalau sampai lima menit lagi gue masih denger suara jedag-jedug gak jelas itu, gue bakal laporin lo ke resepsionis atau sekuriti biar lo diusir dari sini!"
Devan menarik kembali tangannya, sama sekali tidak merasa tersinggung dengan penolakan Keyla. Dia justru mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendeknya, menatap Keyla dengan tatapan yang sulit diartikan. Di matanya, cewek bertubuh mungil dengan piyama stroberi ini terlihat sangat menggemaskan saat sedang marah. Pipinya yang sedikit tembam merona merah karena emosi, dan bibir tipisnya yang mengerucut terus mengomel tanpa henti.
*Lucu juga tetangga baru gue,* pikir Devan dalam hati. Sebuah ide usil langsung melintas di kepalanya.
"Oke, oke, gue kecilin," kata Devan akhirnya, berpura-pura mengalah. "Tapi dengan satu syarat."
Keyla membelalakkan matanya tidak percaya. "Syarat? Lo g*** ya? Lo yang salah, kenapa malah ngasih syarat ke gue?!"
"Ya kalau lo gak mau, gue bakal nyalain lagi musiknya. Lebih kencang dari yang tadi," ancam Devan dengan nada bicara yang terlampau sant**, seolah dia sedang menawarkan menu makanan dan bukannya melakukan pemerasan emosional.
"Lo...!" Keyla menunjuk wajah Devan dengan jari telunjuknya, jarinya gemetar karena menahan amarah yang hampir meledak. "Dasar cowok gak jelas! Apa syaratnya?!"
Devan tersenyum puas. Dia memajukan wajahnya sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata Keyla yang berkilat marah. "Kasih tahu nama lo dulu. Masa tetangga sebelah kamar gak saling tahu nama? Kurang sopan, kan?"
Keyla menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mendadak berdegup kencang—bukan karena baper, tapi murni karena ingin sekali mencakar wajah tampan bin menyebalkan di hadapannya ini.
"Keyla," jawabnya singkat, padat, dan penuh penekanan.
"Keyla..." Devan mengeja nama itu dengan suara pelan, seolah sedang meresapinya. Senyumnya kembali terukir. "Nama yang cantik. Cocok sama orangnya, meskipun galaknya kayak ibu kos kosan belum bayar tiga bulan."
"Udah kan? Sekarang tutup pintu lo, kecilin musiknya, dan jangan pernah ganggu gue lagi!" cerocos Keyla. Dia berbalik badan dengan cepat, hendak kembali ke kamarnya sebelum dia benar-benar kehilangan kendali dan melayangkan pukulan ke wajah Devan.
"Sampai ketemu besok, Keyla piyama stroberi!" seru Devan dari ambang pintunya dengan nada setengah berteriak yang terdengar sangat riang.
Keyla tidak membalas. Dia mempercepat langkahnya, ma**k ke dalam kamar 402, lalu menutup pintu kamarnya dengan bantingan keras yang menimbulkan suara berdentum.
*B**AK!*
Keyla menyandarkan punggungnya di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat. Jantungnya masih berdegup kencang. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu mengembuskan napas panjang.
"G***. Cowok stres. Tetangga macam apa yang kayak begitu?" gerutunya kesal.
Sesuai janji, beberapa saat kemudian, suasana di luar benar-benar hening. Tidak ada lagi suara musik jedag-jedug yang menggetarkan dinding. Devan rupanya menepati janjinya untuk mematikan musik tersebut.
Meskipun keadaan sudah kembali tenang dan sunyi, Keyla menyadari satu hal yang membuatnya semakin kesal: rasa kantuknya kini telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh bayang-bayang wajah menyebalkan Devan dan senyum miringnya yang terus menari-nari di kepalanya.
Sementara itu, di kamar 403, Devan berdiri di tengah kamarnya yang kini sunyi. Dia melemparkan ponselnya ke atas ka**r, lalu merebahkan tubuhnya di sana. Alih-alih melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda, Devan justru menatap langit-langit kamarnya sambil tersenyum lebar.
Pertemuan pertama yang sangat menarik. Devan tahu, kehidupan apartemennya yang awalnya membosankan, mulai malam ini akan menjadi jauh lebih menyenangkan dengan kehadiran tetangga barunya yang menggemaskan itu.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!