Tangan Nakal Pacar Sebelah Kamar

Bab 4: Aturan Main di Atas Kertas

Pengaturan Membaca

"Gue pacarnya. Kenapa? Ada masalah?"

Suara Devan yang rendah namun sarat akan ancaman itu seketika membuat lobi apartemen yang tadinya bising mendadak senyap. Cengkeraman tangan Reza di pergelangan tangan Keyla perlahan melonggar, digantikan oleh tatapan tidak percaya sekaligus amarah yang membakar.

Reza mundur selangkah, menatap Devan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan Devan yang jangkung, atletis, dan memancarkan aura intimidasi yang kuat jelas membuat mental Reza sedikit menciut. Namun, ego cowok itu terlalu tinggi untuk langsung menyerah.

"Pacar?" Reza mendengus sinis, tertawa hambar yang dipaksakan. "Halah! Paling lo cuma cowok bayaran atau selingkuhan lo kan, Key?! Gak usah belagu lo, an****! Dia ini cewek gue!"

Mendengar makian kasar itu, rahang Devan mengeras. Sudut matanya menajam. Langkah kaki Devan maju satu langkah ke depan, secara otomatis menyembunyikan tubuh Keyla yang gemetar di balik punggung tegapnya. Aroma parfum maskulin bercampur wangi mint dari tubuh Devan langsung menyeruak, entah bagaimana memberikan sedikit rasa aman di tengah kepanikan Keyla.

"Satu kali lagi lo sebut dia selingkuhan, atau lo berani sentuh dia pakai tangan kotor lo itu..." Devan mencondongkan tubuhnya ke arah Reza, berbisik dengan nada yang luar biasa dingin, "...gue pastiin lo gak bakal bisa jalan keluar dari lobi ini dengan kaki utuh."

Reza menelan ludah. Nyalinya ciut melihat kilat berbahaya di mata Devan. Di saat yang sama, dua orang petugas keamanan apartemen akhirnya berlari mendekat setelah melihat keributan yang terjadi.

"Ada masalah apa di sini, Pak? Tolong jangan membuat keributan," tegur salah satu satpam dengan tegas.

Devan langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sant**, seolah tidak baru saja melayangkan ancaman patah tulang. Ia merangkul pundak Keyla dengan protektif, menarik cewek itu merapat ke tubuhnya.

"Nggak ada apa-apa, Pak. Cuma ada orang asing yang tiba-tiba gangguin pacar saya. Tolong diamankan ya, Pak, biar gak mengganggu kenyamanan penghuni lain," ujar Devan dengan nada sopan namun terdengar sangat berkuasa.

"Baik, Pak Devan. Mari, Mas, silakan ikut kami ke luar," ucap satpam itu, langsung memegang lengan Reza. Rupanya, petugas keamanan di sana sudah sangat mengenali Devan sebagai salah satu penghuni unit *penthouse* eksekutif.

"Lepasin! Key! Kita belum selesai! Gue bakal balik lagi, Key! Lo denger gue?!" teriak Reza murka saat tubuhnya diseret paksa oleh petugas keamanan keluar dari pintu kaca lobi.

Begitu sosok Reza menghilang dari pandangan, ketegangan di tubuh Keyla seolah runtuh seketika. Lututnya mendadak lemas bagai jeli. Kalau saja tangan kokoh Devan tidak sigap menahan pinggangnya, Keyla pasti sudah terduduk di atas lant** marmer lobi.

"Hei, lo gak apa-apa?" tanya Devan, suaranya kini melunak, jauh berbeda dengan nada bicaranya pada Reza tadi.

Keyla hanya bisa menggeleng pelan, wajahnya pucat pasi. Napasnya masih memburu karena sisa rasa takut yang mendera. "Makasih, Dev..." cicitnya pelan.

"Kita naik sekarang," ajak Devan. Tanpa menunggu persetujuan Keyla, cowok itu menuntunnya kembali ma**k ke dalam lift yang kebetulan sedang kosong.

Di dalam lift yang bergerak naik, keheningan terasa begitu pekat. Keyla menatap pantulan dirinya di dinding lift yang meng***p. Tangannya yang memerah akibat cengkeraman Reza masih sedikit gemetar. Tiba-tiba, sebuah kehangatan menjalar di punggung tangannya. Keyla tersentak pelan saat mendapati Devan sedang menggenggam jemarinya, mengusap ibu jarinya dengan lembut di atas kulit Keyla yang memar.

"Masih sakit?" tanya Devan tanpa mengalihkan pandangannya dari angka lift yang terus bertambah.

"Sedikit," jawab Keyla pelan, mendadak merasa salah tingkah dengan perhatian kecil dari tetangga sebelahnya ini. Jantungnya yang tadi berdegup kencang karena takut, kini mulai berdetak dengan ritme yang berbeda. Ritme yang jauh lebih berbahaya.

*Ting.*

Pintu lift terbuka di lant** mereka. Devan tidak melepaskan genggaman tangannya sampai mereka tiba di depan pintu unit apartemen Keyla. Namun, alih-alih membiarkan Keyla ma**k ke kamarnya sendiri, Devan justru menarik pelan tangan cewek itu menuju ke arah unitnya.

"Eh, Dev? Mau ke mana? Kamar gue kan yang itu," protes Keyla heran.

"Ma**k ke kamar gue dulu. Kita perlu bicara," ucap Devan final, membuka pintu unitnya dengan kartu akses lalu mempersilakan Keyla ma**k.

Ini adalah pertama kalinya Keyla melangkah ma**k ke dalam kamar Devan. Berbeda dengan kamarnya yang bernuansa pastel dan penuh barang-barang gemas, kamar Devan sangat maskulin dengan dominasi warna abu-abu gelap, hitam, dan putih. Kamar itu sangat rapi, wangi, dan terasa sangat luas dengan jendela kaca besar yang langsung menyuguhkan pemandangan kota dari ketinggian.

Devan menyuruh Keyla duduk di sofa abu-abu miliknya, sementara dia berjalan ke dapur bersih untuk mengambil air putih dan sekotak es batu yang dibungkus handuk kecil.

"Nih, kompres dulu tangan lo biar gak makin bengkak," ujar Devan seraya menyodorkan bungkusan es batu itu.

"Makasih," gumam Keyla, langsung menempelkan kompresan dingin itu ke pergelangan tangannya. Rasa dingin yang menjalar perlahan meredakan rasa perih di kulitnya.

Devan duduk di sofa tunggal yang berada tepat di hadapan Keyla. Cowok itu menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada sambil menatap Keyla lurus-lurus. Tatapan matanya yang tajam seolah sedang menganalisis setiap jengkal ekspresi wajah cewek di depannya.

"Mantan lo g***," buka Devan tanpa basa-basi.

Keyla menghela napas panjang, bahunya merosot lesu. "Gue tahu. Dia emang posesif banget dari dulu. Makanya gue mutusin buat putus dan pindah ke sini biar gak bisa ditemuin sama dia. Tapi gue gak tahu kenapa dia bisa tahu tempat ini."

"Tipe-tipe cowok kayak gitu gak bakal menyerah begitu aja, Key. Tadi dia cuma kaget karena ada gue. Tapi setelah ini? Dia pasti bakal nyari celah lagi buat nemuin lo saat lo lagi sendirian," analisis Devan dengan nada serius.

Keyla menggigit bibir bawahnya cemas. Apa yang dikatakan Devan sepenuhnya benar. Reza adalah orang yang nekat. Jika hari ini dia berani membuat keributan di lobi apartemen yang dijaga ketat, tidak menutup kemungkinan besok dia akan mengadang Keyla di kampus atau di jalan.

"Terus gue harus gimana, Dev? Gue gak bisa terus-terusan sembunyi di kamar," ujar Keyla putus asa, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.

Devan terdiam sejenak. Matanya memperhatikan bagaimana bulu mata lentik Keyla yang basah membuat cewek itu terlihat begitu rapuh dan menggemaskan di saat yang sama. Sebuah ide yang sudah berputar di kepalanya sejak di lobi tadi kini terasa semakin matang untuk diutarakan.

Devan menegakkan posisi duduknya, mencondongkan tubuh ke arah Keyla. "Gue punya ide. Tapi ini agak g***."

Keyla mendongak, menatap Devan dengan mata bulatnya yang berair. "Ide apa?"

"Pacaran kontrak."

Keyla mengerutkan keningnya, hampir mengira dia salah dengar. "Hah? Apa lo bilang?"

"Kita pacaran. Tapi cuma di atas kertas. Pacaran kontrak," ulang Devan dengan artikulasi yang sangat jelas dan wajah tanpa dosa.

Seketika rasa sedih Keyla menguap, digantikan oleh rasa heran yang luar biasa. "Lo g*** ya, Dev?! Kemarin aja lo udah bikin gue senam jantung dengan kelakuan 'tangan nakal' lo itu di kamar gue, sekarang lo malah ngajak pacaran kontrak? Gak, gak mau! Ide lo makin ngaco!" tolak Keyla mentah-mentah sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Devan tidak terlihat tersinggung sama sekali dengan penolakan itu. Sebaliknya, cowok itu justru terkekeh pelan, menampilkan deretan giginya yang rapi yang membuat ketampanannya naik berlipat ganda.

"Dengerin gue dulu, Keyla manis," ujar Devan dengan nada merayu yang membuat bulu kuduk Keyla meremang. "Reza itu tipe cowok yang cuma bakal mundur kalau dia tahu wilayah kekuasaannya sudah diambil alih sama orang lain yang lebih kuat dari dia. Kalau dia tahu lo punya pacar baru—yang tinggal tepat di sebelah kamar lo, yang bisa jagain lo 24 jam penuh—dia bakal mikir dua kali buat macam-macam."

Keyla tertegun. Logika Devan sebenarnya ma**k akal. Sangat ma**k akal. Tapi tetap saja...

"Tapi kenapa harus lo? Dan kenapa harus pakai kontrak segala?" tanya Keyla curiga.

"Karena gue yang ada di sini, di sebelah kamar lo. Dan kenapa harus pakai kontrak? Biar semuanya jelas. Gak ada yang dirugikan, gak ada yang melewati batas, dan yang paling penting..." Devan menjeda kalimatnya, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Keyla, "...biar lo merasa aman."

Keyla terdiam, menimbang-nimbang tawaran itu dalam otaknya yang mendadak bekerja keras. Di satu sisi, dia sangat membutuhkan tameng untuk menghindari teror dari Reza. Di sisi lain, berurusan dengan Devan—cowok tampan misterius dengan reputasi yang tidak kalah berbahaya bagi kesehatan jantungnya—terasa seperti melompat dari mulut buaya ke dalam mulut singa.

Namun, bayangan wajah marah Reza yang menyeramkan di lobi tadi kembali terlintas di pikirannya. Rasa takut akhirnya mengalahkan keragu-raguannya.

"Oke," jawab Keyla pelan, hampir berupa bisikan. "Tapi gue mau aturan mainnya ditulis secara resmi. Di atas kertas. Gak boleh ada yang dilanggar."

Senyum kemenangan langsung terbit di wajah tampan Devan. "Deal. Tunggu sebentar."

Devan beranjak dari duduknya, melangkah menuju meja kerjanya yang berada di sudut kamar. Ia mengambil sebuah buku catatan bergaris dengan sampul kulit hitam dan sebuah pulpen gel berwarna hitam, lalu kembali duduk di sebelah Keyla di sofa abu-abu itu. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Keyla bisa merasakan hawa hangat yang memancar dari tubuh Devan.

Devan membuka halaman kosong buku tersebut, mengetukkan ujung pulpen ke dagunya seolah sedang berpikir. "Oke, mari kita tulis aturan mainnya."

Keyla mendekat, memperhatikan kertas putih bersih yang kini mulai ditulisi oleh jemari lentik Devan yang kokoh. Tulisan tangan cowok itu sangat rapi dan tegas.

Di bagian paling atas, Devan menulis judul dengan huruf kapital: **SURAT KESEPAKATAN PACARAN KONTRAK**.

"Aturan pertama," Keyla bersuara, mengambil inisiatif. "Hubungan ini cuma pura-pura di depan umum, terutama di depan Reza dan orang-orang yang berpotensi ngasih tahu Reza. Di balik layar, kita tetap tetangga biasa. Dan yang paling penting: dilarang baper."

Devan tersenyum tipis, lalu menuliskan poin pertama.

*1. Hubungan ini murni kepura-puraan demi keamanan Keyla. Dilarang melibatkan perasaan asli (Dilarang baper).*

"Aturan kedua," lanjut Keyla lagi. "Kontrak ini otomatis selesai begitu Reza bener-bener pergi, gak ganggu gue lagi, dan masalah ini selesai secara tuntas."

*2. Kontrak berlaku sampai mantan toxic (Reza) berhenti mengganggu dan dinyatakan aman sepenuhnya.*

"Sekarang giliran gue yang ajuin syarat," sela Devan, memutar pulpen di antara jari-jarinya dengan gestur yang sangat sant** namun penuh percaya diri.

"Apa?" tanya Keyla waswas.

Devan menatap Keyla dengan binar jenaka sekaligus misterius di matanya. "Aturan ketiga: Akting kita harus totalitas tanpa cela di depan umum agar tidak dicurigai."

"Maksudnya?" Keyla mengernyitkan dahi.

"Artinya, kalau kita lagi di luar, di kampus, atau di tempat mana pun yang sekiranya ada mata-mata atau bahkan Reza sendiri... kita harus bersikap layaknya pacar sungguhan. Dan itu terma**k kontak fisik," jelas Devan dengan nada suara yang sengaja direndahkan, membuat bulu kuduk Keyla mendadak meremang indah.

Keyla langsung membelalakkan matanya. "Heh! Kontak fisik apa maksud lo?! Gak usah modus ya!"

Devan terkekeh geli melihat reaksi defensif cewek di sebelahnya. "Ya ampun, Key, lo pikir gue mau ngapain? Maksud gue itu kontak fisik yang wajar. Pegangan tangan, rangkulan pundak, atau..." Devan sengaja menggantung kalimatnya, mendekatkan wajahnya perlahan hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Keyla bisa merasakan embusan napas hangat Devan menerpa pipinya yang mendadak memanas. "...atau sesekali rangkul pinggang lo kayak tadi di lobi. Biar kelihatan natural dan meyakinkan. Gimana? Setuju?"

Keyla menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya kini berdegup sangat kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Tatapan mata Devan yang begitu intens mengunci pandangannya, membuatnya kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Aroma tubuh Devan yang begitu maskulin seolah membius seluruh saraf pelindung di otaknya.

Sadar dirinya mulai terpengaruh, Keyla dengan cepat memundurkan kepalanya, mencoba mengembalikan sisa-sisa harga dirinya yang hampir runtuh.

"O-oke. Tapi gak boleh lebih dari itu! Kalau lo berani macem-macem atau sengaja nyari kesempatan, kontrak ini batal seketika!" ancam Keyla dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha terdengar galak meskipun wajahnya yang merona merah sama sekali tidak mendukung.

Devan tersenyum penuh arti—sebuah senyuman kemenangan yang sangat manis namun menyimpan sejuta maksud tersembunyi. Jemarinya kembali menari di atas kertas, menuliskan poin ketiga dengan det**l.

*3. Wajib melakukan kontak fisik yang diperlukan (bergandengan tangan, rangkulan, dll.) di depan umum demi menjaga kredibilitas hubungan di mata publik dan mantan Keyla.*

Setelah selesai menulis, Devan menyodorkan pulpen hitam itu kepada Keyla. "Silakan tanda tangan di sini, pacar kontrak gue."

Keyla menatap kertas itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega karena dia akhirnya memiliki pelindung yang kuat dari gangguan Reza. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada alarm peringatan yang berbunyi sangat nyaring. Menandatangani kertas ini terasa seperti dirinya baru saja dengan sukarela berjalan ma**k ke dalam perangkap manis yang sudah disiapkan dengan sangat rapi oleh tetangga sebelah kamarnya ini.

Dengan tangan yang sedikit ragu, Keyla akhirnya menerima pulpen tersebut dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas putih itu.

"Selesai," gumam Keyla.

Devan mengambil kembali buku itu, lalu membubuhkan tanda tangannya sendiri tepat di sebelah tanda tangan Keyla. Cowok itu menutup bukunya dengan bunyi ketukan pelan yang terdengar begitu final di telinga Keyla.

Devan menatap Keyla, senyum nakal yang biasa kini kembali terukir di bibirnya yang kemerahan. "Selamat datang di aturan main kita, Keyla. Mulai hari ini, lo resmi jadi pacar gue. Di atas kertas... dan di depan umum."

Keyla hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menatap Devan dengan perasaan berdebar yang tidak menentu. Dia benar-benar berharap keputusan g***nya kali ini adalah hal yang tepat, dan bukan awal dari masalah baru yang jauh lebih mengacaukan hatinya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca