Bab 14: Kebenaran yang Menyakitkan
Cahaya ungu pekat mendadak meledak dari ujung tongkat penyihir hitam itu. Tekanan energinya g*** banget, sampai-sampai tanah bersalju di bawah kaki gue langsung retak-retak. Angin dingin yang berembun mendadak berubah jadi badai jarum es yang siap menusuk apa saja yang ada di depannya.
Gue gak punya waktu buat mikir. Mengabaikan rasa sakit yang bikin seluruh saraf di tubuh gue serasa terbakar, gue langsung menarik sepuluh jari tangan gue ke depan.
"Tameng Benang... aktif!" teriak gue dalam hati.
Ratusan benang sihir transparan langsung merajut diri dengan cepat di depan gue, membentuk dinding pelindung setebal baja. Tapi, begitu serangan sihir hitam itu menghantam tameng gue, suara dentuman keras terdengar.
*DUARRR!*
Tameng gue retak. Gak cuma tamengnya, tapi tangan kiri gueβyang jadi pusat pengendali tubuh boneka iniβlangsung ngilu setengah mati. Persendian kayu di dalam kulit palsu gue berderit keras.
"Lemah!" Pemimpin penyihir hitam itu tertawa licik. Dia menghentakkan tongkatnya sekali lagi. "Hancurlah bersama mainan bodohmu ini!"
Satu gelombang energi hitam pekat yang jauh lebih besar melesat cepat ke arah gue. Gue bisa saja menghindar. Tubuh boneka ini c**up lincah untuk melompat menjauh. Tapi, kalau gue menghindar, serangan itu bakal langsung menghantam Cassian yang terbaring lemas di belakang gue.
Cassian gak bakal selamat kalau kena serangan itu.
*Si****. Gak ada pilihan lain.*
Gue menyilangkan kedua tangan di depan dada, memasang kuda-kuda kokoh. "Jangan harap lo bisa nyentuh dia!" teriak gue dengan suara berat hasil manipulasi sihir.
*BOOM!!!*
Serangan itu menghantam dada gue telak. Rasanya kayak ditab**k kereta cepat. Tubuh boneka gue terlempar ke belakang, bergulingan di atas salju yang dingin. Tapi yang paling mengerikan adalah bunyi *krek* yang sangat keras dari dalam dada gue. Tubuh ini... retak. Inti sihir gue di dalam rongga dada langsung terguncang hebat, membuat kesadaran gue hampir hilang seketika.
"OI! BANGUN!"
Samar-samar, gue mendengar suara Cassian. Tapi suara itu gak terdengar lemah lagi. Ada nada panik, marah, dan... ketakutan yang luar biasa di sana.
Gue mencoba membuka mata yang terasa super berat. Dari posisi gue yang terbaring di salju, gue bisa melihat sesuatu yang luar biasa mengerikan sedang terjadi.
Cassian berdiri.
Cowok yang tadinya lemas gak berdaya itu sekarang dikelilingi oleh aura biru sedingin es yang sangat pekat. Matanya yang biasanya biru tenang, kini menyala terang bagaikan monster yang baru bangun dari tidur panjangnya. Segel kutukan di tubuhnya dipaksa hancur oleh energinya sendiri.
"Lo semua..." suara Cassian terdengar sangat rendah, tapi getarannya sanggup membuat seluruh Lembah Es bergetar. "...berani-beraninya nyentuh dia di depan mata gue."
"A-apa?! Bagaimana bisa kau melepaskan segel itu?!" Pemimpin penyihir hitam itu mulai panik. Langkah kakinya mundur perlahan, mukanya mendadak pucat pasi. "Serang dia! Cepat serang!"
Tapi semuanya sudah terlambat.
Kemarahan Cassian sudah berada di titik maksimal. Dia gak butuh pedang. C**up dengan lambaian tangannya, ratusan pedang es raksasa tercipta dari udara kosong. Dengan satu jentikan jari, pedang-pedang itu melesat secepat kilat, menembus tubuh para kroco penyihir hitam tanpa ampun.
"Aaakh!"
Jeritan histeris terdengar bersahut-sahutan. Tapi Cassian gak peduli. Target utamanya adalah si pemimpin.
Cassian melangkah maju, setiap langkahnya membuat tanah bersalju di sekitarnya membeku instan. Dalam sekejap mata, dia sudah berada di depan pemimpin penyihir hitam itu. Tangan kanan Cassian langsung mencengkeram leher pria itu, mengangkatnya ke udara seolah beratnya gak lebih dari selembar kertas.
"T-tunggu... ampun..." rintih si pemimpin, tangannya memegangi pergelangan tangan Cassian yang sekeras batu.
"Gak ada ampun buat sampah kayak lo," desis Cassian dingin.
*KRAK!*
Dengan satu gerakan dingin, Cassian mematahkan leher pria itu. Gak berhenti di situ, energi es dari tangan Cassian langsung menjalar, membekukan seluruh tubuh pemimpin penyihir hitam itu menjadi patung es dalam hitungan detik, sebelum akhirnya hancur berkeping-keping menjadi debu salju.
Selesai. Semua musuh hancur total tanpa sisa.
Tapi begitu musuh terakhir lenyap, aura mengerikan di tubuh Cassian langsung padam. Dia gak memedulikan sisa-sisa pertempuran itu. Fokusnya cuma satu.
"Hei!" Cassian berteriak panik, langsung berlari kencang ke arah gue yang masih terkapar di salju.
Gue bener-bener gak bisa bergerak lagi. Pandangan gue mulai kabur, bergoyang-goyang antara gelap dan terang. Kekuatan sihir gue bener-bener terkuras habis.
Sebelum tubuh gue yang lemas ini benar-benar menyentuh dinginnya salju yang lebih dalam, sepasang lengan yang sangat kuat dan hangat langsung menangkap tubuh gue. Cassian menarik gue ke dalam pelukannya.
"Hei, denger suara gue?! Bertahanlah!" suara Cassian bergetar hebat. Gue bisa merasakan dadanya naik turun dengan napas yang memburu. "Gue bakal bawa lo ke tabib istana. Lo gak boleh mati setelah nyelamat**n gue, si****!"
Dia dengan panik menekan dadanya, mencoba mencari luka luar untuk menghentikan pendarahan yang dia a**msikan pasti sangat parah setelah terkena serangan telak tadi.
Tapi begitu tangannya menyentuh dada gue, Cassian mendadak membeku.
Gak ada cairan hangat yang membasahi tangannya. Gak ada bau amis darah.
Dengan tangan yang gemetar, Cassian merobek paksa jubah hitam yang menutupi dada gue. Dan di situlah... semua rahasia yang selama ini gue simpan rapat-rapat terbongkar dengan cara yang paling menyakitkan.
Di balik robekan baju itu, gak ada kulit manusia. Gak ada daging, gak ada tulang dada, dan yang paling penting, gak ada setetes darah pun yang mengalir.
Yang ada hanyalah rongga kosong yang terbuat dari kayu sihir yang kini sudah retak seribu. Di dalam rongga itu, ratusan benang sihir berwarna biru keperakan yang biasanya mengalirkan energi kehidupan, kini putus satu per satu bagaikan senar gitar yang dipaksa ditarik hingga batasnya.
"Apa... apa-apaan ini?" bisik Cassian. Suaranya bener-bener shock. Matanya membelalak lebar, menatap kosong ke arah rongga dada gue yang kosong dari kehidupan biologis. "Kenapa... kenapa lo gak berdarah? Kenapa ada benang..."
Gue cuma bisa tersenyum lemah di balik tudung kepala gue yang perlahan merosot jatuh. Seiring dengan habisnya sisa energi sihir gue, sihir penyamaran wajah dan suara gue ikut runtuh.
Tudung kepala gue terbuka sepenuhnya, menampilkan wajah asli gue. Wajah Aurelia. Istrinya yang selama ini dia anggap lemah, gak berguna, dan cuma bisa berdiam diri di kamar kastil yang sepi.
Cassian melotot. Napasnya seolah berhenti berembus saat melihat wajah gue.
"Au... relia?" lirihnya. Suaranya terdengar sangat rapuh, seolah dia baru saja dihantam kenyataan yang paling gak ma**k akal dalam hidupnya. "Nggak... ini gak mungkin. Kenapa lo... kenapa lo ada di sini? Dan badan ini..."
Tangan Cassian yang gemetar perlahan menyentuh pipi gue. Kulit pipi gue yang biasanya terasa hangat di kastil, kini terasa dingin dan mulai mengeras seperti kayu mati. Di telapak tangan kiri gue, sebuah batu kristal kecil berwarna unguβinti sihir yang menghubungkan jiwa asli gue dengan boneka iniβkini meredup drastis, retak-retak, dan hampir hancur sepenuhnya.
"Maaf ya, Cassian..." gumam gue. Kali ini, suara yang keluar adalah suara asli gue. Lembut, tapi sangat lemah, hampir menyerupai bisikan angin malam. "Gue... udah bohongin lo selama ini."
"Aurelia... apa-apaan ini?! Jelasin ke gue!" Cassian mulai histeris. Air mata yang belum pernah gue lihat sebelumnya mulai menggenang di pelupuk mata birunya yang indah. "Kenapa tubuh lo kayak gini? Kenapa tangan lo... kenapa ada inti sihir di tangan lo?! Di mana tubuh asli lo?!"
"Ini... cuma boneka," jawab gue pelan, membiarkan sudut bibir gue terangkat membentuk senyuman tipis. "Tubuh asli gue... ada di kamar kastil. Tapi... karena gue maksa pakai sihir ini terlalu jauh buat nyelamatin lo... inti sihir yang mengikat jiwa gue ke boneka ini udah rusak parah."
Gue bisa merasakan dingin yang luar biasa mulai merayap dari ujung kaki hingga ke dada gue. Rasanya seolah jiwa gue perlahan-lahan ditarik paksa keluar, siap dilemparkan ke dalam kegelapan yang abadi.
"Nggak! Gue gak peduli ini boneka atau bukan! Gue bakal salurin mana gue ke lo!" Cassian langsung menempelkan kedua tangannya ke dada gue, mencoba mengalirkan energi sihir esnya yang melimpah. "Ayo ma**k! Serap mana gue, Aurelia! Gue mohon!"
Tapi percuma. Begitu energi sihir Cassian ma**k, energi itu langsung terbuang sia-sia karena benang-benang sihir di dalam tubuh gue sudah putus total. Gak ada lagi wadah yang bisa menampungnya.
"Jangan buang-buang tenaga lo, Cassian..." kata gue, perlahan mengangkat tangan kanan gue yang mulai terasa sangat berat untuk menyentuh rahangnya. "Gak bakal bisa. Wadahnya udah hancur."
"Kenapa lo lakuin ini?!" setetes air mata hangat akhirnya jatuh dari pipi Cassian, mendarat di pipi dingin gue. "Kenapa lo harus pura-pura jadi orang lain buat nyelamatin gue?! Kenapa lo gak pernah bilang kalau lo punya kekuatan kayak gini?!"
"Karena..." gue menghela napas berat, merasakan kesadaran gue yang semakin menipis. "Kalau lo tahu... lo pasti gak bakal ngebiarin gue terlibat. Lo selalu pengen ngelindungin semuanya sendirian, kan?"
Gue menatap mata birunya yang kini dipenuhi rasa bersalah dan kesedihan yang teramat sangat. Pria yang selama ini bersikap dingin dan kaku kepada gue, sekarang menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh boneka gue yang mulai retak-retak di bagian pundak dan leher.
"Tanganku... sebenarnya lebih mengenal tubuhku sendiri daripada suamiku sendiri," gumam gue pelan, mengingat bagaimana selama ini gue harus merawat dan memperbaiki tubuh boneka ini sendirian di dalam kesunyian kamar, tanpa pernah dia ketahui. "Tapi hari ini... gue seneng... akhirnya lo tahu siapa gue yang sebenarnya."
"Aurelia, tolong... jangan ngomong kayak gitu," Cassian menggelengkan kepalanya dengan frustrasi, mengeratkan pelukannya seolah-olah dengan begitu dia bisa menahan jiwa gue agar gak pergi. "Gue minta maaf. Maaf karena selama ini gue abai sama lo. Maaf karena gue gak pernah becus jadi suami lo. Tolong jangan pergi... kita pulang ke kastil, ya? Gue bakal cari cara buat perbaiki ini!"
Gue cuma bisa tersenyum sedih. Retakan di dada gue sekarang menjalar cepat ke leher dan wajah gue. Serpihan-serpihan kayu sihir mulai beterbangan ditiup angin, perlahan-lahan menghilang menjadi butiran cahaya di udara.
Inti sihir di tangan kiri gue meredup... lalu, dengan satu suara gemerincing kecil, kristal itu pecah menjadi bubuk halus.
"Maaf, Cassian... waktunya udah habis," bisik gue untuk terakhir kalinya.
Pandangan gue benar-benar berubah jadi hitam pekat. Sentuhan hangat tangan Cassian, suara tangisannya yang memanggil nama gue berulang kali, dan dinginnya salju Lembah Es... semuanya perlahan lenyap, membawa jiwa gue pergi menuju kegelapan yang tak berujung.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!