Bab 1: Malam Sunyi dan Jahitan Rahasia
Jam dinding di kamar tidur utama Kastel Obsidian berdentang dua kali. Suara detaknya terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam yang mencekam. Kamar itu luas banget, tapi vibes-nya bener-bener dingin dan sepi, mirip kuburan mewah. Di atas ranjang king size yang dilapisi sprei sutra hitam, Aurelia berbaring telentang. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang gelap gulita.
Di sebelahnya, ada Duke Cassian. Suaminya.
Cowok itu tidur memunggunginya dengan posisi yang sangat cuek. Jarak di antara mereka berdua lebar banget, bahkan c**up buat ditaruh satu guling besar lagi di tengah-tengah. Cassian tidur dengan napas yang teratur dan tenang. Tapi bahkan dalam keadaan terpejam pun, aura mengintimidasi dan dingin khas seorang pemburu penyihir terkuat di kekaisaran tetap terpancar dari tubuh tegapnya. Dia sama sekali nggak berniat mendekat, apalagi memeluk Aurelia.
Aurelia tersenyum sinis dalam kegelapan. Di mata publik, dia adalah wanita paling beruntung karena bisa menikah dengan Duke Cassian yang legendaris. Tapi kenyataannya? Dia cuma istri pajangan. Di mata dunia, Aurelia hanyalah cewek bangsawan lemah, penyakitan, dan gak berguna dari keluarga Count yang hampir bangkrut. Cassian menikahinya cuma karena butuh status pernikahan buat membungkam desakan kuil suci, dan Aurelia adalah kandidat paling pas karena dia terlalu "lemah" untuk mencampuri urusan sang Duke.
Tapi, malam ini tubuh Aurelia mulai berulah lagi.
*Kreeek.*
Suara halus itu bukan berasal dari furnitur kamar, melainkan dari lengan kiri Aurelia. Rasa perih yang teramat sangat mulai menjalar, membuat napasnya tertahan. Aurelia tahu betul apa yang sedang terjadi. Kulit palsunya mulai retak.
Perlahan, tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun, Aurelia menyingkirkan selimut sutranya. Langkah kakinya seringan kapas saat dia turun dari ranjang. Dia bahkan nggak memakai sandal kamarnya, membiarkan telapak kakinya yang sedingin es menyentuh lant** marmer tanpa suara. Dia berjalan cepat menuju sudut kamar yang paling gelap, tepat di depan meja riasnya yang hanya disinari sedikit cahaya bulan dari celah gorden.
Aurelia duduk di kursi kayu, lalu menarik napas dalam-dalam. Dia mengangkat lengan gaun tidur satinnya ke atas, menyingkap lengan kiri hingga ke bahu.
Di bawah temaram cahaya bulan, pemandangan mengerikan itu terpampang jelas. Kulit lengan kirinya retak-retak mirip porselen retak yang siap hancur kapan saja. Di balik retakan kulit itu, tidak ada darah merah yang mengalir. Sebagai gantinya, ada pendaran cahaya biru keunguan yang redupβsebuah inti sihir kuno yang berdenyut lambat, mencoba mempertahankan bentuk tubuhnya yang sebenarnya sudah mati setengahnya.
"Sial, jahitannya lepas lagi," bisik Aurelia sangat pelan, hampir menyerupai desau angin.
Dengan gerakan yang sudah sangat terlatih, Aurelia membuka laci rahasia di bawah meja riasnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berisi jarum perak tipis dan gulungan benang transparan yang terbuat dari serat sihir murni.
Aurelia mulai bekerja. Tangan kirinya yang menyimpan inti sihir kuno itu bergerak dengan presisi yang luar biasa. Dia menusukkan jarum perak itu ke pinggiran kulitnya yang retak, lalu menarik benangnya perlahan. Satu jahitan. Dua jahitan.
Dia tidak merasakan sakit fisik yang biasa dirasakan manusia normal. Tapi rasa ngilu yang menjalar langsung ke jiwanya bener-bener menyiksa. Rasanya seperti rohnya dipaksa untuk terus terikat pada wadah daging yang sudah mulai membusuk ini.
Aurelia memperhatikan jemarinya yang bergerak lincah menembus dagingnya sendiri. Dia tidak bisa menahan tawa getir dalam hati.
*Tanganku sendiri jauh lebih mengenal anatomi tubuhku dibanding suamiku,* pikirnya sinis.
Faktanya memang begitu. Cassian, cowok super dingin yang berstatus sebagai suaminya itu, nggak pernah menyentuhnya sama sekali sejak malam pertama mereka satu tahun yang lalu. Pada malam pernikahan mereka, Cassian bahkan cuma menatapnya dengan pandangan jijik dan berkata, *"Tidur di sisimu, jangan pernah lewati batas tengah ranjang, dan jangan harap aku akan menyentuh wanita selemah kamu."*
Aurelia sih bersyukur banget dengan sikap dingin Cassian. Kalau saja Cassian menyentuhnya, walau cuma memegang pergelangan tangannya, pria itu pasti langsung sadar kalau suhu tubuh Aurelia itu terlalu dingin untuk ukuran manusia hidup. Cassian yang punya insting pemburu penyihir super tajam pasti bakal langsung mendeteksi kalau detak jantung Aurelia itu... palsu.
Berbicara soal detak jantung, Aurelia tiba-tiba merasakan dadanya sesak. Detak jantung buatannya mulai melambat dan berbunyi tidak beraturan. *Deg... deg......... deg.* Ritmenya kacau, mirip mesin tua yang kehabisan oli. Jika dibiarkan, tubuhnya akan kehilangan fungsi motorik dan dia bisa langsung pingsanβatau lebih buruk lagi, mulai membusuk sebelum pagi datang.
"Ah, harus disetel lagi," gumam Aurelia.
Dia meletakkan jarumnya sebentar, lalu menempelkan telapak tangan kirinya yang dialiri sihir kuno tepat di atas dada kirinya. Aurelia memejamkan mata, memfokuskan pikirannya. Dia membayangkan sebuah sekrup imajiner di dalam dadanya, lalu menggunakan sihirnya untuk memutar dan mengencangkan katup jantung palsu tersebut.
*Deg. Deg. Deg.*
Suara detak jantungnya kembali terdengar normal dan stabil di telinganya. Aurelia menghela napas lega. Dia menyeka keringat dingin yang mengucur di dahinya dengan tangan yang gemetar.
Tiba-tiba, terdengar suara gesekan kain yang c**up keras dari arah tempat tidur.
*Sret.*
Aurelia langsung membeku di tempatnya. Jantung palsunya rasanya mau copot karena kaget. Detik itu juga, dia langsung menyembunyikan jarum dan benang sihirnya ke dalam saku gaun tidur, lalu menarik turun lengan gaunnya untuk menutupi jahitan yang belum selesai sepenuhnya.
Di atas ranjang, siluet tubuh Cassian bergerak. Pria itu membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah meja rias tempat Aurelia duduk.
Mata biru safir Cassian yang biasanya tajam bagai belati, kini terbuka sedikit. Dalam keremangan kamar, tatapannya langsung mengarah tepat ke arah Aurelia. Aura mengintimidasi yang biasa dia pancarkan langsung membuat atmosfer kamar terasa semakin mencekik.
"Sedang apa kamu di sana, Aurelia?" suara Cassian terdengar serak khas orang baru bangun tidur, tapi nadanya bener-bener dingin dan penuh selidik. Tidak ada kehangatan sedikit pun di dalamnya.
Aurelia langsung memasang mode andalannya: akting jadi istri lemah dan penyakitan. Dia buru-buru memegang dadanya, lalu batuk kecil beberapa kali agar suaranya terdengar sangat parau.
"Ugh... maaf, Duke. Aku tidak bermaksud membangunkanmu," ujar Aurelia dengan nada suara yang dibuat gemetar dan lemas. Dia menatap Cassian dengan sepasang mata yang sengaja dibuat sayu. "Dadaku tiba-tiba terasa sesak sekali, dan aku merasa sangat haus. Aku hanya... sedang mengumpulkan tenaga untuk mengambil air minum."
Cassian menatapnya datar selama beberapa detik. Tatapan matanya menyusuri sosok Aurelia dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menganalisis apakah istrinya ini sedang berbohong atau tidak. Untungnya, kegelapan kamar dan kemampuan akting Aurelia yang selevel aktris Oscar berhasil menipu insting tajam sang pemburu penyihir.
Cassian menghela napas panjang, terdengar sangat kesal karena tidurnya terganggu.
"Lemah sekali," gumam Cassian dengan nada mencemooh yang sangat ketara. "Setiap hari kamu selalu merepotkan. Minum airmu, lalu cepat kembali tidur. Jangan membuat suara berisik lagi. Besok pagi-pagi sekali aku harus memimpin patroli untuk memburu penyihir hitam di perbatasan selatan."
"Baik, Duke. Maafkan aku yang tidak berguna ini," jawab Aurelia dengan kepala tertunduk, berpura-pura sedih dan bersalah.
Tapi di dalam kepalanya, Aurelia sedang memutar bola matanya malas. *Iya, iya, pemburu penyihir yang hebat. Cari saja sana penyihir di luar sana, sementara penyihir dengan inti sihir kuno yang paling kamu cari sedang tidur seranjang dengarmu setiap malam.*
Cassian tidak membalas ucapannya. Pria itu langsung membalikkan tubuhnya memunggungi Aurelia lagi, lalu menarik selimutnya tinggi-tinggi. Sikapnya bener-bener cuek habis, seolah-olah keberadaan istrinya yang sedang kesakitan itu sama sekali tidak penting.
Setelah memastikan napas Cassian kembali teratur dan pria itu sudah tidur nyenyak lagi, Aurelia menghela napas panjang. Dia mengeluarkan kembali jarum dan benangnya dengan gerakan super cepat.
Hanya butuh beberapa menit bagi tangan lincahnya untuk menyelesaikan jahitan terakhir di lengannya. Setelah memotong benang sihirnya dengan ujung kuku yang dialiri mana, pendaran cahaya biru di lengannya perlahan memudar. Kulitnya yang tadinya retak-retak kini kembali terlihat mulus, putih, dan tampak sangat normal di bawah cahaya bulan. Bekas jahitannya menyatu sempurna dengan pori-pori kulitnya, menyembunyikan rahasia besar itu rapat-rapat.
Aurelia merapikan peralatannya, mengunci laci rahasianya, lalu berjalan kembali ke arah ranjang. Dia naik ke atas ka**r dengan sangat hati-hati, lalu menyelusup ke balik selimut dingin di sisinya.
Dia menatap punggung lebar Cassian yang kokoh. Pria ini sangat kuat, sangat dipuja oleh seluruh kekaisaran, dan sangat ditakuti oleh semua penyihir. Tapi di mata Aurelia, Cassian hanyalah pria bodoh yang terlalu sombong dengan gelarnya.
Aurelia memejamkan matanya, membiarkan tubuhnya yang kaku kembali beristirahat dalam kepalsuan.
*Satu tahun kita menikah, Cassian,* batin Aurelia sebelum matanya terpejam sepenuhnya. *Dan kamu bahkan tidak pernah tahu kalau tangan istrimu yang lemah ini, jauh lebih mengenal setiap inci tubuhnya daripada suaminya sendiri.*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!