Satu minggu telah berlalu sejak malam pertama Keyla yang kacau di apartemen barunya. Ternyata, tetangga sebelahnyaβsi pembuat onar musik jedag-jedug malam ituβbernama Devan. Cowok jangkung dengan rambut acak-acakan yang selalu terlihat seperti baru bangun tidur, tapi anehnya tetap kelihatan sangat tampan.
Dan dalam waktu singkat, Devan telah menjelma menjadi gangguan paling konsisten dalam hidup Keyla.
*Tok! Tok! Tok!*
Keyla yang sedang fokus mengetik tugas kuliah di laptopnya menghela napas panjang. Tanpa melihat ke arah pintu pun, dia sudah tahu siapa yang berdiri di sana.
Dengan malas, Keyla bangkit dari kursi kerjanya dan melangkah menuju pintu. Begitu daun pintu dibuka, wajah menyebalkan Devan langsung menyambutnya. Cowok itu menyengir lebar, mengenakan kaus oblong hitam longgar dan celana pendek abu-abu. Tangannya memegang sebuah mangkuk kecil yang kosong.
"Apa lagi, Dev?" tanya Keyla, langsung melipat kedua tangannya di dada. Nada suaranya dibuat sebal, meski dalam hati ada sedikit letupan aneh yang tidak bisa dia jelaskan.
"Minta garem dong, Key. Gue mau bikin telur ceplok tapi garem di dapur gue abis bis bis," ujar Devan dengan nada sok melas yang dibuat-buat.
"Kemarin lo pinjem kecap manis. Dua hari lalu lo numpang Wi-Fi karena kuota lo katanya sekarat. Lo ini sebenarnya mahasiswa apa gembel sih?" omel Keyla, walau kakinya tetap melangkah ma**k ke dalam untuk mengambilkan garam di dapur kecilnya.
Devan tanpa permisi langsung mengekor ma**k. Dia bersandar di pembatas dapur minimalis milik Keyla, memperhatikan punggung cewek itu yang sedang sibuk mengambil stoples bumbu.
"Gembel ganteng gini mana ada yang nolak. Lagian, Wi-Fi kamar lo emang paling kenceng se-koridor ini. Bikin betah," sahut Devan sant**, matanya menyapu sekeliling kamar Keyla yang rapi dan harum aroma lavender. "Kamar lo juga wangi banget. Beda sama kamar gue yang baunya kayak kaus kaki basah."
"Makanya dicuci, jorok!" Keyla berbalik dan menyodorkan stoples garam kecil ke arah Devan. "Nih. Awas ya kalau gak dibalikin lagi."
Bukannya langsung menerima stoples itu, Devan justru sengaja mengulurkan tangannya lambat-lambat. Jari-jarinya yang panjang dan hangat sengaja menyentuh punggung tangan Keyla. Ibu jarinya mengusap kulit punggung tangan Keyla dengan gerakan memutar yang sangat lembut.
*Deg.*
Jantung Keyla langsung berdegup kencang seperti habis lari maraton. Efek sentuhan Devan selalu berhasil membuat seluruh tubuhnya meremang.
"Kok tangan lo dingin banget? Gugup ya deket-deket gue?" bisik Devan. Cowok itu memajukan wajahnya, mengikis jarak di antara mereka sampai Keyla bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur sabun mandi yang segar dari tubuh Devan.
Keyla buru-buru menarik tangannya, hampir saja menjatuhkan stoples garam tersebut. Wajahnya langsung terasa panas membara.
"Ng-ngaco! Siapa juga yang gugup! Udah sana keluar, gue mau lanjut ngerjain tugas!" usir Keyla panik, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.
Devan terkekeh pelan. Dia sangat suka melihat reaksi Keyla yang gampang sekali salah tingkah. "Iya, iya, galak banget sih tetangga sebelah. Makasih ya garemnya, Sayang."
"Gak usah panggil sayang-sayang!" teriak Keyla kesal, tapi Devan hanya tertawa lebar sambil melangkah keluar dari kamarnya dengan sant**.
Setelah pintu tertutup, Keyla menyandarkan punggungnya ke pintu kayu tersebut. Dia memegang dadanya yang masih berdetak tidak keruan. Si****. Devan benar-benar berbahaya untuk kesehatan jantungnya. Keusilan cowok itu, tatapan matanya yang intens, dan sentuhan-sentuhan kecil yang sengaja dilakukannya belakangan ini mulai membuat pertahanan diri Keyla goyah.
Namun, momen manis yang mendebarkan itu tidak bertahan lama.
*Bzzz... Bzzz... Bzzz...*
Ponsel Keyla yang tergeletak di atas meja belajar bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pangg***n ma**k.
Senyum tipis yang sempat terukir di bibir Keyla langsung lenyap seketika begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
*Reza.*
Napas Keyla mendadak tercekat. Rasa takut yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Dengan tangan gemetar, Keyla menekan tombol merah untuk menolak pangg***n tersebut. Dia meletakkan kembali ponselnya dengan kasar, berharap orang di seberang sana akan menyerah.
Tapi harapannya sia-sia. Detik berikutnya, ponsel itu kembali bergetar. Dan kembali bergetar lagi setelah Keyla menolaknya untuk kedua kali.
Tidak lama kemudian, rentetan notifikasi pesan WhatsApp ma**k bertubi-tubi.
**Reza:** *Key, kenapa pangg***n aku ditolak?*
**Reza:** *Kamu di mana sekarang?*
**Reza:** *Jangan pikir setelah kamu pindah dari rumah orang tua kamu, aku gak bisa nemuin kamu ya.*
**Reza:** *Aku tahu kamu sengaja ngehindarin aku. Angkat teleponnya sekarang, Keyla! Jangan bikin aku marah.*
Keyla membaca pesan-pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Seluruh badannya gemetar hebat. Bayangan masa lalu yang kelam kembali berputar di kepalanya bagaikan film horor.
Reza adalah mantan pacarnya yang dikencani Keyla selama hampir satu tahun di awal masa kuliah. Pada awalnya, Reza adalah sosok yang sangat manis dan perhatian. Namun lambat laun, sifat aslinya mulai keluar. Reza berubah menjadi cowok yang sangat posesif, cemburuan, dan kasar. Dia melarang Keyla berteman dengan lawan jenis, memeriksa ponsel Keyla setiap hari, bahkan tidak segan-segan mencengkeram pergelangan tangan Keyla hingga memar jika permintaannya tidak dituruti.
Keputusan Keyla untuk menyewa apartemen ini sebenarnya bukan hanya untuk mandiri dari orang tuanya, melainkan juga untuk melarikan diri dari teror Reza setelah Keyla dengan nekat memutuskan hubungan mereka sebulan yang lalu. Tapi ternyata, Reza tidak semudah itu melepaskannya.
*Bzzz... Bzzz...*
Ponsel itu bergetar lagi. Kali ini pangg***n video ma**k. Karena merasa tidak tahan dan ingin mengakhiri teror ini, dengan sisa-sisa keberanian yang dia miliki, Keyla akhirnya menggeser tombol hijau.
Begitu pangg***n terhubung, wajah Reza langsung memenuhi layar. Wajahnya yang dulu terlihat tampan kini tampak begitu menyeramkan di mata Keyla.
"Akhirnya kamu angkat juga," suara Reza terdengar dingin dan tajam dari seberang telepon. "Bagus ya kamu sekarang, berani ngeblokir nomor aku, pindah tempat tinggal tanpa bilang-bilang. Kamu pikir kamu bisa lepas dari aku, hah?"
"Reza, tolong..." suara Keyla bergetar, air matanya mulai menetes. "Kita udah putus. Aku mohon, stop hubungi aku lagi. Tolong biarkan aku tenang."
"Putus? Siapa yang setuju kita putus?" Reza tertawa sinis, suara tawanya terdengar sangat mengerikan. "Gak ada kata putus sebelum aku yang bilang, Keyla. Kamu itu punya aku. Kamu milik aku!"
"Kamu g***, Rez! Kamu kasar! Aku gak mau hidup ketakutan terus karena kamu!" teriak Keyla, mencoba meluapkan seluruh emosinya yang selama ini dia pendam sendiri.
Sorot mata Reza langsung berubah menjadi sangat gelap dan penuh amarah. "Oh, sekarang kamu udah berani teriak-teriak sama aku? Bagus. Dengerin aku baik-baik, Keyla. Aku tahu jadwal kuliah kamu besok. Aku tahu besok kamu ada kelas pagi."
Jantung Keyla rasanya seperti berhenti berdetak mendengarnya. "Kamu... mau apa?"
"Aku bakal dateng ke kampus kamu besok pagi. Aku bakal jemput kamu langsung di depan gedung fakultas kamu. Kalau kamu gak mau nemuin aku dan balikan sama aku baik-baik, aku gak akan segan-segan bikin keributan di sana. Biar semua dosen dan temen-temen kamu tahu kelakuan murah kamu yang hobi lari dari pacar sendiri. Paham?"
"Reza, jangan! Aku mohon jangan ke kampus!" tangis Keyla pecah. Dia benar-benar ketakutan. Kuliah adalah satu-satunya tempat di mana dia merasa aman, dan sekarang Reza mengancam akan menghancurkan satu-satunya tempat perlindungannya itu.
"Makanya jadi cewek jangan sok keras kepala! Besok pagi aku tunggu di parkiran fakultas. Jangan coba-coba bolos atau kabur kalau gak mau dapet konsekuensinya!"
*Pip.*
Sambungan telepon diputuskan secara sepihak oleh Reza.
Keyla langsung menjatuhkan ponselnya ke atas ka**r. Dia merosot duduk di lant** dingin, melipat lututnya ke dada, lalu menenggelamkan wajahnya di sana. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Seluruh tubuhnya berguncang hebat karena rasa takut dan panik yang teramat sangat. Pikirannya buntu. Dia tidak tahu harus berbuat apa besok. Dia terlalu takut untuk menghadapi Reza, tapi dia juga tidak bisa menghindari kuliah karena besok ada ujian tengah semester yang sangat penting.
Di tengah isak tangisnya yang memilukan, terdengar suara ketukan pintu yang sangat pelan dari luar.
*Tok... Tok...*
"Keyla? Ini gue, Devan. Garem lo udah..."
Pintu kamar Keyla memang tidak terkunci rapat karena tadi dia lupa memutar gerendelnya akibat terlalu panik. Pintu itu sedikit terbuka, membiarkan suara tangisan Keyla terdengar sampai ke koridor.
Devan yang awalnya berniat mengembalikan stoples garam langsung terdiam. Dia mendorong pintu kamar Keyla perlahan dan melangkah ma**k. Begitu melihat sosok Keyla yang sedang duduk meringkuk di lant** sambil menangis sesenggukan, raut wajah sant** dan jahil Devan langsung lenyap sepenuhnya.
Devan meletakkan stoples garam di atas meja, lalu dengan cepat menghampiri Keyla. Dia berlutut di depan cewek itu.
"Keyla? Hei, lo kenapa?" tanya Devan, suaranya terdengar sangat panik dan penuh kekhawatiran yang tulus. Dia belum pernah melihat Keyla sehancur ini sebelumnya.
Keyla mendongak dengan wajah yang sudah basah oleh air mata. Matanya yang sembap dan merah menatap Devan dengan tatapan kosong penuh ketakutan.
"D-Devan..." bisik Keyla parau.
Tanpa berpikir panjang, Devan langsung meraih pundak Keyla dan menarik cewek itu ke dalam pelukannya. Dia mendekap tubuh mungil Keyla yang masih gemetar dengan sangat erat, seolah-olah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk melindunginya.
"Sstt... tenang, Key. Gue di sini. Lo aman," bisik Devan lembut, tangannya mengusap-usap rambut panjang Keyla dengan penuh kasih sayang.
Untuk pertama kalinya, di dalam pelukan cowok menyebalkan dari kamar sebelah itu, Keyla merasa ketakutannya sedikit mereda. Namun, bayangan tentang hari esok masih terus membayangi pikirannya bagaikan monster yang siap menerkam kapan saja.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!