Bab 15: Ikatan Jiwa dan Keajaiban Sihir Suci
Gue cuma bisa ngelihat semuanya dengan pandangan yang bener-bener kabur. Di depan gue, pemandangan berubah jadi ladang pembant**an yang super sepi. Gak ada pertarungan sengit yang lama. Begitu Cassian ngelepasin seluruh energi sucinya yang selama ini dia segel, para penyihir hitam itu langsung gak ada apa-apanya.
Hanya dengan satu hentakan tangan Cassian, badai es berwarna biru pekat langsung menyapu bersih mereka. Pemimpin penyihir hitam yang tadinya ketawa sombong, sekarang udah beku jadi patung es, sebelum akhirnya pecah berkeping-keping ditiup angin malam.
Semuanya selesai dalam hitungan detik. G***. Ternyata sekuat ini cowok yang selama ini tidur di sebelah gue tiap malam.
Tapi begitu musuh hancur, aura biru di sekujur tubuh Cassian langsung padam. Dia gak peduli lagi sama pedangnya yang jatuh ke salju. Cowok itu langsung lari setengah mati ke arah gue, terus menjatuhkan dirinya berlutut di samping tubuh gue yang udah gak berdaya.
"Aurelia! Hei, bangun! Tatap gue!" suara Cassian kedengaran gemetar parah. Tangannya yang besar langsung menangkup pipi gue.
Gue pengen senyum, tapi rasanya engsel di rahang gue udah gak berfungsi dengan bener. "Cas... sian..." gumam gue lirih. Suara gue kedengaran aneh, kayak ada suara gesekan kayu yang patah di dalamnya.
Dan saat itulah, penyamaran sihir gue bener-bener runtuh.
Sihir manipulasi tubuh yang selama ini gue jaga mati-matian akhirnya habis karena inti sihir di dada gue retak parah akibat serangan tadi. Perlahan tapi pasti, kulit halus manusia yang gue miliki mulai mengelupas kayak kertas terbakar. Di balik kulit palsu itu, gak ada darah merah yang mengalir. Yang ada cuma kerangka kayu putih yang halus, sendi-sendi mekanik dari kuningan, dan benang-benang sihir yang mulai putus satu per satu.
Setengah wajah gue sekarang udah berubah total jadi wajah boneka porselen. Dada gue yang retak nunjukin rongga kosong tempat batu inti sihir gue yang sekarang udah pecah jadi serpihan kecil.
Gue merem. Gue pasrah.
*Akhirnya dia tahu.*
Gue siap kalau Cassian bakal ngelepasin gue dengan rasa jijik. Siapa sih yang gak bakal histeris atau marah besar pas tahu kalau istri yang selama ini dia peluk dan dia sentuh ternyata cuma sebongkah boneka kayu? Apalagi dia adalah ksatria suci, pemburu penyihir nomor satu yang paling benci sama segala hal berbau sihir hitam dan manipulasi jiwa.
Tapi, dugaan gue bener-bener salah total.
Gak ada teriakan marah. Gak ada tatapan jijik.
Yang terdengar di telinga gue malah suara isakan yang bener-bener pilu. Pas gue buka mata sedikit, gue bisa ngelihat air mata Cassian jatuh deras banget, netes langsung ke atas pipi porselen gue yang retak. Cowok tinggi tegap yang biasanya kelihatan dingin dan gak punya emosi itu sekarang lagi nangis histeris kayak anak kecil yang kehilangan dunianya.
"Kenapa... kenapa lo kayak gini?" Cassian meraung, suaranya pecah. Dia meluk tubuh boneka gue erat-erat, gak peduli sama bagian-bagian kayu tajam yang bisa aja ngegores kulitnya sendiri. "Gue gak peduli, Aurelia! Gue gak peduli lo manusia atau bukan!"
"Cas... gue udah bohongin lo..." kata gue, setengah berbisik karena tenaga gue bener-bener udah di ujung tanduk. "Gue cuma... jiwa yang mera**ki boneka ini. Gue bukan Aurelia yang asli. Lo harusnya benci sama gue."
"Benci? Lo g*** ya?!" Cassian teriak di sela tangisnya. Dia megang kedua tangan boneka gue yang kaku, lalu mencium jemari kayu gue berkali-kali dengan frustrasi. "Gue gak peduli sama Aurelia yang asli! Orang yang selama ini bikin gue ketawa, orang yang ngerawat gue, orang yang tangannya selalu pas di tubuh gue... itu LO! Jiwa lo! Gue bener-bener jatuh cinta setengah mati sama lo, gak peduli apa pun wujud lo!"
Deg.
Rasa hangat menjalar di sisa-sisa kesadaran gue yang hampir padam. Di tengah rasa sakit yang luar biasa karena inti sihir gue hancur, ucapan Cassian bener-bener bikin jiwa gue ngerasa hidup. Dia... beneran cinta sama gue apa adanya. Gak peduli kalau gue cuma boneka.
Tapi, takdir kayaknya emang sebercanda itu. Begitu gue menyadari perasaan tulusnya, pandangan gue mulai makin gelap. Cahaya biru di dalam dada gue—tempat inti sihir berada—meredup drastis.
"Gue... udah gak kuat, Cassian," bisik gue. "Sihir pengikat jiwa gue di boneka ini udah hancur. Bentar lagi jiwa gue bakal lepas... dan hilang."
"Nggak! Gak bakal gue biarin!" Cassian menggelengkan kepalanya dengan brutal. Matanya yang merah karena nangis mendadak menatap gue dengan tekad yang luar biasa kuat. "Gue gak bakal biarin lo pergi. Kalau raga ini rusak, gue bakal bikin lo tetep tinggal di sini. Di samping gue. Selamanya."
"Tapi g-gimana..."
Sebelum gue sempat nyelesaiin kalimat gue, Cassian tiba-tiba meletakkan tangan kanannya tepat di atas dada gue yang retak, tepat di mana sisa-sisa inti sihir gue berada.
Mata Cassian memejam erat. Mulutnya mulai merapalkan sesuatu yang bikin gue syok setengah mati. Itu adalah mantra suci kuno.
Mendadak, cahaya emas yang luar biasa terang dan murni meledak dari tubuh Cassian. Ini adalah kekuatan suci tingkat tinggi, kekuatan yang biasanya dia gunain buat memurnikan monster atau menghancurkan penyihir hitam sampai gak bersisa. Kekuatan yang seharusnya bisa langsung melenyapkan jiwa gue yang menempel di boneka ini.
"Cassian, jangan! Kekuatan suci lo bisa bikin jiwa gue hancur!" teriak gue panik, mencoba mendorong dadanya dengan sisa tenaga gue yang tinggal satu persen.
"Gak bakal," gumam Cassian rendah. Dia membuka matanya, dan di dalam manik mata birunya yang indah, kini mengalir pendaran cahaya emas suci yang sangat tenang. "Gue gak bakal gunain kekuatan ini buat ngehancurin lo. Gue bakal membalikkan alirannya."
Gue terbelalak. Membalikkan aliran kekuatan suci? Itu g***!
Itu adalah teknik terlarang bagi seorang ksatria suci. Alih-alih menyebarkan energi ke luar untuk menghancurkan, dia bakal menarik dan memusatkan seluruh energi kehidupannya sendiri ke dalam satu titik, lalu membaginya dengan makhluk lain. Dengan kata lain, Cassian berniat membagi setengah dari sisa umur dan kekuatan hidupnya demi mengikat jiwa gue!
"Gue, Cassian von de Secramore, dengan ini mengikat sumpah," suara Cassian terdengar berat dan bergema di seluruh lembah es yang sunyi.
Cahaya emas dari tangannya mulai merayap ma**k ke dalam retakan dada boneka gue. Rasanya aneh banget. Gak sakit sama sekali. Malah, rasa dingin yang selama ini selalu menyelimuti tubuh boneka gue perlahan-lahan digantikan oleh rasa hangat yang bener-bener nyaman. Persis kayak diselimuti di depan perapian pas musim dingin.
"Jiwa yang ada di depan gue, jiwa yang paling gue cint**... gue terima lo sepenuhnya. Biarkan kekuatan suci gue jadi wadah baru buat lo. Biarkan detak jantung gue jadi detak jantung lo," lanjut Cassian. Air matanya masih mengalir, tapi sekarang tatapannya bener-bener penuh dengan pengabdian yang mutlak.
"Cassian... lo bisa mati kalau setengah jiwa lo hilang buat gue..." air mata gue sendiri—yang entah gimana caranya bisa keluar dari mata boneka ini—mulai menetes.
"Gue mending mati kehilangan setengah jiwa gue, daripada harus hidup utuh tapi gak ada lo di sisi gue," jawab Cassian tanpa ragu sedikit pun. "Tatap gue, Aurelia. Terima kekuatan gue. Biarkan kita jadi satu."
Begitu kata-kata terakhir dari sumpah suci itu selesai diucapkan, cahaya emas itu mendadak bersinar sangat terang sampai bikin mata gue silau. Gue bisa merasakan benang-benang sihir hitam yang selama ini mengikat jiwa gue ke boneka ini diputus paksa secara kasar oleh kekuatan suci Cassian.
Tapi anehnya, jiwa gue gak melayang pergi.
Sebagai gantinya, benang-benang emas baru yang jauh lebih kuat, lebih kokoh, dan penuh dengan kehangatan langsung merajut kembali seluruh tubuh boneka gue. Retakan di dada gue perlahan menutup. Tapi retakan itu gak hilang sepenuhnya—retakan itu sekarang terisi oleh emas cair yang berkilau indah, mirip kayak seni memperbaiki keramik pecah khas timur (kintsugi).
Persendian kayu gue yang tadinya longgar dan aus, mendadak terasa sangat kokoh dan bertenaga. Gue bisa merasakan aliran energi baru yang super melimpah mengalir di dalam tubuh palsu ini. Energi itu terasa begitu murni, bersumber langsung dari jantung Cassian yang berdetak kencang di depan gue.
*Deg. Deg. Deg.*
G***. Gue bisa ngerasain detak jantung Cassian di dalam dada gue sendiri!
Begitu cahaya emas itu perlahan meredup dan menghilang, keheningan kembali menguasai Lembah Es. Badai salju yang tadinya mengamuk, sekarang mendadak mereda, menyisakan langit malam yang penuh dengan bintang-bintang yang berkilau indah.
Gue perlahan membuka mata, lalu mencoba menggerakkan jari-jemari tangan gue. Semuanya bergerak dengan sangat mulus. Gak ada lagi rasa ngilu atau bunyi berderit dari kayu yang aus. Tubuh ini sekarang terasa jauh lebih hidup daripada sebelumnya.
Di depan gue, Cassian kelihatan bener-bener lemas. Wajahnya agak pucat karena baru aja membagi setengah kekuatan hidupnya buat gue. Tapi begitu dia melihat mata gue terbuka, senyum tipis langsung terukir di bibirnya yang pucat.
"Berhasil..." bisik Cassian. Tanpa aba-aba, dia langsung menjatuhkan kepalanya di pundak gue, meluk leher gue erat banget seolah takut kalau gue bakal menghilang kalau dia lepasin sedikit aja. "Lo masih di sini. Lo gak pergi."
Gue tertegun, lalu perlahan mengangkat kedua tangan gue untuk membalas pelukannya. Gue mengusap punggung lebar cowok itu dengan lembut.
"Iya, gue di sini. Gue gak bakal pergi ke mana-mana, Cassian," kata gue lembut. Suara gue sekarang terdengar jauh lebih jernih dan manis, gak ada lagi getaran suara kayu yang aneh.
Cassian melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah gue yang sekarang memiliki pola garis-garis emas indah di sepanjang pipi dan dada gue—bukti dari ikatan jiwa suci yang baru saja kami lakukan. Dia menyentuh pipi gue dengan ibu jarinya, menatap gue dengan tatapan yang bener-bener penuh dengan cinta yang mendalam.
"Mulai sekarang, jiwa kita udah terikat secara permanen," kata Cassian sambil tersenyum lembut. "Ke mana pun lo pergi, gue bakal selalu tahu. Dan selama gue masih bernapas, lo bakal tetep hidup di dunia ini."
Gue bener-bener gak tahu harus ngomong apa lagi. Rasa haru dan bahagia campur aduk di dalam dada gue. Siapa yang sangka, boneka buatan yang harusnya gak punya perasaan ini, sekarang bisa merasakan cinta yang begitu besar dan tulus dari seorang ksatria suci yang paling ditakuti.
"Makasih, Cassian," bisik gue, lalu mendekatkan wajah gue dan mengecup lembut bibirnya. "Makasih karena udah milih gue."
Cassian membalas ciuman gue dengan penuh kelembutan, seolah-olah menegaskan kalau mulai detik ini, hidup kami berdua bener-bener gak bakal bisa dipisahkan lagi oleh apa pun.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!