Tangan Nakal Pacar Sebelah Kamar

Bab 3: Pacar Dadakan di Lobi Apartemen

Pengaturan Membaca

Hari ini benar-benar bukan hari keberuntungan Keyla. Setelah dibuat senam jantung oleh kelakuan Devan di kamarnya tadi, kini Keyla harus berurusan dengan masalah lain yang tidak kalah menguras emosi.

Niat awalnya hanya ingin turun ke minimarket di lobi apartemen untuk membeli es kopi dan menenangkan pikirannya yang mendadak kacau. Namun, begitu kakinya melangkah keluar dari area lift dan baru saja melewati meja resepsionis, sebuah cekalan kuat di pergelangan tangannya langsung menghentikan langkahnya dengan sentakan kasar.

"Key! Akhirnya kamu keluar juga!"

Keyla tersentak kaget. Tubuhnya menegang begitu mengenali suara familier yang sangat ingin ia hindari itu. Saat dia menoleh, dugaannya benar. Reza, mantan pacarnya yang super posesif dan toksik, berdiri di sana dengan napas terengah-engah dan tatapan mata yang liar.

"Reza?! Kamu ngapain di sini?!" pekik Keyla, langsung berusaha menarik tangannya. Namun, cengkeraman Reza justru semakin mengencang, membuat kulit pergelangan tangan Keyla yang putih mulai memerah.

"Aku nungguin kamu dari tadi, Key! Kamu blokir nomor aku, kamu pindah kosan tanpa bilang-bilang, dan sekarang kamu malah tinggal di apartemen mewah kayak gini? Dapat uang dari mana kamu, hah?!" tuduh Reza dengan nada suara yang mulai meninggi, tidak peduli dengan beberapa orang di lobi yang mulai melirik ke arah mereka.

"Bukan urusan kamu! Lepasin, Za! Sakit!" bentak Keyla, mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga. Matanya mulai berkaca-kaca karena perpaduan rasa sakit di pergelangan tangannya dan rasa malu karena menjadi pusat perhatian.

"Enggak akan! Kita harus bicara, Key. Kamu harus ikut aku sekarang!" Reza menarik paksa tubuh Keyla menuju pintu keluar lobi.

Keyla panik setengah mati. Kakinya menahan sekuat mungkin di atas lant** marmer yang licin. "Reza, lepas! Aku bilang lepas! Tolongβ€”"

*Sret.*

Belum sempat Keyla berteriak meminta bantuan satpam, sebuah tangan kekar tiba-tiba meluncur dari arah belakang tubuhnya. Tanpa aba-aba, tangan itu melingkar erat di pinggang Keyla, menarik tubuh cewek itu mundur dengan satu sentakan kuat hingga punggung Keyla menab**k dada bidang seseorang yang sangat kokoh.

Di saat yang sama, sebuah tangan lain mencengkeram pergelangan tangan Reza yang sedang memegang Keyla, memaksa cowok itu melepaskan genggamannya dengan paksa.

"Dia bilang lepas. Kuping lo dipajang doang atau gimana?"

Suara berat, dingin, dan sangat familier itu berbisik tepat di samping telinga Keyla. Napas hangat cowok itu menggelitik lehernya, mengirimkan sengatan listrik instan ke seluruh tubuh Keyla.

Keyla mendongak cepat dan mendapati rahang tegas Devan berada tepat di atas kepalanya. Cowok itu kini tidak lagi memakai kaus oblong tipisnya. Devan mengenakan jaket *bomber* hitam ka**al dengan rambut acak-acakannya yang justru membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih keren dari biasanya.

"Lo siapa, an****?! Gak usah ikut campur!" bentak Reza, emosinya langsung tersulut melihat kehadiran cowok asing yang tiba-tiba memeluk Keyla.

Bukannya takut, Devan malah terkekeh sinis. Bukannya melepaskan pelukannya, Devan justru semakin mempererat lingkaran tangannya di pinggang Keyla. Telapak tangan Devan yang lebar dan hangat terasa sangat posesif, menekan pinggang Keyla hingga tubuh mereka benar-benar menempel rapat tanpa celah.

*Deg!* Jantung Keyla berdegup sangat kencang sampai dia takut Devan bisa mendengarnya dari balik punggungnya.

"Gue? Kenalin, gue cowok yang sekarang punya hak penuh buat meluk dia kayak gini," sahut Devan sant**, nadanya terdengar sangat provokatif. Dia menunduk menatap Keyla, lalu memberikan senyuman manis yang terlihat sangat alami. "Sayang, kok kamu gak bilang kalau ada sales panci yang gangguin kamu di lobi?"

Keyla membelalakkan matanya. *Sayang?! Sales panci?!*

Reza yang merasa terhina langsung maju satu langkah dengan wajah merah padam. "Jangan ngaco ya lo! Gue pacarnya Keyla! Dan lo... lo cuma cowok gak jelas yang tiba-tiba datang!"

"Mantan, bro. Mantan," ralat Devan dengan menekankan kata 'mantan'. Dia melepaskan tangan kanannya dari saku jaket, lalu menggunakannya untuk merapikan beberapa helai rambut Keyla yang berantakan dengan gerakan yang sangat lembutβ€”seolah-olah mereka memang pasangan kekasih yang sudah lama bersama.

"Gue saranin lo buruan pergi sebelum gue panggil sekuriti di depan buat seret lo keluar. Lagian, lo gak malu ya? Udah jadi mantan tapi masih hobi maksa-maksa? Selera Keyla sekarang udah naik, bro. Gak level sama yang modelan kayak lo," lanjut Devan dengan nada meremehkan yang sangat kentara.

"Ba*****!" Reza melayangkan pukulan ke arah wajah Devan.

Namun, dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Devan berhasil menghindar. Dia mendorong Keyla sedikit ke belakang tubuhnya untuk melindunginya, lalu menatap Reza dengan pandangan mata yang mendadak berubah sangat dingin dan mengancam. Aura sant** dari Devan lenyap seketika, digantikan oleh tatapan tajam yang membuat nyali Reza menciut dalam sekejap.

"Sekali lagi lo main fisik, atau sekali lagi gue liat lo muncul di sekitar apartemen ini..." Devan menggantung kalimatnya, melangkah maju satu kali hingga membuat Reza otomatis mundur ketakutan. "...gue pastiin lo bakal menyesal seumur hidup. Paham?"

Reza mengepalkan tangannya kuat-kuat, dadanya kembang kempis menahan amarah yang meledak-ledak. Dia menatap Devan, lalu beralih menatap Keyla yang masih berdiri gemetar di belakang cowok itu. Menyadari dirinya kalah saing secara fisik, penampilan, dan juga kalah berani, Reza akhirnya mendengus kasar.

"Gak usah sok jagoan lo! Kita belum selesai, Keyla!" teriak Reza frustrasi, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah lebar-lebar meninggalkan lobi apartemen dengan langkah mengentak penuh amarah.

Begitu sosok Reza menghilang di balik pintu kaca lobi, keheningan langsung menyergap di antara Keyla dan Devan.

Keyla mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Kakinya terasa lemas seperti jeli. Kalau saja Devan tidak sedang memegang pinggangnya, dia mungkin sudah merosot jatuh ke lant** marmer yang dingin.

"Hei. Udah aman, Key," bisik Devan lembut.

Keyla baru tersadar dari syoknya. Dia mendongak, matanya yang masih sedikit berkaca-kaca menatap langsung ke dalam manik mata gelap milik Devan. Jarak wajah mereka sangat dekat, membuat Keyla bisa mencium aroma parfum maskulin Devan yang bercampur dengan aroma mint yang segar.

Dan yang paling membuat Keyla meremang adalah posisi tangan Devan. Cowok itu belum melepaskan dekapannya. Tangan nakal Devan masih bertengger dengan nyaman di pinggangnya, bahkan ibu jarinya perlahan mulai mengusap kulit pinggang Keyla yang tertutup kaus tipis dengan gerakan sensual yang sangat halus.

"Dev... tangan lo," cicit Keyla dengan suara yang hampir habis, mencoba mengingatkan cowok itu.

Devan malah menaikkan sebelah alisnya, seringai jahil yang biasa kembali menghiasi wajah tampannya. "Kenapa sama tangan gue? Kurang kenceng meluknya?"

"Devan! Lepasin gak!" Keyla memukul dada bidang Devan dengan kepalan tangan kecilnya, mencoba menyembunyikan rona merah yang kini sudah menjalar sampai ke telinga dan lehernya.

Bukannya langsung melepas, Devan justru sengaja menarik tubuh Keyla sedikit lebih dekat lagi selama satu detik penuh, membuat dada mereka sempat bersentuhan, sebelum akhirnya dia melepaskan dekapannya dengan tawa renyah yang terdengar sangat menyebalkan tapi juga s****.

"Galak amat sih. Padahal baru aja gue selamatin dari monster mantan," gurau Devan, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Keyla yang sedang sibuk merapikan bajunya yang sedikit kusut.

"Ya... ya makasih. Tapi gak usah pakai meluk-meluk posesif kayak tadi juga bisa, kan?!" omel Keyla, berusaha menutupi fakta bahwa jantungnya saat ini sedang berdisko dengan sangat liar di dalam sana.

"Kalau gue gak akting kayak gitu, si cowok br****** itu gak bakal percaya, Key. Lo liat sendiri kan gimana agresifnya dia tadi?" Devan membela diri dengan alasan yang terdengar sangat ma**k akal, membuat Keyla tidak bisa membantah lagi.

Keyla menghela napas, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Iya sih... Makasih ya, Dev. Gue gak tahu apa yang bakal terjadi kalau lo gak datang tadi."

Mendengar nada suara Keyla yang mendadak tulus dan rapuh, raut wajah Devan sedikit melembut. Dia mengulurkan tangannya, dan tanpa ragu mengacak-acak rambut Keyla dengan gemas.

"Sant** aja kali, tetangga. Lagian, sekarang kita resmi jadian, kan?" ujar Devan sant** tanpa beban.

Keyla langsung mendongak dengan mata membelalak lebar. "Hah?! Jadian apa?!"

"Ya jadian. Kan tadi gue bilangnya lo pacar gue. Masa lo mau bikin pacar baru lo ini dicap pembohong?" goda Devan dengan kedipan mata yang sangat menyebalkan.

"Devan!!! Itu kan cuma akting!" teriak Keyla frustrasi, sementara Devan sudah tertawa terbahak-bahak dan mulai melangkah sant** menuju lift, meninggalkan Keyla yang berdiri dengan wajah merah padam dan jantung yang benar-benar sudah tidak aman lagi untuk kesehatannya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca