**Bab 6: Sempit-Sempitan di Dalam Lift**
Setelah hari yang super melelahkan di kampus—ditambah sesi interogasi mendadak dari teman-teman geng teknik Devan yang super berisik di kafe tadi siang—Keyla rasanya cuma ingin cepat-cepat sampai di kamarnya. Dia ingin mandi air hangat, memakai piyama paling longgar, lalu tidur sampai besok pagi.
"Lo pucat banget. Masih syok gara-gara digodain anak-anak tadi?"
Suara berat Devan memecah keheningan di lobi apartemen. Cowok itu berjalan di samping Keyla dengan langkah sant**, satu tangannya menyampirkan jaket denim di bahu, sementara tangan yang lain memegang kunci akses apartemen.
Keyla mendengus pelan, menolak untuk menatap Devan. "Menurut lo? Temen-temen lo tuh kayak rombongan sirkus, tau gak? Berisik banget. Mana nanya yang aneh-aneh lagi tentang hubungan kita."
Devan terkekeh pelan. "Ya wajar, sih. Mereka kan tahunya lo pacar gue sekarang. Makanya, akting kita tadi harusnya dapet piala Oscar. Lo dapet pelukan gratis lagi dari gue."
"Pelukan gratis pala lo peyang!" ketus Keyla, wajahnya mendadak terasa panas mengingat bagaimana Devan dengan sant**nya merangkul pundaknya di depan teman-temannya tadi untuk meyakinkan mereka. "Itu namanya pelecehan terselubung, Dev."
"Pelecehan gimana? Kan lo sendiri yang setuju sama kontraknya," sahut Devan sant** saat mereka berdua melangkah ma**k ke dalam lift yang kebetulan sedang kosong.
Begitu pintu lift berdenting dan tertutup rapat, menyisakan mereka berdua di dalam ruangan kotak berlapis metal itu, Keyla langsung mengembuskan napas panjang. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding lift, memejamkan mata sejenak. Kepalanya agak pening. Sejak kecil, Keyla memang tidak terlalu suka ruang sempit yang tertutup rapat, meskipun dia masih bisa mentoleransinya selama ada cahaya dan udara yang c**up.
Devan menekan tombol angka 12, lant** tempat unit apartemen mereka berada. Lift mulai bergerak naik secara perlahan.
"Capek banget ya, Key?" tanya Devan, nadanya sedikit melunak, kehilangan nada usil yang biasanya selalu ada.
"Heeh. Kelas makroekonomi hari ini bener-bener bikin otak gue berasa diperas," gumam Keyla tanpa membuka mata.
Namun, baru saja lift melewati lant** 5, sebuah bunyi *klak* keras terdengar dari atas langit-langit lift.
Seketika itu juga, lift tersentak hebat. Tubuh Keyla limbung ke depan, dan instingnya langsung membuat dia mencengkeram lengan kokoh Devan yang berdiri di dekatnya.
*Bzzzt!*
Lampu di dalam lift berkedip dua kali sebelum akhirnya mati total. Kegelapan pekat langsung menelan mereka. Mesin lift berhenti bekerja dengan sentakan kasar yang membuat jantung Keyla serasa merosot ke lambung. Bunyi dengung ventilasi udara yang biasanya terdengar samar kini lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
"Eh... eh? Ini kenapa?!" suara Keyla mulai bergetar. Pegangannya pada lengan Devan mengencang sampai kuku-kukunya memutih.
"Mati lampu kayaknya. Tenang, Key. Jangan panik," suara Devan terdengar tenang di kegelapan, tapi Keyla bisa merasakan otot lengan cowok itu menegang di bawah cengkeramannya.
"Tapi kok liftnya berhenti? Kita terjebak?!" Keyla mulai megap-megap. Napasnya mendadak terasa pendek.
Devan meraba saku celananya, lalu mengeluarkan ponsel. Layar ponselnya menyala, memberikan sedikit cahaya kekuningan yang remang-remang di dalam ruang sempit itu. Devan mengarahkan senter ponselnya ke panel tombol lift, lalu menekan tombol darurat berulang kali.
Tidak ada respons. Kosong. Mati total.
"Sial, jaringannya mati juga," umat Devan pelan melihat logo 'No Service' di sudut layar ponselnya. "Key, kayaknya ada gangguan listrik di gedung. Kita tunggu sebentar, biasanya genset apartemen bakal nyala dalam beberapa menit."
Namun bagi Keyla, beberapa menit itu terasa seperti beberapa tahun.
Ruangan yang gelap gulita, udara yang perlahan-lahan mulai terasa hangat dan menipis, ditambah dinding-dinding lift yang terasa seolah-olah bergerak menyempit untuk menghimpit tubuhnya, mulai memicu ketakutan terbesarnya. Klaustrofobia ringannya mendadak kambuh dengan level yang jauh lebih parah dari biasanya.
"Dev... gue nggak bisa napas," bisik Keyla. Suaranya terdengar sangat tipis, nyaris seperti embusan angin.
Dadanya naik turun dengan cepat, tidak beraturan. Keyla mencengkeram dadanya sendiri, mencoba meraup oksigen yang rasanya makin lama makin habis di dalam kotak besi ini. Kakinya mulai terasa lemas seperti jeli. Kalau saja dia tidak berpegangan pada Devan, dia pasti sudah jatuh terduduk di lant** lift yang dingin.
Melihat kondisi Keyla yang mulai hiperventilasi, Devan langsung mematikan senter ponselnya dan mema**kkannya kembali ke saku. Dalam keremangan yang sangat minim, Devan melangkah mendekat.
"Key, liat gue. Keyla, dengerin gue," kata Devan, suaranya kini terdengar sangat tegas namun lembut.
"Sempit, Dev... gelap... gue nggak bisa..." air mata Keyla mulai menetes tanpa bisa ditahan. Kepalanya berputar hebat, dan rasa panik yang luar biasa menguasai seluruh akal sehatnya.
Sebelum Keyla benar-benar kehilangan kesadaran atau jatuh pingsan, sepasang lengan yang kuat dan hangat tiba-tiba merengkuh tubuhnya.
Devan menarik Keyla ke dalam pelukannya. Sangat erat, sangat protektif.
Satu tangan Devan melingkar di pinggang ramping Keyla, menarik tubuh cewek itu hingga menempel tanpa jarak pada tubuh tegapnya. Sementara tangan Devan yang lain berada di belakang kepala Keyla, menekan kepala cewek itu dengan lembut agar bersandar di dadanya yang bidang.
*Deg. Deg. Deg.*
Suara detak jantung Devan yang konstan dan kuat langsung terdengar di telinga Keyla. Aroma tubuh Devan—perpaduan antara parfum maskulin yang mahal, wangi sabun mandi, dan sedikit aroma mint yang segar—langsung menyerbu indra penciuman Keyla, menggeser rasa pengap yang tadi sempat menyiksanya.
"Merem, Key. Jangan liat sekeliling lo," bisik Devan tepat di telinga Keyla. Napas hangat cowok itu menggelitik permukaan kulit leher Keyla, mengirimkan sensasi hangat yang aneh sekaligus menenangkan ke seluruh tubuhnya.
"Devan... takut..." cicit Keyla, kedua tangannya kini mencengkeram erat kaus putih yang dikenakan Devan, meremasnya sampai kusut.
"Iya, gue tahu. Tapi ada gue di sini. Gue nggak bakal ke mana-mana," Devan berbisik lagi, suaranya begitu lembut, sangat berbeda dengan sosok Devan yang biasanya suka meledek dan menyebalkan. "Fokus sama suara gue. Tarik napas pelan-pelan... ikutin ritme napas gue."
Devan menarik napas panjang secara perlahan, sengaja membuat dadanya membusung agar Keyla yang sedang bersandar di sana bisa merasakan gerakannya.
Keyla mencoba mengikuti. Dia menghirup napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan aroma tubuh Devan yang menenangkan, lalu mengembuskannya perlahan.
"Pinter. Gitu terus, Key. Pelan-pelan aja," puji Devan lembut.
Ibu jari Devan yang berada di pinggang Keyla mulai bergerak perlahan, mengusap punggung cewek itu naik-turun dengan gerakan menenangkan. Sentuhan fisik yang begitu dekat, intim, dan tanpa sekat ini perlahan-lahan mulai mengikis rasa takut yang menguasai pikiran Keyla. Rasa paniknya yang tadinya berada di ubun-ubun, kini perlahan-lahan surut, digantikan oleh kesadaran lain yang jauh lebih mendebarkan.
Keyla bisa merasakan setiap jengkal tubuh Devan yang menempel pada tubuhnya. Bagaimana dada bidang cowok itu naik turun seirama dengannya, bagaimana lengan berotot Devan mendekapnya begitu erat seolah-olah ingin melindunginya dari seluruh dunia, dan bagaimana jemari tangan Devan yang besar merengkuh pinggangnya dengan begitu posesif namun lembut.
Ini terlalu dekat. Bahkan jauh lebih dekat daripada saat mereka berpura-pura pacaran di depan orang lain.
Di dalam kegelapan lift yang sempit ini, tidak ada penonton. Tidak ada kontrak yang perlu dibuktikan. Tapi Devan memeluknya seolah-olah Keyla adalah hal paling berharga yang tidak boleh terluka sedikit pun.
"Masih sesak?" tanya Devan pelan, bibirnya nyaris menyentuh puc** telinga Keyla saat dia berbicara.
Keyla menggeleng pelan di dada Devan. "Udah agak mendingan..." suaranya terdengar sangat pelan, hampir tenggelam dalam keheningan lift.
"Bagus. Jangan dilepas dulu pegangan lo kalau masih lemes," kata Devan lagi.
Bukannya melepaskan, tangan Devan justru sedikit merosot ke bawah, bertengger di pinggang bagian belakang Keyla, menahannya agar tetap menempel erat pada tubuhnya. Sentuhan "nakal" yang biasa Devan lakukan kini terasa berbeda—tidak ada unsur menggoda yang menyebalkan, melainkan sebuah kehangatan yang entah kenapa membuat pertahanan hati Keyla yang selama ini dibangun kokoh untuk menjaga jarak dari Devan, perlahan-lahan mulai retak.
*Gue kenapa?* batin Keyla bingung. Kenapa jantungnya sekarang malah berdegup jauh lebih kencang daripada saat dia panik karena klaustrofobia tadi? Dan sialnya, detak jantung ini bukan karena rasa takut, melainkan karena cowok yang sedang mendekapnya ini.
"Dev..."
"Hmm?"
"Makasih ya," bisik Keyla tulus.
Devan terdiam sejenak. Di dalam kegelapan, Keyla tidak bisa melihat ekspresi wajah cowok itu, tapi dia bisa merasakan dada Devan bergetar halus saat cowok itu mengembuskan napas panjang.
"Sama-sama, Key. Makanya, jangan sok kuat terus kalau di depan gue. Lo itu cewek gue—maksud gue, di kontrak kan kayak gitu. Jadi lo berhak buat keliatan lemah di depan gue," ujar Devan, nadanya kembali ke gaya sant** yang biasa, tapi ada ketulusan yang terselip di sana.
Keyla tidak membalas. Dia hanya menyembunyikan wajahnya lebih dalam di dada Devan, membiarkan dirinya menikmati momen langka ini. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Keyla merasa begitu aman dan dilindungi oleh seseorang.
Tepat lima belas menit berlalu dalam keheningan yang intim itu, tiba-tiba lampu indikator di atas pintu lift berkedip merah.
*Teng!*
Suara berdenting yang nyaring terdengar, disusul oleh lampu neon lift yang kembali menyala terang benderang. Angin segar dari ventilasi langsung berembus ma**k, dan lift kembali bergerak naik dengan mulus.
Seketika itu juga, realitas seolah menampar Keyla kembali ke bumi.
Sadar bahwa lampu sudah menyala, Keyla langsung melepaskan cengkeramannya pada kaus Devan dan melangkah mundur satu langkah dengan canggung. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus saat menyadari seberapa dekat posisi mereka tadi.
Devan juga menurunkan tangannya dari pinggang Keyla. Dia berdeham pelan, merapikan kausnya yang kusut akibat cengkeraman Keyla, lalu menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangannya untuk menyembunyikan rasa canggung yang mendadak melanda.
"Ehem. Tuh kan, gue bilang juga apa. Cuma lima belas menit," kata Devan sambil melirik angka lant** di layar panel yang kini menunjukkan angka 11.
"I-iya. Makasih," jawab Keyla gugup, matanya menatap lurus ke arah pintu lift, tidak berani melirik ke arah Devan sama sekali. Jantungnya masih berdegup liar seperti habis lari maraton.
Pintu lift akhirnya terbuka begitu sampai di lant** 12.
Keyla langsung melangkah keluar dengan tergesa-gesa, seolah-olah sedang dikejar hantu. Namun, baru beberapa langkah berjalan di koridor apartemen yang sepi, pergelangan tangannya ditahan dengan lembut oleh Devan dari belakang.
Keyla menoleh dengan cepat, matanya membelalak kaget. "Kenapa lagi, Dev?"
Devan menatap Keyla dalam-dalam. Ada senyum tipis, sangat tipis yang hampir tidak kelihatan di sudut bibirnya.
"Muka lo masih merah banget, Key. Gak usah buru-buru jalan kayak gitu, entar jatuh," ucap Devan dengan nada menggoda yang biasa, tapi matanya memancarkan kehangatan yang berbeda dari sebelumnya. "Dan satu lagi... kalau nanti malam lo masih takut atau gak bisa tidur, kamar gue cuma sebelah kamar lo. Lo tinggal ketuk pintu, dan gue bakal langsung ada di sana."
Setelah mengucapkan kalimat yang sukses membuat jantung Keyla hampir meledak itu, Devan melepaskan pegangannya, lalu berjalan mendahului Keyla menuju pintu unit apartemennya sendiri sambil bersiul sant**.
Sementara itu, Keyla berdiri mematung di tengah koridor, memegangi dadanya yang berdegup kencang. Dinding pertahanan yang selama ini dia bangun rapat-rapat untuk menghindari pesona cowok nakal di sebelahnya itu, kini resmi runtuh sebagian, menyisakan celah besar yang perlahan mulai dima**ki oleh sosok Devan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!