Tangan Nakal Pacar Sebelah Kamar

Bab 5: Genggaman Rahasia di Bawah Meja

Pengaturan Membaca

Baru tiga hari berlalu sejak insiden menegangkan di lobi apartemen, dan hidup Keyla rasanya sudah berputar seratus delapan puluh derajat. Kesepakatan konyol yang mereka sebut "kontrak pacaran" itu akhirnya resmi berjalan. Keyla pikir, dia hanya perlu berpura-pura menjadi pacar Devan saat Rezaβ€”mantan pacarnya yang parasit ituβ€”muncul lagi. Tapi ternyata, ujian pertama dari kontrak si**** ini justru datang jauh lebih cepat, dan di tempat yang sama sekali tidak terduga.

Siang itu, koridor kampus terasa sangat terik. Keyla yang baru saja menyelesaikan kelas makroekonomi yang menguras otak, diajak oleh Devan untuk mampir ke kafe yang terletak di sudut area kampus. Kafe itu c**up populer di kalangan mahasiswa karena konsepnya yang semi-outdoor dan adem.

"Lo mau pesen apa?" tanya Devan begitu mereka melangkah ma**k ke dalam kafe yang ber-AC dingin. Cowok itu menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari tangan kiri, sementara tangan kanannya dima**kkan ke dalam saku celana jins hitamnya. Sederhana, cuma pakai kaus putih polos dan jins, tapi sialnya ketampanan Devan hari ini tetap saja berada di level yang tidak manusiawi.

"Iced matcha latte aja satu," jawab Keyla pelan. Matanya sibuk mencari meja kosong yang tersisa. Kafe ini c**up ramai karena sedang jam makan siang.

"Oke. Lo cari meja dulu sana, biar gue yang antre," titah Devan, nadanya sant** tapi tidak menerima bantahan.

Keyla mengangguk patuh. Ia berjalan menyusuri barisan meja kayu di area dalam kafe. Beruntung, ada satu meja kosong di sudut yang agak privat, dekat jendela besar yang menghadap ke taman kampus. Meja itu dilapisi taplak kain tebal bermotif kotak-kotak hijau botol yang menjunt** hampir menyentuh lant**. Keyla segera duduk di sana, meletakkan tas ranselnya di kursi sebelah, lalu mengembuskan napas lega.

Namun, kelegaan Keyla tidak bertahan lama. Baru saja ia mengeluarkan ponsel dari saku, suara tawa keras dari arah pintu ma**k kafe langsung menyita perhatiannya. Dan jantung Keyla hampir copot saat melihat siapa yang baru saja ma**k.

Ada tiga cowok bertubuh tinggi dengan jaket bomber khas anak fakultas teknik berjalan ma**k sambil bersenda gurau. Salah satu dari mereka langsung mengenali Devan yang sedang berdiri di antrean kasir.

"Woi, Devan! Di sini juga lo, a****!" teriak salah satu cowok berambut cepak.

Devan menoleh, lalu mengangkat tangan kanannya, melakukan *fist bump* singkat saat ketiga temannya itu menghampirinya. Mereka tampak mengobrol seru selama beberapa saat sebelum akhirnya Devan menunjuk ke arah meja tempat Keyla duduk.

Seketika itu juga, tiga pasang mata teman Devan langsung tertuju ke arah Keyla.

Keyla membeku di tempatnya. *Mampus gue,* batinnya berteriak histeris. Ia langsung mengenali mereka. Mereka adalah anggota lingkar pertemanan Devan yang c**up terkenal di kampusβ€”anak-anak hitz fakultas teknik yang terkenal berisik dan susah didekati cewek.

Tak butuh waktu lama sampai Devan berjalan memimpin rombongan itu menuju meja Keyla, membawa nampan berisi dua minuman.

"Sori agak lama, antrenya panjang," ucap Devan sant** begitu tiba di meja. Ia meletakkan *iced matcha latte* di depan Keyla, lalu segelas *iced Americano* miliknya sendiri.

Sebelum Keyla sempat menjawab, cowok berambut cepak yang tadi berteriak langsung menyenggol bahu Devan dengan heboh. "Wah, parah lo, Dev! Gak cerita-cerita punya gandengan baru. Siapa nih? Anak anak soshum ya?"

Devan terkekeh pelan. Alih-alih duduk di kursi kosong di seberang Keyla, Devan justru menggeser tas ransel Keyla dan duduk tepat di samping cewek itu. Jarak mereka begitu rapat hingga lengan mereka saling bersentuhan. Aroma parfum maskulin Devan yang segar langsung menyerbu indra penciuman Keyla.

"Kenalin, ini Keyla. Pacar gue," ucap Devan dengan nada yang sangat tenang, seolah kalimat itu adalah fakta mutlak yang sudah terjadi bertahun-tahun.

Mata Keyla membelalak mikro. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Meskipun tahu ini adalah bagian dari kontrak mereka, mendengar kata "pacar" keluar langsung dari mulut cowok sedingin Devan tetap saja memberikan efek kejut yang luar biasa.

"G***! Seriusan lo, Dev?!" sahut cowok berkacamata yang berdiri di sebelah meja. "Kenalin, gue Bima. Yang cepak ini Genta, dan yang mukanya kayak saringan tahu ini Aldo."

"Si**** lo, Bim!" umpat Genta, membuat mereka semua tertawa, kecuali Keyla yang hanya bisa tersenyum canggung.

"Hai, gue Keyla," sapa Keyla sesopan mungkin, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya yang sudah berada di ubun-ubun.

"Boleh gabung gak nih? Atau kita mengganggu waktu pacaran kalian?" tanya Aldo dengan nada menggoda, menaik-turunkan alisnya jahil.

"Sant** aja, duduk aja," jawab Devan ramah. Sikapnya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Devan yang biasanya irit bicara dan terkesan acuh tak acuh, kini tampak sangat hangat dan bersahabat. Benar-benar aktor kelas kakap.

Bima, Genta, dan Aldo segera menarik kursi-kursi kosong di seberang meja dan duduk. Suasana meja yang tadinya sepi seketika berubah menjadi sangat bising dengan obrolan khas cowok-cowok teknik. Mereka mulai membahas jadwal latihan futsal, dosen killer, hingga gosip kampus terbaru.

Di tengah-tengah obrolan itu, Devan tiba-tiba bergeser lebih dekat ke arah Keyla. Tangan kirinya bergerak naik, dengan lembut menyelipkan seunt** anak rambut Keyla yang terlepas ke belakang telinganya. Sentuhan jemari Devan yang hangat di kulit pipinya membuat Keyla refleks menahan napas.

"Minum dulu, Sayang. Keburu esnya mencair," bisik Devan lembut, tepat di samping telinga Keyla. Suaranya yang rendah dan serak-serak basah itu sukses membuat bulu kuduk Keyla meremang. Pangg***n "Sayang" itu terdengar sangat alami di telinga teman-temannya, tapi bagi Keyla, itu terdengar seperti bom waktu.

"Ah... i-iya," jawab Keyla terbata-bata. Ia buru-buru menyedot matcha latte-nya untuk meredakan rasa panas yang mendadak menjalar ke wajahnya.

"An****, leher gue mendadak gatal lihat si Devan bisa se-bucin ini," goda Genta sambil pura-pura bergidik ngeri. "Biasanya di tongkrongan mukanya kayak kanebo kering, sekarang manisnya ngalahin gula jawa."

"Sirik aja lo jomblo karatan," sahut Devan tenang, memicu tawa dari Bima dan Aldo.

Namun, ketegangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Di bawah meja, tertutup rapat oleh taplak hijau tebal yang menjunt**, Keyla meletakkan kedua tangannya di atas paha. Ia meremas ujung rok denimnya untuk menyalurkan rasa gugup. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan yang besar dan hangat bergerak perlahan di kegelapan bawah meja.

Sebelum Keyla sempat bereaksi, tangan hangat itu sudah menyelinap ma**k ke dalam sela-sela jarinya.

*Deg.*

Keyla tersentak kecil di kursinya. Matanya melebar saat menyadari Devan baru saja menggenggam erat tangan kanannya di bawah meja. Jemari Devan yang panjang dan kokoh menyatu sempurna dengan jemarinya yang lebih kecil. Genggaman itu begitu erat, seolah-olah Devan tidak ingin membiarkannya lepas barang satu milimeter pun.

Keyla menoleh cepat ke samping, menatap Devan dengan tatapan menuntut penjelasan. Namun, cowok di sebelahnya itu sama sekali tidak menoleh. Devan masih asyik mengobrol dengan Aldo, tertawa sant** menanggapi lelucon tentang tugas kuliah mereka yang menumpuk. Wajah Devan benar-benar tampak tanpa dosa, sangat tenang seolah tangannya tidak sedang melakukan tindakan provokatif di bawah sana.

Keyla mencoba menarik tangannya secara perlahan. Namun, begitu ia bergerak sedikit saja, genggaman Devan justru semakin mengencang. Bukannya melepaskan, ibu jari Devan mulai bergerak.

*Sret... Sret...*

Dengan gerakan yang sangat lambat dan lembut, ibu jari Devan mengusap punggung tangan Keyla. Kulit kasar khas cowok berpadu dengan kulit sensitif tangan Keyla, menciptakan sensasi menggelitik yang aneh sekaligus memabukkan. Usapan itu berpindah ke sela-sela jari, lalu memutar pelan di pergelangan tangannya.

Napas Keyla seketika tercekat di tenggorokan.

Sentuhan itu terasa begitu intim. Lebih intim daripada rangkulan bahu atau ciuman pipi fiktif yang biasa mereka lakukan untuk akting. Setiap kali ibu jari Devan mengusap kulitnya, ada sengatan listrik tak kasat mata yang merambat naik ke dadanya, membuat jantungnya berdetak liar tak keruan.

Keyla merasa seolah oksigen di sekitar kafe mendadak menipis. Wajahnya yang tadinya putih bersih kini pasti sudah sewarna dengan kepiting rebus. Ia berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar di depan teman-teman Devan yang masih asyik mengobrol.

"Key, lo gak apa-apa? Kok muka lo merah banget?" tanya Bima tiba-tiba, menatap Keyla dengan dahi berkerut heran. "AC-nya kurang dingin ya?"

Pertanyaan Bima bagaikan petir di siang bolong bagi Keyla. Ia panik setengah mati.

"Eh? Ah... enggak kok! Ini... iya, kayaknya hari ini agak gerah aja di luar, jadi efeknya masih kerasa sampai dalam," jawab Keyla terbata-bata, suaranya naik satu oktav karena panik.

Keyla mencoba memberikan kode keras dengan menyenggol kaki Devan di bawah meja menggunakan sepatunya. Namun, Devan justru menanggapi hal itu dengan tindakan yang lebih g***.

Bukannya menghentikan usapannya, Devan justru membawa tangan Keyla yang digenggamnya naik sedikit, lalu meremasnya dengan lembut namun posesif, seolah sedang menenangkan anak kucing yang sedang rewel.

"Iya, Keyla emang agak sensitif sama suhu panas," timpal Devan sant**, wajahnya beralih menatap Keyla dengan senyuman yang teramat manisβ€”senyuman yang belum pernah Keyla lihat sebelumnya. "Kamu mau aku pesenin air putih dingin, hm?"

Suara Devan yang lembut dan perhatian itu benar-benar membuat pertahanan Keyla runtuh. Di bawah meja, tangan Devan masih terus mengusap telapak tangannya, memberikan sensasi hangat yang bertolak belakang dengan dinginnya AC kafe. Cara Devan menatapnya, cara Devan mengusap tangannya secara rahasia di bawah meja yang tertutup taplak, semuanya terasa terlalu nyata untuk sebuah akting kontrak.

"N-nggak usah, Dev. Ini udah c**up kok," cicit Keyla pelan, hampir menyerupai bisikan. Ia benar-benar tidak sanggup menatap mata Devan lebih lama lagi, jadi ia memilih untuk menunduk, menatap gelas matcha latte-nya yang sudah berkeringat.

"Cielah, perhatian banget lo, Dev. Gak kuat gue lihatnya, bisa-bisa diabetes mendadak di sini," celetuk Genta sambil tertawa, diikuti oleh anggukan setuju dari Aldo dan Bima.

"Makanya, buruan cari pacar sana. Biar gak sirik lihat orang lain," balas Devan acuh tak acuh, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terlihat sangat s****.

Dan di sepanjang sisa obrolan siang itu, di bawah lindungan taplak meja tebal yang menyembunyikan rahasia mereka dari dunia luar, Devan sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya. Ibu jarinya terus mengusap lembut punggung tangan Keyla secara konstan, seolah-olah menyalurkan kehangatan tersendiri yang membuat jantung Keyla tidak bisa berhenti berdebar kencang hingga akhir.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca