**Bab 9: Pesta, Cemburu, dan Sudut Sunyi**
Balasan pesan dari Devan siang itu sangat singkat, namun sukses membuat jantung Keyla berdebar tidak karuan sampai malam tiba.
*“Nggak usah panik. Nanti malam ikut gue ke ulang tahun temen gue. Dandan yang cantik, Key. Kita tunjukin ke mantan lo itu kalau kita nggak sekaku yang dia pikir.”*
Dan di sinilah Keyla sekarang. Berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap pantulan dirinya sendiri dengan napas yang sedikit tertahan. Dia memilih mengenakan *slip dress* satin berwarna hitam polos dengan tali tipis yang membingkai bahu dan tulang selangkangnya yang tegas. Gaun itu jatuh dengan pas di tubuhnya, menonjolkan lekuk pinggangnya, dan berakhir beberapa senti di atas lutut. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan gelombang halus di ujungnya, sementara riasan wajahnya dibuat natural namun dengan sentuhan lipstik merah bata yang membuat bibirnya terlihat penuh dan segar.
Keyla mengembuskan napas perlahan. "Oke, Key. Ini cuma buat meyakinkan Reza. Nggak lebih."
Tepat saat dia memakai anting peraknya, terdengar ketukan sant** di pintu apartemennya. Keyla mengambil tas kecilnya, lalu melangkah membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, sosok Devan sudah berdiri di sana. Cowok itu mengenakan kemeja hitam ka**al dengan tiga kancing teratas yang sengaja dibuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya dan kalung perak tipis yang melingkar di lehernya. Lengan kemejanya digulung hingga sebatas siku, memamerkan urat-urat tangan yang maskulin. Rambutnya ditata sedikit berantakan tapi sangat rapi di saat yang sama.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling diam, saling mengagumi dalam bungkam.
Devan berdeham kecil, matanya menyusuri penampilan Keyla dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang mendadak menggelap. "G***," gumam Devan pelan, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. "Gue tahu lo cantik, Key. Tapi malam ini... lo sengaja mau bikin gue serangan jantung?"
Wajah Keyla langsung terasa panas. Dia memutar bola matanya untuk menutupi rasa salah tingkah yang luar biasa. "Berisik. Lo juga rapi banget, tumben nggak pakai kaos oblong bolong-bolong lo itu."
Devan terkekeh, menyugar rambutnya ke belakang dengan gaya yang sangat natural namun mematikan bagi pertahanan Keyla. "Demi pacar kesayangan, apa sih yang nggak?" Devan mengulurkan siku tangannya. "Yuk? Taksi fungsional kita sudah menunggu di bawah."
Keyla tersenyum tipis, menyelipkan tangannya di lengan Devan. Sentuhan pertama malam itu terasa hangat, mengalirkan getaran aneh yang langsung membuat bulu kuduk Keyla meremang.
***
Pesta ulang tahun Rio—teman satu tongkrongan Devan anak Teknik—diadakan di sebuah vila pribadi milik keluarganya di kawasan Jakarta Selatan. Begitu mereka ma**k, dentuman musik EDM langsung menyambut indra pendengaran. Cahaya lampu temaram berwarna biru dan ungu berputar-putar, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus liar. Halaman belakang vila yang luas dipenuhi oleh puluhan mahasiswa yang tampak asyik mengobrol sambil memegang gelas minuman masing-masing.
"Devan! Akhirnya dateng juga lo, Bro!" teriak seorang cowok berkaos putih—yang Keyla tebak adalah Rio—sambil berjalan mendekat dan melakukan *bro-fist* dengan Devan.
Mata Rio kemudian beralih ke Keyla, dan matanya langsung melebar. "A****, Dev. Ini siapa? Jangan bilang lo akhirnya berhasil tobat dan dapet bidadari?"
Devan merangkulkan tangannya di pinggang Keyla. Sentuhan itu terasa sangat protektif, telapak tangan Devan yang lebar dan hangat menekan lembut pinggang Keyla, menarik tubuh cewek itu hingga menempel erat di sisinya. Keyla sempat tersentak, namun dia langsung memasang senyum manis terbaiknya.
"Kenalin, Rio. Ini Keyla, pacar gue," ucap Devan dengan nada bangga yang terdengar sangat meyakinkan.
"G***, beruntung banget lo, Dev!" Rio menjabat tangan Keyla dengan antusias. "Hai, Keyla. Gue Rio. Sumpah ya, jagain nih si Devan. Biasanya dia cuma pacaran sama motor gedenya doang."
Keyla tertawa kecil. "Hai, Rio. Salam kenal ya. Selamat ulang tahun."
"Makasih, Key! Duh, suaranya aja lembut banget. Dev, lo dapet di mana yang kayak gini? Bagi resep dong!" canda Rio yang langsung dihadiahi togolan pelan dari Devan di bahunya.
"Nggak ada resep-resepan. Udah sana lo urusin tamu lo yang lain," usir Devan sambil tertawa.
Setelah Rio pergi, Devan membawa Keyla ke area dekat bar mini. Di sepanjang jalan, Keyla bisa merasakan puluhan pasang mata tertuju pada mereka. Lebih tepatnya, tertuju pada dirinya. Beberapa cowok dari fakultas lain tampak terang-terangan memperhatikan lekuk tubuh Keyla yang dibalut gaun satin hitam tersebut. Saling berbisik satu sama lain dengan tatapan yang membuat Keyla merasa sedikit risih.
Devan menyadari hal itu. Keyla bisa merasakan bagaimana cengkeraman tangan Devan di pinggangnya mendadak mengencang. Rahang cowok itu mengeras, dan aura sant** yang biasanya selalu melekat pada Devan menguap begitu saja, digantikan oleh ketegangan yang dingin.
"Gue ambilin minum dulu, ya? Lo tunggu di sini, jangan ke mana-mana," bisik Devan di dekat telinga Keyla. Hembusan napas hangatnya membuat Keyla merinding.
"Jangan lama-lama, Dev," sahut Keyla agak cemas.
"Nggak akan." Devan mengusap pundak polos Keyla sekilas sebelum melangkah menuju kerumunan dekat bar.
Baru semenit Devan pergi, seorang cowok dengan jaket denim modis langsung mengambil kesempatan untuk mendekati Keyla. Cowok itu tersenyum sok akrab, menghalangi pandangan Keyla.
"Hai. Sendirian aja?" tanya cowok itu, matanya dengan lancang menelusuri bahu polos Keyla yang terekspos. "Gue Rian. Anak Hukum angkatan atas."
Keyla tersenyum formal, berusaha menjaga jarak. "Hai. Nggak, gue lagi nunggu cowok gue."
Rian terkekeh, tampak tidak terganggu sama sekali. "Oh, ya? Cowok lo tega banget ninggalin cewek secantik lo sendirian di sini. Kalau gue jadi dia, gue nggak bakal lepasin pandangan gue dari lo sedetik pun. Mau minum bareng?" Rian mengulurkan segelas minuman berwarna merah ke arah Keyla, tangannya sengaja bergerak maju seolah ingin menyentuh lengan Keyla.
Sebelum tangan Rian sempat menyentuh kulit Keyla, sebuah tangan lain yang kokoh dan berurat langsung mencengkeram pergelangan tangan Rian dengan kuat.
Keyla mendongak dan menemukan Devan sudah berdiri di sampingnya. Wajah Devan datar, tanpa ekspresi, namun matanya menatap Rian dengan tatapan yang sangat dingin dan mengintimidasi. Ada kemarahan yang tertahan di sana.
"Dia bilang dia lagi nunggu cowoknya. Dan cowoknya itu gue," ucap Devan dengan suara rendah yang terdengar sangat berbahaya.
Rian tampak tersentak, merasakan cengkeraman Devan yang tidak main-main kuatnya di pergelangan tangannya. "S-sorry, Bro. Gue nggak tahu," gumam Rian gugup. Begitu Devan melepaskan cengkeramannya, Rian langsung berbalik dan menghilang dengan cepat di balik kerumunan.
Keyla menghela napas lega, namun saat dia menatap Devan, dia menyadari ada yang salah. Devan tidak menatapnya. Napas cowok itu terdengar berat, dadanya naik turun dengan cepat. Matanya menyapu sekeliling halaman belakang, menatap tajam setiap cowok yang kedapatan sedang melirik ke arah Keyla.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Devan langsung menggenggam pergelangan tangan Keyla. Genggamannya erat, hangat, dan menuntut.
"Dev? Kita mau ke mana?" tanya Keyla setengah berlari menyeimbangkan langkah lebar Devan.
Devan tidak menjawab. Dia menarik Keyla menembus kerumunan, ma**k kembali ke dalam rumah, melewati ruang tamu yang bising, dan terus berjalan menyusuri koridor panjang di lant** satu yang mengarah ke bagian belakang vila yang sepi.
Begitu mereka sampai di sebuah sudut koridor yang remang-remang dan jauh dari keramaian pesta, Devan menghentikan langkahnya. Dengan satu gerakan cepat, Devan membalikkan tubuh Keyla hingga punggung cewek itu membentur dinding koridor yang dingin.
*Duk.*
Keyla tersentak, matanya melebar saat menyadari kedua tangan Devan kini sudah bertumpu di dinding di sisi kanan dan kiri kepalanya, mengunci tubuhnya sepenuhnya. Jarak mereka sangat dekat. Keyla bahkan bisa merasakan dada bidang Devan yang naik turun bersentuhan tipis dengan dadanya setiap kali mereka menarik napas.
Aroma parfum maskulin Devan yang bercampur dengan aroma mint segar langsung memenuhi indra penciuman Keyla, membuatnya mendadak pusing oleh sensasi yang memabukkan.
"Dev... lo kenapa sih?" bisik Keyla, suaranya terdengar gemetar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia takut Devan bisa mendengarnya.
Devan tidak langsung menjawab. Dia menundukkan kepalanya, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Matanya yang gelap malam ini menatap lurus ke dalam manik mata Keyla, sebelum perlahan turun menatap bibir merah Keyla yang sedikit terbuka karena terkejut.
"Gue nggak suka," bisik Devan. Suaranya rendah, serak, dan sangat posesif.
"Nggak suka apa?" tanya Keyla, hampir kehilangan suaranya.
"Gue nggak suka cara cowok-cowok di luar sana ngeliatin lo," kata Devan lagi. Salah satu tangannya perlahan turun dari dinding, beralih menyentuh rahang Keyla. Ibu jarinya yang hangat mengusap perlahan kulit pipi Keyla yang terasa halus, turun ke sudut bibirnya, memberikan sensasi terbakar yang instan di kulit Keyla. "Gue nggak suka mereka menatap bahu lo yang kebuka ini. Dan gue paling nggak suka waktu cowok tadi berusaha nyentuh lo."
Ketegangan di antara mereka mendadak meningkat drastis. Suasana di sudut koridor itu terasa begitu panas, kontras dengan AC vila yang dingin. Keyla bisa merasakan bagaimana tatapan Devan seolah menelanjangi jiwanya, menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar akting sebagai pacar sewaan.
"Devan... kita kan cuma pura-pura," bisik Keyla, berusaha keras mengingatkan dirinya sendiri—dan Devan—tentang batasan mereka. Meskipun di dalam hatinya, pertahanannya sudah runtuh total oleh tatapan intens cowok di depannya.
Mendengar kata "pura-pura", Devan justru terkekeh sinis. Dia memajukan tubuhnya setingkat lebih dekat, membuat Keyla terpaksa mendongakkan kepalanya. Pinggul mereka sekarang benar-benar menempel, menyalurkan panas tubuh yang membuat akal sehat Keyla menguap begitu saja.
"Pura-pura?" Devan berbisik tepat di depan bibir Keyla. Napas hangatnya menyapu permukaan bibir cewek itu, membuat Keyla memejamkan matanya erat-erat karena tidak kuat menahan sensasi mendebarkan ini. "Gue nggak peduli ini pura-pura atau nggak malam ini, Key. Yang gue tahu, saat ini lo lagi sama gue. Dan gue nggak suka berbagi perhatian lo sama siapa pun."
Keyla membuka matanya perlahan, menemukan mata Devan yang menatapnya dengan intensitas yang begitu pekat. Ada gairah, ada kecemburuan yang nyata, dan ada kepemilikan yang mutlak di sana.
"Mulai detik ini, sampai pesta ini selesai," Devan berbisik lagi, jarinya beralih mengusap tengkuk Keyla, menekan lembut agar Keyla semakin mendongak menatapnya. "Mata lo cuma boleh liat ke arah gue. Senyum lo cuma boleh buat gue. Dan pikiran lo... cuma boleh dipenuhi sama gue. Ngerti, Keyla?"
Keyla menelan ludahnya dengan susah payah. Sentuhan tangan Devan di tengkuknya mengirimkan sengatan listrik yang membuat lututnya terasa lemas. Jika Devan tidak menahan pinggangnya sekarang, dia yakin dia sudah luruh ke lant**.
"Ngerti nggak?" tuntut Devan sekali lagi, suaranya semakin serak dan menuntut jawaban. Ibu jarinya sengaja menekan lembut bibir bawah Keyla, membuat bibir itu sedikit terbuka.
Keyla hanya bisa mengangguk pelan, benar-benar terhipnotis oleh dominasi Devan malam ini. "I-iya... ngerti."
Sebuah senyuman tipis, sangat s**** dan penuh kemenangan, terukir di sudut bibir Devan. Tatapannya melunak, namun intensitasnya tidak berkurang sedikit pun. Dia perlahan mendekatkan wajahnya, memiringkan kepalanya sedikit, membuat hidung mereka bersentuhan.
Untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Keyla menahan napasnya, menunggu bibir hangat itu menyentuh bibirnya di tengah sudut koridor yang sunyi dan penuh ketegangan ini.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!