**Bab 10: Mundur Perlahan Sebelum Terluka**
Pagi itu, kamar kos Keyla terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari yang menerobos ma**k lewat celah gorden abu-abu miliknya sama sekali tidak mampu menghangatkan hatinya yang mendadak terasa hampa. Keyla berbaring telentang di atas ka**r, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Kepalanya terasa berat, bukan karena efek alkohol—karena semalam dia hanya minum soda—melainkan karena *overthinking* yang menyiksanya sepanjang malam.
Suara berisik dari pesta semalam sudah lama usai, tapi kalimat-kalimat yang tidak sengaja dia dengar di sudut halaman belakang vila masih terngiang jelas di kepalanya. Bagai kaset rusak yang terus berputar, meremukkan sisa-sisa kebahagiaan yang sempat dia rasakan saat berdansa dengan Devan.
Semalam, saat Devan pergi ke toilet, Keyla berniat menyusulnya untuk memberikan ponsel Devan yang tertinggal di meja. Namun langkahnya terhenti di dekat lorong dapur yang sepi, tepat di balik pembatas dinding kayu, ketika dia mendengar suara Rio—si pemilik acara—dan beberapa anak Teknik lainnya sedang mengobrol sambil merokok.
*"G*** ya, Devan malam ini rapi banget. Tumben-tumbenan dia bawa cewek resmi ke pesta kita,"* suara salah satu teman Devan terdengar heran.
*"Cewek resmi pala lo peyang,"* Rio menyahut diiringi tawa remeh. *"Itu si Keyla, anak sebelah kamarnya. Paling juga bagian dari 'projek' main-mainnya dia. Lo kayak nggak tahu Devan aja."*
*"Tapi tatapan Devan ke itu cewek beda, Bro. Kayak protektif banget."*
*"Halah, Devan mah emang gitu. Mulut manis, tangan nakal, jago bikin cewek baper. Tapi kalau ditanya soal komitmen? Mana pernah dia mau pacaran serius. Dia cuma suka sensasi kejar-kejarannya doang. Begitu ceweknya mulai baper dan nuntut status, Devan bakal langsung *ghosting* terus cari mainan baru. Kasihan sih si Keyla kalau sampai jatuh cinta beneran. Bakal hancur lebur tuh hati."*
Mengingat obrolan itu, dada Keyla terasa sesak luar biasa. Dia meremas dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang berdegup nyeri.
*Gue udah jatuh cinta,* batin Keyla pasrah, air mata hangat mulai menggenang di sudut matanya. *Gue udah jatuh cinta setengah mati sama Devan.*
Sial. Harusnya dia tahu diri dari awal. Hubungan mereka ini hanya kontrak palsu. Hanya kesepakatan konyol untuk membuat Reza, mantan pacar Keyla, menyesal. Devan membantunya, dan Keyla memberikan apa yang Devan inginkan—teman bersenang-senang tanpa ikatan. Tapi kenapa hatinya tidak bisa diajak bekerja sama? Kenapa sentuhan-sentuhan ka**al Devan, bisikan jahilnya di telinga Keyla, dan tatapan matanya yang seolah hanya tertuju pada Keyla, bisa membuat pertahanan dirinya runtuh secepat ini?
Keyla buru-buru menghapus air matanya saat mendengar ketukan familiar di pintu kamarnya. Tiga ketukan sant** yang berpola.
Itu Devan. Pacar sebelah kamarnya.
Keyla menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. Dia harus bersikap biasa saja. Tidak, dia tidak boleh biasa saja. Dia harus mulai menarik diri. Mundur perlahan sebelum semuanya terlambat, sebelum hatinya benar-benar hancur berkeping-keping saat kontrak ini selesai nanti.
Keyla beranjak dari ka**r, merapikan kaus kedodoran yang dipakainya, lalu membuka pintu kamar.
Di depan pintu, Devan berdiri dengan senyum lebar khasnya yang selalu sukses membuat jantung Keyla berdisko. Cowok itu hanya memakai kaus putih polos dan celana pendek hitam, rambutnya yang agak basah menandakan dia baru selesai mandi. Aroma sabun mint yang segar langsung menguar ma**k ke dalam kamar Keyla.
"Pagi, Cantik," sapa Devan manis. Dia langsung melangkah ma**k tanpa permisi, kebiasaan yang sudah sangat biasa bagi mereka. Devan membawa satu kantong plastik berisi dua kotak bubur ayam. "Gue beli bubur depan gang nih. Yang satu nggak pakai seledri, sesuai *request* Tuan Putri."
Devan meletakkan makanan itu di atas meja belajar Keyla, lalu berbalik dengan tangan terbuka, berniat memeluk Keyla seperti yang biasa dia lakukan setiap pagi sebagai ritual 'pacar bohongan' mereka. "Sini dulu, gue kangen."
Namun, sebelum lengan kokoh Devan sempat melingkari pinggangnya, Keyla dengan cepat melangkah mundur. Dia berbalik membelakangi Devan, berpura-pura sibuk merapikan tumpukan buku di atas meja.
"Gue udah kenyang, Dev. Lo makan aja sendiri," kata Keyla datar, suaranya terdengar dingin dan tanpa emosi.
Devan menghentikan gerakannya di udara. Dahinya berkerut heran menatap punggung Keyla. "Kenyang? Sejak kapan lo s****an pagi-pagi gini? Biasanya lo baru bangun jam segini dan langsung kelaparan kayak macan."
"Tadi gue udah bikin sereal," bohong Keyla, masih enggan menatap mata Devan.
Devan menghela napas pelan, mendekati Keyla lagi. Dia mengulurkan tangannya, berniat mengacak-acak rambut Keyla dengan gemas seperti biasa. "Kok ketus banget sih pagi ini? Masih capek gara-gara semalam, hm?"
Saat tangan Devan hampir menyentuh kepalanya, Keyla dengan kasar menepis tangan cowok itu.
*Plak!*
Suara tepisan itu terdengar c**up nyaring di dalam kamar yang sunyi. Devan mematung. Matanya melebar, menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja ditepis, lalu beralih menatap wajah Keyla yang kini terlihat sangat dingin dan asing.
"Jangan pegang-pegang gue, Dev," ucap Keyla ketus. Matanya menatap Devan dengan pandangan tajam, menyembunyikan rasa bersalah yang teramat sangat di dalam hatinya.
"Key? Lo kenapa sih?" tanya Devan, suaranya melembut, ada nada kebingungan yang jelas di sana. Dia mencoba melangkah maju satu tapak lagi. "Gue ada salah? Semalam kayaknya kita baik-baik aja. Lo bahkan..."
"Gue bilang jangan deket-deket!" potong Keyla setengah berteriak, reflex mundur hingga punggungnya membentur tepian meja belajar.
Devan langsung mengangkat kedua tangannya di udara, tanda menyerah agar Keyla tidak semakin menjauh. "Oke, oke. Gue nggak deket-deket. Tapi jelasin ke gue, lo kenapa? Kenapa tiba-tiba kayak gini?"
Keyla memalingkan wajahnya ke samping, tidak sanggup menatap mata kecokelatan Devan yang selalu berhasil melelehkan amarahnya. "Gue cuma pengen kita mulai tahu batasan, Dev."
"Batasan?" Devan terkekeh, tapi tawa itu terdengar hambar dan sedikit tersinggung. "Batasan apa maksud lo? Selama ini kita baik-baik aja dengan semua ini. Pegangan tangan, pelukan, bahkan..." Devan menggantung kalimatnya, mengingat bagaimana mereka sering menghabiskan malam dengan saling mendekap erat di sofa sambil menonton film.
"Itu salah," sela Keyla cepat, suaranya bergetar namun dia berusaha keras menahannya agar terdengar kokoh. "Semua itu salah. Kita ini cuma pura-pura, Devan. Kontrak kita cuma buat meyakinkan Reza kalau gue udah *move on*. Dan sekarang Reza udah percaya. Jadi, nggak ada alasan lagi buat kita terus-terusan bersikap kayak pacar beneran kalau lagi berdua di kamar kayak gini."
Devan terdiam. Tatapan matanya yang semula bingung kini perlahan meredup, digantikan oleh sorot dingin yang jarang sekali dia tunjukkan pada Keyla. Dia menyugar rambutnya ke belakang dengan frustrasi.
"Jadi, semua yang kita lakuin kemarin... lo anggap cuma akting buat Reza?" tanya Devan, suaranya terdengar lebih rendah dan berat.
"Emang kenyataannya gitu, kan?" sahut Keyla, menantang mata Devan meski hatinya saat ini seperti sedang diiris-iris sembilu. *Tolong bilang nggak, Dev. Tolong bilang kalau lo juga punya perasaan sama gue,* jerit Keyla dalam hati.
Namun, Devan tidak mengatakan itu. Cowok itu justru tersenyum sinis, senyuman yang biasa dia berikan pada orang asing yang tidak dia sukai.
"Oh, oke. Gue paham sekarang," ucap Devan dingin. Dia melangkah mundur, memperlebar jarak di antara mereka yang kini terasa sangat jauh, seolah ada tembok tebal yang tak kasat mata yang tiba-tiba terbangun di antara mereka. "Lo mau profesional? Oke, kita profesional. Nggak usah ada sentuhan fisik lagi kalau nggak ada Reza di sekitar kita. Itu kan yang lo mau?"
Keyla menelan ludahnya yang terasa menyumbat tenggorokan. Dadanya luar biasa sesak, tapi dia memaksakan diri untuk mengangguk. "Iya. Itu yang gue mau."
"Bagus kalau gitu." Devan mengambil kembali kantong plastik berisi bubur yang dia bawa tadi dengan gerakan kasar. "Gue balik ke kamar gue. *Sorry* udah ganggu waktu lo pagi-pagi."
Tanpa menunggu jawaban dari Keyla, Devan berbalik dan melangkah lebar keluar dari kamar kos Keyla. Pintu kamar ditutup dengan dentuman yang c**up keras, menyisakan kesunyian yang mencekam bagi Keyla.
Begitu pintu tertutup rapat, pertahanan yang sejak tadi dibangun Keyla runtuh seketika. Tubuhnya merosot ke lant** dingin. Dia menekuk lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana, dan mulai menangis sesenggukan. Bahunya berguncang hebat menahan tangis agar suaranya tidak terdengar sampai ke kamar sebelah.
Sakit sekali. Rasanya jauh lebih sakit daripada saat dia diselingkuhi oleh Reza.
Keyla tahu dia egois. Dia tahu dia pengecut karena memilih untuk mundur sebelum berjuang. Tapi dia terlalu takut. Dia tahu reputasi Devan sebagai cowok yang tidak pernah serius dalam hubungan. Dia tidak mau menjadi salah satu dari sekian banyak cewek yang akhirnya ditinggalkan begitu saja oleh Devan setelah memberikan seluruh hatinya.
Lebih baik dia terluka sekarang karena membatasi diri, daripada nanti dia harus mati rasa karena kehilangan Devan seutuhnya saat permainan ini benar-benar berakhir.
Sementara itu, di balik dinding yang tipis, Devan berdiri di kamarnya sendiri dengan napas memburu. Dia melemparkan bungkusan bubur itu ke atas meja belajarnya hingga isinya sedikit tumpah. Tangannya mengepal erat, memukul dinding pembatas kamar mereka dengan pelan namun penuh frustrasi.
Devan tidak mengerti. Dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Keyla. Kenapa cewek itu tiba-tiba berubah dingin dalam semalam? Padahal semalam, saat mereka berdansa di bawah temaram lampu vila, Devan bisa merasakan kehangatan yang nyata dari cara Keyla menatapnya.
"G*** lo, Key," gumam Devan lirih, menatap kosong ke arah dinding pembatas kamar mereka. "Lo yang bikin gue mulai ngerasa kalau hubungan ini bukan cuma sekadar kontrak, tapi lo juga yang dengan gampangnya narik garis pembatas di antara kita."
Devan memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa kecewa dan marah bercampur menjadi satu di dadanya. Jika Keyla ingin menjaga jarak, maka dia akan memberikannya. Dia tidak akan memohon atau mengemis perhatian pada cewek yang menganggap semua perhatian tulusnya selama ini hanya bagian dari akting belaka.
Mulai hari itu, perang dingin di antara dua penghuni kamar yang bersebelahan itu pun resmi dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!