"...detik ini, hubungan kita selesai. Kontrak kita batal."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Keyla, terdengar dingin dan tanpa ragu, meski di dalam dadanya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan.
Devan membeku. Senyum jahil yang biasanya selalu bertengger di wajah tampannya langsung lenyap tanpa bekas. Matanya menatap bergantian antara serpihan kertas di lant** dan sepasang mata Keyla yang tampak begitu asing malam ini.
"Lo... ngomong apa sih, Key?" Devan tertawa hambar, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa mencekam. Dia melangkah maju, hendak meraih pundak Keyla. "Ini prank, kan? Lo lagi bales dendam gara-gara gue jailin kemarin?"
"Gue nggak lagi bercanda, Devan!" Keyla menepis tangan Devan dengan kasar. Sentuhan yang biasanya membuat hatinya menghangat, kini terasa seperti bara api yang harus dia hindari demi keselamatan cowok itu sendiri. "Gue cape. Gue bosen pura-pura pacaran sama lo. Kontraknya udah gue robek, artinya semuanya selesai. Kita balik jadi tetangga biasa."
"Tapi kenapa tiba-tiba?" Devan menuntut penjelasan, suaranya mulai meninggi, menahan rasa kecewa yang mendalam. "Kemarin kita baik-baik aja, Key. Kenapa sekarang lo kayak gini? Apa karena Reza?"
Mendengar nama mantannya disebut, napas Keyla sempat tercekat. Namun, dia cepat-cepat menguasai diri. Dia harus terlihat kejam. Hanya dengan cara ini Devan akan menjauh dan tetap aman dari ancaman g*** Reza.
"Nggak ada hubungannya sama Reza!" bohong Keyla, menatap Devan dengan tatapan paling sinis yang bisa dia buat. "Gue cuma sadar kalau lo itu ganggu banget. Sikap lo yang sok akrab, tangan lo yang selalu usil pegang-pegang gue... gue risih, Dev. Gue terpaksa bertahan kemarin-kemarin cuma karena butuh tameng. Sekarang gue udah nggak butuh lo lagi. Jadi, silakan keluar dari kamar gue."
Setiap kata yang keluar dari mulut Keyla bagaikan belati yang juga menusuk hatinya sendiri. Dia ingin menangis, ingin memeluk Devan dan meminta maaf, tapi dia tidak boleh lemah.
Devan menatap Keyla lama, mencari kebohongan di mata cewek itu. Namun, Keyla berhasil memasang topeng dinginnya dengan sempurna. Perlahan, rahang Devan mengeras. Rasa kecewa dan terluka terpancar jelas dari matanya yang memerah.
"Oke," ucap Devan pendek, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin. "Kalau itu emang mau lo. Sori udah bikin lo risih selama ini."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Devan berbalik dan melangkah lebar keluar dari kamar Keyla, menutup pintu dengan dentuman yang c**up keras.
Begitu pintu tertutup, pertahanan Keyla runtuh seketika. Dia merosot ke lant**, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis tanpa suara. Dadanya sesak setengah mati. "Maafin gue, Dev... maafin gue," bisiknya lirih di antara isak tangisnya.
***
Beberapa jam berlalu. Malam semakin larut, menyisakan sunyi yang kian mencekam di lorong apartemen lant** empat tersebut. Keyla masih belum bisa memejamkan mata. Dia hanya duduk termenung di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta.
Tiba-tiba, keheningan malam itu pecah oleh suara gedoran kasar di pintu kamarnya.
*Dug! Dug! Dug!*
Keyla tersentak. Jantungnya langsung berdegup kencang karena ketakutan. Siapa yang bertamu sekacau ini di jam satu dini hari?
Dengan langkah gemetar, Keyla berjalan mendekati pintu. Melalui lubang intip, darahnya seakan berhenti mengalir saat melihat siapa yang berdiri di luar.
Reza.
Cowok itu berdiri dengan rambut acak-acakan dan seringai kemenangan yang mengerikan di wajahnya. Keyla mundur satu langkah, berniat mengabaikannya. Namun gedoran di pintu semakin mengg***.
"Keyla! Buka pintunya!" teriak Reza dari luar, suaranya menggema di lorong yang sepi. "Gue tahu lo di dalam! Buka, atau gue dob**k pintu ini!"
Takut mengganggu tetangga lain dan memicu keributan yang lebih besar, Keyla akhirnya memberanikan diri membuka pintu sedikit, dengan rant** pengaman yang masih terpasang.
"Mau apa lagi lo ke sini, Rez? Pergi nggak! Atau gue panggil satpam!" ancam Keyla dengan suara bergetar.
Melihat pintu terbuka, Reza langsung mendorongnya dengan kuat hingga rant** pengaman itu terlepas paksa dengan bunyi *klek* yang nyaring. Reza menerobos ma**k, mencengkeram pergelangan tangan Keyla dengan sangat kasar, lalu menyeretnya keluar ke lorong kamar.
"Lepas, Rez! Sakit!" jerit Keyla, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Reza yang seperti tanggem besi.
"Gue bilang juga apa, kan?" Reza tertawa sinis, menatap Keyla dengan pandangan obsesif yang menjijikkan. "Cowok miskin sebelah kamar lo itu nggak ada apa-apanya. Begitu gue ancam sedikit, lo langsung depak dia. Sekarang lo nggak punya siapa-siapa lagi, Key. Lo harus balik sama gue!"
"Gue nggak mau! Sampai mati pun gue nggak akan pernah mau balik sama cowok kasar kayak lo!" teriak Keyla histeris, air matanya mulai menetes. Dia memukul-mukul dada Reza, berusaha melepaskan diri.
"Kurang ajar ya lo!" bentak Reza, emosinya terpancing. Dia mengangkat tangannya, bersiap untuk melayangkan tamparan ke wajah Keyla yang sudah ketakutan setengah mati. Keyla memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menerima rasa sakit.
Namun, tamparan itu tidak pernah mendarat.
*B**K!*
Pintu kamar sebelah terbuka dengan sangat keras hingga menghantam dinding luar. Sebelum Reza sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah pukulan mentah mendarat dengan telak di rahang kirinya.
*Bugh!*
Reza terhuyung ke belakang, melepaskan cengkeramannya pada Keyla, lalu tersungkur di lant** lorong.
Keyla membuka mata dan mendapati Devan sudah berdiri di depannya. Napas cowok itu memburu, matanya merah padam menahan amarah yang luar biasa. Kaos hitam yang dikenakannya tampak agak kusut, mencerminkan bahwa dia juga belum tidur sejak tadi.
"Devan..." bisik Keyla dengan suara bergetar.
Reza mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya, lalu menatap Devan dengan seringai meremehkan. "Oh, pahlawan kesiangan datang. Lo nggak denger kata cewek ini tadi? Dia udah nggak butuh lo, ba*****!"
Tanpa banyak bicara, Devan langsung menerjang Reza. Dia menarik kerah jaket Reza, membantingnya ke dinding lorong, lalu melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah dan perut cowok itu.
*Bugh! Bugh! Bugh!*
"Jangan. Pernah. Berani. Sentuh. Cewek. Gue!" desis Devan di sela-sela setiap pukulannya. Suaranya terdengar sangat mengerikan, seperti monster yang sedang mengamuk.
Reza mencoba melawan, tapi kemarahan Devan malam ini berada di level yang berbeda. Devan mengunci gerakan Reza, lalu menghantamkan lututnya ke perut Reza hingga cowok itu terkapar tak berdaya di lant**, terbatuk-batuk sambil memegangi perutnya yang kesakitan.
"Devan, udah! Stop, Dev! Nanti dia mati!" teriak Keyla histeris, mencoba menarik lengan Devan agar berhenti memukuli Reza yang sudah babak belur.
Saat Devan hendak melayangkan satu pukulan terakhir, tiga orang satpam apartemen berlari kencang dari arah lift setelah mendengar keributan hebat tersebut.
"Heii! Berhenti! Ada apa ini?!" teriak kepala satpam, langsung melerai dan memegangi tubuh Devan yang masih ingin menghajar Reza. Dua satpam lainnya segera mengamankan Reza yang sudah lemas di lant**.
"Pak, orang ini penyusup! Dia ma**k tanpa izin dan berbuat kasar sama penghuni sini!" tunjuk Devan dengan napas tersengal-sengal, jarinya menunjuk tepat ke wajah Reza.
Kepala satpam menatap Reza yang wajahnya sudah penuh lebam dan darah. "Kami sudah sering menerima laporan tentang orang ini yang sering berkeliaran di area parkir tanpa izin. Bawa dia ke pos! Kita serahkan ke polisi malam ini juga, biar kapok!" perintah kepala satpam kepada anak buahnya.
Reza diseret pergi oleh para satpam. Sebelum ma**k ke dalam lift, dia sempat menatap Devan dan Keyla dengan pandangan penuh dendam, namun dia sudah terlalu lemas untuk berteriak.
Setelah lift tertutup, lorong apartemen itu kembali ke dalam kesunyian yang mencekam. Hanya terdengar suara napas Devan yang memburu dan detak jantung mereka yang saling berpacu.
Keyla berdiri mematung. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa takut, bersalah, dan sedih bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya, membuatnya merasa sangat sesak.
"Kenapa..." suara Keyla terdengar serak, hampir tenggelam oleh isak tangisnya.
Devan berbalik, menatap Keyla dengan pandangan yang perlahan melunak. Dia melangkah mendekat. "Key..."
"Kenapa lo harus ikut campur, Devan?!" teriak Keyla tiba-tiba, membuat Devan menghentikan langkahnya. Keyla menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis histeris. "Kenapa lo nggak biarin aja gue? Harusnya lo tetep di kamar lo! Kenapa lo harus selalu nolongin gue?!"
"Keyla, tenangβ"
"Gue nggak bisa tenang!" potong Keyla di sela tangisnya yang semakin menjadi-jadi. "Lo tahu nggak? Reza itu g***! Dia bisa lakuin apa aja buat hancurin lo! Gue sengaja robek kontrak itu, gue sengaja jahat sama lo, supaya lo menjauh dari gue! Supaya lo aman! Tapi kenapa lo malah kayak gini? Gue cuma bawa sial buat lo, Dev... Gue cuma bikin hidup lo susah..."
Keyla menggelengkan kepalanya dengan frustrasi, melangkah mundur perlahan. "Pergi, Dev. Tolong pergi dari gue. Jauhin gue. Hubungan kita cuma sebatas kertas kontrak si**** yang udah gue robek itu. Kita nggak punya hubungan apa-apa lagi sekarang. Jadi, tolong pergi..."
Namun, bukannya pergi seperti yang diminta Keyla, Devan justru melangkah lebar memangkas jarak di antara mereka. Sebelum Keyla sempat menghindar, Devan meraih kedua pergelangan tangan Keyla, lalu menarik tubuh cewek itu ke dalam pelukannya.
Sangat erat. Seolah-olah jika dia melepaskannya sedikit saja, Keyla akan lenyap dari dunia ini.
"Lepas, Devan! Lepasin gue!" Keyla memberontak. Dia memukul-mukul dada bidang Devan dengan tangan terkepal, berusaha mendorong cowok itu menjauh. "Gue bilang pergi! Lo budeg ya?! Lepasβ"
"Enggak. Nggak akan pernah gue lepasin," bisik Devan di atas kepala Keyla. Dia justru semakin mempererat dekapannya, melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling tubuh mungil Keyla, membiarkan cewek itu meluapkan seluruh emosinya di dadanya.
Satu tangan Devan bergerak naik, mengusap bagian belakang kepala Keyla dengan lembut, mencoba menyalurkan rasa hangat dan aman yang sangat dibutuhkan cewek itu saat ini.
Lambat laun, pukulan lemah Keyla di dada Devan mereda. Tenaganya habis terkuras oleh rasa lelah dan emosi yang meluap-luap. Pada akhirnya, Keyla hanya bisa mencengkeram erat kaos hitam Devan, menyembunyikan wajahnya di dada cowok itu, dan menangis sejadi-jadinya di sana. Bahunya naik turun karena isak tangis yang begitu pilu.
Devan memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma vanila dari rambut Keyla yang selalu berhasil menenangkannya. Lorong kamar malam itu terasa begitu dingin, namun pelukan mereka terasa sangat hangat.
Setelah beberapa menit berlalu dan tangis Keyla mulai mereda menjadi sesenggukan kecil, Devan perlahan melonggarkan pelukannya. Dia memegang kedua bahu Keyla, memaksa cewek itu untuk menatapnya.
Dengan ibu jarinya yang sedikit kasar, Devan mengusap sisa-sisa air mata di pipi Keyla yang kemerahan. Tatapan matanya yang biasanya penuh kejahilan, kini berganti menjadi tatapan yang begitu dalam, tulus, dan penuh dengan rasa khawatir.
"Dengerin gue, Keyla," ucap Devan dengan suara yang serak, terdengar begitu emosional.
Keyla menatap mata Devan yang berkaca-kaca, tenggelam dalam keseriusan yang belum pernah dia lihat sebelumnya dari cowok di hadapannya ini.
"Lo pikir gue sepeduli ini cuma karena kertas sampah itu?" tanya Devan lirih, senyum tipis yang sarat akan kepedihan terukir di bibirnya. "Lo pikir gue senekat ini, sampai mau babak belur ngehajar mantan lo yang g*** itu, cuma karena kontrak pacaran bohongan?"
Keyla terdiam, tenggorokannya terasa tersumbat, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Devan menarik napas panjang, menatap langsung ke dalam manik mata Keyla, seolah ingin menyalurkan seluruh isi hatinya yang selama ini dia sembunyikan di balik topeng keusilannya.
"Semua genggaman tangan yang sering gue lakuin tiba-tiba... semua pelukan yang selalu bikin lo kesel... semua keusilan tangan nakal gue selama ini... itu semua murni karena gue mencint** lo, Key. Bukan karena kontrak si**** itu."
Deg. Jantung Keyla seakan berhenti berdetak mendengar pengakuan jujur itu.
"Gue sayang sama lo, beneran sayang," lanjut Devan lagi, suaranya bergetar menahan gejolak emosi di dadanya. Dia menangkup kedua pipi Keyla dengan lembut. "Gue nggak peduli seberapa g***nya mantan lo, gue nggak peduli seberapa susahnya hidup lo. Gue cuma peduli sama lo, Key. Jadi, tolong... jangan pernah usir gue lagi. Jangan pernah suruh gue pergi dari hidup lo."
Keyla menatap Devan dengan tatapan tidak percaya. Air matanya kembali mengalir, namun kali ini bukan karena rasa takut atau bersalah, melainkan karena rasa lega dan haru yang membuncah di dalam dadanya. Benteng pertahanan dingin yang dia bangun susah payah sejak sore tadi, kini runtuh sepenuhnya di hadapan ketulusan seorang Devan.
Di lorong apartemen yang sunyi itu, di bawah temaram lampu malam, Keyla akhirnya tahu bahwa dia tidak lagi sendirian menghadapi badai di hidupnya. Karena di sebelahnya, selalu ada Devan yang siap mendekapnya erat-erat.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!