Gue hampir mati buat kedua kalinya kemarin.
Beneran, deh. Menghadapi Father Damian—pendeta suci yang punya radar sihir sepeka an**** pelacak—adalah ujian mental terbesar dalam hidup gue sejak terbangun di tubuh Aurelia. Biar bisa lolos dari deteksi sihir sucinya, gue terpaksa memompa sisa-sisa energi hitam di dalam tubuh gue sampai batas maksimal, demi memalsukan detak jantung dan suhu tubuh manusia normal.
Hasilnya? Damian emang nggak curiga. Dia cuma bilang gue "kelelahan dan butuh banyak istirahat." Tapi harga yang harus gue bayar mahal banget.
Pagi ini, gue berdiri di depan cermin besar di kamar mandi. Begitu gue melonggarkan kerah gaun tidur gue, napas gue langsung tercekat.
"Si****... ini makin parah," bisik gue dengan suara gemetar.
Retakan hitam yang mirip porselen pecah itu sekarang nggak cuma berhenti di dada. Garis-garis halus berwarna keabu-abuan itu merayap naik, melewati tulang selangka, dan sekarang menjalar di sepanjang leher sebelah kiri gue, hampir mencapai rahang. Kalau diraba, teksturnya terasa kasar dan mati rasa. Benar-benar kayak boneka keramik murahan yang siap pecah kapan aja kalau kesenggol dikit.
Gue buru-buru membuka lemari pakaian. Dengan panik, gue mengob**k-abrik tumpukan baju sampai menemukan apa yang gue cari: syal rajut tebal berwarna krem. Gue melilitkan syal itu berkali-kali di leher gue, memastikan nggak ada satu senti pun kulit leher gue yang kelihatan.
Gue menatap pantulan diri gue di cermin sekali lagi. Di dalam kamar yang hangat karena penghangat sihir, gue malah pakai baju berlapis dan syal tebal. Kelihatan aneh? Banget. Tapi ini jauh lebih aman daripada membiarkan semua orang tahu kalau fisik gue perlahan-lahan mulai membusuk dan hancur.
"Nyonya? Anda baik-baik saja?" suara ketukan lembut di pintu kamar mandi membuat gue tersentak. Itu suara Lily, pelayan pribadi gue.
"I-iya! Aku baik-baik saja, Lily. Sebentar!"
Gue menarik napas dalam-dalam—kebiasaan lama saat masih hidup yang susah hilang—lalu membuka pintu. Lily langsung menatap gue dengan dahi berkerut heran.
"Nyonya... kenapa pakai syal setebal itu? Di dalam kastil kan hangat," tanya Lily, matanya menatap leher gue dengan penuh selidik.
Gue langsung memegangi syal gue, memaksakan senyum selebar mungkin. "Ah, ini... kemarin pas diperiksa Father Damian, dia bilang aku sensitif banget sama angin dingin Utara. Jadi, buat jaga-jaga, aku harus tetap hangat. Aku nggak mau sakit lagi dan bikin Cassian khawatir."
Alasan yang sangat logis dan manipulatif. Lily langsung mengangguk-angguk percaya, ekspresi herannya berubah jadi tatapan simpati. "Ah, begitu rupanya. Pantesan akhir-akhir ini Nyonya kelihatan makin pucat. Saya akan minta dapur buat bikin sup hangat setiap hari."
"Makasih ya, Lily. Kamu memang yang terbaik," ucap gue lega. Satu masalah selesai. Tapi masalah terbesarnya bukan Lily.
Masalah terbesar gue adalah Cassian.
Sejak insiden makan malam menegangkan itu, Cassian berubah drastis. Sikapnya yang biasanya dingin kayak kulkas dua pintu tiba-tiba jadi... aneh. Cowok itu sering kedapatan lagi memperhatikan gue dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan sialnya, setiap kali dia mencoba mendekat, insting bertahan hidup gue langsung berteriak histeris, menyuruh gue buat kabur sejauh mungkin.
Gue takut setengah mati kalau dia nggak sengaja menyentuh kulit gue yang sedingin es, atau menyadari kalau dada gue sama sekali nggak naik-turun karena bernapas. Jadi, setiap kali Cassian ma**k ke ruangan yang sama dengan gue, gue bakal cari-cari alasan buat pergi.
"Aku mau ke perpustakaan dulu."
"Aku agak pusing, mau tidur duluan."
"Aku mau jalan-jalan di rumah kaca."
Gue terus menghindar sampai nggak sadar kalau sikap defensif gue ini malah memicu kesalahpahaman yang luar biasa di kepala suami dingin gue itu.
***
Di ruang kerjanya yang megah, Cassian sedang duduk di balik meja kayu ek besar. Dokumen-dokumen militer menumpuk di hadapannya, tapi pikirannya sama sekali tidak ada di sana. Netra merah segelap darah miliknya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan pemandangan salju yang turun di luar.
Dia sedang memikirkan Aurelia.
Sikap istrinya belakangan ini benar-benar mengganggu ketenangannya. Aurelia selalu menghindarinya. Setiap kali dia mendekat, perempuan itu akan langsung memucat, merapatkan syal tebalnya, dan buru-buru pamit pergi dengan berbagai alasan yang terdengar dibuat-buat.
*Dia takut sama gue,* batin Cassian, ada rasa perih yang aneh menyelusup ke dadanya yang biasanya mati rasa.
Cassian mengusap wajahnya dengan kasar. Dia teringat bagaimana dia membawa Father Damian secara tiba-tiba kemarin. Dia tahu Aurelia memiliki banyak rahasia, tapi mendatangkan seorang pendeta tingkat tinggi tanpa persetujuannya pasti telah membuat istrinya itu merasa terancam dan ketakutan. Ditambah lagi, selama pernikahan mereka, Cassian sadar kalau dia hampir tidak pernah bersikap hangat. Dia terlalu dingin, terlalu menuntut, dan selalu mengintimidasi.
"Gue emang suami yang br******," gumam Cassian pelan.
Dia berpikir, Aurelia yang bertubuh lemah dan berhati lembut pasti merasa sangat tertekan tinggal di kastil Utara yang kejam ini bersama suami yang mengerikan seperti dirinya. Ketakutan Aurelia pasti yang membuat kondisinya makin memburuk hingga harus memakai syal tebal setiap hari bahkan di dalam ruangan.
Cassian mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Jika dia ingin mempertahankan Aurelia di sisinya—meski dia belum sepenuhnya paham kenapa dia begitu terobsesi pada perempuan itu—dia harus mengubah sikapnya. Dia harus meyakinkan Aurelia bahwa dia aman bersamanya.
***
Siang harinya, gue lagi duduk di sofa ruang sant**, mencoba membaca novel romansa picisan buat mengalihkan stres. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka lebar.
Gue menoleh dan langsung menelan ludah. Cassian berdiri di sana. Tapi, ada yang beda dari penampilannya hari ini. Dia nggak pakai jubah hitam militernya yang biasanya kelihatan mengintimidasi. Hari ini dia cuma pakai kemeja ka**al longgar warna putih yang kancing atasnya sengaja dibuka, bikin dia kelihatan... berkali-kali lipat lebih ganteng dan manusiawi.
Di tangannya, ada sebuah kotak beludru merah yang kelihatan mewah.
Gue langsung menegakkan tubuh, refleks membenarkan posisi syal krem gue sampai menutup dagu. "C-Cassian? Ada apa? Bukannya kamu sibuk di ruang kerja?"
Cassian nggak langsung menjawab. Dia berjalan mendekat, langkah kakinya yang biasanya terdengar tegas kini sengaja dibuat sepelan mungkin, seolah takut mengagetkan kelinci kecil yang penakut. Dia duduk di sofa yang sama dengan gue, tepat di sebelah gue. Jarak kami dekat banget, sampai gue bisa mencium aroma kayu cendana khas tubuhnya yang maskulin.
"Pekerjaanku sudah selesai," ucap Cassian lembut. Sumpah, gue hampir jantungan mendengar nada suaranya yang selembut sutra. Ini beneran Cassian sang monster perang? Dia nggak lagi kesurupan roh baik, kan?
"Oh... begitu," jawab gue canggung, sedikit menggeser duduk gue menjauh.
Melihat gue menjauh, kilatan kecewa sempat melintas di mata merah Cassian, tapi dengan cepat dia menyembunyikannya. Dia menyodorkan kotak beludru merah itu ke depan gue.
"Ini untukmu," katanya.
Gue berkedip bingung. "Apa ini?"
"Buka saja."
Dengan tangan agak gemetar, gue membuka kotak itu. Di dalamnya, melingkar sebuah kalung emas yang luar biasa cantik dengan liontin batu permata merah menyala yang berkilauan indah. Begitu kotak itu terbuka, gue bisa merasakan hawa hangat yang nyaman menjalar keluar dari batu tersebut.
"Itu batu piroksin merah dari gunung berapi selatan," jelas Cassian, matanya terus menatap wajah gue, mencari reaksi. "Batu itu memiliki sihir bawaan yang bisa memancarkan kehangatan konstan. Aku tahu... belakangan ini kamu sangat sensitif dengan dingin sampai harus pakai syal terus. Kuharap ini bisa membantumu."
Gue tertegun. Mulut gue sedikit terbuka, nggak tahu harus merespon apa.
*Cowok ini... sengaja nyari batu langka dan mahal ini cuma karena mikir gue kedinginan?*
Perasaan bersalah yang teramat sangat tiba-tiba menghantam dada gue. Cassian kelihatan tulus banget. Matanya yang biasanya tajam dan dingin kini menatap gue dengan penuh harap, mirip kayak anak an**** yang lagi nunggu pujian dari majikannya.
"C-Cassian, ini... ini terlalu berlebihan. Aku nggak bisa menerimanya. Lagipula, syal ini udah c**up hangat kok," tolak gue halus, mencoba menutup kembali kotak itu. Gue merasa nggak pantas menerima kebaikan apa pun dari dia. Gue ini cuma penipu yang menempati tubuh mayat istrinya!
Tapi Cassian langsung menahan tangan gue—tunggu, dia memegang punggung tangan gue yang terbungkus lengan baju panjang. Kulitnya yang hangat terasa kontras banget dengan tubuh gue yang mati rasa.
"Pakai saja, Aurelia. Tolong," pinta Cassian, suaranya terdengar hampir seperti memohon. "Atau... mau aku pakaikan?"
"NGGAK! Nggak usah!" teriak gue refleks dengan nada agak tinggi karena panik.
Cassian langsung membeku. Wajahnya kelihatan syok sekaligus terluka mendengar reaksi histeris gue.
Gue merutuki kebodohan gue dalam hati. *Aduh, b*** banget sih gue! Kenapa malah teriak?!*
"M-maksudku..." gue buru-buru meralat dengan suara yang dilembut-lembutkan, "aku lagi pakai syal tebal begini, susah kalau mau dipakaikan sekarang. Nanti... nanti malam pasti aku pakai sendiri kok. Makasih banyak ya, Cassian. Aku suka banget."
Mendengar penjelasan gue, ketegangan di bahu lebar Cassian perlahan mengendur. Dia tersenyum tipis—senyuman tulus pertama yang pernah gue lihat di wajahnya yang kelewat tampan itu. "Ya, syukurlah kalau kamu suka."
Belum sempat gue menghela napas lega, seorang pelayan ma**k membawa nampan berisi semangkuk sup jamur hangat dan beberapa potong roti panggang yang harum.
"Letakkan di sini," perintah Cassian pada pelayan itu. Setelah pelayan itu pergi, Cassian malah mengambil mangkuk sup tersebut dan sendoknya. Dia menyendok sedikit kuah sup hangat, meniupnya perlahan dengan gerakan yang luar biasa anggun, lalu mengarahkannya ke depan mulut gue.
Gue melongo. Otak gue mendadak *blank*.
"Ayo, buka mulutmu. Kemarin Damian bilang kamu kurang nutrisi karena jarang makan. Mulai sekarang, aku yang akan memastikan kamu makan dengan benar," ucap Cassian dengan ekspresi super serius.
*G***. Ini beneran g***.*
Gue menatap sendok di depan gue, lalu menatap wajah Cassian bergantian. Tatapan cowok itu begitu intens dan penuh perhatian yang tumpah-tumpah. Rasa bersalah di dalam dada gue makin lama makin menumpuk, rasanya sesak banget sampai mau mati—kalau saja gue bisa mati lagi.
Cassian bersikap semanis ini karena dia mengira gue adalah Aurelia, istrinya yang malang, lemah, dan butuh perlindungan. Dia merasa bersalah karena telah mengabaikan "Aurelia" selama ini.
Tapi kenyataannya? Aurelia yang asli sudah mati.
Gue yang ada di hadapannya sekarang hanyalah sebuah entitas asing, jiwa tersesat yang mera**ki mayat yang dikendalikan oleh sihir hitam terlarang. Tubuh yang sedang dia suapi ini adalah boneka palsu yang cepat atau lambat akan hancur berkeping-keping begitu sihir di dalamnya habis. Retakan di leher gue adalah bukti nyata kalau waktu gue nggak banyak lagi.
*Jangan baik sama gue kayak gini, Cassian...* batin gue menjerit pilu. *Gue cuma penipu. Kalau lo tahu siapa gue sebenarnya, lo pasti bakal benci banget sama gue.*
"Kenapa? Apa masih terlalu panas?" tanya Cassian lembut, membuyarkan lamunan gue. Dia meniup sup itu sekali lagi dengan sabar.
Dengan mata yang terasa panas—meski air mata gue nggak akan pernah bisa keluar—gue perlahan membuka mulut. Gue menerima suapan dari Cassian, menelan sup hangat yang rasanya hambar di lidah mati rasa gue, sambil terus memikirkan seberapa hancurnya cowok di depan gue ini saat rahasia besar ini akhirnya retak sepenuhnya nanti.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!