Satu bulan. Waktu ternyata bisa berjalan secepat itu, sekaligus menyembuhkan luka dengan cara yang paling tidak terduga.
Keyla berdiri di depan jendela kamarnya, menghirup dalam-dalam udara pagi yang terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Tidak ada lagi sesak di dada. Tidak ada lagi rasa waswas yang selalu menghantuinya setiap kali dia melangkah keluar dari gerbang kampus.
Semua teror, ketakutan, dan bayang-bayang masa lalu yang menyeramkan itu akhirnya benar-benar lenyap.
Reza, mantan pacarnya yang g*** dan manipulatif itu, kini sudah tidak bisa lagi mengusik hidupnya. Setelah malam dramatis di mana Keyla mencoba mengorbankan perasaannya demi melindungi Devan, Devan ternyata tidak sebodoh itu untuk langsung percaya. Cowok itu diam-diam bergerak. Dengan bantuan beberapa teman jurusannya dan bukti-bukti teror yang berhasil dikumpulkan, Devan melaporkan Reza ke pihak kampus dan kepolisian atas tindakan pengancaman serta pelecehan.
Hasilnya? Reza resmi dikeluarkan secara tidak hormat dari kampus dan kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik sel tahanan.
Keyla mengembuskan napas lega. Hidupnya kini benar-benar tenang. Dan yang paling membuat hatinya membuncah oleh kebahagiaan adalah kenyataan bahwa cowok di sebelah kamarnyaβcowok usil yang dulu hanya menjadi "pacar sewaan" dalam selembar kertas kontrakβkini benar-benar menjadi miliknya.
Hubungan mereka bukan lagi sandiwara. Surat kontrak yang sempat Keyla robek malam itu kini sudah digantikan oleh komitmen nyata yang jauh lebih kuat. Devan, cowok yang dulu selalu antipati dengan kata komitmen karena trauma masa lalunya yang takut ditinggalkan, akhirnya berani melompat mengalahkan ketakutannya demi Keyla.
*Tok! Tok! Tok!*
"Key? Udah bangun belum? Sayang?"
Suara berat yang sangat familiar itu terdengar dari arah balkon. Keyla menoleh, tersenyum lebar mendengar pangg***n 'Sayang' yang kini terdengar begitu alami keluar dari bibir cowok itu.
Keyla melangkah menuju pintu kaca balkonnya dan menggesernya terbuka. Di balik sekat pembatas balkon yang terbuat dari fiber tebal dan kayu, dia bisa melihat kepala Devan yang menyembul dari ujung pembatas. Cowok itu mengenakan kaus oblong putih polos dengan celana pendek sant**. Rambutnya masih sedikit berantakan khas orang baru bangun tidur, tapi ketampanannya sama sekali tidak berkurang. Malah, sialnya, kelihatan berkali-kali lipat lebih s****.
"Pagi, pacar," sapa Devan dengan cengiran jahil andalannya. Matanya menyipit manis, menatap Keyla dengan binar penuh cinta yang tidak lagi dia sembunyikan.
"Pagi," balas Keyla, melipat kedua tangannya di atas pagar balkon. "Rapi amat jam segini udah bangun. Biasanya jam segini lo masih molor sambil meluk guling."
"Ya jelas dong. Hari ini kan hari bersejarah. Gue harus bangun pagi buat menyambut lembaran baru dalam hidup kita," ujar Devan dengan nada dramatis yang dibuat-buat, membuat Keyla terkekeh pelan.
"Hari bersejarah apaan sih? Jangan lebay deh, Dev."
"Gue nggak lebay, Key. Bentar lagi lo bakal tahu." Devan mengedipkan sebelah matanya misterius. "Lo denger suara gaduh nggak dari kamar gue?"
Keyla mengernyitkan dahi. Memang, sejak beberapa menit lalu, dia mendengar suara langkah kaki beberapa orang dan suara benturan benda keras dari arah kamar Devan. "Iya, denger. Lo lagi ngapain sih? Renovasi kamar? Kok pagi-pagi gini udah berisik banget?"
"Bukan renovasi kamar gue doang, tapi kamar kita," sahut Devan sant**.
"Hah? Maksudnya gimanaβ"
Belum sempat Keyla menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari arah sekat pembatas balkon mereka. *B**k! B**k!*
Keyla tersentak kaget dan refleks mundur satu langkah. "Devan! Itu suara apa?! Kok sekat pembatasnya kayak mau roboh?!"
Devan malah tertawa puas melihat ekspresi kaget Keyla. Dia melambaikan tangannya ke arah dalam kamarnya. "Pak! Pelan-pelan ya jebolnya, jangan sampai pacar saya di sebelah jantungan!" teriak Devan kepada orang di dalam kamarnya.
"Jebol?!" Mata Keyla membulat sempurna. Dia menatap Devan dengan tatapan tidak percaya. "Devan, jangan bilang lo..."
"Yup," potong Devan dengan senyum lebar tanpa dosa. "Gue lagi menyewa jasa tukang buat menjebol sekat pembatas balkon kamar kita. Mulai hari ini, nggak akan ada lagi pembatas di antara kita."
"Lo g*** ya?!" pekik Keyla, antara panik dan heran. "Itu kan fasilitas apartemen, Devan! Nanti kalau kita didenda atau diusir gimana? Emang boleh main jebol-jebol aja?!"
Devan berjalan mendekati pagar balkonnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Keyla. "Tenang, Sayangku. Pacar lo yang ganteng dan pintar ini udah mengurus semuanya. Gue udah minta izin ke pengelola gedung, udah bayar biaya kompensasi juga buat renovasi ini. Semuanya legal dan aman terkendali. Jadi, lo nggak usah khawatir bakal diusir."
Keyla masih syok, tapi perlahan-lahan rasa hangat menjalar di dadanya. Dia menatap sekat pembatas yang kini mulai digergaji dan dipalu oleh dua orang pekerja dari sisi kamar Devan. "Tapi... kenapa harus dijebol, Dev?"
Devan mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut. Dia menatap Keyla dalam-dalam. "Karena gue capek, Key. Gue capek tiap kali mau meluk lo harus manjat balkon dulu atau muter lewat pintu depan lorong. Gue capek harus ngerasa ada jarak di antara kita, bahkan cuma sekat tipis kayak gini."
Cowok itu mengulurkan tangannya melewati celah sekat yang mulai renggang, meraih tangan Keyla dan menggenggamnya erat. "Sekat ini yang dulu membatasi kita waktu kita masih pura-pura. Sekarang, kita udah beneran. Gue mau kamar kita menyatu. Area hidup kita menyatu. Biar nggak ada lagi ruang buat ragu, dan nggak ada lagi jarak yang bisa memisahkan kita."
Mendengar kalimat tulus yang keluar dari bibir Devan, mata Keyla mendadak terasa panas karena haru. Dia tidak pernah menyangka, Devan yang dulu begitu tertutup dan takut akan hubungan, kini bisa bertindak sejauh dan semanis ini untuk menunjukkan keseriusannya.
*Krak! B**k!*
Dengan satu hentakan kuat dari para pekerja, sekat fiber tebal yang selama ini membatasi kedua balkon itu akhirnya runtuh sepenuhnya. Debu-debu halus sempat beterbangan sesaat sebelum akhirnya ditiup angin pagi.
Kini, pembatas itu benar-benar hilang.
Balkon kamar Keyla dan balkon kamar Devan kini telah menyatu sempurna menjadi satu area yang sangat luas. Pemandangan langit kota di depan mereka kini terlihat membentang tanpa ada yang menghalangi.
"Nah, lihat kan? Sekarang jauh lebih luas dan kelihatan lega banget," ucap Devan dengan nada puas.
Tanpa ragu, Devan melangkah melewati batas lant** yang kini sudah menyatu. Dia berjalan ma**k ke area balkon milik Keyla, lalu dengan gerakan cepat menarik tubuh cewek itu ke dalam pelukannya.
Keyla m****ik pelan saat tubuhnya menubruk dada bidang Devan. Aroma maskulin bercampur wangi sabun mandi khas Devan langsung menguar, memenuhi indra penciumannya dan memberikan rasa nyaman yang luar biasa.
"Tuh kan, kalau kayak gini kan enak. Nggak usah repot-repot manjat lagi," bisik Devan di telinga Keyla, sementara tangannya mulai melingkar posesif di pinggang ramping cewek itu.
Keyla tertawa kecil, melingkarkan kedua tangannya di leher Devan. "Dasar modus. Bilang aja lo sengaja biar bisa gampang nyelonong ke kamar gue."
"Ya itu juga salah satu tujuan utamanya sih," sahut Devan jujur tanpa malu sedikit pun. Dia menunduk, menatap wajah Keyla yang kini mendongak menatapnya. "Tapi serius, Key. Gue bahagia banget hari ini. Akhirnya gue bisa meluk lo kayak gini tanpa ada beban apa-apa lagi."
"Gue juga, Dev," gumam Keyla tulus. Dia menyandarkan kepalanya di dada hangat Devan, mendengarkan detak jantung cowok itu yang berdegup konstan dan menenangkan. "Makasih ya, udah berjuang sejauh ini buat kita. Makasih udah nggak menyerah waktu gue dorong lo pergi kemarin."
Devan mengecup puncak kepala Keyla dengan lembut, lalu mengusap rambut hitam panjang cewek itu dengan penuh kasih sayang. "Gue yang harusnya makasih, Key. Makasih karena lo udah menyadarkan gue kalau komitmen itu nggak semenakutkan yang gue kira. Ternyata, berkomitmen sama orang yang tepat itu rasanya sebahagia ini."
Mereka terdiam selama beberapa saat, menikmati keheningan pagi yang terasa begitu damai di balkon mereka yang baru. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka, membawa kehangatan yang perlahan mengusir sisa dinginnya malam.
Namun, bukan Devan namanya kalau bisa bersikap romantis terlalu lama tanpa bumbu kejailan.
Perlahan, Keyla merasakan tangan Devan yang tadinya diam di pinggangnya mulai bergerak nakal. Jari-jari cowok itu mulai mengusap pinggangnya lembut, lalu perlahan naik ke punggungnya, memberikan usapan-usapan manja yang membuat bulu kuduk Keyla meremang. Tidak c**up sampai di situ, jari Devan mulai menggelitik pinggang samping Keyla yang sensitif.
"Ih, Devan! Geli tahu!" seru Keyla sambil mencoba menggeliat melepaskan diri.
"Hahaha, lagian lo gemesin banget sih pagi ini. Wangi lagi," goda Devan, malah semakin mempererat dekapannya dan menyurukkan wajahnya di perpotongan leher Keyla, mengembuskan napas hangat yang membuat Keyla semakin kegelian.
"Devan, ih! Ada tukangnya di dalem, malu!" bisik Keyla dengan pipi yang mulai merona merah, mencoba mendorong dada Devan.
"Tenang, mereka lagi sibuk beresin puing-puing di dalem kamar gue, nggak bakal ngeliat ke sini," balas Devan dengan seringai jahilnya. Tangannya kini mencubit gemas pipi Keyla yang memerah. "Lagian, sekarang status gue udah di-upgrade ya. Bukan 'pacar sebelah kamar' lagi."
Keyla menaikkan sebelah alisnya. "Terus apa dong?"
"Pacar satu balkon," jawab Devan bangga. "Dan karena balkon kita udah menyatu, otomatis hak milik gue atas lo juga bertambah. Mulai sekarang, lo nggak boleh ngunci pintu balkon lo. Biar kalau gue kangen tengah malem, gue tinggal melipir ke kamar lo."
"Enak aja! Tetep gue kunci ya! Bahaya punya pacar yang tangannya nakal kayak lo," canda Keyla, menjulurkan lidahnya mengejek.
"Oh, berani menantang ya?" Devan menyipitkan matanya, pura-pura galak. Detik berikutnya, dia langsung menyerang Keyla dengan gelitikan bertubi-tubi di pinggangnya.
"Aaaaa! Devan, ampun! Hahaha! Udah, Dev, ampun!" Keyla tertawa terpingkal-pingkal, mencoba menghindar hingga mereka berdua hampir terjatuh ke atas kursi sant** yang ada di balkon.
Devan akhirnya berhenti menggelitik, tapi dia menahan tubuh Keyla di bawah kungkungannya di atas kursi panjang tersebut. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti. Tawa Keyla perlahan mereda, digantikan oleh detak jantung yang kembali berpacu cepat saat menatap mata hitam pekat Devan yang menatapnya dengan begitu penuh pemujaan.
Tangan Devan bergerak perlahan, merapikan anak rambut Keyla yang berantakan karena tawa tadi, lalu menangkup pipi cewek itu dengan lembut. Ibu jarinya mengusap bibir Keyla yang merekah merah.
"Gue sayang banget sama lo, Keyla. Sungguhan. Nggak pake syarat, nggak pake kontrak," bisik Devan dengan suara yang begitu dalam dan tulus, membuat seluruh pertahanan hati Keyla meleleh seketika.
Keyla tersenyum manis, menatap cowok di hadapannya dengan segenap rasa cinta yang dia miliki. "Gue juga sayang banget sama lo, Devan. Lebih dari yang lo tahu."
Perlahan tapi pasti, Devan mendekatkan wajahnya. Keyla memejamkan matanya secara sukarela saat merasakan embusan napas hangat Devan yang semakin mendekat. Dan di pagi yang cerah itu, di atas balkon baru mereka yang kini luas tanpa pembatas, Devan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lembut, hangat, dan penuh dengan janji masa depan yang indah.
Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada mereka berdua, yang kini telah menyatu sepenuhnya tanpa ada lagi sekat yang membatasi.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!