Napas gue ngos-ngosan. Dada gue rasanya kayak dibakar dari dalam, panas banget sampai tenggorokan gue ikutan kering. Setiap kali gue menggerakkan jari untuk mengendalikan benang sihir, rasa sakit yang luar biasa menusuk langsung ke saraf-saraf di sekujur tubuh gue.
Tapi gue gak boleh kelihatan lemah. Di depan gue, masih ada sisa-sisa monster serigala es yang menggeram, dan beberapa penyihir hitam yang mulai masang kuda-kuda waspada.
"Si****... siapa sih sebenarnya lo?!" salah satu penyihir hitam berteriak, suaranya kedengaran panik melihat dua temannya tumbang begitu cepat.
Gue gak menjawab. Gue cuma berdiri tegak, membiarkan jubah hitam gue berkibar ditiup angin kencang Lembah Es yang super dingin. Di belakang gue, gue bisa mendengar suara napas Cassian yang berat dan terputus-putus.
"Gue bilang... pergi..." gumam Cassian dari belakang. Suaranya serak banget, bener-bener gak bertenaga. "Ini bukan urusan lo. Jangan campuri urusan Kekaisaran..."
*Bisa-bisanya ini cowok masih sok tangguh di situasi kayak gini!* batin gue geregetan.
Gue menoleh sedikit, menatap dia dari balik tudung jubah gue. "Bisa diem gak? Kalau gue mau pergi, udah dari tadi gue tinggalin lo mati beku di sini. Mending lo simpen tenaga lo buat tetep sadar!" sahut gue, masih pakai suara berat hasil manipulasi sihir.
Cassian tertegun. Mata birunya menatap gue dengan tatapan yang campur adukβantara bingung, curiga, dan... bersalah. Dia pasti gak habis pikir kenapa ada orang asing yang asing-asing mau mempertaruhkan nyawa buat menyelamatkan dia yang lagi tersegel.
Tapi momen drama kami gak berlangsung lama.
Tiba-tiba, suhu di sekitar Lembah Es yang tadinya udah dingin ekstrem langsung anjlok drastis sampai ke titik beku yang gak ma**k akal. Angin badai mendadak berhenti, menyisakan keheningan yang mencekam sekaligus menakutkan.
Dari balik kabut salju yang tebal, perlahan muncul sesosok pria dengan jubah hitam yang jauh lebih mewah dan dipenuhi simbol-simbol kuno berwarna merah darah. Di tangannya, ada sebuah tongkat sihir hitam legam dengan batu permata ungu tua yang menyala-nyala di ujungnya.
Pemimpin penyihir hitam.
"Hahaha... menarik. Sangat menarik," suara pria itu terdengar menggema, dingin, dan bikin bulu kuduk langsung merinding tegak. "Sebuah boneka mainan berani mengacaukan ritualku? Siapa yang mengirimmu? Kuil Suci? Atau para tetua si**** itu?"
Gue langsung masang posisi siaga. Insting gue menjerit keras, bilang kalau orang di depan gue ini ada di level yang jauh berbeda dari kroco-kroco yang gue lawan tadi.
"Gak perlu tahu siapa gue," jawab gue dingin. "Yang jelas, hari ini lo gak bakal bisa menyentuh cowok di belakang gue."
Pemimpin penyihir hitam itu cuma tersenyum sinis, senyum yang meremehkan banget sampai rasanya gue pengen nabok mukanya pakai benang sihir gue. "Oh ya? Mari kita lihat seberapa lama kau bisa menyombongkan diri."
Dia langsung mengangkat tongkat sihirnya tinggi-tinggi ke udara. Mulutnya mulai merapalkan mantra dalam bahasa kuno yang kedengaran asing dan berat di telinga. Detik itu juga, langit di atas kami yang tadinya gelap langsung berubah warna jadi keunguan pekat. Lingkaran sihir raksasa berdiameter puluhan meter terbentuk di atas kepala kami, memancarkan aura kegelapan yang super pekat sampai-sampai salju di bawah kaki kami mulai meleleh dan berubah hitam.
"Gawat..." gumam gue panik. Sisa mana di dalam tubuh gue udah kritis banget. Kalau dia mengeluarkan serangan skala besar, gue gak yakin perisai benang gue bisa menahannya.
"Pergi..." Cassian berbisik lagi, kali ini nadanya terdengar frustrasi. Dia berusaha menggerakkan tubuhnya yang terikat rant** sihir ungu, tapi usahanya sia-sia. Rant** itu malah makin melilit erat kulitnya sampai mengeluarkan asap tipis. "Dia... dia mau melepaskan kutukan pemusnah jiwa. Perisai lo gak bakal kuat menahannya! Pergi dari sini!"
"Diem, Cassian!" bentak gue refleks, hampir saja keceplosan menyebut namanya dengan nada asli gue.
"Mati kalian berdua!" teriak pemimpin penyihir hitam itu dengan mata yang mendadak berubah merah menyala.
Dia menghentakkan tongkatnya ke tanah.
*DUAARRR!*
Sebuah tembakan energi kutukan berwarna hitam kemerahan, sebesar pilar rumah, meluncur dengan kecepatan yang gak ma**k akal dari lingkaran sihir di langit. Dan arahnya... lurus, tepat membidik ke arah Cassian yang masih tersegel dan gak bisa bergerak sama sekali.
Kalau serangan itu kena Cassian yang kondisinya lagi lemah kayak gini, dia pasti langsung mati. Gak akan ada yang tersisa dari tubuhnya.
Gak ada waktu buat mikir. Otak gue bahkan belum sempat memproses rencana cadangan, tapi kaki gue udah bergerak sendiri.
Gue berlari sekuat tenaga.
"Jangan!" teriak Cassian, matanya melebar sempurna karena shock.
Gue melompat, memposisikan tubuh gue tepat di depan Cassian, menjadikan diri gue sendiri sebagai perisai hidup untuk cowok itu. Di detik-detik terakhir sebelum benturan, gue cuma bisa memejamkan mata erat-erat.
*Maafin gue, Cassian. Tapi gue gak bisa membiarkan lo mati.*
*BOOOOOOMMM!!!*
Ledakan dahsyat itu menghantam dada gue dengan telak.
Rasa sakitnya... bener-bener gak bisa digambarkan dengan kata-kata. Rasanya kayak dada gue dihantam palu raksasa yang membara, lalu ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk dan merobek organ dalam gue sampai hancur. Suara ledakan itu berdengung kencang di telinga gue, membuat segalanya mendadak sunyi senyap.
Sihir kutukan itu gak cuma merusak fisik, tapi langsung merangsek ma**k, memakan sisa-sisa mana hitam yang menjaga tubuh buatan gue ini tetap utuh. Energi gelap itu membakar habis aliran mana gue seperti api yang melahap kertas kering.
"Arghhh...!"
Gue gak bisa menahan jeritan kesakitan yang keluar dari mulut gue. Suara gue kembali ke suara asli gueβsuara Aurelia, bukan lagi suara berat hasil manipulasi sihir.
Tubuh gue terlempar ke belakang, langsung menghantam dada Cassian yang masih terikat rant**. Benturan itu begitu keras sampai membuat rant** sihir yang mengikat Cassian retak dan akhirnya hancur berantakan.
"Hei! Bertahanlah!" teriak Cassian panik. Dia langsung menangkap tubuh gue yang lunglai sebelum gue jatuh ke atas salju. Kedua tangannya yang gemetar mendekap bahu gue erat-erat.
Gue megap-megap, mencoba mencari udara, tapi dada gue rasanya kosong dan hampa. Efek kutukan itu terlalu mematikan bagi tubuh boneka buatan kayak gue.
Dan kemudian... mimpi buruk gue yang paling besar terjadi.
*Krak.*
Suara retakan kecil terdengar sangat jelas di keheningan malam itu.
Gue menunduk dengan susah payah. Jubah hitam yang gue pakai bagian depannya sudah hangus terbakar, memperlihatkan kulit dada gue yang biasanya putih mulus tanpa cela. Tapi sekarang... di sana ada retakan besar berwarna hitam keunguan, memancar dari titik di mana kutukan itu menghantam dada gue.
*Krak! Krak!*
Retakan itu menyebar dengan cepat seperti jaring laba-laba. Menjalar naik ke leher gue, lalu merambat ke rahang dan pipi gue.
Gue bisa merasakan kulit buatan gue mulai kehilangan elastisitasnya. Kulit itu mengeras, mendingin, dan mulai pecah berkeping-keping layaknya porselen mahal yang dijatuhkan ke atas aspal keras. Serpihan-serpihan kecil kulit gue mulai terkelupas dan terbang terbawa angin malam, menyisakan kekosongan yang memancarkan sisa-sisa energi sihir berwarna keperakan di bawahnya.
Tudung kepala jubah gue terlepas, menampakkan wajah gue sepenuhnya. Wajah Aurelia. Wajah istri yang selama ini selalu dia abaikan dan dia anggap lemah.
Cassian terpaku. Seluruh tubuhnya mendadak kaku kayak batu.
Matanya yang biru menatap wajah gue yang mulai retak dan hancur berkeping-keping dengan tatapan yang bener-bener hancur. Air mukanya menunjukkan rasa shock yang teramat sangat, jauh lebih mengerikan daripada saat dia dikepung oleh belasan penyihir hitam tadi.
"Au... Aurelia...?" suara Cassian bergetar hebat. Dia seperti kehilangan kemampuan untuk bicara. Tangannya yang besar dan biasanya kokoh kini gemetar luar biasa saat mencoba menyentuh pipi gue yang retak-retak. "Kenapa... kenapa lo bisa ada di sini? Dan wajah lo... tubuh lo..."
"Krak..."
Satu kepingan c**up besar dari pipi kanan gue terlepas dan jatuh ke atas salju, langsung hancur jadi debu halus.
Gue tersenyum tipis, senyuman yang terasa sangat berat karena sudut bibir gue pun sudah mulai retak. "Maaf ya... akhirnya lo harus tahu dengan cara kayak begini..." kata gue, suara gue terdengar makin lirih dan bergetar, bersaing dengan deru angin malam yang kembali berembus kencang.
"Enggak... ini gak mungkin..." Cassian menggelengkan kepalanya dengan panik. Air mata yang belum pernah gue lihat sebelumnya mulai menggenang di pelupuk matanya yang merah. Dia mendekap tubuh gue makin erat, seolah-olah dengan cara begitu dia bisa menahan tubuh gue agar tidak terus hancur berkeping-keping. "Jangan bercanda! Ini sihir apa?! Kenapa tubuh lo bisa kayak begini?!"
"Tubuh ini... cuma wadah, Cassian," gumam gue pelan. Kesadaran gue mulai kabur. Pandangan mata gue perlahan-lahan meredup dan mengabur. "Dan sekarang... wadahnya udah gak kuat lagi."
Gue bisa mendengar teriakan frustrasi Cassian yang memanggil nama gue berulang-ulang, tapi suara itu terdengar makin menjauh, seolah-olah gue sedang tenggelam ke dasar lautan yang sangat dalam dan gelap.
Tepat di hadapan mata Cassian yang menyaksikan dengan keputusasaan yang mendalam, tubuh Aurelia terus retak, hancur, dan perlahan mulai runtuh menjadi serpihan porselen putih yang dingin di pelukannya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!