**Bab 12: Teror Terakhir si Mantan**
Sore itu, basement parkir apartemen terasa jauh lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Keyla berjalan dengan langkah tergesa-gesa, kedua tangannya sarat akan beban dari kantong kresek besar berisi belanjaan bulanan. Pikirannya masih kacau balau, berputar-putar pada kejadian tadi pagi di koridor kosan bersama Devan.
Keyla mengembuskan napas berat. Ada rasa bersalah yang teramat sangat karena telah bersikap begitu dingin pada cowok itu. Padahal, Devan sudah berbaik hati membawakannya bubur ayam hangat. Namun, ketakutan yang menggelayuti benaknya membuat Keyla terpaksa membangun benteng pertahanan yang tinggi. Dia tidak ingin Devan terlibat lebih jauh ke dalam masalah pribadinya.
Langkah kaki Keyla menggema di keheningan area parkir yang remang-remang. Dia mempercepat langkahnya menuju lift, ingin segera sampai ke dalam kamarnya, mengunci diri, dan menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Namun, baru saja dia melewati sebuah pilar beton besar di dekat blok B, sebuah bayangan tiba-tiba melangkah keluar dan langsung menghadang jalannya.
Keyla tersentak kaget. Dia refleks mundur dua langkah hingga salah satu kantong belanjanya hampir terlepas dari genggaman. Jantungnya berdegup kencang berlipat ganda saat matanya menangkap sosok laki-laki yang berdiri di hadapannya.
Reza.
Cowok itu terlihat sangat berantakan. Jaket denim yang biasa dipakainya tampak lecek, rambutnya acak-acakan tidak tertata rapi seperti biasanya, dan ada lingkaran hitam yang jelas di bawah matanya. Tatapan mata Reza yang dulu selalu terlihat lembut, kini tampak liar, kosong, dan memancarkan keputusasaan yang mengerikan.
"Hai, Key," sapa Reza dengan suara baritonnya yang serak.
"Re-Reza? Ngapain lo di sini?!" Suara Keyla bergetar hebat, meski dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tegas dan berani. "Ini area privat apartemen orang! Lo gak boleh ma**k sembarangan!"
Reza terkekeh sinis, melangkah maju satu langkah yang langsung dibalas Keyla dengan langkah mundur. Sialnya, punggung Keyla justru membentur pilar beton dingin di belakangnya. Dia terperangkap.
"Privat?" Reza mencemooh, senyumnya terlihat miring dan menakutkan. "Satu atau dua lembar uang biru buat satpam di depan, dan gue bisa ma**k dengan gampang, Key. Lo kayak gak tahu cara kerja dunia ini aja."
"Lo g***, ya? Pergi gak dari sini! Atau gue teriak sekarang juga!" ancam Keyla, matanya melirik liar ke sekeliling, mencari barangkali ada penghuni lain atau petugas kebersihan yang lewat. Namun, area basement saat itu benar-benar sepi senyap.
"Teriak aja," tantang Reza, kini wajahnya mendekat, menyebarkan aroma rokok yang pekat hingga membuat Keyla mual. "Teriak sekencang yang lo bisa. Biar semua orang tahu kebohongan besar yang lo simpan rapat-rapat."
"Maksud lo apa sih?!"
Reza tidak langsung menjawab. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu mengotak-atik layarnya sebentar sebelum menyodorkannya tepat di depan wajah Keyla.
"Lo pikir gue b***, hah?" desis Reza tajam.
Di layar ponsel Reza, terpampang beberapa foto dengan kualitas yang c**up tajam. Foto-foto itu memperlihatkan Keyla dan Devan yang sedang berdiri di koridor kosan dengan ekspresi wajah yang sangat tegang, dingin, dan saling menjaga jarak. Itu adalah foto perdebatan dingin mereka tadi pagi, dan beberapa foto di hari-hari sebelumnya saat mereka tidak sedang berakting di depan umum.
Darah di tubuh Keyla rasanya mendadak membeku. Wajahnya pucat pasi seketika. Bagaimana bisa Reza memiliki foto-foto ini? Apakah selama ini Reza mengint** di sekitar tempat tinggalnya? Membayangkan sepasang mata penuh obsesi yang selalu mengawasinya dari kegelapan membuat bulu kuduk Keyla meremang hebat.
"Gue udah perhatiin kalian berdua selama beberapa hari ini, Key," kata Reza dengan nada kemenangan yang menjijikkan. "Nggak ada tatapan cinta di mata cowok itu buat lo pas kalian lagi berdua tanpa penonton. Dan foto-foto ini... ini bukti kalau hubungan lo sama Devan itu palsu. Kalian cuma pura-pura pacaran, kan?"
"Gak... lo salah paham. Kita cuma lagi berantem biasa!" bantah Keyla, mencoba membela diri meski suaranya terdengar sangat parau dan rapuh.
"Berantem biasa?" Reza tertawa keras. Suara tawanya menggema di basement yang sunyi, terdengar begitu mengerikan di telinga Keyla. "Jangan bohong lagi, Keyla! Gue tahu lo sewa dia, kan? Lo bayar cowok si**** itu buat pura-pura jadi pacar lo biar gue menjauh? Iya, kan?!"
"Enggak, Za! Lepasin gue!" Keyla mencoba mendorong dada Reza dengan sebelah tangannya yang bebas, tetapi tenaga cowok itu jauh lebih kuat.
Reza mencengkeram kedua bahu Keyla, menekannya ke pilar beton hingga Keyla meringis kesakitan. Akibat gerakan kasar itu, dua kantong belanjaan di tangan Keyla terlepas dan jatuh ke lant** beton, membuat beberapa botol minuman dan camilan di dalamnya berserakan ke mana-mana.
"Dengerin gue baik-baik," bisik Reza tepat di depan wajah Keyla, napasnya yang memburu terasa panas di kulit Keyla. "Gue bakal sebarin foto-foto ini di grup angkatan kampus kita. Gue juga bakal bikin utas di Twitter, lengkap dengan analisis gue kalau lo udah nyewa cowok bayaran demi gengsi semata. Bayangin gimana malunya lo besok di kampus. Semua orang bakal ngetawain lo. Reputasi lo sebagai mahasiswi berprestasi bakal hancur lebur dalam semalam!"
Air mata yang sejak tadi ditahan Keyla akhirnya luruh juga. Dia ketakutan setengah mati. Ancaman Reza bukan main-main. Reza adalah tipe orang yang nekat jika sudah terpojok, dan Keyla tahu betul seberapa kejamnya jemari netizen kampus jika gosip sensitif seperti ini tersebar di media sosial.
"Za, tolong... jangan kayak gini..." pinta Keyla lirih dengan tubuh yang bergetar hebat. "Gue mohon sama lo..."
Melihat Keyla menangis dan memohon, ekspresi kemarahan di wajah Reza sedikit melunak, digantikan oleh senyum kepuasan yang aneh. Dia mengusap air mata di pipi Keyla dengan ibu jarinyaβsebuah sentuhan yang membuat Keyla merinding saking jijiknya.
"Makanya, balik sama gue, Key. Cuma gue yang tulus sama lo. Putusin cowok bayaran lo itu sekarang juga. Bilang sama dia buat gak usah sok jadi pahlawan di hidup lo," bisik Reza dengan nada manipulatif yang sangat kental. "Gue kasih lo waktu sampai besok pagi. Kalau lo masih kelihatan bareng dia, atau kalau lo gak ngasih jawaban yang gue mau... foto-foto ini bakal langsung viral di kampus. Paham?"
Reza akhirnya melepaskan cengkeramannya dari bahu Keyla. Dia melangkah mundur, menatap Keyla yang kini merosot terduduk di lant** basement yang dingin sambil memeluk lututnya sendiri, menangis sesenggukan di antara belanjaannya yang berserakan.
"Sampai ketemu besok di kampus, Sayang," ujar Reza dengan nada manis yang terdengar sangat beracun, sebelum akhirnya dia berbalik dan berjalan sant** meninggalkan area parkir.
Setelah sosok Reza benar-benar hilang dari pandangan, pertahanan Keyla runtuh sepenuhnya. Dia menangis sejadi-jadinya di lant** basement yang sunyi. Dada Keyla terasa sangat sesak, seolah ada batu besar yang menghimpit pernapasannya. Tubuhnya gemetar hebat akibat syok dan ketakutan yang luar biasa.
Dengan tangan yang masih gemetar, Keyla mengumpulkan kembali barang-barang belanjaannya yang berserakan, mema**kkannya asal-asalan ke dalam kresek, lalu setengah berlari menuju lift. Begitu sampai di depan pintu kamarnya, dia buru-buru membukanya, ma**k, dan langsung mengunci pintu rapat-rapat. Dia bahkan memasang grendel ganda dan menyandarkan tubuhnya di balik pintu, mencoba meredam suara tangisnya sendiri.
Pikiran Keyla berputar liar. Ancaman Reza terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak.
*βGue bakal sebarin foto-foto ini... reputasi lo bakal hancur lebur...β*
Keyla memejamkan matanya rapat-rapat. Sebenarnya, dia tidak terlalu peduli jika reputasinya sendiri yang hancur. Namun, bagaimana dengan Devan?
Devan adalah cowok populer di kampus. Dia memiliki banyak teman, citra yang baik, dan masa depan yang sangat cerah. Devan hanya orang asing yang tidak sengaja terseret ma**k ke dalam lingkaran s**** kehidupannya yang rumit karena sebuah kesepakatan kontrak konyol yang mereka buat. Devan tidak pantas mendapatkan masalah atau nama baiknya tercemar karena dirinya. Reza sudah benar-benar g*** dan tidak bisa diprediksi. Bagaimana kalau Reza tidak hanya menghancurkan reputasi Devan, tapi juga melakukan kekerasan fisik pada cowok itu?
Keyla mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Air matanya kembali menetes membasahi pipi.
Dia tidak bisa egois lagi. Menjaga Devan tetap berada di sisinya sebagai 'pacar sewaan' kini terasa seperti menaruh Devan di ujung tanduk yang sangat berbahaya. Reza bisa melakukan apa saja untuk melampiaskan obsesinya.
*Gue harus mengakhiri ini,* batin Keyla dengan dada yang terasa sangat perih.
*Gue harus batalin kontrak kita sekarang juga.*
Keyla tahu keputusan ini akan terasa sangat menyakitkan. Perlahan tapi pasti, kehadiran Devan di hidupnya sudah mulai mengisi kekosongan di hatinya. Kejahilan cowok itu, perhatian-perhatian kecilnya yang menyebalkan tapi manis, dan rasa aman yang selalu Devan berikan setiap kali mereka bersama... semuanya telah menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi Keyla.
Namun, rasa sayang yang mulai tumbuh di hati Keyla justru menjadi alasan terkuat mengapa dia harus melepaskan cowok itu. Dia tidak mau egois. Dia tidak mau Devan terluka atau menanggung malu hanya karena ingin melindunginya.
Keyla mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Layarnya menyala, menampilkan beberapa notifikasi pesan ma**k dari Devan yang dikirim beberapa jam yang lalu.
**Devan:** *Key, lo masih marah ya?*
**Devan:** *Gue minta maaf kalau tadi pagi ada salah kata.*
**Devan:** *Nanti malam mau makan bareng gak? Gue yang traktir, lo bebas pilih menu apa aja.*
Membaca pesan-pesan perhatian dari Devan justru membuat dada Keyla semakin sakit, seperti diiris sembilu. Air matanya menetes tepat di atas layar ponselnya. Dengan jari-jari yang masih gemetar, Keyla mulai mengetik sebuah pesan balasan untuk Devan. Sebuah pesan singkat yang akan mengakhiri semua sandiwara di antara mereka.
**Keyla:** *Dev, nanti malam bisa ketemu di taman deket kosan? Ada hal penting tentang kontrak kita yang harus gue omongin. Gue mau kita selesai.*
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!