Di ujung Lembah Es yang gelap gulita, pemandangan di depan mata gue bener-bener bikin jantung rasanya mau copot.
Cassian ada di sana. Cowok yang biasanya kelihatan super rapi, berwibawa, dan gak tersentuh itu sekarang lagi berlutut di atas salju yang ternoda darah. Pedang besarnya tertancap di tanah, jadi satu-satunya tumpuan supaya dia gak ambruk. Di sekelilingnya, ada belasan penyihir jubah abu-abu yang terus-menerus merapalkan mantra, memperkuat lingkaran sihir ungu pekat di bawah kaki Cassian. Gak cuma itu, puluhan monster serigala es bermata merah pekat juga siap menerkam, nunggu aba-aba buat mencabik-cabik tubuh suami gue itu.
*Si****. Gak ada waktu lagi.*
Gue langsung melompat dari tebing es setinggi lima meter. Sambil melayang di udara, gue menyentakkan kedua tangan gue ke depan.
"Keluar lo semua!" teriak gue dalam hati.
Dari kesepuluh ujung jari gue, melesat benang-benang sihir transparan yang bersinar keperakan. Benang-benang ini bukan benang jahit biasa, melainkan benang boneka khusus yang udah gue isi dengan sisa mana hitam gue. Begitu mendarat dengan mulus di atas salju, gue langsung menarik tangan gue ke belakang seperti gerakan mencambuk.
*SREEEET!*
"AAAGHH!"
Tiga monster serigala yang paling dekat dengan Cassian langsung terlempar ke belakang dengan luka sayatan lebar di leher mereka. Darah hitam menyembur, mengotori salju putih di sekitar mereka.
Cassian tersentak. Dengan sisa tenaganya, dia mendongak. Mata birunya yang biasanya dingin dan tajam kini melebar, menatap sosok gue yang terbungkus jubah hitam rapat. "Siapa... lo?" suaranya kedengaran serak dan lemah banget. Sumpah, denger suara dia kayak gitu bikin dada gue makin sesak.
"Gak usah banyak tanya kalau masih mau hidup!" sahut gue, sengaja mengubah nada suara gue jadi lebih berat dan dingin lewat sihir manipulasi suara.
Dua penyihir hitam menyadari kehadiran gue. Mereka langsung mengarahkan tongkat sihir mereka ke arah gue. "Penyusup! Bunuh dia!"
Bola-bola api hitam berukuran besar meluncur cepat ke arah gue. G***, hawanya panas banget sampai salju di sekitar gue langsung menguap. Tapi gue gak boleh takut. Gue menyilangkan kedua tangan di depan dada, lalu menggerakkan jari-jari gue dengan kecepatan yang gak ma**k akal.
Benang-benang sihir gue bergerak liar, berputar di depan gue membentuk perisai anyaman yang super rapat.
*BOOM!*
Bola api hitam itu meledak tepat di depan perisai benang gue. Benturan energinya bikin gue terdorong mundur beberapa langkah. Dada gue rasanya makin nyeri, kayak ada yang meremas jantung gue kuat-kuat. Tapi gue gak boleh berhenti sekarang. Begitu asap ledakan menipis, gue langsung melesat maju.
"Sekarang giliran gue, ba******!" umpat gue kencang.
Gue mengayunkan tangan kanan gue ke samping, mengontrol benang-benang gue untuk melilit leher salah satu penyihir hitam, lalu menyentakkannya ke arah penyihir di sebelahnya.
*B**kk!*
Kepala kedua penyihir itu saling berbenturan dengan keras sampai mereka langsung pingsan di tempat dengan dahi berdarah.
Cassian yang melihat kejadian itu cuma bisa melongo. Gue bisa ngerasain tatapan matanya yang gak lepas dari setiap gerakan gue. Dia pasti heran banget. Gimana bisa ada orang asing yang menggunakan sihir benang sekuat dan sebrutal ini? Di dunia ini, sihir pengendali benang biasanya cuma dianggap sihir kelas rendah yang dipakai buat pertunjukan sirkus atau menjahit baju. Tapi di tangan gue, benang-benang ini adalah senjata pembunuh paling mematikan.
"Awas di belakang lo!" teriak Cassian tiba-tiba.
Insting gue langsung bekerja. Tanpa menoleh, gue menekuk tubuh gue ke belakang sampai posisi ekstremβposisi yang gak mungkin bisa dilakukan oleh manusia biasa dengan tulang normal. Tapi karena ini tubuh boneka, sendi-sendi gue bisa berputar tanpa batas.
*Syuuut!*
Cakar tajam seekor monster serigala es melesat hanya beberapa sentimeter di atas wajah gue yang tertutup kerudung. Begitu monster itu lewat di atas gue, gue langsung menembakkan benang dari kedua telapak tangan gue, mengikat keempat kakinya di udara, lalu membanting tubuh raksasa itu ke permukaan es sampai hancur berkeping-keping.
"G***..." gumam Cassian pelan. Dia bener-bener terpukau, tapi di saat yang sama, ada keraguan dan kecemasan yang mendalam di matanya. Dia pasti sadar ada yang gak beres dengan cara bergerak gue yang terlalu kaku dan gak alami.
Sialnya, firasat Cassian bener.
*KRIEEEK...*
Sebuah suara berderit tajam terdengar dari arah bahu kanan gue. Rasanya ngilu banget, padahal fisik gue ini terbuat dari kayu sihir khusus. Memaksa mengeluarkan mana dalam jumlah besar secara terus-menerus bikin sirkulasi energi di dalam tubuh boneka gue jadi kacau. Sendi-sendi di lutut dan siku gue mulai terasa kaku dan panas, seolah-olah pelumasnya habis dan kayunya mulai aus karena gesekan.
"Uhuk!" Gue terbatuk darah. Cairan merah pekat merembes dari balik topeng ilusi yang gue pakai untuk menutupi wajah boneka gue.
"Lo gak apa-apa?!" Cassian mencoba berdiri, memegang pedangnya dengan gemetar. "Jangan maksain diri! Target mereka itu gue, mending lo pergi dari sini!"
"Berisik banget sih lo! Diem aja di situ dan jangan banyak tingkah!" bentak gue kesal. Sumpah, dalam keadaan sekarat kayak gini dia masih sempat-sempatnya sok pahlawan. Kalau gue pergi, dia mati, dan kalau dia mati, tamat sudah riwayat hidup gue yang tenang!
Tiba-tiba, sisa penyihir hitam yang berjumlah sekitar delapan orang berkumpul jadi satu. Mereka sadar kalau gue adalah ancaman terbesar sekarang. Mereka mulai merapalkan mantra bersama-sama, menciptakan sebuah lingkaran sihir raksasa berwarna merah darah di langit malam Lembah Es.
"Hancurlah bersama badai ini, serangga pengganggu!" teriak pemimpin penyihir itu.
Hujan tombak es hitam berukuran raksasa meluncur deras dari langit, mengarah langsung ke tempat gue berdiri. Jumlahnya ratusan, gak mungkin bisa dihindari begitu aja.
Gue menarik napas dalam-dalam. Ini dia. Pertarungan hidup atau mati.
Gue mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuh gue. Gue memusatkan seluruh sisa mana yang gue punya ke ujung jari. Benang-benang sihir gue yang tadinya berwarna perak kini berubah warna jadi hitam pekat, memancarkan aura kegelapan yang sangat kuat sampai udara di sekitar kami mendadak terasa makin membeku.
*KRAK! KRAK!*
Suara retakan terdengar jelas dari dalam tubuh gue. Sendi pergelangan tangan gue bergeser, rasanya kayak mau copot. Tapi gue gak peduli.
"Mati lo semua!" teriah gue histeris.
Gue menggerakkan kedua tangan gue ke atas dengan gerakan menyilang yang sangat cepat. Ribuan benang hitam melesat ke langit, membentuk jaring-jaring raksasa yang super tebal untuk menahan hujan tombak es tersebut.
*DUAARR! DUAARR! DUAARR!*
Ledakan demi ledakan terdengar sangat m****akkan telinga. Benturan antara tombak es hitam dan jaring benang gue menciptakan gelombang kejut yang sangat dahsyat. Angin kencang berhembus, menerbangkan salju dan debu es ke segala arah, menghalangi pandangan.
Gumpalan energi hitam dari ledakan itu menghantam tubuh gue dengan telak.
"AAAKHHH!"
Gue berteriak kesakitan saat tubuh gue terlempar beberapa meter ke belakang dan menghantam dinding tebing es dengan keras. Jubah hitam gue robek di beberapa bagian.
Tapi yang paling parah adalah... topeng ilusi yang menyelimuti wajah gue mulai retak.
Gue bisa ngerasain energi sihir yang menyamarkan wujud boneka gue perlahan-lahan memudar akibat gempuran sihir hitam tadi. Kulit wajah gue yang tadinya mulus seperti manusia biasa, kini mulai mengelupas di bagian pipi kiri, menampilkan permukaan kayu putih pucat dengan garis-garis sambungan sendi yang mengerikan.
*Kreeek... krak...*
Bahu kiri gue benar-benar macet. Gue gak bisa menggerakkannya sama sekali sekarang. Sendi lutut gue juga bergetar hebat, bikin gue susah buat sekadar berdiri tegak.
"Oy... lo..." suara Cassian terdengar sangat dekat.
Gue tersentak. Di tengah kepulan asap es yang perlahan menipis, Cassian berjalan mendekat ke arah gue dengan langkah gont**. Matanya menatap lurus ke arah wajah gue yang sebagian ilusinya sudah hilang.
Gue panik setengah mati. Gak. Dia gak boleh melihat wujud asli gue. Kalau dia tahu kalau 'istrinya' yang lemah lembut ini sebenarnya adalah boneka hidup yang menggunakan sihir hitam terlarang... semuanya bakal berakhir.
Dengan sisa kekuatan yang ada, gue langsung menarik kerudung jubah gue serendah mungkin untuk menutupi bagian wajah gue yang rusak, sambil berusaha menahan rasa sakit luar biasa yang terus menggerogoti kesadaran gue.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!