Sinar matahari pagi menerobos ma**k lewat celah-celah gorden beludru abu-abu, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah keheningan kamar tidur utama Kastel Obsidian.
Aurelia mengerjapkan matanya perlahan. Hal pertama yang dia lakukan begitu kesadarannya terkumpul adalah langsung memeriksa lengan kirinya. Dia menarik napas lega saat melihat jahitan semalam masih terpasang rapi. Benang perak khusus yang dia gunakan telah menyatu sempurna dengan kulit palsunya, menyembunyikan retakan mengerikan yang hampir membuat lengan kirinya lepas semalam. Di bawah cahaya pagi, kulitnya tampak mulus kembali, seolah-olah retakan kasar mirip porselen pecah itu hanyalah mimpi buruk belaka.
Namun, Aurelia tahu itu bukan mimpi. Dia adalah boneka hidup yang digerakkan oleh inti sihir kuno, sebuah rahasia besar yang harus dia bawa sampai mati.
Di ujung ranjang yang luas, Cassian sudah berdiri tegak di depan cermin besar. Cowok itu sedang mengancingkan kemeja hitamnya dengan gerakan yang tenang dan efisien. Rambut hitamnya yang biasanya agak acak-acakan kini sudah tertata rapi. Sinar matahari pagi yang mengenai rahang tegas dan hidung mancungnya membuat Cassian kelihatan sangat tampanβtipe ketampanan yang dingin, mahal, dan sulit digapai.
Vibes cowok itu benar-benar seolah-olah kejadian semalam tidak pernah terjadi. Tidak ada sapaan pagi yang hangat, tidak ada pelukan, bahkan tidak ada lirikan mata yang bertahan lebih dari satu detik. Dia kembali menjadi Duke Cassian yang kaku dan super sibuk.
"Kamu sudah bangun," suara Cassian terdengar berat dan datar, memecah keheningan kamar. Dia bahkan tidak berbalik untuk menatap Aurelia, melainkan hanya melihat pantulan istrinya lewat cermin.
Aurelia langsung memasang mode aktingnya. Dia buru-buru menarik selimut sutra tebal sampai ke batas dada, lalu memegangi kepalanya dengan gerakan lambat yang dramatis. Wajahnya dibuat agak kuyu.
"Ah... iya, Cassian. Selamat pagi," jawab Aurelia dengan suara yang sengaja dibuat agak serak dan lemas, seperti orang yang baru saja sembuh dari demam parah. "Maaf, aku agak telat bangun. Badanku rasanya lemas banget pagi ini."
Ini adalah rutinitas wajib bagi Aurelia. Dia harus selalu berakting menjadi istri yang lemah, penyakitan, dan gampang capek. Kenapa? Biar Cassian tidak pernah menaruh curiga. Orang dengan kondisi fisik lemah wajar saja jika kulitnya selalu pucat, jarang berkeringat meski di cuaca panas, dan memiliki suhu tubuh yang cenderung dingin. Itu adalah kebohongan sempurna untuk menutupi fakta bahwa tubuh Aurelia sebenarnya sedingin es batu dan tidak memiliki detak jantung sama sekali.
Cassian akhirnya berbalik, menatap Aurelia dengan tatapan mata biru gelapnya yang tajam. Tatapan seorang pemburu penyihir terkuat di kekaisaran yang biasanya bisa membaca kebohongan siapa pun dalam hitungan detik.
Aurelia menahan napas dalam hati, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat lemas dan tidak berdaya. Dia tidak boleh terlihat tegang. Jika Cassian mendeteksi sedikit saja keanehan, tamatlah riwayatnya.
"Kondisi fisikmu memang selalu buruk sejak kita menikah," ucap Cassian dingin, tanpa ada nada khawatir sedikit pun dalam suaranya. "Segera mandi dan bersiaplah. Aku tunggu di meja makan sepuluh menit lagi. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."
"Baik, Cassian. Aku akan segera turun," jawab Aurelia dengan senyum tipis yang manis namun terlihat lelah.
Begitu Cassian melangkah keluar kamar dan pintu tertutup rapat, Aurelia langsung mengembuskan napas panjang. Dia melemparkan selimutnya ke samping dan buru-buru melompat turun dari ranjang. Langkah kakinya sangat ringan dan tanpa suara saat dia berlari menuju meja riasnya.
Dia menatap cermin. Wajahnya di cermin kelihatan sangat pucat, mirip mayat. Dengan gerakan cepat dan terlatih, Aurelia mengambil kuas dan *blush on* berwarna merah muda hangat. Dia memoleskannya tipis-tipis di kedua pipinya, lalu menambahkan sedikit pewarna bibir agar bibirnya tidak terlihat kebiruan. Dia juga menyemprotkan sedikit parfum beraroma mawar segar. Setidaknya, sekarang dia kelihatan seperti manusia hidup yang sehat.
"Untung saja dia tipe suami yang super cuek dan g*** kerja," gumam Aurelia sambil menyisir rambutnya yang panjang. "Kalau dia sampai berinisiatif memelukku dari belakang atau sekadar memegang tanganku untuk mengecek suhu tubuhku, dia pasti langsung tahu kalau istrinya ini tidak punya aliran darah."
Sepuluh menit kemudian, Aurelia melangkah ma**k ke ruang makan utama kastel. Ruangan itu sangat luas dengan meja makan panjang dari kayu ek hitam yang mewah. Di atas meja sudah tersaji berbagai menu s****an premium, mulai dari roti panggang hangat, sup krim, hingga potongan daging premium.
Cassian sudah duduk di ujung meja. Di depannya ada secangkir kopi hitam pekat tanpa gula yang masih mengepulkan asap, berdampingan dengan tumpukan dokumen tebal berlambang segel emas kekaisaran. Benar-benar tipikal pria g*** kerja yang tidak bisa lepas dari dokumen bahkan saat s****an.
Aurelia mengambil tempat duduk di sisi kanan Cassian, tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh. Pelayan kastel langsung menyajikan semangkuk sup hangat di depan Aurelia.
Aurelia mengambil sendok peraknya, lalu mulai mengaduk supnya secara perlahan. Sebagai boneka, dia sebenarnya tidak membutuhkan makanan manusia untuk bertahan hidup. Energi tubuhnya disuplai sepenuhnya oleh inti sihir di dadanya. Namun, agar tidak mencurigakan, dia harus tetap berpura-pura makan. Dia mema**kkan sesendok kecil sup ke dalam mulutnya, mengunyahnya pelan, lalu menelannya dengan susah payah. Rasanya hambar di lidahnya, seperti mengunyah air biasa.
"Gimana tidurmu semalam?" tanya Cassian tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas dokumen di tangannya.
Aurelia agak terkejut mendengar pertanyaan yang jarang-jarang diajukan suaminya itu. Dia langsung memasang senyum terbaiknya. "C**up nyenyak, Cassian. Hanya saja, seperti biasa, udara malam di kastel ini agak dingin, jadi persendianku rasanya sedikit kaku pagi ini."
"Aku akan menyuruh pelayan untuk menyalakan perapian di kamarmu lebih awal nanti malam," jawab Cassian datar. Nada suaranya sama sekali tidak terdengar seperti suami yang penuh perhatian, melainkan seperti seorang atasan yang sedang memberikan solusi praktis untuk masalah fasilitas bawahannya.
"Terima kasih, Cassian. Kamu baik sekali," sahut Aurelia, berpura-pura tersentuh. Dalam hati, dia bersyukur karena Cassian mengira kekakuan tubuhnya hanya karena udara dingin, bukan karena jahitannya yang hampir lepas.
Cassian tiba-tiba menutup dokumen di tangannya dengan suara *plak* yang c**up keras, membuat para pelayan yang berdiri di sudut ruangan agak tersentak. Dia memutar tubuhnya, menghadap langsung ke arah Aurelia dengan ekspresi yang sangat serius.
"Aurelia, ada perintah mendesak dari Kekaisaran," kata Cassian dengan suara berat yang berwibawa.
Jantung palsu Aurelia rasanya seperti berhenti berdetakβmeski sebenarnya memang tidak pernah berdetak. Firasat buruk langsung menyelimuti pikirannya. "Perintah mendesak? Apa terjadi sesuatu yang buruk di ibu kota?"
"Bukan di ibu kota. Di wilayah Utara," jawab Cassian. "Para pemburu mendeteksi adanya lonjakan aktivitas monster yang tidak biasa di sekitar perbatasan utara. Tidak hanya itu, ada indikasi kuat kalau para penyihir hitam mulai berkumpul di sana untuk melakukan ritual kuno. Kuil suci mendesakku untuk segera turun tangan memimpin penyelidikan langsung ke sana."
Aurelia mengangguk-angguk kecil, mencoba menunjukkan rasa simpati. "Ah... jadi kamu harus pergi ke Utara dalam waktu dekat? Itu pasti akan sangat melelahkan. Aku akan menyuruh pelayan mempersiapkan barang-barangmu dengan baik."
Dalam hati, Aurelia sebenarnya merasa sangat senang. Jika Cassian pergi ke wilayah Utara yang jauh, itu artinya dia akan memiliki waktu luang yang sangat banyak di kastel ini tanpa pengawasan. Dia bisa dengan bebas merawat tubuh bonekanya, menjahit bagian-bagian yang mulai aus, dan bersant** tanpa perlu repot-repot berakting setiap hari. Ini adalah berita terbaik yang dia dengar minggu ini!
Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari bibir Cassian langsung menghancurkan kebahagiaan sesaat Aurelia berkeping-keping.
"Bukan cuma aku, Aurelia. Kita berdua harus pergi ke sana."
*Klank!*
Sendok perak di tangan Aurelia tidak sengaja terlepas dan membentur mangkuk supnya, menciptakan suara berdenting yang nyaring di dalam ruangan yang sunyi itu. Aurelia membelalakkan matanya, menatap Cassian dengan ekspresi syok yang sama sekali tidak bisa dia sembunyikan lagi.
"Ki... kita berdua? Aku juga harus ikut?" tanya Aurelia dengan suara yang mendadak bergetar.
"Ya. Ini adalah perintah langsung dari Kaisar," jelas Cassian, matanya menyipit tipis melihat reaksi berlebihan istrinya. "Pihak kuil suci ingin kita pergi sebagai pasangan suami istri untuk menunjukkan kepada publik bahwa hubungan keluarga Duke tetap solid di tengah krisis. Kehadiranmu sebagai Duchess juga dibutuhkan untuk menghadiri jamuan sosial guna menenangkan para bangsawan lokal di Utara yang mulai panik karena aktivitas monster."
Aurelia merasakan seluruh tubuhnya mendadak membeku. Kali ini bukan karena efek sihir, melainkan karena rasa panik yang luar biasa yang menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki.
*Utara?! Yang benar saja!* teriak Aurelia dalam hati.
Wilayah Utara adalah tempat paling ekstrem di seluruh kekaisaran. Suhu di sana selalu berada di bawah titik beku, badai salju bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan, dan udaranya sangat dingin menusuk tulang.
Bagi manusia biasa, itu mungkin hanya masalah memakai jubah bulu tebal dan duduk di dekat perapian. Tapi bagi Aurelia, wilayah Utara adalah area terlarang, mimpi buruk terbesar yang setara dengan hukuman mati!
Tubuh bonekanya terbuat dari bahan-bahan khusus yang digerakkan oleh inti sihir kuno. Jika dia terpapar suhu dingin yang ekstrem dalam waktu lama, sendi-sendi mekanis di dalam tubuhnya bisa membeku dan mengeras hingga tidak bisa digerakkan sama sekali. Yang lebih mengerikan lagi, kulit palsunya yang sensitif akan mengkerut karena suhu dingin, membuat jahitan-jahitan rahasianya menjadi sangat rapuh, gampang retak, dan bisa robek kapan saja! Jika kulitnya robek di tengah keramaian, rahasianya sebagai boneka hidup akan langsung terbongkar di depan semua orangβterutama di depan Cassian yang merupakan seorang pemburu penyihir!
"Tapi, Cassian..." Aurelia mencoba menstabilkan suaranya yang gemetar, menatap suaminya dengan pandangan memelas. "Kamu tahu sendiri kalau kondisi fisikku sangat lemah. Tubuhku tidak pernah kuat menghadapi udara dingin yang ekstrem. Aku takut... aku takut aku malah akan jatuh sakit di sana dan merepotkanmu. Bukankah lebih baik jika aku tetap tinggal di kastel ini saja?"
Aurelia meremas tangannya yang berada di bawah meja makan, berharap dengan sangat agar Cassian mau merubah pikirannya. Dia bahkan rela memohon jika itu perlu.
Namun, Cassian tetaplah Cassian. Dia adalah pria yang logis, dingin, dan tidak pernah goyah oleh air mata atau pandangan memelas dari seorang wanita.
"Aku sudah memikirkan hal itu," jawab Cassian datar tanpa ekspresi. "Aku sudah menyiapkan kereta kuda khusus yang dilengkapi dengan batu sihir penghangat tingkat tinggi untuk perjalanan kita. Di Utara nanti, kita juga akan tinggal di kastel cabang keluarga Duke yang memiliki sistem pemanas terbaik. Kamu hanya perlu berada di dalam ruangan yang hangat dan menemui para istri bangsawan di sana. Kamu tidak perlu ikut denganku berburu di hutan bersalju."
"Tapi tetap saja..."
"Ini adalah perintah dari Kekaisaran, Aurelia. Kita tidak bisa menolaknya hanya karena kamu merasa kurang sehat," potong Cassian dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan apa pun. "Kita berangkat lusa pagi. Persiapkan barang-barangmu dari sekarang."
Aurelia menggigit bibir bawahnya erat-erat. Kata-kata Cassian bagaikan ketukan palu hakim yang menentukan nasibnya. Tidak ada jalan keluar. Menolak perintah Kaisar adalah tindakan pengkhianatan, dan membantah kata-kata Duke Cassian juga hanya akan membuat cowok itu curiga padanya.
"Baiklah... kalau begitu," bisik Aurelia pasrah, sambil tersenyum kecut.
Pikiran Aurelia langsung berputar dengan sangat cepat. Lusa pagi! Dia hanya memiliki waktu kurang dari dua hari untuk mempersiapkan dirinya menghadapi mimpi buruk di wilayah Utara. Dia harus mencari cara agar tubuh bonekanya tidak rusak dan hancur di tengah badai salju. Dia perlu menyetok benang sihir lebih banyak, menyiapkan ramuan khusus untuk menjaga elastisitas kulit palsunya, dan yang paling penting: dia harus memastikan suaminya yang super tajam dan dingin itu tidak akan pernah tahu rahasia besarnya, bahkan saat mereka harus terjebak bersama di wilayah paling dingin di dunia.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!