Mentari pagi menerobos ma**k lewat tirai tipis kamar kami. Kamar ini rasanya beda banget dari beberapa bulan lalu. Dulu, kamar ini selalu kerasa dingin, sunyi, dan kakuβpersis kayak hubungan kami berdua yang awalnya penuh kecurigaan. Tapi sekarang, suasananya hangat banget. Ada wangi lavender yang menenangkan, selimut tebal berbulu yang lembut, dan yang paling penting... perasaan hangat yang menjalar di sekujur tubuh gue sendiri.
Gue meregangkan tubuh perlahan. Biasanya, aktivitas sesederhana merenggangkan punggung pas bangun tidur bakal diiringi suara gemertak kecil dari sendi-sendi mekanik gue. Bunyi *krek-krek* yang selalu bikin gue parno kalau-kalau ada bagian tubuh gue yang lepas atau aus. Tapi pagi ini, semuanya kerasa... lentur luar biasa. Otot-otot gue kerasa elastis dan nyaman.
Gue mengangkat kedua tangan gue ke depan wajah. Gue perhatiin baik-baik. Gak ada lagi garis sambungan halus di pergelangan tangan gue. Kulit porselen putih pucat yang dingin dan licin itu sekarang udah digantikan oleh kulit manusia yang sesungguhnya. Ada pori-pori kecil di sana, ada bulu-bulu halus, dan yang paling bikin gue takjub: ada warna semburat kemerahan yang sehat di ujung-ujung jari gue.
Gue menyentuh pipi gue sendiri. Rasanya lembut dan hangat. Hangat! Sesuatu yang selama bertahun-tahun hidup sebagai boneka gak pernah bisa gue rasain.
Lalu, tangan gue turun ke dada kiri.
*Dag-dig-dug. Dag-dig-dug.*
Detakannya konstan, berirama, dan kerasa begitu nyata di bawah telapak tangan gue. Air mata gue tiba-tiba menetes begitu aja. Tapi kali ini bukan karena sedih atau kesakitan, melainkan karena rasa lega yang luar biasa besar sampai bikin dada gue sesak.
Gue bener-bener hidup. Gue bukan lagi barang buatan yang digerakkan oleh sihir hitam terlarang. Gue manusia.
Semua ini rasanya kayak mimpi. Udah beberapa bulan berlalu sejak perang besar di Utara berakhir. Keadaan kekaisaran sekarang udah bener-bener damai. Gak ada lagi ancaman penyihir hitam, gak ada lagi pertempuran berdarah. Tapi buat gue, kemenangan terbesar bukan karena perdamaian itu, melainkan keajaiban yang dilakukan Cassian setelah perang selesai.
Waktu tubuh boneka gue hancur dan rahasia gue terbongkar, Cassian gak buang gue. Cowok itu malah menangis histeris dan memeluk erat tubuh kayu gue yang udah retak-retak. Dengan sisa kekuatan sihir sucinya yang luar biasa besar, dia ngelakuin sesuatu yang bahkan gak ma**k akal di buku sejarah sihir mana pun. Dia menyatukan seluruh energi sucinya dengan jiwa gue, membangun ulang setiap jengkal tubuh gue dari nol. Bukan cuma memperbaiki sendi yang rusak, tapi bener-bener meregenerasi seluruh sel tubuh gue menjadi daging, darah, dan jantung manusia seutuhnya.
"Aurelia?"
Pintu kamar mandi yang ada di sudut ruangan terbuka perlahan. Sosok cowok jangkung dengan rambut hitam agak acak-acakan keluar dari sana. Dia cuma pakai kemeja putih tipis yang kancing atasnya sengaja dibukaβmemamerkan dada bidang dan tulang selangkangnya yang kokohβserta celana kain hitam sant**. Gak ada lagi baju zirah ksatria suci yang kaku dan penuh lambang kekaisaran. Pagi ini, dia kelihatan sant** banget, kayak cowok kuliahan biasa yang baru bangun tidur.
Tapi begitu mata kami bertemu, tatapannya langsung melembut seketika. Dia buru-buru melangkah mendekat ke arah ranjang tempat gue duduk terpaku.
"Hei, kok nangis? Ada yang sakit? Bagian mana yang gak nyaman?" tanya Cassian bertubi-tubi dengan nada panik yang kentara banget. Dia langsung duduk di pinggir ka**r, tangannya yang besar dan hangat langsung menangkup kedua pipi gue, menghapus air mata yang sempat lolos tadi dengan ibu jarinya yang lembut.
Gue buru-buru menggeleng sambil tersenyum lebar. "Enggak, Cas. Gak ada yang sakit kok. Sama sekali gak ada."
"Terus kenapa nangis, hm?" tanya dia lagi, suaranya pelan dan lembut banget, bikin hati gue meleleh seketika. "Bikin gue jantungan aja lo."
"Gue cuma... masih gak percaya aja," gumam gue sambil memegang punggung tangannya yang masih menempel di pipi gue. "Gue ngerasa hangat, Cas. Kulit gue hangat, sendi gue gak kaku lagi, dan... lo denger ini?" Gue menarik tangan Cassian, menempelkan telapak tangannya tepat di atas dada kiri gue.
Cassian terdiam. Dia memejamkan matanya sejenak, membiarkan telapak tangannya merasakan setiap denyutan kehidupan yang berdetak di dalam dada gue. Senyum tipis tapi penuh kebahagiaan perlahan terukir di bibirnya yang kokoh.
"Iya, gue denger. Detak jantungnya kuat banget," bisik Cassian. Dia membuka matanya, menatap gue dengan binar penuh cinta yang gak pernah padam sejak kejadian di Utara itu. "Sihir suci gue bener-bener udah menyatu sempurna sama jiwa lo, Aurelia. Lo sekarang manusia utuh. Milik gue seutuhnya."
"Makasih ya, Cas," kata gue tulus. "Gue tahu apa yang lo lakuin waktu itu taruhannya nyawa lo sendiri. Sihir suci es lo... lo ngorbanin hampir semuanya buat ngebangun tubuh baru gue."
"Gak usah dibahas lagi, sayang," sahut Cassian lembut. Dia mendekatkan wajahnya, mengecup kening gue lama sekali. "Sihir suci, kekuatan, reputasi sebagai ksatria terkuat... semuanya gak ada gunanya kalau gue harus kehilangan lo. Waktu gue lihat tubuh boneka lo mulai retak dan hancur di salju waktu itu, dunia gue rasanya bener-bener runtuh. Gue gak peduli lagi sama dunia atau kekaisaran. Yang gue mau cuma lo tetap hidup di sisi gue."
Gue tersenyum, merasakan kehangatan yang menjalar dari kening gue ke seluruh tubuh. Dulu, Cassian dikenal sebagai ksatria berdarah dingin yang paling ditakuti. Sentuhannya selalu terasa sedingin es karena kutukan energi suci miliknya. Tapi sekarang, sejak energi itu menyatu dengan sisa sihir inti di tubuh gue untuk merekonstruksi tubuh baru ini, suhu tubuh Cassian berubah total. Dia sekarang hangat banget. Sentuhannya terasa menenangkan dan sangat nyaman.
"Oh iya, gue tadi bawain lo s****an," kata Cassian tiba-tiba teringat sesuatu. Dia berbalik dan mengambil nampan kayu yang tadi dia taruh di meja nakas. Di atas nampan itu ada semangkuk sup krim jamur yang masih mengepulkan asap tipis, beberapa lembar roti panggang madu, dan segelas susu hangat.
"Wah, lo beneran masak sendiri?" tanya gue takjub melihat tampilannya yang kelihatan enak banget.
"Iya dong. Gue belajar dari koki istana beberapa hari lalu pas lo masih tidur pulas. Katanya sup jamur bagus buat pemulihan energi tubuh manusia baru kayak lo," jawab Cassian bangga. Dia menaruh nampan itu di atas pangkuan gue. "Ayo makan. Biar gue suapin."
"Gak usah, Cas. Tangan gue udah bisa gerak sendiri kok. Gak kaku lagi," tolak gue lembut, mau mengambil sendoknya sendiri.
Tapi Cassian dengan cepat merebut sendok itu lebih dulu, lalu menyendok sedikit sup dan meniupnya perlahan sebelum disodorkan ke depan mulut gue. "Gak ada penolakan. Gue mau manjain istri gue pagi ini. Buruan buka mulutnya, aaa..."
Gue cuma bisa pasrah dan membuka mulut dengan wajah yang mulai memerah. Rasa hangat dari sup krim itu langsung menyebar di dalam mulut gue. Enak banget! Indra perasa gue sekarang bener-bener berfungsi seratus persen layaknya manusia normal. Dulu, saat masih jadi boneka, makanan yang ma**k cuma sekadar hancur di dalam rongga buatan tanpa rasa yang nyata. Tapi sekarang, rasa gurih dari krim, wangi jamur yang khas, dan manisnya roti panggang madu itu bener-bener terasa luar biasa nikmat.
"Gimana? Enak gak?" tanya Cassian penuh harap, matanya menatap gue tanpa berkedip seperti anak an**** yang menunggu pujian.
"Enak banget, Cas! Serius, lo berbakat jadi koki deh, mending pensiun aja jadi ksatria," puji gue jujur.
Cassian langsung tersenyum lebar, kelihatan puas banget mendengar jawaban gue. Dia terus menyuapi gue dengan sabar sampai sup dan roti panggang di nampan itu habis tak tersisa. Setelah memastikan gue minum susu sampai habis, dia menaruh kembali nampan kosong itu ke meja nakas.
"Nah, sekarang giliran jatah gue," gumam Cassian dengan nada manja yang jarang dia tunjukkan di depan orang lain.
"Jatah apa?" tanya gue heran.
Bukannya menjawab, Cassian malah langsung merangkak naik ke atas ka**r, lalu menarik tubuh gue ke dalam dekapannya dari belakang. Dia melingkarkan kedua tangannya yang kokoh di sekeliling pinggang gue, menarik tubuh gue sampai benar-benar menempel erat pada dada bidangnya. Dagunya diletakkan dengan nyaman di bahu kanan gue, sementara hidungnya sesekali mengendus aroma rambut gue.
"Jatah meluk lo sepuasnya," bisik Cassian tepat di telinga gue. Napas hangatnya bikin bulu kuduk gue merinding geli, tapi di saat yang sama, dada gue terasa penuh oleh rasa bahagia.
Gue bersandar sepenuhnya pada dada Cassian, menikmati detak jantungnya sendiri yang juga berdegup dengan tenang di punggung gue. Kami berdua terdiam selama beberapa saat, membiarkan keheningan pagi yang damai ini menyelimuti kami. Gak ada lagi suara denting pedang, gak ada lagi ketakutan akan serangan musuh, dan gak ada lagi rasa sakit yang harus gue sembunyikan sendirian.
"Aurelia..." panggil Cassian lirih.
"Ya?"
"Tangan gue..." Cassian mengangkat tangan kanannya, lalu mengusap lembut jemari tangan gue yang kini terasa hangat. "Sekaran tangan gue udah gak dingin lagi kan?"
Gue tersenyum kecil, lalu menggenggam balik jemarinya yang kokoh itu. "Iya, Cas. Hangat banget. Malah kadang gue ngerasa lo lebih hangat daripada selimut tebal ini."
"Baguslah," gumam Cassian penuh kehangatan. "Dulu, tiap kali gue menyentuh lo, gue selalu ngerasa bersalah karena tangan gue yang sedingin es ini pasti bikin tubuh lo makin kaku. Tapi sekarang, dengan tangan yang hangat ini, gue mau janji satu hal sama lo."
"Janji apa?" tanya gue sambil menoleh sedikit ke arahnya.
Cassian mengecup pipi gue dengan lembut, lalu menatap mata gue lekat-lekat. "Gue janji bakal menghabiskan seumur hidup gue untuk menjaga dan menyayangi setiap jengkal tubuh lo. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya bakal gue peluk dengan kehangatan ini. Gak akan ada lagi rasa dingin, gak akan ada lagi rasa takut."
Air mata gue hampir jatuh lagi mendengar ucapannya yang begitu tulus. "Cas... lo kok jadi romantis banget sih sekarang? Belajar dari mana?"
"Gak belajar dari mana-mana. Ini beneran keluar dari hati gue yang paling dalam," sahut Cassian sambil terkekeh pelan. Dia mempererat pelukannya di pinggang gue. "Gue cuma pengen menebus semua waktu yang terbuang dulu. Waktu tangan gue masih terlalu dingin buat meluk lo dengan benar."
Gue berbalik di dalam pelukannya sehingga kami sekarang saling berhadapan. Gue menatap wajah tampan suamiku ini, mengagumi setiap garis wajahnya yang kini terlihat jauh lebih sant** dan bahagia tanpa beban berat di pundaknya.
"Lo gak perlu menebus apa-apa, Cassian," kata gue lembut, sambil mengusap rahangnya yang tegas dengan ibu jari gue. "Dulu ataupun sekarang, pelukan lo selalu jadi tempat teraman buat gue. Dan sekarang, karena tubuh gue udah jadi manusia seutuhnya..." Gue menjeda kalimat gue, menatap langsung ke dalam mata indahnya. "Gue siap buat menghabiskan seluruh sisa hidup gue bareng lo. Selamanya."
Mendengar perkataan gue, senyum paling menawan yang pernah gue lihat terukir di wajah Cassian. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Perlahan tapi pasti, dia mendekatkan wajahnya dan menautkan bibir kami dalam sebuah ciuman yang begitu hangat, lembut, dan penuh dengan kepastian akan masa depan kami yang cerah.
Di kamar tidur kami yang kini selalu hangat ini, tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi. Hanya ada dua jiwa yang telah menyatu seutuhnya, siap melangkah bersama dalam kehidupan yang baru dan penuh warna.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!