Baru aja gue mau selonjoran di ka**r empuk setelah berhasil bohongin Lily soal syal tebal ini, tiba-tiba dada gue rasanya kayak dihantam godam tak kasat mata.
"Uhuk!"
Gue terenyak, langsung berlutut di lant** berkarpet tebal dengan tangan mencengkeram dada. Sakit banget, g***. Rasanya kayak ada cairan asam yang mendidih di dalam pembuluh darah gue. Bersamaan dengan itu, segel sihir hitam yang gue tanam di area sekitar luar benteng bergetar hebat.
Ada yang nggak beres.
Gue memejamkan mata, mencoba fokus dan menyinkronkan kesadaran gue dengan sisa-sisa energi hitam yang tersebar di luar sana. Detik berikutnya, sebuah penglihatan buram muncul di kepala gue.
Di tengah badai salju Lembah Es—wilayah terlarang yang jaraknya beberapa kilometer dari kastil—gue melihat bayangan belasan orang berjubah abu-abu gelap sedang menggambar lingkaran sihir raksasa di atas salju. Energi yang mereka pancarkan sangat kotor, pekat, dan berbau busuk.
*Para penyihir hitam.*
"Mereka beneran bergerak hari ini," bisik gue dengan napas memburu.
Gue langsung teringat obrolan para ksatria yang sempat gue denger tadi pagi. Cassian memimpin pa**kan patroli ke arah utara karena ada laporan tentang "aktivitas monster yang nggak wajar". Si****. Itu bukan monster. Itu umpan!
Para penyihir hitam itu sengaja memancing Cassian ke Lembah Es. Mereka tahu kalau daerah itu adalah titik mati di mana energi alam sangat tipis, tempat yang paling sempurna buat mengaktifkan *Kutukan Pembatas Dimensi*. Itu adalah sihir kuno terlarang yang bisa mengisolasi target dari dunia luar dan menyegel semua jenis energi suci maupun aura pedang.
Tanpa aura pedangnya yang legendaris, Cassian Gray cuma bakal jadi manusia biasa yang bisa mati ditebas belati berkarat sekalipun.
"Sial, sial, sial!" gue mengumpat heboh sambil berusaha berdiri.
Tubuh gue gemetar hebat. Garis-garis hitam di leher gue rasanya makin panas, seolah-olah kulit gue lagi dipanggang. Fisik gue udah di ambang batas. Memaksa menggunakan sihir hitam sekarang sama aja kayak bunuh diri pelan-pelan. Tapi kalau gue diem aja di kamar hangat ini dan membiarkan Cassian mati, masa depan gue juga bakal hancur. Cassian adalah satu-satunya tameng gue di dunia yang g*** ini. Kalau dia mati, gue bakal langsung diseret ke tiang gantungan oleh kuil suci.
"Gue nggak punya pilihan," gumam gue.
Dengan gerakan cepat, gue mengambil jubah hitam tebal berkerudung lebar dari bagian paling dalam lemari—jubah yang biasa gue pakai kalau lagi bertingkah sebagai 'penyelamat bayangan' di kehidupan malam gue. Gue memakainya, menarik kerudungnya rendah-rendah sampai wajah gue tertutup bayangan sepenuhnya.
Gue melompati jendela kamar, mengabaikan rasa sakit yang menusuk-nusuk di sekujur tubuh, lalu melebur bersama bayangan malam.
***
Lembah Es bener-bener kayak neraka versi beku.
Angin malam melolong kencang, membawa kristal es tajam yang menampar wajah gue. Tapi hawa dingin itu nggak ada apa-apanya dibanding hawa mencekam yang memancar dari dasar lembah.
Dari atas tebing es, gue bisa melihat pemandangan di bawah dengan jelas. Dan jantung gue rasanya hampir copot.
Sebuah kubah transparan berwarna keunguan gelap telah mengurung seluruh area lembah. Di dalam kubah itu, belasan ksatria Cassian sudah terkapar di atas salju yang bernoda darah. Mereka megap-megap, kehabisan napas karena tekanan udara yang dimanipulasi oleh sihir hitam.
Di tengah-tengah kekacauan itu, ada Cassian.
Dia berlutut dengan satu kaki, menggunakan pedang besarnya sebagai tumpuan agar tidak ambruk. Jubah putih kebesarannya sudah robek-robek dan kotor oleh lumpur serta darah. Napasnya memburu, meninggalkan uap putih tebal di udara dingin. Cahaya biru—aura pedangnya yang biasanya bersinar terang benderang—sekarang cuma berkedip-kedip lemah sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
"Gimana, Grand Duke? Rasanya kehilangan kekuatan yang selama ini kamu sombongkan?"
Seorang penyihir hitam dengan topeng tulang melangkah maju dari kegelapan. Suaranya terdengar sangat puas, penuh dengan nada merendahkan. Beberapa penyihir hitam lain mengelilingi Cassian seperti segerombolan burung hering yang siap berpesta di atas bangkai.
"Kalian... tikus-tikus kuil yang membelot," desis Cassian. Suaranya serak, tapi matanya tetap tajam dan dingin, memancarkan aura membunuh yang pekat meskipun tubuhnya lemas. "Beraninya main kotor seperti ini."
"Pemenang tidak peduli dengan cara, Cassian Gray," sahut si topeng tulang sambil mengangkat tongkat sihirnya. Di ujung tongkat itu, gumpalan energi hitam berbentuk tombak mulai memadat. "Hari ini, era kejayaan keluarga Gray berakhir di lembah ini."
*Nggak akan gue biarkan!* batin gue panik.
Gue langsung melompat dari tebing es setinggi sepuluh meter. Sambil melayang di udara, gue memompa sisa-sisa energi hitam di dalam tubuh gue, mengabaikan rasa sakit luar biasa yang membuat dada gue serasa mau meledak.
*B**k!*
Gue mendarat tepat di depan Cassian, menciptakan gelombang kejut berwarna hitam kemerahan yang langsung menghancurkan formasi para penyihir hitam di depan kami. Salju di sekitar kami beterbangan, menciptakan kabut putih tebal yang menghalangi pandangan.
"Siapa?!" teriak salah satu penyihir hitam, mundur beberapa langkah dengan waspada.
Gue berdiri tegak, membelakangi Cassian. Jubah hitam gue berkibar ditiup angin kencang. Dari balik kerudung, gue bisa mendengar napas Cassian yang tercekat di belakang gue.
"Lo... siapa?" bisik Cassian. Suaranya terdengar sangat terkejut, sekaligus curiga setengah mati.
Gue nggak menjawab. Gue sengaja mengubah pita suara gue dengan sedikit sihir ilusi, membuat suara gue terdengar berat, serak, dan tanpa gender.
"Berisik banget, deh. Bisa nggak, kalau mau bunuh orang, nggak usah pakai pidato kepanjangan? Keburu dingin ini saljunya," kata gue dengan nada sant**, sengaja memancing emosi mereka.
Penyihir bertopeng tulang itu menggeram marah. "Berani-beraninya! Dari mana asalmu? Energi hitam itu... kamu juga seorang penyihir hitam? Kenapa kamu malah melindungi an**** kekaisaran ini?!"
"Gue? Fraksi gue adalah 'Fraksi yang Nggak Suka Rencana Bagusnya Diganggu'. Dan hari ini, lo semua udah bikin hari gue yang buruk jadi makin buruk," sahut gue dingin.
Tanpa menunggu aba-aba, gue menghentakkan kaki ke atas salju. Lingkaran sihir hitam yang jauh lebih rumit dan besar langsung tercipta di bawah kaki gue, memotong aliran energi dari *Kutukan Pembatas Dimensi* milik mereka.
Sihir pembatas dimensi mereka emang hebat buat menyegel energi suci, tapi buat penyihir hitam level tinggi kayak gue? Itu cuma kayak mainan anak TK. Energi hitam mereka justru jadi makanan empuk buat sihir gue. Gue menyerap paksa aliran energi dari kubah ungu itu, membalikkannya, dan mengubahnya menjadi puluhan rant** bayangan yang melesat dari dalam salju.
"S-si****! Kekuatan macam apa ini?!" teriak para penyihir hitam saat rant**-rant** bayangan gue melilit kaki dan tubuh mereka, menarik mereka jatuh ke atas salju dingin.
"Mati lo semua," desis gue.
Gue mengepalkan tangan, dan rant**-rant** itu langsung meledak, menghasilkan gelombang energi kegelapan yang mementalkan para penyihir hitam itu hingga menab**k dinding es lembah. Mereka langsung pingsan, sebagian bahkan muntah darah karena organ dalam mereka hancur oleh tekanan sihir gue.
Kubah ungu pembatas dimensi langsung retak dan hancur berkeping-keping seperti kaca.
Seketika itu juga, tekanan udara di lembah kembali normal. Aura biru yang dahsyat langsung meledak dari tubuh Cassian. Kekuatannya telah kembali.
Tapi di saat yang sama, tubuh gue juga mencapai batasnya.
"Uhuk!"
Gue batuk keras, dan cairan hangat berwarna merah kehitaman langsung membasahi bagian dalam masker hitam yang gue pakai di balik kerudung. Lutut gue lemas. Rasanya seluruh tulang di tubuh gue patah. Garis retakan di dada gue pasti udah melebar sekarang.
Gue hampir aja ambruk kalau nggak buru-buru menahan tubuh dengan sihir bayangan.
"Tunggu," sebuah tangan besar yang dilapisi sarung tangan kulit hitam tiba-tiba mencengkeram bahu gue dari belakang. Cengkeramannya kuat banget, bikin gue nggak bisa bergerak.
Itu Cassian.
Dia menatap gue dengan mata biru sedalam samudra yang sekarang dipenuhi rasa ingin tahu, kecurigaan, dan sesuatu yang nggak bisa gue artikan. Jarak kami dekat banget, sampai-sampai gue bisa mencium aroma kayu pinus dan darah dari tubuhnya.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Cassian, suaranya rendah dan mengintimidasi. "Kenapa seorang penyihir hitam sepertimu menyelamatkanku?"
Gue menelan ludah yang terasa amis karena darah. Jantung gue berdegup kencang, bukan karena baper dideketin cowok ganteng kayak di novel-novel roman, tapi karena gue takut setengah mati dia bakal mengenali gue. Kalau dia tahu istrinya yang penyakitan ini ternyata adalah penyihir hitam yang barusan membant** musuh-musuhnya, tamatlah riwayat gue.
Dengan sisa tenaga yang ada, gue memutar tubuh, menepis tangannya dengan kasar menggunakan sisa energi bayangan, lalu melompat mundur beberapa meter.
"Nggak usah geer. Gue cuma lagi lewat dan kebetulan benci sama muka mereka," kata gue dengan suara serak yang sengaja dibuat sedingin mungkin.
Sebelum Cassian sempat mengejar atau menggunakan auranya untuk menahan gue, gue langsung mengaktifkan sihir teleportasi jarak pendek yang sudah gue persiapkan di bawah salju. Asap hitam pekat langsung membubung, menutupi pandangan Cassian sepenuhnya.
Saat asap itu menipis, gue udah menghilang dari lembah es itu, meninggalkan Cassian yang berdiri terpaku di tengah badai salju, menatap tempat kosong di mana gue baru saja berdiri dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!