**Bab 7: Dinding Tipis dan Luka Lama**
Sisa kepanikan dari kejadian di lift sore tadi rupanya masih membekas. Meskipun petugas apartemen akhirnya berhasil mengeluarkan mereka dalam waktu tiga puluh menit, rasa sesak dan debaran jantung yang mengg*** seolah enggan pergi dari dada Keyla.
Malam sudah merambat terlalu jauh. Jarum jam di dinding kamar Keyla menunjukkan pukul 01.45 dini hari, tapi matanya masih terjaga lebar. Dia sudah mencoba memejamkan mata, memeluk guling erat-erat, bahkan mendengarkan musik bergenre *lo-fi* yang biasa ampuh membuatnya mengantuk. Hasilnya? Nol besar. Otaknya justru berputar-putar, memikirkan banyak hal, terma**k bagaimana eratnya Devan mendekapnya di dalam lift gelap itu untuk meredakan serangan panik Keyla.
"Ah, tau ah. Kenapa malah mikirin cowok mesum itu, sih?" gumam Keyla kesal pada diri sendiri.
Merasa gerah dan butuh udara segar, Keyla akhirnya turun dari tempat tidur. Dia memakai kardigan rajut tipis berwarna krem untuk menutupi kaus oblongnya, lalu berjalan menuju pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar.
Begitu pintu kaca digeser, angin malam yang c**up dingin langsung menerpa wajahnya. Keyla memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Langit Jakarta malam ini lumayan bersih, memperlihatkan beberapa bintang yang kalah terang oleh gemerlap lampu gedung-gedung pencakar langit di kejauhan.
Keyla melangkah mendekati pagar pembatas balkon. Kamarnya dan kamar Devan memang bersebelahan, hanya dibatasi oleh sebuah sekat besi tipis berpola garis-garis vertikal. Sekat itu sebenarnya c**up rapat, tapi jika seseorang berdiri di dekatnya, mereka masih bisa saling melihat dan mendengar suara satu sama lain dengan sangat jelas.
*Klik.*
Suara pemantik api yang dinyalakan memecah keheningan malam. Keyla refleks menoleh ke arah sekat besi di sebelah kanannya.
Melalui celah-celah besi, dia bisa melihat siluet seorang cowok yang sedang bersandar di pagar balkon. Devan. Cowok itu hanya mengenakan kaus hitam polos yang agak longgar dan celana pendek abu-abu. Rambutnya yang biasa ditata rapi kini berantakan alami, jatuh menutupi sebagian keningnya. Di sela jarinya, ada sebatang rokok yang ujungnya menyala kemerahan, mengepulkan asap tipis yang langsung disapu angin malam.
Keyla sempat terpaku. Ini pertama kalinya dia melihat Devan merokok. Biasanya, cowok itu selalu wangi parfum maskulin yang segar dan mahal. Dan yang lebih membuat Keyla heran, tidak ada senyum usil, seringai menyebalkan, atau tatapan menggoda yang biasa Devan tunjukkan. Cowok itu hanya menatap kosong ke arah lampu-lampu kota dengan raut wajah yang sangat... datar. Dan sepi.
Seolah menyadari kehadiran seseorang di sebelahnya, Devan menoleh. Mata mereka bertemu di antara celah sekat besi.
Devan tampak sedikit terkejut, tapi ekspresi itu cepat berganti dengan senyum tipis—bukan senyum menyebalkan miliknya yang biasa, melainkan senyum yang tampak lelah.
"Belum tidur, Key?" tanya Devan. Suaranya terdengar lebih berat dan serak khas orang yang mengantuk tapi enggan memejamkan mata.
"Belum bisa. Masih agak kepikiran kejadian di lift tadi," jawab Keyla jujur, tidak ingin berpura-pura ketus seperti biasanya. Dia melangkah sedikit lebih dekat ke arah sekat besi, menyandarkan lengannya di pagar balkon. "Lo sendiri? Ngapain malem-malem begini malah ngerokok di luar?"
Devan menurunkan rokoknya, mematikan ujungnya yang menyala di asbak kecil yang terletak di pagar pembatas, lalu membuang puntungnya. "Gue juga gak bisa tidur. Sori ya, lo keganggu sama asapnya?"
"Enggak, kok. Anginnya kencang, langsung hilang ke sana," sahut Keyla.
Hening sejenak di antara mereka. Hanya ada suara bising kendaraan sayup-sayup dari jalan raya di bawah sana. Atmosfer di antara mereka terasa sangat berbeda malam ini. Tidak ada tensi menyebalkan, tidak ada adu mulut. Hanya ada dua orang asing yang kebetulan dipertemukan sebagai tetangga kamar dan terikat dalam hubungan kontrak yang aneh.
"Gue... belum bilang makasih secara bener, kan?" ucap Keyla memecah keheningan. Dia menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan. "Buat yang di lift tadi. Makasih ya, Dev. Kalau gak ada lo, mungkin gue udah pingsan karena panik."
Devan terkekeh pelan. Kali ini terdengar tulus. "Sant** aja, Key. Masa pacar pura-pura gue biarin pingsan gitu aja? Nanti siapa yang mau gue usilin lagi di kampus?"
Keyla mendengus, tapi ada senyum tipis yang terukir di sudut bibirnya. "Tuh, kan. Mulai lagi usilnya. Padahal baru semenit yang lalu lo kelihatan kayak manusia normal yang punya beban hidup."
Devan terdiam sesaat mendengar ucapan Keyla. Dia kembali menatap ke depan, membiarkan angin malam memainkan rambut berantakannya. "Gue emang punya beban hidup, Key. Banyak malah. Cuma biasanya gue pinter aja buat nutupin pakai muka tembok gue ini."
Keyla menoleh ke arah Devan. Dari samping, profil wajah cowok itu terlihat sangat tegas. Rahangnya yang kokoh, hidungnya yang mancung, dan matanya yang sayu di bawah cahaya lampu balkon yang temaram. Ada sesuatu yang rapuh dari cara Devan berdiri malam ini. Keusilan yang biasa dia tunjukkan seperti sebuah topeng tebal yang sengaja dia pasang agar orang lain tidak bisa melihat apa yang ada di dalamnya.
"Mau cerita?" tanya Keyla pelan. Nada suaranya melembut, tanpa sadar menunjukkan rasa peduli. "Gue janji gak bakal ngetawain. Anggap aja ini bagian dari 'fasilitas' pacar kontrak."
Devan menoleh, menatap Keyla lama melalui celah sekat besi. Dia seolah sedang menimbang-nimbang apakah dia harus membagikan rahasianya pada gadis yang baru beberapa minggu ini ma**k ke dalam hidupnya. Namun, malam yang sunyi dan dinding tipis di antara mereka entah bagaimana membuat pertahanan Devan runtuh perlahan.
Devan menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke pagar balkon, menghadap ke arah sekat kamar Keyla.
"Lo pernah mikir gak, kenapa gue hobi banget main-main? Gak pernah serius sama cewek, gonta-ganti gebetan, dan selalu bersikap masa bodoh sama yang namanya komitmen?" Devan memulai ceritanya dengan sebuah pertanyaan retoris.
Keyla ikut menyandarkan punggungnya ke dinding balkonnya, sehingga posisi mereka kini saling membelakangi, hanya terpisah sekat besi tipis. "Pernah, sih. Gue pikir lo emang dasarnya *playboy* cap kapak aja yang gak punya perasaan."
Devan tertawa kecil, terdengar getir. "Semua orang mikirnya gitu. Dan gue gak keberatan. Lebih baik dicap *playboy* daripada orang-orang tahu aslinya sesedih apa hidup gue."
Keyla terdiam, menyimak dengan saksama.
"Gue tumbuh di keluarga yang... berantakan banget, Key," lanjut Devan. Suaranya merendah, terdengar agak bergetar namun dia berusaha menahannya. "Dari kecil, yang gue denger di rumah cuma suara piring pecah, teriakan, makian, dan pertengkaran bokap nyokap gue. Mereka menikah karena dijodohin demi bisnis keluarga. Gak ada cinta sama sekali. Sejak gue lahir, gue cuma dianggap sebagai 'beban tambahan' atau pengikat paksa yang bikin mereka gak bisa cerai dengan mudah."
Keyla menahan napasnya. Dia tidak menyangka bahwa di balik penampilan Devan yang selalu terlihat berkec**upan—bahkan cenderung mewah dengan mobil bagus dan apartemen ini—ada luka masa kecil yang begitu dalam.
"Sampai akhirnya pas gue SMA, mereka resmi cerai. Di hari perceraian itu, mereka berantem hebat lagi. Tapi kali ini bukan rebutan hak a**h gue, Key," Devan menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam seolah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan kata-katanya. "Mereka berantem karena saling tolak-menolak buat nampung gue. Bokap bilang dia mau fokus sama keluarga barunya, sedangkan nyokap bilang kehadiran gue cuma bakal bikin dia inget sama kegagalan pernikahannya. Mereka berdua... menolak gue di depan muka gue sendiri."
Setetes air mata hampir saja jatuh dari sudut mata Keyla. Dia bisa merasakan betapa sakitnya berada di posisi Devan saat itu. Ditolak oleh dua orang yang seharusnya menjadi pelindung utamanya di dunia ini.
"Akhirnya gue dikasih apartemen ini, dikasih uang bulanan yang lebih dari c**up, tapi gak pernah lagi dapet yang namanya keluarga. Mereka cuma transfer uang biar gue gak ganggu hidup mereka masing-masing," Devan tersenyum miris. "Bagi mereka, gue itu cuma kesalahan masa lalu yang harus dibayar pakai duit."
"Devan..." gumam Keyla lirih. Dia merasa tenggorokannya mendadak tercekat.
"Makanya, Key," Devan melanjutkan, suaranya kini terdengar lebih tenang namun sarat akan keputusasaan yang terpendam lama. "Gue gak percaya sama yang namanya komitmen. Pernikahan, janji suci, cinta sejati... bagi gue itu semua cuma omong kosong yang ujung-ujungnya bakal hancur dan bikin orang lain terluka. Gue gak mau terjebak di lingkaran s**** itu. Gue trauma."
"Gue milih buat selalu bersikap sant**, main-main, dan gak pernah mau terikat hubungan serius sama siapa pun. Karena kalau gue gak pernah mulai serius, gue gak akan pernah ngerasain yang namanya ditinggalkan lagi. Gue gak mau berharap sama manusia, karena ujung-ujungnya pasti bakal kecewa."
Keyla memutar tubuhnya, kembali menghadap sekat besi. Dia menatap siluet Devan yang kini menunduk, menatap lant** balkon dengan kedua tangan yang dima**kkan ke dalam saku celana. Rasa kesal yang biasanya selalu muncul tiap kali melihat wajah cowok itu kini menguap tak bersisa, digantikan oleh rasa empati yang teramat sangat.
Keyla mengulurkan tangannya, menyelipkannya di antara celah pembatas besi tipis itu. Dia menyentuh punggung tangan Devan yang terasa dingin karena angin malam.
Devan tersentak kecil mendapat sentuhan mendadak itu. Dia mendongak, menatap tangan lembut Keyla yang kini menggenggam jemarinya dengan hangat di antara celah besi.
"Gak semua orang kayak orang tua lo, Dev," ucap Keyla dengan nada yang sangat tulus. Mata bulatnya menatap langsung ke dalam manik mata Devan yang kelam. "Tapi... gue paham kenapa lo milih buat bersikap kayak gini. Menghindari rasa sakit itu emang naluri semua manusia."
Devan tertegun. Genggaman tangan Keyla terasa begitu hangat, seolah menyalurkan energi kehidupan yang selama ini dingin di dalam dirinya. Selama ini, cewek-cewek yang mendekatinya hanya peduli pada ketampanannya, mobilnya, atau pesonanya yang nakal. Tidak ada satu pun yang pernah berusaha melihat luka di balik senyumnya. Tapi cewek di sebelahnya ini—cewek galak yang tidak sengaja dia seret ke dalam skenario pacaran kontrak—justru menjadi orang pertama yang mendengar sisi tergelap dari hidupnya tanpa menghakimi.
"Makasih ya, Key. Udah mau dengerin sampah masa lalu gue," ujar Devan, matanya melembut, menatap Keyla dengan binar yang berbeda dari biasanya.
"Gak usah bilang makasih. Kita kan... pacar kontrak. Berbagi beban hidup itu harusnya ma**k di draf kontrak tambahan," canda Keyla, berusaha mencairkan suasana yang sempat terasa begitu berat.
Devan terkekeh, kali ini tawa khasnya yang usil kembali terdengar, tapi dengan nada yang jauh lebih tulus. Dia membalikkan telapak tangannya, membalas genggaman erat jemari Keyla di sela-sela besi pembatas.
"Tangan lo anget, Key. Kayak jahe anget," goda Devan, mulai kembali ke mode usilnya yang menyebalkan.
Keyla refleks langsung menarik tangannya kembali dengan wajah yang seketika memerah, untung saja pencahayaan di balkon c**up temaram sehingga Devan tidak bisa melihat semburat merah di pipinya dengan jelas.
"Dih, mulai deh jahilnya! Baru juga gue kasihan, udah kumat aja mesumnya!" ketus Keyla sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Lah, kan gue cuma bilang anget. Emang salah ya?" Devan tertawa lepas, melihat reaksi salah tingkah Keyla yang selalu sukses menghiburnya. Rasa sesak yang sejak sore tadi bersemayam di dadanya perlahan-lahan menguap, digantikan oleh perasaan hangat yang aneh.
Keyla mendengus pelan, tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Udah ah, udah malem. Gue mau tidur. Lo juga buruan ma**k, dingin tahu di luar."
"Iya, Pacar Sebelah Kamar," sahut Devan lembut. "Good night, Keyla."
"Good night, Devan."
Keyla berbalik dan melangkah ma**k ke dalam kamarnya, menutup kembali pintu kaca dengan perlahan. Sebelum merebahkan diri di ka**r, dia sempat melirik ke arah balkon luar sekali lagi. Sosok Devan sudah tidak ada di sana, tapi kehangatan dari genggaman tangan cowok itu seolah masih tertinggal di jemarinya.
Malam itu, di balik dinding tipis yang membatasi kamar mereka, Keyla akhirnya menyadari satu hal. Devan yang nakal dan menyebalkan itu sebenarnya hanyalah seorang anak kecil yang kesepian, yang sedang berusaha bertahan hidup dari luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Dan entah kenapa, Keyla merasa ada bagian dari dirinya yang ingin membantu menyembuhkan luka itu.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!