**Bab 8: Curiga dan Sentuhan Nyata**
Sejak malam di balkon itu, Keyla merasa ada yang berbeda setiap kali dia berpapasan dengan Devan di koridor apartemen. Cowok itu masih sering tersenyum usil dan melayangkan godaan-godaan kecil yang menyebalkan, tapi di matanya, Keyla tidak lagi melihat Devan yang seratus persen menyebalkan. Ada sisi lain dari Devan—sisi yang sepi, lelah, dan penuh rahasia—yang malam itu sempat tertangkap oleh indra penglihatannya.
Namun, Keyla tidak punya banyak waktu untuk merenungkan perubahan itu. Masalah baru yang lebih mendesak baru saja mengetuk pintunya.
Siang itu, koridor Gedung C Fakultas Ekonomi dan Bisnis tampak ramai oleh mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kelas siang. Keyla sedang merapikan buku-buku tebalnya ke dalam tas ketika sebuah bayangan tinggi menghalangi jalannya.
Begitu mendongak, Keyla langsung menghela napas malas. Reza. Mantan pacarnya itu berdiri di sana dengan melipat kedua tangan di dada. Matanya menatap Keyla dengan tatapan menyelidik yang sangat tidak menyenangkan.
"Ada apa lagi, Rez?" tanya Keyla ketus, berusaha melewati cowok itu.
Reza tidak bergeser satu senti pun. Dia justru maju selangkah, membuat Keyla terpaksa mundur. "Gue cuma mau mastiin sesuatu, Key. Lo beneran pacaran sama Devan anak Teknik itu?"
Keyla memutar bola matanya jengah. "Bukannya kemarin gue udah memperjelas semuanya? Lo sendiri juga udah liat dia jemput gue."
Reza terkekeh sinis, menyugar rambutnya ke belakang dengan gaya yang menurutnya keren, padahal di mata Keyla itu sangat menyebalkan. "Iya, gue liat. Tapi setelah gue perhatiin beberapa hari ini, ada yang aneh dari kalian berdua."
Jantung Keyla berdegup sedikit lebih cepat. "Aneh gimana maksud lo?"
"Gue kenal lo, Key. Lo itu kalau pacaran manja banget. Tapi kemarin-kemarin gue liat lo sama Devan jalan di koridor kantin, jarak kalian bahkan hampir semeter. Nggak ada pegangan tangan, nggak ada interaksi spontan yang biasanya dilakuin orang pacaran. Kalian berdua itu... kaku. Kayak robot yang lagi jalan bareng," cerocos Reza dengan nada penuh kemenangan. "Jangan-jangan, hubungan lo sama dia cuma rekayasa? Lo cuma mau bikin gue panas, kan?"
Keyla mengepalkan tangannya di balik tali tas. Si****, batinnya. Dia tidak menyangka Reza sedet**l itu dalam mengint** aktivitasnya. Tapi tentu saja Keyla tidak boleh kelihatan panik.
"Nggak usah sotoy deh, Rez. Hubungan gue sama Devan bukan urusan lo lagi. Minggir, gue mau lewat," usir Keyla, berusaha terdengar sedingin mungkin.
"Gue bakal terus mantau lo, Key. Gue tahu lo masih sayang sama gue, dan cowok itu cuma tameng sementara lo," bisik Reza penuh percaya diri sebelum akhirnya melangkah pergi, meninggalkan Keyla yang berdiri dengan perasaan campur aduk antara kesal, panik, dan cemas.
Begitu sampai di bangku taman depan fakultas yang agak sepi, Keyla langsung mengeluarkan ponselnya. Jemarinya dengan cepat mengetik pesan untuk Devan.
**Keyla:** *Dev, gawat. Reza mulai curiga. Dia bilang kita kelihatan kaku dan jarang bermesraan secara spontan. Dia mikir hubungan kita cuma rekayasa buat bikin dia cemburu.*
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai ponsel Keyla bergetar.
**Devan:** *Oh, jadi mantan lo yang sok tahu itu mulai ngintipin kita?*
**Keyla:** *Iya! Terus sekarang kita harus gimana? Dia bilang bakal terus mantau kita.*
**Devan:** *Tenang aja, Sayang. Kuncinya ada di gue. Lo kelas selesai jam berapa?*
Keyla mengernyitkan dahi membaca pangg***n 'Sayang' dari Devan, meskipun dia tahu itu hanya ketikan di ruang obrolan.
**Keyla:** *Gue ada satu kelas lagi nanti jam 1 sampai jam 3 sore. Di Gedung C lant** 2.*
**Devan:** *Oke. Tunggu aja di depan kelas lo pas bubaran. Jangan pulang duluan. Kita kasih mantan lo itu pertunjukan gratis.*
Membaca balasan terakhir dari Devan membuat perasaan Keyla mendadak tidak karuan. Ada rasa cemas, tapi di sisi lain, ada debaran aneh yang mulai menyusup ke dadanya. Pertunjukan apa yang sedang direncanakan oleh cowok mesum sebelah kamarnya itu?
***
Pukul tiga sore lewat lima menit, dosen akhirnya menutup perkuliahan. Pintu-pintu kelas di lant** dua Gedung C terbuka lebar, menumpahkan puluhan mahasiswa yang tampak lelah sekaligus lega karena kelas hari ini telah usai.
Keyla berjalan keluar kelas bersama beberapa teman perempuannya. Namun, matanya langsung menangkap sosok Reza yang sedang berdiri di dekat pilar koridor, berpura-pura bermain ponsel padahal matanya terus melirik ke arah pintu kelas Keyla.
Keyla menghela napas, bersiap untuk mengabaikan cowok itu. Namun, sebelum dia sempat melangkah lebih jauh, sebuah keriuhan kecil terdengar dari arah tangga ujung koridor. Beberapa mahasiswi tampak saling berbisik dan mencuri pandang ke satu arah.
Keyla menoleh, dan saat itulah jantungnya serasa berhenti berdetak sejenak.
Devan sedang berjalan ke arahnya.
Cowok itu terlihat sangat menonjol di antara kerumunan mahasiswa lainnya. Devan mengenakan kaus putih polos yang dilapisi kemeja flanel merah-hitam yang kancingnya dibiarkan terbuka, dipadukan dengan celana jins hitam dan sepatu kets. Rambutnya ditata acak-acakan tapi justru membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan. Di pundak kirinya, tersampir satu tas ransel hitam.
Dengan langkah sant** dan senyum tipis yang langsung membuat beberapa mahasiswi di sekitar mereka menahan napas, Devan berjalan lurus ke arah Keyla. Dia sama sekali tidak melirik ke arah lain, seolah-olah seluruh dunia di koridor itu hanyalah latar belakang abu-abu, dan satu-satunya objek yang berwarna adalah Keyla.
"Hai," sapa Devan begitu sampai di depan Keyla. Suaranya yang berat terdengar sangat lembut, kontras dengan suasana koridor yang bising.
"Dev? Lo... beneran ke sini?" bisik Keyla, matanya melebar karena terkejut sekaligus gugup.
Dari sudut matanya, Keyla bisa melihat Reza langsung menegakkan tubuhnya, menatap ke arah mereka dengan mata menyipit tajam.
Devan tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, dia mengambil satu langkah lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Keyla bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur mint yang sangat familier.
Perlahan, Devan mengangkat tangan kanannya. Jemarinya yang panjang dan hangat bergerak menyentuh sisi wajah Keyla. Dengan gerakan yang sangat lembut dan telaten, Devan merapikan beberapa helai rambut Keyla yang sedikit berantakan dan menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu. Ibu jarinya sempat mengusap pipi Keyla dengan gerakan memutar yang sangat halus.
Keyla terpaku. Sentuhan kulit Devan terasa seperti sengatan listrik ringan yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Napasnya tertahan di tenggorokan.
"Rambut kamu berantakan, Sayang. Kamu belajar terlalu keras ya hari ini?" tanya Devan, suaranya terdengar begitu tulus dan penuh perhatian, seolah-olah dia benar-benar seorang pacar yang sangat mengkhawatirkan kekasihnya.
"D-Dev..." Keyla terbata, wajahnya mulai terasa panas. Dia tahu ini akting, tapi kenapa tatapan mata Devan terasa begitu intens?
Belum sempat Keyla menguasai dirinya, Devan tiba-tiba menundukkan kepalanya sedikit. Detik berikutnya, Keyla merasakan sentuhan hangat dan lembut mendarat di keningnya.
Devan mencium kening Keyla.
Itu bukan sekadar kecupan singkat yang terburu-buru. Devan menempelkan bibirnya di kening Keyla selama beberapa detik yang terasa sangat lama bagi Keyla. Selama detik-detik itu, dunia di sekitar Keyla seolah senyap. Dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang seperti genderang perang, dan dia bersumpah dia juga bisa merasakan dada Devan yang bidang naik-turun dengan napas yang teratur di dekatnya.
Sentuhan bibir Devan di keningnya terasa begitu hangat, begitu nyata, dan... terlalu lembut untuk sekadar sebuah kebohongan. Ada rasa protektif yang mengalir dari ciuman itu, membuat pertahanan yang selama ini dibangun Keyla runtuh dalam sekejap.
Ketika Devan menjauhkan wajahnya, dia menatap mata Keyla yang masih mengerjap linglung dengan senyum manis yang belum pernah Keyla lihat sebelumnya. Itu bukan senyum usil atau senyum lelahnya yang biasa. Itu adalah senyum yang... tulus.
"Capek ya?" tanya Devan lagi, kini suaranya hampir menyerupai bisikan hangat.
Keyla hanya bisa mengangguk pelan seperti orang yang terhipnotis.
Tanpa membuang waktu, Devan merengkuh bahu Keyla, menarik tubuh gadis itu agar merapat ke sisi tubuhnya. Lengannya yang kokoh mendekap bahu Keyla dengan erat, seolah menegaskan pada semua orang di koridor itu—terutama pada Reza yang kini wajahnya sudah memerah padam menahan kesal di dekat pilar—bahwa Keyla adalah miliknya.
"Yuk, pulang. Aku udah laper, pengen makan masakan kamu," kata Devan sambil mulai menuntun Keyla berjalan membelah kerumunan mahasiswa yang menatap mereka dengan berbagai pandangan—sebagian besar iri dan gemas.
Keyla berjalan dalam diam, membiarkan tubuhnya dipandu oleh rangkulan erat Devan. Sepanjang jalan menuju parkiran, otaknya dipenuhi oleh jutaan pertanyaan yang saling tumpang tindih.
Sentuhan tangan Devan di pipinya, kehangatan bibir cowok itu di keningnya, dan bagaimana eratnya Devan merangkul bahunya saat ini... semuanya terasa terlalu nyata. Terlalu hangat. Terlalu nyaman untuk ukuran sebuah hubungan kontrak yang didasari oleh rasa terpaksa.
Keyla melirik profil samping wajah Devan yang tampak tenang dari balik bulu matanya.
*Devan... lo beneran lagi akting, atau lo emang beneran pake perasaan?* tanya Keyla dalam hati, sementara dadanya terus berdegup kencang, menolak untuk tenang bahkan setelah mereka berdua sudah jauh meninggalkan area kampus.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!