**Bab 11: Tarik Ulur yang Menyiksa**
Keyla menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh. Setelah memastikan matanya tidak terlalu sembap, dia memutar kunci pintu kamarnya.
Begitu pintu terbuka, sosok Devan langsung menyapa pandangannya. Cowok itu berdiri di sana, bersandar sant** pada kusen pintu dengan kaus hitam polos dan celana pendek abu-abu. Rambutnya yang sedikit berantakan justru membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan. Di tangan kanannya, ada satu kantong plastik putih berisi mangkuk plastik bubur ayam hangat dan satu cup es kopi susu kesukaan Keyla.
"Pagi, Sayang," sapa Devan dengan senyum jahil khasnya. Tangannya refleks terangkat, berniat mengacak-acak rambut Keyla seperti yang biasa dia lakukan.
Namun, sebelum jemari Devan menyentuh kepalanya, Keyla dengan cepat memundurkan langkah. Gerakan menghindar itu begitu kentara, membuat tangan Devan menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya turun dengan canggung.
Senyum di wajah Devan perlahan memudar, digantikan oleh kerutan tipis di dahinya. "Key? Lo kenapa?"
"Gak apa-apa," jawab Keyla datar, suaranya terdengar sangat asing bahkan di telinga sendiri. "Ada apa, Dev?"
"Ini, gue beliin bubur ayam Pak Agus depan gang. Yang gak pakai seledri sama kacangnya dikit, kayak biasa," kata Devan, mencoba mencairkan suasana. Dia menyodorkan kantong plastik itu ke depan dada Keyla. "Gue tahu lo pasti belum s****an. Kita makan di kamar lo, yuk?"
"Gak usah, Dev. Gue udah kenyang," tolak Keyla dingin tanpa melihat ke dalam kantong plastik itu. Matanya justru fokus pada ubin lant** koridor kosan mereka.
Devan terkekeh pelan, walau tawanya terdengar agak dipaksakan. "Kenyang? Sejak kapan seorang Keyla nolak bubur Pak Agus? Biasanya lo yang paling heboh kalau gue tawarin. Lo lagi diet atau gimana?"
"Gue bilang gue gak mau, Devan. Bawa balik aja, atau lo kasih ke anak kos lain," potong Keyla tajam.
Atmosfer di koridor luar kamar mereka mendadak berubah menjadi sangat tegang. Devan menurunkan kantong plastik itu ke samping tubuhnya. Matanya yang tajam kini menatap Keyla lurus-lurus, mencoba membaca apa yang sedang terjadi di dalam kepala gadis di depannya ini. Sikap Keyla pagi ini benar-benar berbanding terbalik dengan semalam saat mereka berdansa di vila.
"Key, lo kenapa sih?" tanya Devan, suaranya kini terdengar lebih serius, tidak ada lagi nada bercanda. "Dari semalam pas di perjalanan pulang, lo diem terus. Sekarang lo kayak gini. Gue ada salah?"
"Gak ada," jawab Keyla, masih dengan nada flat yang menyiksa. "Gue cuma capek aja. Mau istirahat."
Keyla mulai menggeser daun pintu, berniat untuk menutupnya dan kembali bersembunyi di dalam kamar. Namun, dengan gerakan cepat, Devan menahan tepi pintu dengan telapak tangannya. Tenaganya jauh lebih kuat, membuat usaha Keyla untuk menutup pintu menjadi sia-sia.
"Jangan gini, Key. Kita perlu ngomong," tuntut Devan. Dia melangkah maju, memaksa Keyla mundur hingga kini mereka berdua berdiri di koridor luar, tepat di antara pintu kamar mereka yang saling berhadapan.
"Ngomong apa lagi, sih? Gue capek, Devan. Gue mau tidur!" Keyla mulai merasa tersudut. Jarak mereka terlalu dekat, dan wangi parfum maskulin milik Devan mulai mengacaukan konsentrasinya. Wangi yang sangat dia sukai, tapi sekarang terasa seperti racun yang menyakitkan.
"Lo gak bisa tiba-tiba berubah kayak gini tanpa alasan!" Devan menyugar rambutnya dengan frustrasi. Napasnya terdengar agak memburu. "Semalam kita baik-baik aja. Lo senyum, lo ketawa, kita dansa... terus sekarang lo tiba-tiba dingin kayak es begini? Salah gue di mana, Key? Kasih tahu gue!"
Keyla mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, mencoba menahan getaran hebat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak boleh menangis di depan Devan. Dia harus terlihat kuat.
"Gak ada yang salah, Devan. Semuanya normal," kata Keyla, mencoba mengatur suaranya agar tetap stabil. "Gue cuma ngerasa... akting kita udah c**up sampai di sini."
Devan mengernyitkan dahi dalam-dalam, benar-benar bingung dengan arah pembicaraan ini. "Akting? Akting apa maksud lo?"
"Hubungan kita. Pacaran boongan ini," jelas Keyla dengan suara yang mulai serak. Dia mendongak, akhirnya memberanikan diri menatap mata cokelat gelap milik Devan. "Tujuan awal kita kan buat bikin Reza menyesal dan ngejauh dari gue. Dan belakangan ini, Reza udah jarang banget keliatan. Dia bahkan udah gak pernah chat atau ganggu gue lagi. Jadi... sandiwara kita udah berhasil. Kita udah gak perlu pura-pura lagi sekarang."
Hening sejenak.
Devan menatap Keyla dengan tatapan tidak percaya. Dadanya naik turun karena emosi yang mulai tersulut. Kata-kata Keyla barusan terasa seperti tamparan keras di wajahnya.
"Sandiwara?" Devan mendengus kasar, tawa pahit lolos dari bibirnya. "Jadi menurut lo, semua yang kita lakuin selama ini cuma sandiwara? Hubungan kita semurah itu di mata lo?"
"Memang dari awal kesepakatannya begitu, kan?" sahut Keyla, mencoba terdengar logis padahal hatinya sedang berdarah-darah. "Kita cuma main-main. Lo bantuin gue, dan gue nemenin lo bersenang-senang tanpa status. Sekarang urusan gue sama Reza udah selesai. Jadi, ma**k akal kan kalau kita sudahi aja semuanya? Kita balik kayak dulu lagi. Tetangga kos biasa."
"Tetangga kos biasa?!" Devan menaikkan nada suaranya, membuat koridor kosan yang sepi itu bergema. Beruntung, sebagian besar anak kos sedang kuliah atau masih tidur karena efek pesta semalam.
Devan melangkah maju satu langkah lagi, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. Tubuh tingginya seolah mengintimidasi Keyla, namun matanya memancarkan rasa frustrasi yang luar biasa.
"Setelah semua yang kita laluin, lo mau kita balik jadi 'tetangga kos biasa'?" tanya Devan dengan suara tertahan, menahan amarah yang bergejolak. "Setelah lo tidur di bahu gue kalau capek? Setelah kita pelukan hampir tiap malam? Setelah lo ngebiarin gue nyentuh lo, meluk lo... lo mau anggap itu semua gak pernah ada?!"
"Iya!" potong Keyla cepat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Karena itu semua gak nyata, Dev! Itu cuma bagian dari peran kita!"
*Dan karena gue gak mau jadi korban ghosting lo selanjutnya setelah gue makin baper,* jerit Keyla dalam hati.
"Gak nyata kepala lo peyang!" Devan menyentak, benar-benar kehilangan kesabarannya yang biasanya setebal baja. "Gue gak pernah se-effort ini buat cewek, Keyla! Gue beliin lo makanan tiap hari, gue anter-jemput lo, gue jagain lo dari cowok-cowok br******... lo pikir gue ngelakuin itu semua cuma karena 'peran'? Lo pikir gue se-gabut itu?!"
Keyla memalingkan wajahnya ke samping, tidak sanggup melihat binar frustrasi di mata Devan. Dia takut pertahanannya runtuh. Dia takut jika dia bertahan sedetik lagi, dia akan memeluk Devan dan memohon agar cowok itu tidak mempermainkan hatinya. Tapi kata-kata Rio semalam terlalu membekas. Devan hanya suka sensasi mengejar. Devan tidak pernah mau komitmen. Begitu Keyla meminta kejelasan, Devan pasti akan pergi.
Lebih baik Keyla yang pergi duluan sebelum rasa sakitnya menjadi lebih hancur.
"Gue gak peduli, Dev. Intinya gue mau kita selesai," kata Keyla dengan nada dingin yang dipaksakan. "Mulai hari ini, jangan cari gue lagi. Anggap aja kita gak saling kenal kalau ketemu di koridor."
"Keyla, tatap mata gue!" Devan meraih kedua pergelangan tangan Keyla, menggenggamnya erat namun tidak sampai menyakiti.
"Lepas, Dev!" Keyla memberontak, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Devan.
"Gak akan sebelum lo ngomong jujur sama gue! Lo bohong, Key! Gue tahu lo bohong!" Devan menatap wajah Keyla yang kini memerah menahan tangis.
Melihat Keyla yang terus menghindarinya membuat Devan merasa ada sesuatu yang berharga yang sedang ditarik paksa dari hidupnya. Rasa takut kehilangan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya mendadak menyerang dadanya, menyisakan rasa sesak yang menyiksa. Devan tidak bisa membiarkan ini terjadi. Dia harus membuktikan bahwa apa yang ada di antara mereka itu nyata, bukan sekadar sandiwara seperti yang Keyla katakan.
Dengan gerakan impulsif, Devan menarik tubuh Keyla ke dalam pelukannya. Dia melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Keyla, mendekap tubuh mungil itu erat-erat ke dadanya. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Keyla, menghirup aroma vanilla manis yang selalu menjadi favoritnya.
"Key, stop... jangan kayak gini. Gue minta maaf kalau gue ada salah," bisik Devan lirih, suaranya terdengar begitu rapuh, sangat berbeda dari sosok Devan yang biasanya selalu percaya diri dan menyebalkan. "Jangan jauhin gue. Gue gak suka lo kayak begini..."
Pelukan Devan begitu hangat. Sangat hangat hingga membuat pertahanan Keyla hampir runtuh sepenuhnya. Keyla memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan setetes air mata jatuh membasahi pundak kaus hitam Devan. Detak jantung Devan yang berdegup kencang di dadanya terasa begitu nyata, seolah membisikkan kata-kata yang ingin dia dengar.
Namun, di detik berikutnya, bayangan obrolan Rio di halaman belakang vila kembali berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
*“Mulut manis, tangan nakal, jago bikin cewek baper. Tapi kalau ditanya soal komitmen? Mana pernah dia mau pacaran serius. Dia cuma suka sensasi kejar-kejarannya doang.”*
Rasa sakit yang teramat sangat langsung menjalar ke seluruh dada Keyla. Rasa hangat dari pelukan Devan mendadak terasa seperti api yang membakar kulitnya. *Dia cuma kasihan sama gue. Dia cuma suka sensasi ini. Ini gak nyata.*
Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang dia miliki, Keyla meletakkan kedua telapak tangannya di dada lebar Devan. Dia mendorong dada cowok itu dengan sekuat tenaga.
*Duk!*
Devan yang tidak siap dengan dorongan tiba-tiba itu terhuyung mundur satu langkah. Pelukannya terlepas seketika. Dia menatap Keyla dengan mata membelalak terkejut.
Keyla berdiri di depannya dengan napas tersengal-sengal, air mata kini mengalir bebas di kedua pipinya yang pucat.
"Jangan sentuh gue lagi, Devan!" teriak Keyla, suaranya bergetar hebat karena tangis yang sudah tidak bisa dia bendung lagi. "Gue bilang jangan sentuh gue!"
Devan terpaku. Tangannya melayang di udara, gemetar. "Key..."
"Kita selesai. Kontraknya selesai!"
Tanpa menunggu jawaban lagi dari Devan, Keyla langsung berbalik, melangkah cepat ma**k ke dalam kamarnya, dan membanting pintu kayu itu dengan keras.
*B**AAKKK!*
Bunyi bantingan pintu itu bergema hebat di sepanjang koridor kosan yang sunyi. Sedetik kemudian, terdengar bunyi kunci pintu yang diputar dari dalam, disusul oleh suara selot pintu yang dipasang.
Di luar, Devan masih berdiri membeku di posisi yang sama. Kantong plastik berisi bubur ayam yang dia bawa kini tergeletak begitu saja di lant** semen dingin, sedikit tumpah dari wadahnya.
Pandangan Devan kosong, menatap lurus pada pintu kayu cokelat kamar Keyla yang kini tertutup rapat, menghalanginya dari gadis itu. Dada Devan terasa sangat sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak habis. Ada rasa sakit yang asing menjalar dari ulu hatinya, menyebar ke seluruh tubuh, membuatnya merasa begitu lemas.
Rasa bersalah yang teramat sangat tiba-tiba menghantamnya dengan begitu telak.
Devan tidak tahu apa kesalahan spesifik yang telah dia perbuat hingga Keyla menatapnya dengan tatapan penuh luka dan kemarahan seperti tadi. Tapi melihat air mata Keyla yang jatuh karena dirinya... membuat Devan merasa menjadi cowok paling br****** di dunia ini.
Perlahan, Devan melangkah mendekat. Dia menyandarkan keningnya pada permukaan pintu kamar Keyla yang dingin. Dia memejamkan matanya, merasakan denyut nyeri di dadanya yang semakin menjadi-jadi.
"Key..." bisik Devan pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. "Maaf..."
Namun, tidak ada jawaban dari balik pintu. Hanya ada keheningan malam yang menyiksa, meninggalkan Devan yang berdiri sendirian dalam penyesalan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!