Ancaman Reza di basement tadi sore masih terus terngiang-ngiang di kepala Keyla bagai kaset rusak.
*“Gue tahu hubungan lo sama cowok sebelah itu cuma settingan, Key. Jangan pikir lo bisa bohongin gue. Jauhin dia, atau gue bakal bikin hidup cowok si**** itu hancur. Lo tahu bener gue bisa lakuin apa aja.”*
Kata-kata Reza bernada racun itu terus berputar, membuat dada Keyla sesak setengah mati. Dia tahu Reza tidak pernah main-main dengan ucapannya. Mantan kekasihnya itu adalah tipe cowok obsesif yang rela melakukan cara kotor apa pun untuk mendapatkan apa yang dia mau. Keyla tidak bisa membiarkan Devan—cowok menyebalkan tapi berhati hangat yang tinggal di sebelah kamarnya—menjadi korban dari masa lalunya yang kelam.
C**up. Devan sudah terlalu banyak membantunya. Sekarang, saatnya Keyla menarik Devan keluar dari lingkaran s**** ini, bahkan jika itu berarti dia harus menjadi pihak yang jahat.
Keyla menatap lembaran kertas di atas meja belajarnya. Kertas putih bergaris yang berisi poin-poin kesepakatan pacaran kontrak mereka. Dengan tangan yang gemetar menahan gejolak emosi, Keyla meraih kertas itu.
*Sret! Sret!*
Suara robekan kertas itu terdengar begitu nyaring di dalam kamarnya yang sunyi. Keyla merobeknya menjadi potongan-potongan kecil, sekecil harapan yang sempat tumbuh di sudut hatinya.
Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menata emosinya, Keyla mengambil ponsel. Jemarinya mengetik pesan singkat untuk Devan.
**Keyla:** *Ke kamar gue sekarang. Ada yang mau gue omongin.*
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit sampai terdengar ketukan ringan di pintunya. Keyla memejamkan mata sejenak, memasang topeng paling dingin yang dia miliki, lalu berjalan membuka pintu.
Di hadapannya, Devan berdiri dengan kaos hitam polos dan celana pendek sant**. Rambutnya sedikit acak-akan, menandakan cowok itu mungkin baru saja bersant** di kamarnya sendiri. Di wajah tampannya, langsung terbit senyum jahil yang biasa dia tunjukkan.
"Tumben banget lo nge-chat duluan, Pacar? Mana nyuruh ke kamar lagi. Ada angin apa—"
"Ma**k," potong Keyla cepat. Suaranya datar tanpa ekspresi.
Devan menaikkan sebelah alisnya, merasa ada yang aneh dengan nada bicara Keyla. Namun, dia tetap melangkah ma**k ke dalam kamar bernuansa krem tersebut. Wangi vanila khas Keyla langsung menyambut indra penciumannya.
Begitu Devan berdiri di tengah ruangan, Keyla tidak membuang waktu. Dia berjalan ke meja belajar, mengambil segenggam robekan kertas kontrak, lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja kopi di dekat sofa tempat Devan biasa duduk.
Robekan kertas itu berserakan, beberapa di antaranya jatuh ke lant**.
Devan menatap potongan-potongan kertas itu, lalu beralih menatap wajah Keyla. Senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan di dahi. "Ini... apa, Key?"
"Kertas kontrak kita," jawab Keyla tegas. Dia melipat kedua tangannya di dada, berdiri dengan jarak yang c**up jauh dari Devan, seolah sedang membangun benteng pemisah yang tak kasat mata. "Mulai hari ini, detik ini, sandiwara pacaran kita selesai."
Hening menjalar dalam hitungan detik. Udara di dalam kamar itu mendadak terasa begitu tipis dan dingin.
Devan sempat tertegun, sebelum akhirnya terkekeh hambar. Dia mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku celana, mencoba bersikap sant** meski matanya mulai menatap Keyla dengan tajam. "Lo lagi bercanda, kan? Gak lucu tahu, Key. Kalau lo masih marah soal kejadian kemarin, gue minta maaf. Gue—"
"Gue gak bercanda, Devan," sela Keyla lagi, kali ini dengan penekanan di setiap katanya. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata Devan, berusaha tidak goyah saat melihat binar kebingungan di sana. "Gue bener-bener mau menyudahi semua drama ini. Hubungan bohongan ini... gue udah bosan."
Devan terdiam. Kali ini, tawa hambarnya benar-benar lenyap. Dia melangkah maju satu tapak, membuat Keyla secara refleks mundur setengah langkah. Gerakan mundur Keyla itu seperti belati yang menusuk dada Devan secara perlahan.
"Bosan?" tanya Devan, suaranya kini terdengar lebih berat dan rendah. "Cuma karena lo bosan? Atau karena ada alasan lain?"
"Gak ada alasan lain. Gue cuma ngerasa ini semua udah gak ada gunanya lagi," dusta Keyla. Dadanya terasa sangat sesak hingga dia harus berjuang keras agar suaranya tidak bergetar. "Reza udah gak terlalu ganggu gue lagi, dan gue rasa gue bisa atasi semuanya sendiri. Jadi, peran lo sebagai pacar pura-pura gue udah selesai. Kontraknya hangus."
Devan menatap Keyla lekat-lekat. Matanya yang biasa berkilat jenaka dan penuh kenakalan, kini menyiratkan luka yang sangat mendalam. Ada kilatan rasa kecewa yang luar biasa di sana. Devan tidak bodoh. Dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Keyla. Tapi melihat bagaimana Keyla menatapnya dengan pandangan sedingin es, seolah-olah Devan adalah orang asing yang tidak berarti apa-apa, membuat harga diri Devan yang setinggi langit terusik.
Sebagai cowok yang selalu dikejar-kejar cewek, ditolak secara mentah-mentah dan dicampakkan seperti barang bekas seperti ini adalah pukulan telak bagi ego Devan.
"Jadi... selama ini gue cuma alat buat lo?" tanya Devan pelan, tapi setiap katanya terasa begitu dingin.
Keyla mengepalkan tangannya di balik lipatan dada, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga terasa sakit. Rasa sakit fisik itu dia gunakan untuk menahan air mata yang mendesak ingin keluar. "Ya. Memang dari awal tujuannya kayak gitu, kan? Lo sepakat buat bantu gue, dan gue bayar lo pake traktiran dan bantuan tugas. Sekarang, transaksi kita selesai."
*Transaksi.* Satu kata itu sukses membuat rahang Devan mengeras.
Devan menatap Keyla dengan pandangan yang sulit diartikan. Di dalam hatinya, ada badai yang sedang mengamuk. Dia ingin berteriak, ingin bertanya mengapa Keyla tega bersikap sekejam ini setelah semua kedekatan yang mereka lalui beberapa minggu terakhir. Kebersamaan mereka, perhatian-perhatian kecil yang mereka bagi, bahkan sentuhan-sentuhan iseng yang selalu membuat jantung Devan berdegup tidak karuan—apakah semua itu tidak berarti apa-apa untuk Keyla?
Apakah hanya Devan di sini yang mulai melibatkan perasaan?
Namun, harga diri Devan menolak untuk terlihat lemah di depan cewek itu. Dia menolak untuk memohon atau terlihat menyedihkan. Devan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Perlahan-lahan, ekspresi terluka di wajah tampannya berubah menjadi topeng ketidakpedulian yang sama dinginnya dengan Keyla.
"Oke," ucap Devan singkat. Suaranya terdengar sangat tenang, terlalu tenang hingga terasa mengerikan.
Keyla sedikit terkejut dengan reaksi cepat Devan, namun dia berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya.
"Kalau itu yang lo mau," lanjut Devan. Dia melangkah mendekati meja kopi, menatap sisa-sisa robekan kertas kontrak di sana untuk terakhir kalinya, lalu beralih menatap Keyla. "Gue juga capek harus terus-terusan terlibat sama masalah rumit lo. Bagus deh kalau lo sadar diri. Lagian, dari awal ini emang cuma buang-buang waktu gue."
Kata-kata Devan barusan bagai tamparan keras bagi Keyla. Rasanya perih, sangat perih. Tapi Keyla tahu, ini adalah konsekuensi yang harus dia terima agar Devan membencinya dan menjauh demi keselamatannya sendiri.
"Bagus kalau lo paham," sahut Keyla, suaranya dipaksakan sedatar mungkin. "Lo bisa keluar sekarang."
Devan tidak menjawab lagi. Dia tidak tersenyum, tidak mengeluarkan kalimat jahil seperti biasanya, dan tidak lagi menatap Keyla dengan binar hangat yang selalu membuat Keyla merasa aman. Cowok itu berbalik, melangkah dengan tegap menuju pintu keluar. Setiap langkah kakinya terasa begitu berat, mengetuk lant** kamar yang kini terasa asing bagi mereka berdua.
Sampai di ambang pintu, Devan sempat berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang.
"Mulai hari ini, anggap kita gak pernah saling kenal, Key," ucap Devan dingin, sebelum melangkah keluar sepenuhnya.
*Blam.*
Pintu kamar tertutup dengan rapat. Suara debuman pintu itu terdengar begitu final di telinga Keyla.
Begitu Devan benar-benar pergi, kekuatan di kaki Keyla seolah lenyap seketika. Dia luruh, terduduk di lant** yang dingin di samping meja belajarnya. Air mata yang sejak tadi dia tahan mati-matian akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Keyla menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut, menangis dalam diam agar suaranya tidak terdengar sampai ke kamar sebelah.
Dia telah berhasil mendorong Devan menjauh. Dia telah berhasil menyelamatkan cowok itu dari ancaman Reza. Tapi kenapa rasanya dadanya begitu hancur? Kenapa rasanya dia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga?
Di luar kamar, di koridor apartemen lant** tiga yang sunyi, Devan berdiri diam selama beberapa saat di depan pintu kamar Keyla yang tertutup rapat. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap kosong ke arah pintu kayu di hadapannya.
Suasana di antara kamar nomor 302 dan 303 yang biasanya selalu diwarnai ketukan iseng, candaan konyol, dan sapaan-sapaan manis, kini mendadak berubah menjadi sangat sunyi. Sunyi yang begitu mencekam dan asing.
Devan berbalik, melangkah menuju kamarnya sendiri dengan hati yang dipenuhi kekosongan dan amarah yang tertahan. Begitu ma**k ke kamarnya, dia menutup pintu dengan rapat, menguncinya, dan bersandar di balik pintu tersebut.
Malam itu, sekat dinding tipis yang membatasi kamar mereka terasa jauh lebih tebal dan tinggi dari apa pun. Jarak satu meter di antara pintu kamar mereka kini terasa seperti ribuan mil yang tak akan pernah bisa diseberangi lagi. Sandiwara itu telah benar-benar berakhir, meninggalkan luka yang nyata di hati mereka masing-masing.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!